www.lpmsukma.com

Advertisement

Kamis, 27 Desember 2018

DUNIA DIANSI, CINTA YANG SUNYI

google.com
Oleh: Muhammad Rahim

“Saat cinta menyapa, pandangan menjadi tajam, indera perasa lebih peka, kata-kata seakan syair menghimpit, dan menghiasi hati penikmatnya,” begitulah kata yang ditulis oleh Irza Setiawan dalam bukunya Indahnya Menjemput Pinta Bidadari, mungkin sama halnya yang dirasakan oleh penyair perempuan Sinar Siang Daeng Tarrang atau disapa DianSi dalam sajaknya Maha Sepi (MS).

Penyair perempuan kelahiran Ujung Loe, Bulukumba, Sulewesi Selatan ini. Memiliki 68 puisi dibuku Maha Sepi, terbitan pada Juli 2018. Dalam puisinya ada tiga situasi yang perlu kita tangkap adalah sepi, cinta dan harapan DianSi. Cintanya seperti angin mengabarkan awan. Mendung dan hujan menjadi satu pelukan hati DianSi dalam ketabahannya. Kata sunyi dalam puisinya adalah kefanaan bagi DianSi. Jalan sunyi yang ditempuh oleh penyair Makassar ini, membuat diksi yang dipilihnya menjadi kekuatan cinta yang utuh bersama sunyi. Ketidakmemilikinya, hal yang kontra dalam percintaan antara pengorbanan dan pengkhianatan. Ia mengorbankan perasaan tabahnya dalam cinta yang sunyi, berikut:

SEANDAINYA TABAH ITU KAU BACA
apalagi yang tersisa dari setiap tetes air mata,
bahkan hujan tidak mampu melerai perihnya, selain
menghanyutkan aku dalam arusnya.
kerinduan hanya bisa aku ceritakan,
dadaku bahkan mengulum magma, bermuntah doa
sebagai bait-bait amarah.
kalimat apalagi yang harus aku rangkai,
sungguh hatiku tidak seliar angin dalam pikiranmu
mencintaimu sebuah pilihan dan aku memilih mati di dalamnya.
2017

Ilustrasi Tubuh DianSi
Harapan seorang DianSi sangat besar terhadap keberadaan kekasihnya. Letupan-letupan amarah terwujud setiap dalam doanya. Puisi adalah jalan doa terakhirnya. Menggambarkan setiap keadaan hati, dan amarah yang diungkapkan DianSi adalah kerinduan. Tubuh puisi diatas bagaikan tubuh DianSi yang sedang MERIANG (Merindukan Kasih Sayang). Karena hujan, rindunya makin gigil. Namun sederas apapun itu tidak dapat melerai perihnya asmara DianSi, menambah sepinya menjadi utuh. Ada sebuah makna dalam diksi “Muntah” yang mengarahkan puisi ini terhadap situasi dirinya yang sedang tidak nyaman, sakit.  Dalam keadaan yang kurang bersahabat itulah ia tetap mendorong harapannya menjadi doa. Dan doa adalah puisi yang paling sepi untuk mengalirkan harapan-harapan dalam tubuhnya.

Dalam kondisi ia meriang, ada metafor dalam diksinya “angin pikiran” seorang kekasihnya begitu liar, ibarat hatinya belum tentu sekuat DianSi yang mampu menahan hingga rela menaruhkan segala kesehatannya. Artinya, keliaran pikiran lelaki dambaannya itu membuat kemuakan hati DianSi yang bergejolak. Entah arti pengkhianatan dalam percintaannya. Sungguh, kesucian hati DianSi diabaikannya tanpa melihat pengorbanan cintanya yang begitu kuat. Sebagaimana bentuk cintanya, ia berani memilih mati dalam doa-doa tersebut. Ini masih pra-duga yang kebenarannya masih dipertanyaan oleh pengulas dan beberapa puisinya memberi energi pesimisme cinta seorang DianSi.

