Ruang Redaksi

Advertisement

Sabtu, 16 Maret 2019

OPKU Adakan Daurah Tasawuf Sekaligus Launching Kitab

Lauching Kitab Serial Kesadaran dan Pendidikan  Spritual Ushul Al-Fikr Ash-Shuufiy.

BSukma-Organisasi Program Khusus Ulama (OPKU) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora gelar Daurah Tasawuf Nasional bertempat di Mesjid Abdurrahman Isma’il UIN Antasari Banjarmasin, sabtu (16/03).
Kegiatan ini merupakan rangkaian kedua dari acara yang dilaksanakan oleh OPKU, yang dimana pada satu hari sebelumnya dilaksanakan Seminar Nasional yang bertempat di Auditorium Mastur Jahri, sebagai pembuka dari kegiatan.
Daurah Tasawuf Nasional berlangsung selama dua hari yaitu hari sabtu sampai minggu, dengan menghadirkan narasumber Syeikh Rohimuddin Nawawi Al Bantani, Lc. MA yang merupakan cucu dari Syeikh Nawawi Al Bantani. Acara ini sekaligus launching kitab Ushul Al-Fikr Ash-Shuufiy serial kesadaran dan pendidikan spiritual (1) yang merupakan kitab karangan dari narasumber sendiri.
Kegiatan seminar seperti ini merupakan program tahunan yang dilaksanakan oleh OPKU, selain dihadiri oleh mahasiswa acara ini juga dibuka untuk umum.
Miftah Rusdi mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sekaligus ketua pelaksana berharap dari kegiatan ini semoga bermanfaat dan dapat menambah ilmu serta agar lebih perhatian peserta seminar terhadap ilmu tasawuf.
Senada dengan ketua pelaksana, Khairul Anam selaku Ketua OPKU mengatakan acara ini sebagai pengabdian kampus, serta agama. Ia mengharapkan agar bisa mencerdaskan orang lain dengan wawasan yang kita berikan.
“Acara ini sangat mengesankan bagi saya dan menambah pengetahuan baru serta pencerahan bagi jiwa yang kering oleh siraman rohani”, tutur Sofa Halisa peserta peserta Daurah Tasawuf Nasional.

Reporter:
Tugul dan Bunuk

Rabu, 13 Maret 2019

Menghindari Ketidaksiapan Beberapa Aspek, PPMF FDIK Tunda Pelantikan

 
Sumber: www.esm-software.com
Bsukma-Wacana pelantikan akbar anggota Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA), Senat Mahasiswa (SEMA) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi tertunda dua hari dari yang direncanakan, Rabu (13/03).

Ketua Panitia Pemilihan Mahasiswa Fakultas (PPMF) Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Gusti M. Irwansyah Syahputra membenarkan kabar ini. Bersama Noor Indah Wahyuni, selaku sekertaris PPMF FDIK menjelaskan perihal penundaan dilakukan karena menghindari ketidaksiapan dari beberapa aspek. “Pihak Sema terkait kelengkapan strukturnya yang belum siap dan ada beberapa dosen serta dekan tidak bisa berhadir pada hari itu,” ungkapnya saat keduanya ditemui Tim Sukma di Gedung FDIK.

“Karena pelantikan ini serentak, dan daripada kesiapannya hanya setengah-setengah saja, maka kita putuskan untuk mengambil jalan tengah yaitu penundaan acara pelantikan. Masalah struktur pihak yang terkait, kami dari pihak PPMF sudah mulai meminta dan menerima beberapa struktur dari tiap-tiap pihak. insyaAllah pada hari Kamis segala persiapan acara pelantikan sudah rampung," ucapnya lagi mengenai alasan penundaan pelantikan.

Lebih lanjut keduanya menyebutkan bahwa pelantikan akbar ini akan dilaksanakan pada Jum'at pagi tepatnya 15 Maret 2019 di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Islam dengan jumlah peserta keseluruhan sekitar 160 orang.

Menanggapi penundaan ini, Ahmad Ridha Syahbana selaku ketua DEMA terpilih tidak mempermasalahkan penundaan ini, pihaknya mengaku sudah siap dari struktur dan keanggotaanya. “Hanya saja dampaknya bisa memperlambat kami untuk melaksanakan proker yang sudah disusun,” akunya melalui pesan berbalas.


