Langkah Terindah Part 2

 
Sumber Google
Karya Siti Aprily Astuti
 Part 2
 
“Dan yang menjadi juara pertama adalah Sanggar Tari Bahalap utusan Kalimantan Tengah!!!”

    Aku sontak terlonjak dari tempat dudukku sembari berteriak dengan hati gembira bersama anggota sanggar yang lain, kami saling memeluk satu sama lain, tak lupa aku memeluk Ayah dan mencium tangan beliau, karena berkat doa beliau juga kami bisa mendapatkan hal seperti ini. Aku menatap Kak Mody yang berdiri dengan senyum sumringahnya di atas panggung, piala besar yang ditutupi kaca bening itu berdiri dengan tegap di depannya, mata kami bertemu, cukup lama untuk saling menatap dan tersenyum, aku mengangkat kedua ibu jariku terhadapnya begitu pun dia. Terima kasih Kak Mody, karena selama ini sudah mau bersabar atas segalanya.

~oOo~

    Dua hari berlalu setelah festival, aku bersama anggota sanggar masih berada di Banjarmasin untuk melakukan rapat bersama perwakilan anggota sanggar tari dari tiap provinsi di Kalimantan. Kami duduk di sebuah ruangan yang cukup besar dengan proyektor di depan kami kiri dan kanan, para Penanggung jawab sekaligus Pembina kami nantinya yang berasal dari Kementerian Pariwisata duduk tepat di hadapan kami semua. Kini kami mulai mendengarkan konsep-konsep yang akan kami gunakan untuk tampil di Jakarta dan lagi di sini lah keuntungan menjadi yang pertama, kami adalah anggota terbanyak yang akan mengisi grup tari dari Kalimantan sedang dari wilayah lain hanya diminta paling banyak tiga orang itu pun hanya untuk mengisi bagian-bagian yang dianggap masih kurang pada kami, penari utama? Tentu saja berasal dari kami dan sekali lagi aku harus menerima tanggung jawab itu setelah menerima suara terbanyak. Rapat ini pun berakhir dengan konsep tari kontemporer di mana kami harus menghafal setidaknya 34 gerakan tarian sama seperti jumlah Provinsi di Indonesia, ya… kami akan membawakan tarian setiap daerah secara meadley dengan fokus utamanya tarian dari daerah kami sendiri, jumlah anggotanya sebanyak 40 orang termasuk penari dan pemain musik serta seni dari atlet bela diri.

~oOo~

Matahari hari itu benar-benar menyilaukan, panas yang membelenggu membuatku tak tahan untuk mengurung diri di dalam kamar. Aku berdiri di balkon rumah, sementara untuk satu bulan ke depan kami akan tinggal di sini, ini rumah yang diisi anggota perempuan dan di seberang adalah rumah anggota laki-laki. Aku menyernyit ketika mataku berhasil menangkap bayangan seseorang di seberang sana, dia berdiri dengan tampang jahilnya lantas menatapku juga, aku tersenyum dia balas tersenyum. Aku menggapai ponselku yang terletak di atas meja, menekan layarnya dengan jemariku masuk ke dalam aplikasi pengirim pesan yang ada dalam ponsel pintar ini.

“Sepertinya hari ini aku tidak bisa latihan,” aku mengetikan kalimat itu dan menekan kata send.

    Kak Mody menatapku heran, dia lantas meletakkan ponselnya di telinga dan aku pikir dia tengah meneleponku.

“Kenapa?” ujarnya di seberang.

“ Kaki ku sepertinya terkilir sehabis latihan kemarin,”

“Benarkah? Apa sakit?” Nampak eskpresi khawatir di wajahnya, aku tersenyum.

“Aku pikir setelah istirahat akan baik-baik saja,” 

“Serius? Apa kita perlu ke Rumah sakit atau setidaknya pergi ke tukang urut?”

“Hei, Kak Mod. Aku bilang aku baik-baik saja, jangan khawatir, aku kuat!” aku mengacungkan ibu jari kananku padanya.

“Benarkah?”