Puisi berjudul “Hem, Cinta” bentuk ungkapan remeh yang diciptakan oleh situasi percintaannya. Sebuah lariknya mengabarkan tentang janji dan pengkhianatan, berikut:
“Apa yang kau pikirkan tentang rindu
Selain pertemuan, sebuah ciuman dan pelukan erat
Lalu berjanji tidak akan berpisah”

Kemudian ia menyatakan rasa pesimisme cintanya yang kini dipertahankan,

“Hem, cinta.
Saling percaya untuk berdusta”
26/09/17

Adapun kesunyian DianSi dipuisi selanjutnya, menyatakan makna rindu yang mendalam kepada kekasih gelapnya. Adapun beberapa bait didalam puisi tersebut memberikan keterangan bahwa kekasih gelapnya ini berkhianat dan berpaling rasa kepada perempuan lain.

KEKASIH GELAP PUISI
Tak ada kata-kata yang terlampau sakral, selain sakral kalimat yang aku hunjamkan ke dadamu; rindu. Dan aku menarik pelatuk di antara keningmu, agar kau ingat lekuk tubuh puisi mampu menyihir milyaran saraf di dalamnya. Begitu pula arus derasnafas, kerap memburu sengat ciuman yang aku rangkai sebagai bait-bait. Lalu aku biarkan kau terhempas mengerang di atas kalimat mati dari dadaku.

Aku menjadi kejam mencintaimu
Tidak aku relakan kau menjelma puisi yang dinikmati perempuan lain

DianSi seperti puisi yang gelap diantara puisi-puisi yang dianggapnya perempuan lain, ia menyebut dirinya sebagai puisi gelap yang tidak pernah dilihat oleh kekasihnya. Maka sempurnalah kalimat-kalimat yang suci bermunculan di tiap larik- puisinya, berikut ungkapan dalam amarahnya yang masih membantu di harapannya,

Mendekatlah

Pelukanku adalah tumbuhan paling hijau di halaman sukmamu,
Akarku paling mencengkeram dalam daging rasamu
Mataku paling menikam tepat di busung dadamu yang kau banggakan pada beberapa wanita
Dan kau tahu, mereka mencintaimu hanya dalam kata-kata, yang ingin mati dalam kata-kata

Pulanglah kepadaku, kekasih gelap puisi.
120717
Kau, Kesunyian dan Kematian
23 judul puisi yang terdapat 25 kata dalam diksi “Sunyi” yang digunakannya dalam antalogi tersebut. Kuantitas sebanyak itu, kita memiliki interpretasi bahwa penyair memiliki banyak ruang pikiran yang begitu sunyi diantara sunyi-sunyi lainnya. Dan menempatkan diksi yang begitu tak canggung-canggung untuk menunjukan seseorang yang ia harapkan dalam puisinya. Ia seolah menjadi satu paket dalam pernyataannya, juga pandai akrobat dalam kata-kata di tubuhnya. Seperti lakon, persis kita menyaksikan tiap puisi yang dituliskannya dalam MS ini.

AKU ADALAH KAU
Sunyi, malam-malam yang aku punyai adalah kau,
Menjadi kalimat rangkai, memanjat hening.
Pula kau, menyusup ke dalam urat-urat hatiku, mengabarkan sepi yang sebenarnya.
Dada siapa yang engkau huni selain dadaku,
Sementara aku merasa seutuhnya aku adalah kau
Seperti malam-malam lalu, gemuruh-gemuruhmu
Tetaplah sunyi, membawaku berbaur hening di bawah rinduku yang hawa
Tetap kau, yang sebenarnya kita saling menghuni ada atau tanpamu sebagai tiada
19082017

Dengan puisi kedua yang sama namun memberi pernyataan terhadap keinginannya yang begitu ilutif, berjudul

ADALAH KAU
Yang tak pernah redup di mataku adalah kau,
Menerjang-nerjang saraf, menyetubuhi ngilu dinding hatiku
Yang aku tasbihkan menjadi telaga di lubang pikirku
Adalah kau, bergerombolan di permukaan napas
Terengah menahan resah.