Reporter:Erka
Editor: Jarwo

Pendaftaran Tahap 4 Ricuh, Ma’had Al-Jami’ah Buka Pendaftaran Lagi

Foto: Maasi
Sudah tiga hari berlangsung terhitung kurang lebih 400 calon mahasantri/wati mendaftar di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ma’had al jamiah tahap keempat di Kopertais lantai I , Rabu (13/03).

Pendaftaran yang dilaksanakan dari hari Selasa-Kamis (12-14/03) ini berjalan ricuh meskipun telah dibuka dengan dua sesi pendaftaran tiap harinya yaitu pada pukul 08.30 - 12.00 WITA untuk sesi pertama dan pukul 13.30 - 16.00 untuk sesi kedua.

Menanggapi perihal tersebut, Husaini selaku Murabbi asrama 3 menyatakan bahwa kericuhan tidak hanya ada tahap keempat. “Ketika pendaftaran tahap satu pun sempat terjadi kericuhan, hanya saja tidak terdengar oleh orang-orang (red: civitas akademika tak terkait) dan hanya berakhir dikantor Ma’had al-Jami’ah,” jelasnya saat ditemui langsung oleh Tim Sukma di Asrama 3.


Menurutnya kericuhan ini terjadi karena ada beberapa mahasiswa yang bertukar tahap meski pihak ma’had sendiri telah membaginya pada tahap sebelumnya. Hal tersebut menyebabkan data-data di pihak ma’had pun berubah. Bahkan ada mahasiswa yang tidak melapor ke kantor ma’had dan langsung berpindah pada saat di Asrama.” Harusnya lebih baik sesuai aturan sejak awal, ketika mereka diletakkan di tahap 1 itu yang dilakukan. Karena jika hal itu terus terjadi maka pembagian tahap pun tidak akan ada gunanya,” tambahnya dengan lugas.

Menurut pernyataan Ermalina, selaku musyrifah Asrama 3 menyatakan bahwa tidak ada perubahan syarat dalam mendaftar. Pendaftar hanya perlu menyerahkan formulir, surat pernyataan bermaterai yang ditandatangani  dan melampirkan bukti pembayaran uang pendaftaran.

Begitu pula dengan prosedur pendaftarannya juga tidak ada perubahan, semua terbuka untuk semua jalur baik SNMPTN, UM-PTKIN maupun jalur Mandiri. Berbeda dengan prosedur peraturan didalam asrama semua diserahkan kepada murrabi/murrabiyah dan musyrif/musyrifah didalamnya.

Erma juga menerangkan bahwa Ma’had al-Jami’ah akan membuka pendaftaran kembali meskipun calon mahasantri/wati sudah mulai masuk asrama pada tanggal 17 Maret 2019 “Akan ada kemungkinan bahwa asrama akan membuka pendaftaran lagi untuk tahap selanjutnya, hal itu terjadi karena banyaknya mahasiswa UIN Antasari yang harus wajib asrama tetapi kuota asramanya terbatas,” tutup mahasiswi jurusan Psikologi Islam angkatan 2017 ini.


Reporter: nrl
Editor: Jarwo




Meski Kalangan Terpelajar, Kampus Belum Tentu Siap Masuki Era Digitalisasi.

Digitalisasi Pendidikan, UIN Antasari Tetapkan Presensi Online di SIAKAD baru (www.siakad.uin-antasai.ac.id)

