Segelintir Persiapan IAIN Menjadi UIN

copy right google

copy right google
    

Peningkatan status IAIN menjadi UIN akhir-akhir ini memang selalu menjadi perbincangan yang menarik. Ditambah lagi dengan adanya  Sayembara Logo serta Lomba Karya Cipta Mars dan Hymne UIN Antasari yang sejak beberapa hari lalu beredar di media sosial. Tak ayal hal ini menarik perhatian publik. Terbukti dari viewers  dalam tiga hari belakangan yang mencapai lebih dari 700 kali.

Sayembara ini diadakan menyusul persiapkan perubahan status IAIN menjadi UIN, “proses perubahan status ini tidak lama lagi akan terwujud. Oleh karena itu tentu banyak hal yang perlu dipersiapkan salah satunya terkait dengan atribut lembaga.  Sehingga setelah berubahnya status nanti, kita sudah memiliki logo, hymne,  dan mars UIN sendiri" ujar Syaikhu, Kepala Humas IAIN Antasari saat ditemui tim Sukma di ruang kerjanya, Selasa (07/03).

Ia mengaku sayembara ini sudah dibicarakan oleh pihak pimpinan dan humas menyahuti arahan pimpinan untuk menyiapkan segala sesuatu yang terkait dengan kesiapan lomba. Mulai dari syarat dan ketentuan lomba hingga jurinya. Untuk itu diharapkan menjadi karya yang bagus pula sehingga sengaja disayembarakan untuk umum, agar bernilai kompetitif.

Saikhu berharap peserta dari luar negeri juga berpartisipasi untuk lomba ini. Ia meyakinkan bahwa telah menyiapkan dewan juri yang bertaraf Nasional. "Dewan jurinya masih dirahasiakan, jadi nanti akan dipilih yang terbaik dari yang terbaik. Tentu diperkirakan kalangan profesional juga ikut terlibat, dari desainer grafis hingga komposernya yang menginternasional juga.”

Ia juga menambahkan bahwa logo IAIN yang ada selama ini tidak pernah berubah, kecuali perubahan dalam teknik lay out nya saja. Dan IAIN sendiri selama ini tidak memiliki hymne dan mars secara spesifik.

 "Prosesnya tidak bisa sekedarnya, sekedar main main, atau sekedar ada. Namun akan digarap serius. Agar hymne ini menjadi sebuah karya yang betul-betul monumental dan jangkauan waktunya tetap serta menjadi karya yang bertahan. Untuk itu akan melalui proses ketat yang bukan hanya dari segi lirik namun arransemennya juga" jelasnya lagi.

Mekanisme perlombaan sudah disampaikan secara terbuka melalui media sosial dan berbagai komunitas-komunitas desainer grafis dan komunitas pencipta lagu di Indonesia. Dengan demikian sudah tersebar luas. Dengan membludaknya jumlah peng-akses menandakan bahwa ada  respon positif dari masyarakat berbagai komunitas.

"Dewan juri hanya sampai pada menentukan tiga orang pemenang, selanjutnya yang menentukan adalah dari pihak Senat Mahasiswa. Dan  karya terpilih akan menjadi hak milik IAIN Antasari dan mempunyai hak untuk melakukan perubahan yang dianggap perlu. Dan hal itu sudah pasti atas kesepakatan pesertanya.  Tiga orang pemenang akan mendapat Rp 5.000.000,- dan pemenang pertama akan mendapatkan Rp 10.000.000,- ditambah dengan sertifikat. Dana tersebut sudah disiapkan dari pihak Rektorat dan cukup besar karena lombanya bukan hanya tingkat kampus ataupun daerah." tutupnya.

Santoso selaku Ketua Umum SEMA saat dihubungi oleh tim Sukma, Selasa (07/03) mengaku belum ada koordinasi dengan pihak atasan mengenai sayembara ataupun lomba ini. Namun ia mengaku setuju jika memang atribut kelembagaan harus disiapkan. "Tapi saya kurang setuju jika hal semacam logo dijadikan sayembara khalayak ramai, harapannya karya-karya tersebut haruslah bernilai historis yang berkaitan dengan IAIN Antasari. Jadi kurang pas jika logo kelembagaan dibuat oleh orang luar IAIN Antasari."tutur Mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN)  ini.

 Rep: Jarwo
Editor: si Mbah