“Tentu saja,”

“Tapi tetap saja, aku pikir….” Sebelum dia melanjutkan kalimatnya, 

“Aku baik-baik saja setelah istirahat sejenak, sungguh! Jadi, biarkan aku bolos hari ini.” Potongku,
“Ehm… Baiklah, tapi kalau tambah sakit kita langsung ke Rumah sakit,oke?” 

“Sip! Aku tutup,ya’?” Aku menatapnya dari seberang, dia tersenyum kemudian mengangguk.

    Ke esokkan harinya aku berdiri tergagap di depan studio latihan kami, aku menatap orang asing yang tiba-tiba saja sudah lengkap dengan kostum yang biasa aku gunakan. Aku menahan rasa kesalku dan perlahan melangkah masuk, aku menghampiri Kak Mody yang tengah duduk sibuk dengan sound system.
“Apa maksudnya ini,ka?” Aku menatapnya dengan perasaan kecewa.

“Maaf, Nay. Ini di luar kuasa ku, aku sudah mengatakan kepada Pak Pembina tapi beliau pikir akan lebih baik jika kamu punya cadangan juga,” Dia kini tengah berdiri di depanku,
“Tapi tetap saja, setidaknya konfirmasikan padaku. Aku tidak kenal dia, apa dia orang baru atau semacamnya? Aku tidak melihatnya waktu rapat kemarin dan beberapa latihan sebelumnya.”

“Kamu mungkin tidak ingat, karena waktu festival dia menggunakan riasan, dia penari utama dari Kalimantan Selatan. Dia baru saja kembali dari Jakarta, dia yang mendaftarkan grup tari kita di sana.” Kak Mody sesekali menunjuk ke arah gadis itu,
“Ehm, anak orang kaya. Pantas saja,” 

“Pantas saja apanya? Kamu juga orang kaya,kan’?” Kak Mody menyentil pipiku dengan telunjuknya,
“Tapi aku punya etika, setidaknya aku akan mengenali siapa penari utamanya di sini. Jadi, ketika penari utama datang aku melepaskan atribut-atribut yang harusnya digunakan oleh penari utama!!!!” Dengan setengah berteriak kini aku ungkapkan ke kesalanku, Kak Mody hanya menggelengkan kepalanya.

“Bodoh! Memangnya tidak bisa bicara baik-baik?”

“Tuh, dia datang!” Kak Mody menunjuk dengan kepalanya, aku berbalik menatap gadis yang bertampang polos itu.

“Selamat pagi, Kak Nay.” Dia menyapaku pelan,
“Kakak,ya’? Umur kamu berapa?” aku menjawab ketus,

“17 tahun,Kak. Namaku Dhea Alfira.” Ucapnya sembari melepaskan ikatan selendang di pinggangnya,
“Tidak perlu pakai Kak, kita seumuran. Jadi, santai saja.” 

Aku berusaha meredam ke kesalanku, dia cukup sopan untuk sekarang, aku tidak ingin berharap lebih dari orang yang baru ku kenal, karena dia penari aku tahu bagaimana sikap mayoritas penari itu, mereka egois dan serakah, mungkin aku juga seperti itu, karena merasa sudah sangat bekerja keras selama latihan harian jadi saat diadakan lomba kami akan berkompetisi terlebih dahulu untuk mendapatkan tempat penari utama. Begitu pun kami sekarang.

Aku mulai melangkah seperti yang sudah kami latih beberapa hari ini. Musik berhenti, begitu pun kami, aku duduk sebentar di depan dinding kaca, di sampingku Kak Mody tengah merapikan alat musiknya. Aku menatapnya sendu, lalu kembali mengarahkah mata ku pada kaki ku, sakitnya bukan tambah berkurang, tapi malah kian terasa nyeri. Aku meringis ketika itu juga Kak Mody langsung memegang pundakku.

“Apa ada yang salah?”

“Kaki ku terasa aneh, aku seperti tidak bisa menggerakkannya.”  Kini aku hanya bisa memegangi lutut ku dengan nafas yang terus memburu.