Kemajuan teknologi yang begitu pesat sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Dampaknya menyebar secara luas ke seluruh penjuru negeri, masuk melalui setiap sendi-sendi kehidupan di tengah masyarakat. Berbagai penemuan pun dipublikasikan secara massal dengan embel-embel, ‘’Demi kemaslahatan bersama’’. Termasuk di dunia kampus seperti di Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin, yang mana saat ini menerapkan sistem Presensi Online untuk mahasiswanya. Dosen mengabsen mahasiswa dan mengunggahnya secara online.
Dengan adanya kebijakan presensi online sebenarnya dapat menguntungkan berbagai pihak diantarannya sedikit banyak menghemat penggunaan kertas, tidak adanya lagi kecurangan mahasiswa untuk titip absen, serta meningkatkan kedispilinan mahasiswa. Akan tetapi kenyataan tidaklah seindah harapan, dikarenakan banyak problema mulai dari ganguan server, dosen harus mencatat presensi secara manual terlebih dehulu, hilangnya koneksi internet 'WIFI' kampus, hingga kurangnya sosialisasi secara menyeluruh merupakan faktor yang sampai saat ini masih menjadi kendala di kampus sebesar UIN Antasari. Sebelum Presensi online permasalahan yang lebih dulu muncul ialah, pergantian website kampus  dari yang lama (www.siak.uin-antsari.ac.id) ke yang baru (www.siakad.uin-antasari.ac.id) juga menambah sederet problem kampus saat ini.
Di awal registrasi, banyak mahasiswa yang tidak bisa mengisi Kartu Rencana Studi (KRS). Mereka merasa terdesak untuk bisa mengisi KRS  dikarenakan takut tidak terdaftar perkuliahan. Padahal sudah membayar UKT namun tidak bisa berkuliah. Desas-desusnya ini karena terjadi eror disebabkan belum ditutupnya akun siakad lama oleh mitra kampus, sedangkan akun siakad baru sudah dibuka sehingga bagi mahasiswa yang melakukan pembayaran namun masih menggunakan siakad lama akhirnya tidak terdaftar ulang di siakad baru dan tidak bisa melakukan pengisian KRS.
Bermula dari registrasi ulang yang sebut saja salah alamat atau bingung harus menggunakan yang baru atau yang lama, salah langkah itu pun berimbas kesulitan pengisian KRS bagi mahasiswa. Pun dengan dosen pengampu mata kuliah yang sebagian meng-input hasil belajarnya dikedua akun SIAKAD itu. Error atau bingung? Entahlah, faktanya sekarang masih ada yang belum menerima hasil belajarnya meski sudah mendekati pertengahan semester.
Berkaca pada kampus dengan prodi akreditasi A terbanyak se-Indonesia, kampus sekelas Universitas Gajah Mada juga mengalami problema pada awal diberlakukannya sistem fingerprint pada 2012 lalu.  Jumlah kehadiran mahasiswa di fakultas kedokteran itu mengalami penurunan dari 81 % turun menjadi 75,46 % (sumber: balairungpress.com). Turunnya jumlah kehadiran mahasiswa diduga kuat akibat mahasiswa yang lupa absen fingerprint, titip absen, dan lainnya.
Hal ini menunjukan kampus-kampus di Indonesia sendiri belum siap sepenuhnya untuk menerima teknologi yang canggih. Padahal inilah lingkungan terpelajar dimana insan cendekia bermunculan yang kedepannya menjadi estafet penerus bangsa juga sebagai cerminan dari masyarakat. Disayangkan sekali pemanfaatan teknologi yang ‘mahal’ ini kurang bisa diapresiasi dengan baik. Jika ditelisik lebih dalam lagi sebenarnya yang menjadikan berbagai problema tadi salah satunya akibat kurangnya sosialisasi dikampus.
Seperti yang diungkapkan oleh Wakil Rektor  Bidang Akademik dan Kelembagaan (UIN Antasari),  Hamdan mengungkapkan,  "Sosialisasi secara menyeluruh sendiri mungkin masih terkendala dengan dana juga untuk kedepannya, kita harapan lebih maksimal tidak hanya dikalangan dosen tapi juga mahasiswa"[Berantas edisi selanjutnya perihal Presensi Online]. Perihal dana pun, juga menjadi momok tersendiri dikampus hijau ini.
Kalau boleh sedikit menyinggung bahwasanya dekan fakultas ushuluddin dan humaniora, Irfan pernah mengungkapkan peralatan kuliah di fakultasnya seperti zaman batu dan untuk membangun kembali dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Jika kita selalu menyalahkan dana kedepannya tidak dapat dipungkiri jika pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) akan mengalami kenaikan lagi. Padahal bukanlah rahasia umum, jika mahasiswa UIN Antasari memang kebanyakan berasal dari desa. Yang notabane-nya hidup serba pas-pasan. Sekarang pertanyaannya ialah, ‘’Sudah efektifkah penggunaan dana dikampus?’’. Karena selalu merasa kekurangan dengan dana.
Jika keinginan kita untuk maju tidak dibarengi oleh kesiapan seluruh pihak maka yang terjadi ialah seperti ini, kurangnya tingkat "Kepekaan untuk mencari informasi" yang melahirkan sikap tidak peduli sebagai refleksi dan menyalahkan kurangnya sosialisasi. Perlunya sikap keterbukaan pihak kampus juga sebagai ajang untuk meningkatkan rasa kepercayaan antar pihak. Sehingga kemajuan kampus bisa terlaksana, bukan dengan saling menyalahkan, Mahasiswa ke sistem, sistem ke dana, dana kembali lagi ke mahasiswa.

