LPM SUKMA

Lembaga Pers Mahasiswa Yang Bergelut di Biddang jurnalistik Kampus

LPM SUKMA

LPM SUKMA

Buletin BERANTAS

Berani Angkat Suara dan Berintegritas (BERANTAS) adalah buletin mingguan yang diterbitkan oleh LPM SUKMA, buletin ini memuat tentang pemberitaan investugasi seputar permasalahan kampus.

SUKMA Pro 2 Kampus

Selain bergerak dibidang Jurnalistik cetak, LPM SUKMA juga bergerak di bidang penyiaran radio RRI Pro 2 Kampus.

SUKMAGAZINE

Majalah yang diterbitkan oleh LPM SUKMA setiap 6 Bulan, Memuat segala sesuatu tentang dunia mahasiswa.

Selasa, 17 Januari 2017

Mengukur Setahun Kinerja DEMA "Ihsan-Alif : 48% Kurang Puas



B-Sukma- Tak tanggung-tangung, DEMA IAIN Antasari di bawah Komando Ihsan-Alif merencanakan ada 38 program kerja sejak awal terbentuknya, dan akan dilaksanakan selama masa jabatan periode 2016-2017. Di bawah Kabinet BAPER (Bawa Perubahan -red), Ihsan yakin pihaknya sudah membawa perubahan yang lebih baik hingga akhir kepengurusannya kini.


Ihsan menambahkan, bahwa perubahan yang mereka bawa kini sudah terlihat. Misalnya mereka berupaya dalam membuat program kerja, dimana pihak DEMA meminimalisir program yang berbentuk Event Organizer (EO). “Mencoba melawan stigma kalau organisasi itu harusnya tidak seperti EO. Tapi, tidak bilang kegiatan jenis EO harus dihilangkan,” Ungkapnya kepada Tim Sukma.


Tidak hanya itu, lelaki yang memiliki nama lengkap M. Abdillah Ihsan juga mengungkapkan bahwa DEMA mencoba memberikan pemahaman tentang KBM (Keluarga Besar Mahasiswa) itu bukan hanya UKK/UKM, tetapi seluruh Mahasiswa. “Hingga hari ini, solidaritas BEM se-Kalimantan Korwil Kalsel meningkat drastis,” Tambahnya.


“Yang terakhir, menjalankan perannya (red. DEMA) keluar. Kebetulan DEMA IAIN tahun kemarin menjadi plt. Korwil Kalsel BEM se-Kalimantan, kami mencoba membuat perubahan dengan merapatkan barisan kawan-kawan BEM Kalsel, dan Alhamdulillah disambut baik oleh kawan-kawan diluar (red. BEM Kalsel),” Tutupnya saat wawancara via media sosial BM, Jum’at (13/01).


Mencoba mengkonfirmasi keberhasilan yang di sampaikan oleh Ihsan. Maka tim Sukma pun menyebar  polling terkait tanggapan mahasiswa tentang kepuasan terhadap kegiatan DEMA, Rabu (12/01). Sejumlah 33 responden perwakilan dari setiap UKK/UKM menanggapi kinerja DEMA tahun ini dengan berbagai macam tanggapan.

Survey LPM SUKMA terhadap kinerja DEMA 2016/2017





Dari sebagian besar responden yang mengikuti kegiatan DEMA, 48,48% merasa kurang puas dengan kinerja DEMA. Sisanya, 18,18% merasa puas, 15,15% tidak puas, dan 18,18% lainnya merasa cukup puas. (Tim Sukma)

Selasa, 10 Januari 2017

Kegiatan Kreatif MAPALA Meratus Melalui Hidroponik


B-Sukma, Selasa (10/01) Bagi sebaian Mahasiswa IAIN Antasari yang melintas di sekitar gedung Student Center tentu tak asing lagi melihat beberapa tanaman seperi Sawi, Kangkung, Tomat, Lombok, Terong dan tanaman lainnya yang tersusun rapi di sebagian halaman gedung ini. Lahan yang terbatas tak membuat UKK MAPALA IAIN Antasari berherti melakukan penanaman. Melalui Hidroponik beberapa tanaman tersebut dapat umbuh subur.