Yang menjadi hantu di malam-malamku adalah kau,
Merayapi ingatan menjadikan aku takut kehilangan
Semua menjadi kau ketika pagi menjenguk pintu rumahku,
Berdiri kau sebagai lelaki dengan setumpuk diksi,
Memenuhi puisi yang lahir dari bayang-bayangmu.
2017

Ia seperti dihantui oleh bayang-bayang kekasihnya yang kian fana dimatanya. Dengan keistiqomahan DianSi terhadap keakuan cintanya yang kini belum berbalas bahagia, namun sosoknya tetap sempurna dalam khayalnya. Hingga maut pun menyaksikan cinta sucinya yang tanpa batas itu, seperti Juliet yang menunggu pasangannya memberi kehangatan dalam bentuk pertemuan, cukup itu dipintanya. Seolah kebesaran hatinya seperti Zulaikah yang bertahan, niat dan usahanya tak henti memberikan rayuan secara terang-terangan kepada Nabi Yusuf. Barangkali DianSi ingin abadi dalam harapan-harapannya, begitu pula bila dengan kepergiannya. Dalam perihal takdir, bahkan kematian seorang penyair pun, dimasa kepilauan dan kesunyiannya, ia tetap menjadi penyair yang selalu memberikan sajak-sajak segarnya kepada seseorang yang dianggapnya istimewa tersebut. Kekasih.

Dalam puisi berjudul NISAN KESUNYIAN terdapat ungkapan berikut, “aku sudah lama menghitung sunyi, bahkan kematian berulang kali tak mampu membunuhku.” Dan “berpikirlah, bahwa aku telah memilih pergi, sebab tanganku tidaklah sekokoh karang yang mendekapmu lebih dalam, selain hanya nisan kecil yang dirawat air mata.” Begitu pula dengan puisi berjudul LAGU KEPULANGAN mengatarkan ingatannya kepada sang esa, berikut diksi yang disenandungkannya “pada doa-doa putus asa aku mendatangi-Mu, dan Engkau maha mengetahui apa-apa yang terjadi.” Kemudian diakhirinya dengan keputus-asaan yang mewah, “aku sebagai kupu-kupu yang hinggap sekarat di daun-daun rapuh, menunggu layu lalu luruh menjadi bangkai,” tutupnya dengan tanggal 13 Februari 2017.

Mungkin, mengakhiri tulisan ini dengan mengutip puisinya yang paling sunyi dan kosong. Ia masih mengingat segala kenangan yang sering hinggap dalam kisah kasih yang belum utuh tersebut. Sehingga perempuan tabah itu disulap menjadi penyair yang abadi, dalam sajak-sajaknya berjudul KISAH, “Dalam pelukanmu, aku pernah menjadi debu,” 2017. Keep smile dan spirit woman, penyair DianSi. Salam literasi dan hidup sastra!

Senin, 10 Desember 2018

PERTUKARAN PELAJAR KE JEPANG, DUA MAHASISWA UIN ANTASARI MENGASAH KEMAMPUANNYA MELALUI PROGRAM JENESYS

Jerina Fujiantie (Kiri) dan Miftah Al-Farhan (Kanan) di Bandara Syamsudin Noor.
Dalam rangka membangun solidaritas di Asia Timur, pemerintah jepang mencanangkan program ASEAN - Japan East Asia Network of Exchange and Youths (ASEAN-JENESYS) dengan mengundang pemuda dan pelajar ke Jepang. Program ASEAN-JENESYS akan berlangsung selama 5 tahun dan setiap tahunnya akan diundang sebanyak 6000 pemuda/pelajar seluruh negara Asia Timur. Di Indonesia program ini diselenggarakan dibawah koordinasi Japan Foundation, AFS dan JICE (Japan International Cooperation Center). JENESYS kali ini bekerjasama dengan Pengkajian Pusat Islam Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Jakarta.