Penulis: Aida Fitri Rio Utami

Hamdan: Berorientasi pada Kualitas dan Efektivitas Pembelajaran, Bukan Kuantitas

Sumber: vectorkotor - WordPress.com
BSUKMA- Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan jurusan dengan populasi mahasiswa terbanyak di UIN Antasari Banjarmasin. Tercatat hingga tahun ajaran 2019/2020 keseluruhan mahasiswa PAI terakhir mencapai 1219 orang, dengan mahasiswa yang diterima di tahun terakhir berjumlah 160 orang. Menurut riwayat jumlah penerimaan mahasiswa di jurusan ini tiap tahunnya berkisar 220-300an, lebih banyak jika dibandingkan jurusan lain yang memiliki kuota hanya 120 tiap tahunnya.
Kendati dalam segi kuantitas mahasiswa dapat menunjang akreditasi kampus, namun perguruan tinggi islam yang tergolong baru menyandang status sebagai Universitas ini memprogramkan pembatasan kuota penerimaan mahasiswa baru pada tahun ini. Menanggapi isu tersebut, Surawardi, selaku Ketua Jurusan PAI mengaku membenarkan adanya pembatasan tersebut.Untuk PAI tahun ini sekitar 160-an saja,” Terkanya saat ditemui Tim Berantas, Selasa (05/02).
Dikonfirmasi lebih lanjut perihal sumber adanya pembatasan kuota PAI, ia mengaku pihaknya hanya memberi usulan. “Yang merencanakan penerapan pembatasan kuota ini sumbernya dari ketetapan pihak Rektorat,” Ucapnya lagi.
Kualitas guru agamanya ditingkatkan agar dalam hal pembinaannya lebih maksimal, Imbuhnya saat ditanya perihal alasan pembatasan ini. Menurutnya tujuan adanya pembatasan ini dikarenakan tiga alasan, menjaga rasio perbandingan antara dosen dan mahasiswa, menjaga kualitas pengajaran serta menyesuaikan ketersediaan sarana-prasarana. Dari keseluruhan mengarah ke kualitas ketimbang kuantitas yang nantinya menunjang peningkatan akreditasi kampus.
Selaras dengan itu, Hairul Hudaya, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kelembagaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) juga turut mengutarakan hal serupa. “Pembatasan penerimaan mahasiswa tersebut karena proses belajar mengajar saat ini sudah melampaui jam kerja dosen dan jam kuliah mahasiswa.” Ujarnya saat ditemui dikantornya, Rabu (06/03) pagi.
Berbeda dengan Kajur PAI, meski mengetahui adanya rencana pembatasan namun ia belum mengetahui  jumlah pasti kuota pembatasannya. Memperjelas hal itu, Tim Berantas menggali lebih dalam ke Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Hamdan untuk kejelasan pembatasan kuota mahasiswa ini.
Tanggapi simpang-siur isu pembatasan mahasiswa baru di Kampus UIN Antasari. Saat ditemui Tim Berantas Jumat, (08/03) sore. Hamdan tegaskan bahwa pembatasan jumlah mahasiswa baru tidak hanya diberlakukan untuk Fakultas Tarbiyah dan Keguruan namun juga  berlaku di fakultas lain. Hal ini dikarenakan keterbatasan lokal dan tenaga pengajar yang tersedia.
"Kita punya target untuk jurusan baru seperti Tadris Fisika,  Kimia dan Biologi akan dibatasi untuk satu lokal saja. Sedangkan untuk jurusan yang jumlah mahasiswanya tergolong banyak seperti Jurusan Pendidikan Matematika dan Jurusan Pendidikan Agama Islam akan kita batasi pula agar jurusan lain mendapat kesempatan menerima mahasiswa lebih banyak. Karena  kita sudah mulai berorientasi pada kualitas dan efektivitas pembelajaran bukan kuantitas." Jelasnya.
Hamdan pun menyampaikan belum ada angka pasti terkait jumlah mahasiswa baru yang akan diterima. "Kita sudah meminta kepada masing-masing Prodi untuk menghitung berapa jumlah alumni yang selesai, jumlah lokal tersedia, rasio dosen, dan kemampuan menerima, dari data tersebut nantinya akan disesuaikan sehingga jika semakin banyak mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya maka akan semakin banyak pula yang dapat kita terima, sementara ini angka kasar yang dapat dipatok adalah 2500 mahasiswa."
Sehubungan dengan itu, kebijakan dalam penjaringan mahasiswa baru tahun ini Hamdan terangkan ada sedikit perubahan. Pada tahun ini penjaringan mahasiswa menggunakan jalur SPAN-PTKIN, UM-Mandiri dan jalur Mandiri berdasarkan hasil evaluasi bersama di tingkat Universitas, namun menghapus jalur PSMB dan mengurangi persentasi penerimaan mahasiswa pada jalur SPAN-PTKIN.
Sebagaimana yang dituturkan Hamdan, terkait semakin ketatnya seleksi mahasiswa baru yang berorientasi pada kualitas nantinya akan direalisasikan melalui mahasiswa jalur SPAN-PTKIN yang bebas tes akan diberlakukan kesepakatan perjanjian bahwa dapat membaca al-Quran dan kecakapan lainnya dengan baik dalam waktu tertentu, “Jika tidak terpenuhi maka kampus tidak  dapat mempertahankan siswa tersebut." Tambahnya.
Selanjutnya dalam hal pengembangan di bidang akademik, Hamdan akui adanya rencana kampus untuk membuka Prodi bahkan Fakultas baru. Namun saat ini akan lebih difokuskan pada akreditasi perguruan tinggi yang akan di submit pada September 2019."Cita-cita itu memang sudah lama, namun kita bersabar saja dulu sampai selesai akreditas baru sehingga jurusan yang baru itu nantinya tidak menggerus akreditas yang sudah ada." Tutupnya.