Saat ditemui (Selasa, 03/01), Muhammad Adil (23) mengatakan bahwa Hidroponik ini dikembangkan sejak tahun 2014 dan untuk penanaman yang menggunakan media tanah dimlai sejak 2016.

“Penanaman dengan Hidoponik ini tidak terlalu susah karena kita menggunakan media air.Yang perlu diperhatikan adalah air dan nutrisinya jangan sampai habis. Terlebih lagi, untuk merawatnya kami bisa lakukan secara bergantian” ucapnya menjelaskan
Lak-laki ini mengaku hasil dari tanaman digunakan untuk konsumsi sendiri oleh kawan-kawan MAP
ALA Meratus, ada yang dibagikan dengan dosen dan kadang ada yang di jual.
“Mulai tahun ini kam juga berencana untuk penjualan hasil tanaman Hidroponik” ucap laki-laki yang disapa Adil ini. (RF/lpm Sukma)

Perubahan Layanan Perpustakaan IAIN Antasari


B-Sukma Selasa  (10/01/2017) Perpustakan merupakan jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan dan akses informasi lainya. Sebagai mahasiswa tentu perpustakaa merupakan tempat sering dikunjungi. Namun sejak beberapa hari yang lalu ada sedikit perubahan jam pelayanan Perpustakan yang biasanya tutup pada pukul 18.00 menjadi pukul 16.00

Saat ditemui diruangannya (Selasa 03/01/2017), Laila Rahmawati (44) mengatakan perubahan jadwal pelayanan ini masih bersifat sementara dikarenakan masih menunggu ketetapan dari Rektorat tentang Anggaran dana DIPA yang baru . Adapun pertimbangan lainnya yaitu sudah hampir memasuki masa liburan yang berujung dengan drastisnya pengunjung perpustakaan. Sehingga sementara ini layanan perpustakaan  sesuai  hari & jam kerja, serta  tidak ada layanan perpustakaan untuk hari Sabtu dan Minggu.

“Perubahan ini hanya sementara saja, kami tetap mengusulkan seperti pelayanan sebelumnya. Kalau sudah ada ketetapan nanti pelayanan Perpustakaan akan seperti biasa lagi”ucapnya menjelaskan.

“Semoga dengan kebijakan yang baru nanti bisa membantu peningkatan pelayaan Perpustakan, sepeti menambah koleksi supaya bisa menyeimbangi dengan jumlah mahasiswa yang semakn banyak” tambahnya lagi.

Husaini “saya berharap layanan Perpustakaan tetap ada mulai pukul 08.00-18.00 dan juga layanan pada Hari Sabtu dan Minggu, mengigat keperluan dan kesibukan setiap mahasiswa itu berbeda-beda” ucap mahasiswa Pendidikan Matematia tersebut.

Lain halnya dengan Salasiah (21) salah satu mahasiswi IAIN Antasari ini mengaku setuju saja kalau layanan Perpustakaan sesuai jam kerja. “ Setuju saja kalau pelayanan perpusakaan sesuai jam kerja, namun pelayanan untuk Hari Sabtu dan Minggu diharapkan tetap ada karena merupakan hari yang pas untuk mengerjakan tugas” ungkapnya. (RF/lpm Sukma)

Sabtu, 31 Desember 2016

JIKA DEMA TANPA BENDERA

www.boredpanda.com
-    Dan makhluk-makhluk itu menjadi lebih perkasa

Jika DEMA tanpa bendera
Perang-perang akan redam
Harum demokrasi hanya topeng
Dan sungai-sungai birokrasi akan timpang-pincang

Orang-orang akan menyembah apa?
Sementara keyakinan mereka tergadai kepentingan
Sujud dan ikhtiar mereka dilindas peraturan yang mogok
Dan salam mereka memenuhi kotak-kotak perjuangan yang alpa

Jika DEMA tanpa bendera
Roda akan tetap berputar-putar
Keruas-ruas koalisi dan konsolidasi
Sementara orang-orang diluar hanya memburu nilai dan ujian

Orang-orang akan diskusi apa?
Sementara program tahunan yang macet ditengah jalan
Seperti ritual yang disusun rapi dihalaman-halaman proposal
Pemateri dengan mulut penuh bendera
Bercakap-cakap soal perubahan
Tanya jawab tentang atribut-atribut masa depan.