Dikeluarkannya pengumuman calon peserta terpilih Jenesys 2018 pada tanggal 6 November 2018, Ciputat. Tertanda tangani oleh Saiful Umam, Ph.D (Direktur Eksekutif) dalam lampiran bahwa 2 delegasi pertukaran pelajar UIN Antasari ke Jepang yakni Miftah Al-Farhan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dan Jerina Fujiantie mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, Senin (10/12) Pukul 05.00 WITA, berangkat menuju Jakarta dalam pertemuan delegasi mahasiswa UIN se-Indonesia.

Ada 9 orang perwakilan mahasiswa UIN se Indonesia. Diantaranya perwakilan dari mahasiswa UIN Antasari, UIN Mataram, UIN Sunan Kalijaga - Jogja, UIN Maulana Malik Ibrahim - Malang dan UIN Syarif Hidayatullah - Jakarta.

Sembilan mahasiswa UIN se-Indonesia sedang makan siang bersama Kedutaan Jepang di Jakarta, Senin (10/12).

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Hj Nida Mufida menyampaikan bahwa pertukaran pelajar ke Jepang dari kedua mahasiswa UIN Antasari tersebut memang benar. Ia juga mengaku bahwa program kerjasama ini pertama, “Itu semua, mulai awal administrasi sampai proses sekarang, sudah kami kawal resmi,” ucapnya.

Malam, Selasa (11/12) Pukul 12.23 WITA – menerima pesan dari Miftah bahwa mereka sebentar lagi akan berangkat, Take Off, disela wawancara melalui via Whatsapp. “Hal pertama yang harus saya maksimalkan adalah pengetahuan umum tentang negara Jepang itu sendiri, terkhusus dalam hal ini adalah mengenai bahasa & budaya. Karna jelas, bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang nantinya akan memudahkan kami dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Begitu juga dengan budaya, dengan hal ini kita akan mudah membaur dan beradaptasi dengan kondisi kehidupan lingkungan orang di sana,” ungkap Presiden Mahasiswa UIN Antasari tersebut.

Miftah berharap dengan adanya kegiatan ini, “Semoga kami yang dipercayakan untuk menjadi perwakilan kampus ini. Bisa memberikan sebuah pengalaman dan pembelajaran baru yang nantinya bisa diterapkan dalam kampus, demi kemajuan dan keunggulan perguruan tinggi ini di kancah internasional,” katanya. Kemudian, terkait tanggung jawabnya sebagai Presiden Mahasiswa pada lembaga Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA-U) UIN Antasari Banjarmasin. Ia mengakui benar, tanggungjawabnya belum selesai, masih ada beberapa hal yang ia fokuskan dalam sisa 3 bulan tersebut.

“Pertama, sebisa mungkin saya koordinir semua pengurus DEMA-U untuk bisa menyelesaikan semua program kerja bidangnya yang telah disusun. Kedua, menyelesaikan persoalan Student Center (SC) yang memang menjadi tanggungjawab bersama selaku warga SC dan dikoordinatori oleh kami selaku DEMA-U. Seperti halnya penerangan yaitu lampu, kebersihan (berupa Bak Sampah, Plastik Sampah), dan pengaliran air (WC dan Tempat Wudhu). Terakhir, yang menjadi fokus kami agar kepengurusan DEMA-U ini tidak terlihat hanya melaksanakan program-program tahunan (PBAK, PORSENI, PIALA KBM, dll), adalah dengan berusaha merampungkan AD/ART Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) yang memang sudah diwacanakan sejak awal kepengurusan. Sehingga harapannya, bahwa hal ini bisa berdampak positif bagi kepengurusan DEMA-U dan KBM selanjutnya,” katanya.
Hasil keputusan seleksi dari panitia JENESYS 2018.

Diakhir, dia berpesan bahwa ia bersama pengurus DEMA-U memang tidak bisa menjanjikan banyak hal kepada masyarakat kampus dalam kurun waktu setahun dalam periode kepengurusan tersebut. Namun, Miftah meyakinkan bahwa percayalah tidak ada progress yang mereka buat tanpa landasan niat untuk kemajuan kampus dan kesejahteraan para mahasiswanya.