Reporter : Tim Berantas
Editor      : Jarwo

Rabu, 27 Februari 2019

Hadirkan FMM di Harlah Teropong Community. Andi : Suka Dunia Perfilman Jangan Takut untuk Mulai.

“Film Ku Amal Jariahku” merupakan tema yang diangkat Teropong Commonity (TC) pada Seminar Nasional Film Muslim bersama Film Maker Muslim (FMM) dalam rangka Harlah TC yang ke-9 di Hotel Efa, Selasa (27/02) pagi.

Seminar yang dihadiri 200 orang dari  peserta dari berbagai kalangan seperti UIN Antasari, Universitas Lambun Mangkurat dan pelajar SMA, dan  tamu undangan serta panitia yang mengikuti seminar dengan narasumber yang langsung didatangkan dari FMM yaitu Sutradara M.Amrul Ummami dan Aktor/Talent FMM Andi Malingkaan.

Saat ditemui langsung usai acara, Amrul memberikan saran agar acara seperti ini dapat sering diadakan."Menurut saya seminarnya bagus dan sangat bermanfaat untuk film maker pemula atau yang ingin terjun ke industri perfilman."Ungkapnya.

Sama halnya dengan Amrul, selain menuturkan harapan untuk kemajuan TC, Andi juga memberikan nasehat kepada  TC. “Kalau kita suka dunia perfilman jangan takut untuk mulai, berusaha terus jangan pernah menyerah." Pesannya.

Jerina, selaku Ketua Pelaksana sendiri juga menyatakan  alasan mengundang FMM. “ Karena FMM itu adalah kiblat kita TC, karenakan itu karena film mereka itu mengandung dakwah sama dengan visi TC dimana setiap film itu harus mengandung dakwah”. Ucap Mahasiswi yang akrab disapa Jeje ini.

Senada dengan Jeje, Ma’aruf selaku Ketua Umum turut berkomentar alasan dibalik tema Seminar Nasional mereka. "Karena di TC sudah punya tujuan bersama jadi setiap ada acara perfilman kami selalu menyelipkan kalimat-kalimat dakwah." Ungkapnya.

Andi Wahyuni, salah satu peserta Seminar Nasional juga memberikan tanggapannya. "Harlah TC yang ke-9 ini sangat bagus dan menarik soalnya tidak hanya penayangan film tetapi juga digabung dengan seminar jadi selain kita menikmati film kita juga dapat ilmu yang bermanfaat dan pematerinya juga langsung didatangkan dari FMM sehingga banyak peminatnya." tutupnya.
Reporter : Haur dan Karubut

Kamis, 07 Februari 2019

PELATIHAN DASAR DINAS PARIWISATA PROVINSI, TUMBUHKAN SADAR PARIWISATA UNTUK TOPANG PEREKONOMIAN BERKELANJUTAN

Foto: Lukah

Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan selenggarakan Pelatihan Dasar Sumber Daya Manusia (SDM) Kepariwisataan Goes to Campus di Auditorium  Mastur Jahri, UIN Antasari Banjarmasin, Kamis (07/02).