Jika DEMA tanpa bendera
Kebijakan-kebijakan akan tetap seperti sendiwara
Dalang dan pemain seperti drama penuh ending kejutan
Dan membiarkan para penonton bersorak dengan hiruk-pikuk

Orang-orang akan bersuara apa?
Mereka hanya sibuk berbaris dalam konsentrasi ilmu  yang absurd
Bukan soal persoalan tentang aspirasi
Atau gaduh isu yang tertelan waktu
Sementara sebagiannya terus mengibarkan bendera
Bendera yang diterpa angin
Dan,mengapung-ngapung diudara.

Jika DEMA tanpa bendera
Kita sebagai rakyat akan tetap sibuk disuruh memilih
Kepemimpinan bukan soal kredibelitas atau treak rocort
Tapi semata-mata meneruskan dinasti yang di beri pupuk kandang
Biar tumbuh bunga-bunga bangkai. Dan baunya menyebar ke gang-gang jurusan.

Orang-orang akan memilih apa?
Sementara kita terus dipaksa memaksakan kehendak
Kehendak mereka yang terus berburu bangku nomor wahid
Lalu kita ditelantarkan dijalan yang panjang
Sepanjang waktu yang penuh dendam lawan sebelah.

Jika DEMA tanpa bendera
Akan ada yang terus berkibar
Tentang hati kami yang terus menyala
Dari redup birokrasi dan demokrasi
Dari perubahan-perubahan yang membentur anggaran
Dari jalanan yang terus tergenang air hujan
Dari program kerja orang-orang gila kepentingan
Hati kami tetap akan menyala.

Menegakan bendera tanpa gelisah
Bendera dengan warna putih tanpa menang-kalah
Dan membiarkan hati mereka yang melukis harapan masa depan
Hati kami akan berkibar.

Banjarmasin, 31 Desember 2016 

Moh Mahfud. Suka menulis puisi dan awal tahun 2016 lalu ia memenangkan Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional di Universitas Brawijaya, Malang, dan juara 3 lomba penulisan Naskah Drama Modern yang diadakan oleh Dewan Kesenian Banjarbaru tahun 2015. Puisi-puisinya beberapa kali dimuat di Radar Banjarmasin, Banjarmasin Post, Barito Post, Radar Surabaya, Majalah Horison dll. sekarang aktif di LPM SUKMA

Jumat, 30 Desember 2016

Bulletin Anggota Muda Pra PJTD LPM SUKMA IAIN Antasari

Selamat atas selesainya bulletin anggota muda LPM SUKMA 












Selasa, 13 Desember 2016

MENELANJANGI PERSIAPAN ‘UIN ANTASARI

opini oleh: Moh Mahfud (Pimpinan Umum LPM SUKMA)



“Duduklah, Bung... sebentar lagi berangkat” Kata Sopir, seraya beranjak pergi untuk mencari penumpang lain. Didalam angkot warna silver, Penumpang itu duduk berhimpitan dengan penumpang lain. Ada ibu-ibu yang mengendong anak kecil, bapak membawa kurungan ayam, sampai anak-anak yang baru pulang sekolah. Sama-sama berdesakan dalam satu ruang, L300.

Analogi diatas rasanya begitu tepat menggambarkan IAIN Antasari sekarang. Anggaplah angkot itu kampus “IAIN” dengan supir bernama “rektor”, dan sedangkan beragam penumpangnya adalah “Mahasiswa”.

Tujuan penumpangnya yaitu sama, naik angkot dan sampai ketujuan masing-masing dengan selamat. Simple. Namun, terkadang banyak masyarakat berhadapan dengan supir yang tiap terminal berhenti cari penumpang baru, atau mobilnya tiba-tiba ditengah jalan yang sepi rumah penduduk banyak bocor dan si Sopir malah lupa bawa ban cadangan, sedangkan penumpangnya dibuat terpanggang dalam L300. Apa reaksi mereka? Tentu beragam. Silahkan jawab sendiri.