“Nayla, kamu baik-baik saja? Apa kita perlu ke rumah sakit?” Kak Mody terus mengguncang tubuhku untuk membuatku tersadar.    Aku menggeleng.

“Aku pikir kita harus segera ke rumah sakit, cepat ambil mobil sanggar di parkiran.” Kak Mody menatapku yang sekarang berkeringat dingin karena menahan sakit, dia merogoh kantong dan memberikan kuncinya ke pada anak lain di sanggar.

“Aku baik-baik saja, Kak.” Aku mencoba bersuara semampu ku.

“Bagaimana bisa kamu baik-baik saja? Setidaknya kita harus ke rumah sakit untuk mengetahui keadaanmu sekarang.”

    Aku digendong langsung oleh Kak Mody menuju mobil, dia membiarkanku bersandar di bahunya. Sedangkan yang mengemudi adalah Dhea. Wajahku memucat, rasa sakit itu bagai beribu jarum menghujani tubuhku, aku hampir kehilangan kesadaranku, jika saja Kak Mody tidak terus-terusan menyebut namaku dan memintaku untuk bertahan. Akhirnya aku sampai di rumah sakit dengan keadaan setengah sadar, aku merasa  tubuhku di bawa dengan cepat menuju ke sebuah ruangan putih nan dingin.

“Bertahanlah, Nay. Aku akan menunggumu di luar,” Kak Mody melepaskan tangannya dari genggamanku, aku hanya menatapnya pergi dengan pandangan yang kian mengabur.

~oOo~

    Aku terkesiap sesaat, ku rasa ada sesuatu yang dingin di rongga hidungku. “Oksigen?” batinku. Aku menyentuhnya perlahan, benar itu oksigen. Seseorang menahan tanganku untuk melepas selang oksigen itu, mataku perlahan terbuka.

“A…yah?” ucapku ragu, mungkinkah ayah datang ke sini dengan sangat cepat.

“Iya, Nayla. Ini ayah, apa masih ada yang sakit?”

“Nay pikir sudah tidak terasa sakit lagi. Ayah kapan sampai di sini?”

“Tadi pagi, Ayah langsung berangkat ketika mendengarmu masuk rumah sakit.”

    Aku menatap wajah khawatir Ayah, aku benar-benar merasa bersalah padanya.

“Maaf Nayla membuat Ayah khawatir, seharusnya Nayla bisa lebih menjaga diri dan tidak merepotkan Ayah seperti ini.”

    Ayah kini menggenggam tanganku.

“Jangan berkata seperti itu, Nayla anak Ayah dan sewajarnya seorang Ayah khawatir pada putri nya apalagi dia satu-satunya putri dan menahan rasa sakit sendirian. Ayah bahkan rela jika sakit Nayla berpindah ke tubuh Ayah saja.” Mata Ayah memerah, buliran bening membendung di matanya. 

“Terima kasih,Ayah.” Aku hanya bisa mengucapkan hal itu untuk menenangkan hatinya.

    Mataku kini berpendar ke sekeliling ruangan dan aku baru menyadari Kak Mody sekarang tidak ada di sini.

“Di mana, Kak Mody?” Aku berusaha bersikap senormal mungkin, Ayah tersenyum.

“Dia sedang latihan sekarang, mungkin nanti malam dia akan ke sini menggantikan Ayah sebentar.”

“Apa? Latihan? Dia latihan tanpa Nayla, Yah?” Aku langsung bangkit dari posisi berbaringku, Ayah hanya meresponku dengan anggukan.

“Astaga, dia ini benar-benar… Bagaimana mungkin dia latihan tanpa aku? Aku ini penari utama!” Aku hanya bisa berteriak dan memaki dalam benakku, aku tidak ingin Ayah melihatku seperti ini.

“Ayah mengerti kamu pasti kecewa,’kan? Tapi ini sebenarnya keinginan Ayah agar kamu beristirahat seperti kata Dokter, sebelum semuanya akan jadi sangat terlambat untuk kita semua.” 