Alfin Merancia, S. Mn, Kepala Sub Bidang Pengembangan SDM Kepariwisataan dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kegiatan Goes to Campus merupakan salah satu program Dinas Pariwisata pusat yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata daerah seluruh Indonesia dengan tujuan menumbuhkan wawasan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya sektor pariwisata untuk menopang perekonomian yang berkelanjutan.

"Dalam hal ini kami memilih pelatihan di kawasan masyarakat kampus karena mayoritas mahasiswa sebagai generasi digital dan millenial yang berintelektual berpontensi sangat besar untuk mempromosikan destinasi wisata Kalimantan Selatan dengan penggunaan media sosial", tuturnya.

Pelatihan yang diikuti 275 mahasiswa UIN Antasari ini berlangsung pukul 08.00-15.45 WITA dengan agenda penayangan film pendek dan penyampaian materi pelatihan kepariwisataan.

Adapun materi yang disampaikan antara lain mengenai “Kebijakan Pengembangan Pariwisata Nasional, Pelayanan Prima dan Sapta Pesona Bagi Mahasiswa” oleh Fransiskus Handoko, SST. Par., M. Sc (Widyaswara Ahli Madya Kementerian Pariwisata), Arah Kebijakan Pengembangan SDM Pariwisata di daerah Banjarmasin” oleh Drs. H. Dahnial Kifli, M.AP (Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan), “Peran Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan Pengembangan Kepariwisataan” oleh Dr. H. Nida Mufida, M. Pd (Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasana), “Peranan Industri Travel dan MICE Terhadap Peluang Kerja dan Pengembangan Industri Pariwisata Indonesia” oleh Tendi Nuralam (Tim Percepatan Kementerian Pariwisata).

Drs. H. Dahlian Kifli, M. AP, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan juga menyampaikan, "Pariwisata merupakan aset dan sektor penunjang perekonomian yang berkelanjutan dan tidak akan habis. Sehingga dengan pelatihan ini, besar harapan kami dapat mengarahkan sudut pandang kita terhadap pentingnya pengembangan pariwisata di Kalimantan Selatan".

Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Pelaksana, Mahasita Dian Artianingsih, bahwa pihaknya berterimakasih atas kesigapan UIN Antasari dalam kegiatan pelatihan yang merupakan agenda rutin tahunan sejak tiga tahun terakhir. “Ucapan terimakasih kepada pihak UIN Antasari yang dengan sigap menanggapi tawaran kerjasama oleh dinas pariwisata dalam pelaksanaan kegiatan” ujar Sita saat ditemui Tim Sukma usai acara.

Menanggapi pernyataan tersebut, Dr. Hj. Nida Mufida, M.Pd, selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama dalam sambutannya menyatakan ucapan terimakasih kepada Dinas Pariwisata yang telah memilih UIN Antasari sebagai tuan rumah dalam pelatihan dasar SDM kepariwisataan.

"Kami menyambut baik pelatihan ini disamping akan meningkatkan wawasan, juga akan menjadi bekal dan membentuk kesadaran mahasiswa sebagai Agent of Change yang harus melihat potensi kepariwisataan hingga kemudian dapat terlibat aktif dalam pengembangan perekonomian". Pungkasnya.


Reporter: Lukah
Editor: Jarwo

Rabu, 06 Februari 2019

MUSYTA LDK NURUL FATA, 152 ANGGOTA DIHARAPKAN KADER YANG BERAKHLAK

Haur, dkk.
"Dengan Bermusyawarah Dapatkan Mufakat Demi LDK Yang Lebih Berkah" itulah tema yang diangkat oleh Lembaga Dakwah Kampus (LDK Nurul Fata) dalam Musyawarah Tahunan (MUSYTA) ke 20 di Aula Tarbiyah, Kamis (07/02) pagi.

Saufi mengatakan, setiap akhir kepengurusan LDK Nurul Fata akan mengadakan Musyta untuk mendapat mufakat dan pada tahun ini dilaksanakan selama tiga hari (07-09/02) adapun agendanya yakni perumusan Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO), Anggaran Dasar (AD) & Anggaran Rumah Tangga (ART) dan diakhir puncak ada pemilihan Ketua Umum (Ketum), ujarnya selaku ketua pelaksana.

Kegiatan ini diikuti oleh 114 anggota perempuan dan 38 anggota laki-laki. Ia berharap, agar LDK Nurul Fata lebih jaya dan berkah dalam berorganisasi dan memajukan kader-kader yang berakhlak mulia baik dalam berbicara, ungkapnya.