Saking leluasanya menjadi “Sopir” yang mengendalikan pedal gas atau berangkat tidaknya ke terminal lain, kadang jurus Supir membujuk penumpang baru adalah dengan bahasa cukup menjanjikan. “Bung, ayo ke Tanah Laut, langsung berangkat” biasanya begitu. Coba tebak, misalnya ada penumpang baru. Jawabannya, perlakuaannya sama dengan penumpang sebelumnya. Rakus penumpang dengan segama iming-iming bahasa menjanjikan.

Saya jadi ingat tempo dulu waktu ikut sosialisasi fakultas ke sebuah pondok pesantren di pinggiran kota Banjarmasin. Saya baru nyadar ternyata peran saya adalah kernet, yaitu memobilisasi masyarakat untuk bergabung dengan angkot bernama “IAIN”. Tentu saya dan kawan-kawan lain tak mengetahui tujuan kemana angkot tadi, intinya, membujuk penumpang sebanyak mungkin dan membuat supir bernama “Pak rektor” itu bahagia, titik.

Dalam kondisi demikian, saya teringat kata-kata Carlos Fuentes “Penulis harus memakai bagian terbaik dari harinya”. Mungkin, hari dimana saya dkk mempersentasikan angkot kami adalah hari paling baik, minimal mereka (penumpang) tau bahwa angkot kami akan mengantarkan mereka kewilayah paling menyenangkan di bumi, ketempat-tempat yang jarang orang kampung tahu soal geriap kota-kota wisata.

“Bung, sudah sampai” Kata si Sopir saat tiba di terminal terakhir. Si Penumpang turun, ternyata kampung (tujuan sebenarnya) masih sangat jauh dan terpaksa harus cari tukang ojek untuk mengantar keliuk-liuk jalanan desa.

Sintimen Mahasiswa terhadap Berita
Lima tahun lalu, TABLOID SUKMA mengangkat judul “Oh UIN, kau dipuja sekaligus dicaci” merincikan wilayah IAIN yang digadang-gadang akan dibangun di Banjarbaru seluas 80 hektar (Di Gunung Guntung Manggis, Banjarbaru). “Wilayah yang ada di Banjarbaru adalah hibah dari pemerintah provinsi” kata birokrat Kampus. “UIN akan terealisasi di tahun 2013 dengan bantuan 500 miliar dari Islamic Development Bank (IDB)”. Tambahnya. Namun, kenyataannya adalah, 30 hektar pembelian kampus sendiri dan 50 hektar dibelikan Pemerintah Provinsi (Tabloid Sukma/II/Maret/2011). Sedangkan luas wilayah yang ada di Banjarmasin hanya 11 hektar (Rektor/SUKMAgazine/II/2015).

Masalah wilayah memang selalu menjadi alasan tiap kali ada isu UIN, setidaknya komentar yang keluar itu begini “Kami canangkan bangunan di Banjarbaru sebagai kampus II yang nantinya bangunan didalamnya begitu megah” begitulah kira-kira. Sudah lama isu UIN ini beredar, sepengetahuan saya saat diskusi dengan kawan-kawan senior mengatakan bahwa isu ini pertama kali ada sejak tahun 2005. Hingga IAIN berumur sepuh (51) sekarang, isu ini hanya sebatang isu, banyak birokrat kampus berkomentar, anak-anak ingusan bernama mahasiswa bilang “Alhamdulillah IAIN sekarang jadi UIN” dan semacamnya.

Jika menelusuri gembar-gembornya berita UIN, sekurang-kurangnya ada beberapa media daring yang memberitakan IAIN ke UIN. Beberapa hari yang lalu, status Datu Syaikhu yang merupakan Kepala Humas IAIN  nulis begini

“Alhamdulillah.. hari ini Rabu, tanggal 30 Safar 1438 H bertepatan 30 November 2016 M, Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) secara resmi telah menanda-tangani izin prakarsa alih status IAIN Antasari menjadi Universitas Islam Negeri Antasari (UIN) Antasari. Insya Allah dalam waktu dekat Perpres akan diterbitkan. Mohon doa” Tulis bapak dua anak ini.

Ani Cahyadi Maseri II juga menulis “Good news: Mister President, Joko Widodo, ha signed the degree on the transformation IAIN to UIN Antasari today, 30 november 2016. Alhamdulillah” Tulis Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) ini.