Berbeda dengan Jerina, pada semester tiga ini ia menerima tanggungjawab baru sebagai delegasi pelajar UIN ke Jepang. Pengalaman pertama, ia merasa bersyukur, “Semoga ilmu yang di peroleh disana nantinya. Bisa saya bagikan ke kampus UIN Antasari dan tentunya, diterima oleh kawan-kawan disini. Soalnya percuma bila saya berbagi, kalau nanti kawan-kawan di sini. Tidak menerima perubahan atau tidak terbuka. Itu utama yang harus saya persiapkan bagaimana saya bisa berbagi dengan kawanan di UIN selepas itu,” ucap perempuan kelahiran Buntok tersebut.

Jerina merasa program ini bertujuan untuk bagaimana dia menjadi delegasi yang terbaik ketika pulang dapat membawa dan membagi ilmunya. Jelang sebelum berangkat, pertama, ia fokus pada persiapan berkas, fisik, psikis, dan mental. Sisanya, ia sambil mencari informasi tentang Jepang. Selain itu, Going Abroad, ia juga mengaku perjalanan ke luar negeri ini salah satu impian terbesar yang ingin dicapainya dan terus ia kembangkan setiap ada kesempatan seperti ini, bebernya seusai menutup wawancara via Whatsapp kepada tim Sukma. (M Rahim/lpm-sukma)

Sabtu, 01 Desember 2018

PENTAS AKHIR GSMS, SYARIF BERHARAP SISWA SMAN 1 CANDI LARAS AGAR KONSISTEN BELAJAR


Sukma
Pentas akhir dalam agenda penutupan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS 2018) melaksanakan  Parade dan Musikalisasi Puisi di SMA Negeri 1 Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Jum’at (30/11) Pukul 15.00 WITA, sore. Para peserta GSMS berjumlah 21 siswa mempersiapkan dirinya untuk tampil 7 pembaca puisi dan diakhir, keseluruhan siswa menampilkan musikalisasi puisi dalam acara tersebut.


Ahmad Subakti selaku Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan menyampaikan dalam sambutannya bahwa SMA Negeri 1 Candi Laras adalah sekolah pilihan yang beruntung ditunjuk oleh pemerintah pusat menjadikan tuan rumah dalam program GSMS tersebut. “Satu-satunya sekolah yang dipilih dari seluruh sekolahan yang ada di Tapin,” ungkapnya. Ia memaparkan ada 20 sekolah pilihan GSMS dari empat Kabupaten diantaranya Tapin, Kandangan, Barabai dan Pelaihari, menjadi titik tempat berkegiatan. Subakti berpesan kepada pihak sekolah bahwa kegiatan seperti ini terus dilanjutkan agar siswanya dapat berkembang untuk mengasah kemampuannya.

Kepala Sekolah SMAN 1 Candi Laras Rudiansyah mengaku senang bahwa sekolahnya menjadi tempat belajar berkesenian, kemudian ia bercerita dalam sambutannya bahwa bulan lalu sempat mengirimkan siswanya ke acara Balai Bahasa. Tanpa belajar dengan modal komitmen pihak sekolah tetap mengirimkan siswa ke perlombaan tersebut. Namun, berkat kegiatan GSMS ini ia sangat berterimakasih kepada Mentor, Asisten dan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaaan telah menyelenggarakan serta memberikan pengalaman yang baik untuk siswanya.

 “Ada tiga point penting dalam pesan hidup kita yaitu Agama, Seni dan Ilmu. Pertama, dengan agama hidup kita akan terarah. Kedua, dengan seni hidup kita akan indah dan terakhir, dengan ilmu hidup kita akan menjadi mudah, ” nasehatnya. 
Sukma

Adapun selaku seniman juga mentor selama mengajar GSMS, Syarif Hidayatullah berharap pihak sekolah akan terus melaksanakan kegiatan yang berkelanjutan. Selama 27 kali pertemuan, ia merasa bahwa siswa itu cukup terlihat dari segi kemampuannya. Syarif juga berpesan bahwa untuk mengasah kemampuan perlu adanya konsisten dari siswa dan ia inginkan agar terus berkarir, ungkap penyair muda Batola kelahiran 1992 tersebut.