Aziz mengungkapkan, selama satu tahun sudah kami menjalankan organisasi yang bergerak dibidang dakwah ini. Dan begitu banyak kenangan serta kendala yang telah di lalui maka inilah puncak program kerja yang kami laksanakan, paparnya selaku ketua umum.

LDK Nurul Fata adalah suatu organisasi perkumpulan orang-orang yang baik dan berakhlak, memang tidak semua anggota LDK Nurul Fata baik namun disinilah perkumpulan orang-orang yang ingin menjadi lebih baik. Kita tahu pada saat ini banyak mahasiswa atau remaja lainnya yang sudah mungkin dapat dikatakan kerisis akan akhlak terbukti dari beberapa kejadian-kejadian yang sangat disayangkan, tambahnya.

Oleh karena itu, diharapkan semoga LDK Nurul Fata bisa membentengi kejadian-kejadian seperti itu sehingga kita tetap menjunjung perintah agama serta tetap berada dijalur sebenarnya dan dimohonkan untuk pengurus yang akan datang tetap menjalankan LDK sebagaimana AD/ART, GBHO organisasi yang akan kita susun pada musyawarah ini, harapnya.

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Dan Kerjasama Syaiful Bahri Djamarah mengatakan, LDK Nurul Fata mengadakan musyta berarti akan terjadi penggantian kepemimpinan. Syaiful juga merasa pemimpin masalalu akan menghadirkan kader-kader yang berkualitas dan berakhlak, tuturnya.

Rep: Haur dan Tarawah

Selasa, 05 Februari 2019

FTK AKUI KEKELIRUAN DALAM SK (UU) SKORSING KASUS GUSTI, AMUBA MENUNGGU HASIL 1 MINGGU LAGI

Sukma
Saat kasus Gusti Muhammad Thoriq Nugraha tersebar di media massa Radar Banjarmasin, 29 Januari 2019, dengan berjudul, “Demo Fakultas, Mahasiswa UIN Antasari Diskorsing. Matinya Demokrasi Kampus Hijau". Tim Sukma langsung turun kelapangan untuk menemui Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Saiful Bahri Djamarah. 

Tepat tanggal 30 Januari 2019, Tim Sukma menemui Saiful Bahri di ruang kerjanya. Saat dimintai keterangan terkait kasus Gusti, Saiful enggan mengomentari lebih permasalahan itu. Ia malah menuding Sukma sering membuat berita yang kurang proporsional "Sukma tolong, jangan macam-macam lagi, cukup. Jangan beritakan yang tidak-tidak, sudah sering Sukma kepada kami. Jangan lagi,” kata Saiful dengan nada ketus. Lalu tim Sukma berusaha menjelaskan kepada Saiful bahwa Sukma sama sekali tidak pernah menurunkan berita mengenai Gusti selama ini.

Kemudian, Saiful meminta tolong agar tidak mempublish isu ini dan memahami dalam kondisinya. “Aku bingung siapa yang salah dalam kasus ini, entah aku dan Gusti. Jadi tolong dimengertilah,” ucap bapak berkepala plontos ini dengan nada rendah. Terkait soal SK yang dikeluarkan, ia menuturkan bahwa itu ranah Dekan FTK, Prof Juairiah.

Dalam pertemuan itu, ia meninggalkan ruang kerjanya sambil mengatakan ada rapat. Temui Dekat FTK saja. Kemudian kami sepakat untuk menemui Dekat FTK, tidak jauh dari tempat itu. 5 meter dari sebelah kanan pintu ruang tersebut. Awak reporter langsung menjumpai, tepat didepan pintu ia hendak keluar. “Bu, boleh wawancaranya. Minta konfirmasi soal kasus Gusti atas skorsing yang diteimanya?” tanya Sukma. Juairiah langsung mengelak bahwa itu ranah Rektor, tiap ditanya bukan Fakultas. “Ini ada rapat pimpinan di rektorat,” ucapnya sambil menuju arah tangga ke bawah, awak media Sukma terus mengikuti  Juairiah dengan pertanyaan-pertanyaan.