Esok harinya, Noor Azmi, yang merupakan mantan ketua Dewan Mahasiswa IAIN Antasari tahun 2014 menulis yang judulnya begini “IAIN ANTASARI BANJARMASIN SECARA RESMI MENJADI UIN” dikutip dari lamppost.co dengan judul berita asli “Ini kata Rektor, Presien Jokowi Setujui IAIN Raden Intan Menjadi UIN”. Dan riuhlah mahasiswa soal isu UIN dengan komentar “Alhamdulillah”. Asumsi dasar mereka adalah IAIN dengan hitungan hari akan menjadi UIN, atau “Aku lulusan UIN Antasari”.

Sayangnya, dewasa ini acapkali mahasiswa mengkonsumsi berita tanpa teliti. Berita dianggap dalil paling kuat beradu argumentasi, berita yang beredar rektor IAIN Raden Intan mengatakan “Saya mendapat informasi dari pihak istana, Bapak Presiden sudah meneken izin prinsip (prakarsa) persetujuan IAIN Raden Intan menjadi UIN”. Seperti dikutip di www.lampost.co.

Padahal, jika kita telisik lebih detail lagi, IAIN Antasari menuju UIN itu masih lumayan lama, misalnya dari segi infrastruktur (Jika yang didengung-dengungkan adalah infrastruktur yang ada di Banjarbaru, pertanyaan mendasar adalah “Kapan pembangunan itu akan digarap? Berapa lama pembangunan itu akan rampung?”)
, simpang-siur dana IDB (“Bantuan 500 miliar dari Islamic Development Bank (IDB)” PR II, Dr. H. Burhanuddin Abdullah, M.Ag (TABLOID SUKMA edisi II/Maret 2011). Menurut Ani Cahyadi batuan dari IDB sebesar 600 miliar, sedangkan menurut Syaikhu bantuan tersebut berjumlah 650 miliar), program studi yang minimal harus berakreditasi B (Silahkan cek berapa banyak prodi yang masih terkantung-kantung diakreditasi C), Juruan harus agama/umum, tenaga dosen dan jumlah mahasiswa juga mempunyai kreteria khusus (Persyaratan menjadi UIN adalah mahasiswa minimal 10.000, pada tahun 2015 mahasiswa IAIN Antasari berjumlah 8.086. sedangkan calon mahasiswa baru tahun 2016 berjumlah 2.500 mahasiswa).

Melirik Diri dengan Mensyukuri yang ada
Meski UIN Antasari masih terbilang jauh dari pandangan, kita patut bersyukur lantaran kita sudah bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, saya sering ketika diskusi malam di Pasar Lama masih menemukan pemuda-pemuda ngamen, pemuda-pemuda yang memilih ikut bapaknya berjualan lantaran soal keuangan, pemuda-pemuda desa yang memutuskan menganggur dirumah, pemuda-pemuda yang pengin kuliah dan sama seperti kita diperguruan tinggi.

Nanti, setelah (misalkan) resmi menjadi UIN Antasari, apakah keilmuan kita juga maksimal tentu merupakan pertanyaan pondasi yang harus dibisikkan dalam hati mahasiswa sekarang. Intinya, berlabel apapun perguruan tinggi kita nanti, tentu yang akan terlihat adalah kreatifitas dan jati diri dari mahasiswa yang sebenarnya. Kita hanya berproses dan mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan mensyukuri apaadanya.. wallahu wa’laam..

foto: Lay

IJIN PRAKARSA: UIN DILEMBARAN IJIN PERTAMA


Wawancara Khusus dengan Kepala Humas IAIN Antasari, Akhmad Syaikhu, S.Ag, SS, MSi, MHI.
 
http://banjarmasin.radiosmartfm.com/thumbnail.php?file=DSC_1134_843064183.jpg&size=article_medium
Banjarmasin.radiosmartfm.com

 



B-SUKMA, -  Peralihan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari ke Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari pada bulan November lalu kembali muncuat dimedia sosial, terutama media sosial Facebook mahasiswa IAIN Antasari. Sepanjang penelusuran Tim Sukma, berita itu berawal dari media sosial salah seorang birokrat kampus IAIN Antasari dan media didaerah Lampung. Selanjutnya, berita itu diposting ulang banyak mahasiswa.