Ahmad Tahir mendapat pengalaman pertamanya di kegiatan GSMS tersebut. Puisi adalah ruang baru dalam hidupnya, begitu pun saat membacakannya diatas panggung, “Saya awalnya tidak menyukai. Tidak mengenal. Pada akhirnya kegiatan ini mengenalkan saya pada pengalaman baru yang menyenangkan,” ujarnya saat ditanya seusai kegiatan.

Tahir merasa kegiatan GSMS memberikannya wawasan, ia mengatakan banyak terimakasih kepada mentornya Syarif Hidayatullah selaku seniman yang telah mengajarkannya. “Menulis dan cara membaca saya dapatkan dari beliau. Alhamdulillah ilmunya dapat,” kata siswa kelas X MIPA tersebut, sembari mengungkapkan rasa maaf apabila ada candaan yang kurang berkenan kepada mentornya tesebut.

Reporter: M Rahim

Mewujudkan Banjarmasin Kota Inklusi di HDI 2018

Foto: Tim Sukma

Pembukaan peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2018 yang diselenggarakan oleh Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Banjarmasin bersama Pemerintah Kota dan Organisasi Masyarakat di Banjarmasin digelar dalam rangka mewujudkan Banjarmasin sebagai kota inklusi. Dimulai sekitar pukul sembilan waktu setempat di Siring tepatnya depan kantor walikota Banjarmasin, Sabtu (01/12).

Acara bertajuk “Kayuh Baimbai : Kami bisa, Kita sama” akan berlangsung selama dua hari kedepan yaitu Sabtu-Minggu, (01-02/12) dibuka dengan penampilan Pantonim yang dipersembahkan oleh Gerakan Kesejaterahan Tuli Indonesia (GERKATIN).

Tak hanya itu, Kelompok Paduan Isyarat pertama kali di dunia yang dipelopori oleh Banjarmasin juga turut memeriahkan acara dengan membawakan Lagu Indosesia Raya dan Lagu Pandu Inklusi Nusantara. Ibnu Sina menamakannya sebagai Paduan Isyarat Baiman. “Sudah betasmiyah hari ini” Ujar Sang Walikota Banjarmasin itu.

Dihadiri oleh penyandang disabilitas, para murid sekolah inklusi, perusahaan-perusahaan, perwakilan pemerintah pusat, serta para duta besar yang mendukung gerakan kota inklusi.
Peringatan HDI 2018 ini disebut-sebut sebagai pemantik awal informasi job fair bagi penyandang disabilitas yang rencananya akan digelar tahun 2019 mendatang.

Serangkaian acara peringatan diisi berbagai kegiatan mulai dari deklarasi duta anak inklusi, seminar dan lokakarya, talkshow, serta adanya perlombaan.

“Ada 5 cabang lomba yang di perlombakan. Ada Menari, Baca puisi, Fotografi, Menggambar dan melukis di atas tanggui” Ujar Slamet Triadi selaku ketua pelaksana saat di wawancarai tim Sukma.

Selain itu, pemberian penghargaan dan pensiunan pengajar di sekolah luar biasa, penghargaan kepada sekolah inklusi SMP 14 dan kepada  Universitas Lambung Mangkurat. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Siti Wasilah penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Banjarmasin yang tidak lain adalah istri walikota.

Foto: Tim Sukma

Slamet yang aktif menjabat sebagai Ketua PPDI Kota Banjarmasin ini juga menambahkan adanya pameran hasil karya disabilitas yang menjadi puncak peringatan HDI 2018 ini. 

“Lewat pameran ini kami ingin menujukan pada masyarakat bahwa kami juga bisa berkarya dan memberikan yang terbaik pada masyarakat kota Banjarmasin” pungkas Slamet.


Reporter: Anggun R.P
Editor: Wahyu Nj

Labels