Adapun Gusti mengatakan kepada awak reporter Sukma bahwa kasus Skorsing 2 Semester yang diterimanya adalah Mal Konstitusi atau kecacatan aturan dasar. Ia menyatakan pandangan bahwa setelah Rektor memberi surat pelanggaran Sedang, namun malah dikasih sanksi Berat oleh pihak FTK. Dia merasa kebijakan Fakultas tidak kolerasi atas pengajuan SKnya. Kemudian, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) ini menambahkan bahwa adanya Mal Administratif juga, ucap mahasiswa angkatan 2017 melalui Whatsapp. Ia berujar kembali bahwaingin melihat ke depannya dengan tindakan pihak kampus. Dia cukup menyerahkan pada timnya, kawan-kawan Amuba yang telah mendampingi kasus tersebut

Pada tanggal (29/1) sore hari, sebelumnya tim Sukma menemui Koordinator lapangan Aliansi Mahasiswa UIN Antasari Bersatu (AMUBA) Zainul Muslihin. “Persoalan kasus Gusti ini sederhana. Hanya saja pihak Fakultas mempermasalahkan aksi demo, juga tidak memahami mahasiswa secara menyeluruh terhadap yang tengah dilakukan oleh Gusti bersama kawan-kawannya, di tanggal 7 Mei 2018 lalu.  Hal itu hanya menuntut kinerja dosen yang nakal dan tentu ini menutup demokrasi kampus kita, sedangkan kita diatur dalam UU No. 9 Tahun 1998 tentang menyampaikan pendapat dimuka umum,” ucap Aktivis Mahasiswa. Zainul juga menyayangkan atas sikap Fakultas yang sangat cepat menyimpulkan atas keputusan tanpa menimbang kasus tersebut. Ia juga mengatakan kasus ini mengalami kejanggalan, Fakultas hanya mengundang orangtua dari mahasiswa yang bermasalah tanpa mengundang Gusti. Tentu ini deskriminasi bagi mahasiswa, ucapnya geram kepada Sukma. Dia tidak melihat keadilan kepada Gusti, saat ditanyai tim Sukma mengenai keluarganya dirumah saat menjenguk dan silahturahmi, Zainul mengungkapkan bahwa keluarga  Gusti sangat Welcome, katanya saat itu ibunya sudah membaik.

Zainul juga mengkhawartikan hal yang tak terduga bisa terjadi, “Mama Gusti memang sudah sehat tapi bila masih ada berita-berita yang tidak mengenakan kepada anaknya. Justru ini membuat keluarganya sangat terpukul, pihak Fakultas bisa apa bila terjadi sesuatu kepada keluarganya,” katanya. “Saya rasa hanya sentimen Dekan kepada mahasiswa saja. Tidak memiliki landasan kuat bahwa Gusti bersalah, buktinya tidak ada persidangan yang mengatakan Gusti bersalah. Tidak diadakan selama kasus ini berjalan. Bukti-bukti yang dikeluarkan hanya subjektivitas seorang Dekan tanpa ada klarifikasi dari Gusti, bagaimana untuk melawan diri? Ini tentu tidak adil kepada mahasiswa, aspirasinya dibungkam,” bebernya. Zainul pun tidak memberi kelonggaran atas penindasan terhadap Gusti yang dilakukan oleh pihak FTK, yang kini semena-mena memberlakukan mahasiswa tanpa prosedur yang berlaku dengan ketentuan Statuta Kemahasiswaan, sesuai SK Rektor dalam UU No. 366 Tahun 2018 tentang Tata Tertib Mahasiswa UIN Antasari pada pasal 21 terkait Persidangan. Pasalnya, pihak FTK tidak melakukan persidangan tersebut. Dan akhirnya, kasus ini berjalan lamanya mulai Mei 2018 hingga bulan Februari saat ini.

Lalu Koordinator AMUBA menginisiasi untuk melayangkan surat audiensi, namun tanggal tersebut tidak menuai pertemuan. Tanggal 1 Februari, Zainul mendapat surat balasan resmi dari Fakultas mengenai (Jawaban Surat Audiensi) yang tertulis untuk diundang pada tanggal 4 Januari di ruang rapat FTK Lantai 1, Pukul 10.00 WITA.

Dalam perdebatan panjang, diskusi antar pihak mahasiswa (AMUBA), Dekanat dan Rektorat (Diwakili oleh Nida Mufida Warek III) pun belum menemukan hasil titik terang. Kesalahan yang dilakukan pihak FTK, diakui. Begitu pula, Gusti mengaikui kesalahannya. Pihak FTK meminta waktu untuk mendiskusikan dalam rapat pimpinan (Internal), keputusannya satu minggu ke depan. Dan para media dimintanya untuk tidak mengakat berita yang panas, ini dalam masa Cooling Down kedua belah pihak. (Harang/LPM-Sukma).



Labels