Menanggapi simpang-siur kabar peralihan status, Tim Sukma mencoba menelusuri kebenarannya. Salah satunya Tim Sukma bertandang ke kantor Humas IAIN Antasari dan berbincang-bincang dengan Akhmad Syaikhu (07/12/2016). Berikut petikan wawancaranya:

Tim Sukma: Kami dengar tanggal 30 kemarin Presiden sudah meresmikan IAIN menjadi UIN?
Akhmad Syaikhu: Belum, itu perlu diklarifikasi

Tim Sukma: Klarifikasi Bapak?
Akhmad Syaikhu: Yang ditanda-tangani oleh Bapak Jokowi adalah Ijin prinsip perubahan status IAIN menjadi UIN atau ijin prakarsa yang diusulkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi (Menpan-RB) dari status IAIN ke UIN. Perlu langkah-langkah lanjut lagi dari kementrian terkait itu akan mempersiapkan segala yang berkaitan dengan persyarat menuju ke UIN. setelah itu selesai, baru diajukan ke presiden untuk dibuatkan Perpres (Peraturan Presiden) setelah ditandatangani (presiden – Red) baru UIN itu resmi.

Tim Sukma: Bagaimana soal ijin prakarsa itu?
Akhmad Syaikhu: Ijin prakarsa datangnya dari Menpan-RB, ijin itu soal Mekanisme birokrasi, tidak terburu-buru Presiden menandatangani, perlu ada ijin prinsipnya. Kemudian lembaga yang terkait menyiapkan atau mempelajari segala sesuatunya, baru dipersiapkan konsep tentang Perpresnya, begitu ditandatangani jadilah Perpres.

Tim Sukma: Apa tindak lanjut setelah ijin prinsip nantinya disetujui?
Akhmad Syaikhu:  Setelah ijin prinsip ini disetujui (Presiden – Red), baru Menpan-RB ini bergerak menyiapkan segala sesuatunya menuju UIN, seperti peraturan presiden, pegawai dan anggaran. kemudian setelah itu terbitlah Perpres, dan Perpres itulah yang akan menjadi dasar bagi tim (Panitia – Red) berdirinya UIN itu.

Tim Sukma: Apa saja persyaratan menuju UIN?
Akhmad Syaikhu: Syarat-syarat yang harus dipenuhi itu, seperti tenaga pengajar, terkait juga dengan kualifikasinya, program-program studi yang akan dibuka, ‘kan UIN mensyaratkan ada program-program studi umum, itu berapa yang harus dipenuhi misalkan dengan perbandingan 40/60, 40% itu studi umum 60% itu studi keagamaan, mahasiswa harus mencapai target yang telah ditargetkan misalnya 8000, dan syarat-prasyarat itu sudah dipenuhi.

Tim Sukma: Bagaimana soal dana IDB?
Akhmad Syaikhu: Selain ijin prinsip itu yang telah ditanda tangani oleh presiden, kita juga sudah mendapatkan persetujuan dari Islamic Development Bank (IDB) untuk mendapatkan bantuan dana dari IDB kurang lebih sekitar 700 M, sebagian besar dana itu akan digunakan untuk pembangunan kampus baru IAIN yang berlokasikan di Banjarbaru. Dimana kampus itu telah dirancang, dan telah dianggarkan dana untuk membangun kampus itu. Dan semua itu akan dibiayai oleh IDB.

Tim Sukma: Kami juga dengar mengenai sarana dan prasarana IAIN. Bahwa, nantinya setelah rampung pembangunan di Banjarbaru hanya fakultas Syariah dan Ekonomi Islam yang hanya pindah ke Banjarbaru. Tanggapan Bapak?
Akhmad Syaikhu: itu cuma isu, isu itu belum dibicarakan secara resmi dannya nanti ada rapat senat. Kedepannya mungkin ada yang tetap disini dan bisa juga semua fakultas pindah ke Banjarbaru. mungkin nanti tempat yang ada disini menjadi tempat pelatihan guru-guru. Untuk sekarang, kita hanya fokus bagaimana mendapatkan bantuan IDB itu dan soal perubahan menjadi UIN. Hal-hal teknis seperti isu fakultas Syariah itu belum lagi.

Tim Sukma: Harapan Bapak tentang perubahan status?
Akhmad Syaikhu: Kalau misalnya ada orang luar yang membicarakan perubahan IAIN menjadi UIN, misalnya orang Nagara, orang Amuntai atau orang Alabiyu, itu merupakan support mereka bagi kami. Pada intinya mereka merasakan IAIN sekarang sudah menjadi UIN dan itu sangat penting untuk penunjang perubahan status kampus kita. (Yun-Ayu/Fud/LPM SUKMA)


Antologi Puisi Tingkat Nasional, tema “Meratus” deadline 5 Januari 2017. Info selengkapnya lihat di:
www.lpmsukma.com

Jumat, 09 Desember 2016

ANGGARAN KAMPUS AMBLAS!



:Mahasiswa dituntut kreatif dalam penganggaran kegiatan




BSukma - Pemotongan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi-Jk, lewat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indarawati yang terdiri atas pengurangan belanja kementerian/lembaga sebanyak Rp 65 triliun dan dana transfer daerah Rp 68,8 triliun di awal bulan Agustus kemarin, berdampak pada segenap kementerian dan lembaga di pusat maupun daerah.

Hal tersebut tidak terkecuali pada Institut Agama Islam Negeri yang berada dibawah naungan Kementerian Agama RI. Meski demikian, tak mengurangi kinerja empat Fakultas di IAIN Antasari. Seperti yang disampaikan oleh Saadillah selaku Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Perencanaan ”Pemotongan dana secara dasar memang berpengaruh terhadap aktivitas. Namun Anggaran untuk aktivitas kampus yang merupakan prioritas tetap memang harus ada” ujarnya saat diwawancarai tim Sukma, Jum’at (4/11).

Menurutnya, pemakaian dana harus sesuai dengan apa yang menjadi kepentingan serta tidak bisa membelanjakan diluar prosedur yang berlaku. Ia juga berharap agar kedepannya setiap tahun anggaran belanja yang diberikan negara bisa terus meningkat.

Sementara itu menanggapi pemotongan anggaran kali kedua oleh pusat ini, Fakultas Dakwah dan Komunikasi melalui Dekan Bidang keuangan dan Perencanaan, Aulia Aziza. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan Fakultas memang sedikit terkendala, namun sebagian besar kegiatan utama tetap bisa berjalan.

APBN yang Dipotong

Adapun pemotongan yang terjadi adalah pada kegiatan kemahasiswaan seperti seminar, workshop dan pengabdian masyarakat. Lalu, pemangkasan anggaran yang direalisasikan dari Fakultas adalah kegiatan yang direncanakan namun belum terlaksana sampai akhir bulan Oktober kemarin.

Aulia, juga berharap, agar para pengurus organisasi kemahasiswaan diawal tahun 2017 nanti sudah menyerahkan proposal kegiatannya agar dana yang keluar lebih mudah dan tidak ada lagi pemotongan anggaran tiap masing-masing organisasi.

Tak jauh beda dengan komentar diatas, Noripansyah yang menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Perencanaan di Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam, mengatakan bahwa pengurangan anggaran tidak akan membuat kegiatan kemahasiswaan dan fakultas mati “asal kita bisa mengelola dengan baik” Tuturnya. Menurutnya, yang terpenting pada saat dana dicairkan, dana tersebut langsung diserahkan kepada masing-masing penanggungjawab kegiatan, sehingga kegiatan tersebut tidak terkendala soal dana lagi.

“Sebenarnya kita sudah membicarakan ini dengan pihak fakultas, bahwa pemangkasan anggaran tidak akan mengganggu kegiatan organisasi, dengan catatan, anggaran kegiatan terlebih dahulu “ditalangi” oleh panitia. toh nanti diganti juga saat pelaporan dan pada saat dana cair” Tutupnya.



(Aprily,Azizah,Fauza,Iqbal,Lukmana,Murni,Rizal,Septi/Anna/SUKMA)