“Maksud Ayah?” aku menatap dengan heran,
“Nanti Ayah akan jelaskan, setelah Mody datang.” Ayah melepaskan genggaman tangannya, kemudian berlalu meninggalkanku.

~oOo~

    Aku terus berkutat dengan ponselku, sembari menunggu Ayah dan Kak Mody yang beberapa saat lalu dipanggil oleh Dokter. Malam semakin larut, rasa bosan kini kian membunuhku. Hingga ku dengar decitan sebuah pintu terbuka, di sana ada Ayah, Kak Mody dan Dokter, aku memandang wajah mereka yang menampakkan ekspresi misterius.

“Kami sudah mendiskusikan hal ini dan kami pikir akan lebih baik jika kita memulai pengobatan dari sekarang…” Dokter itu menatapku ragu, kemudian melanjutkan kalimatnya,
“sebelum kanker itu menyebar ke seluruh tubuhmu…”

“Tunggu!” kini aku memotong,

“Apa maksud anda? Pengobatan? Kanker? Siapa yang perlu pengobatan? Siapa yang terkena kanker? Ayah, apa maksud Dokter ini? Ini bukan tentang aku,’kan? Dokter hanya salah mendiagnosisku,’kan?”

    Aku menatap mereka semua yang membisu, aku menggenggam tangan Ayah dan sesekali menatap Kak Mody yang berekspresi sama seperti Ayah.

“Sebenarnya anda mengidap Osteosarcoma atau biasa di sebut kanker tulang dan ini juga menyerang tepat ke tulang yang ada di kaki anda, tidak ada cara lain kecuali untuk mengamputasi kaki anda.” Dokter itu akhirnya menyelesaikan kalimatnya.

    Aku hanya bisa menatap kosong, sedang bulir bening itu tanpa sadar mengalir dengan derasnya di pipiku, layaknya air terjun yang terus mengalir dan hanya akan berhenti jika sungai nya mengering. Ayah merangkul pundakku dan aku hanya bisa menangis dalam dekapan Ayah. Mimpiku untuk menjajaki panggung nasional hancur tak bersisa di depan mataku, aku tidak mungkin harus menari dengan kondisi kaki ku yang sewaktu-waktu akan membuatku pingsan karena rasa sakitnya dan aku tidak bisa menari lagi seumur hidupku jika kaki ku dianputasi. Aku jatuh sedalam-dalamnya lubang, hingga tubuh dan perasaanku sudah tidak berbentuk lagi. 

~oOo~

Seminggu setelah aku dirawat, aku benar-benar seperti mati ditubuh orang yang hidup, aku bernafas, aku makan, tapi jiwaku seakan mengawang-awang. Kemoterapi  sama seperti neraka bagiku, berapa kali jarum suntik itu menusuk kulitku, berapa kali kaki ku ini menyakiti aku hingga aku harus jatuh pingsan. Selama itu pula, Ayah masih setia di sampingku dan mengurusku, begitu pun Kak Mody.

“Sepertinya Nona Nayla harus dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik di Jakarta.”

    Dokter itu berbicara pada Ayah seakan-akan aku tidak ada di tempat itu, hingga opiniku diabaikan begitu saja.

“Nayla tidak setuju,” ujarku. Ayah dan Dokter menatapku heran.

“Jangan pindahkan Nayla ke mana pun, jika pun Nayla harus pergi dari rumah sakit ini, Nayla hanya akan pulang ke Palangka Raya!” Aku melanjutkan.

“Nayla, dengarkan Pak Dokter. Kita harus pergi ke Jakarta untuk penanganan dan peralatan yang lebih baik.” Ayah meyakinkan aku.

“Ayah, maafkan Nayla, tapi Nayla pikir… bukankah itu percuma? Jika di sini saja Nayla tidak mengalami perubahan, bukankah di sana sama saja? Peralatan yang lebih baik? Paling jarum suntiknya saja yang memiliki ketajaman berbeda dan akhirnya kakiku juga akan diamputasi. Jangankan menari, berjalan pun aku akan kesulitan.” Aku menatap Ayah dengan wajah lelah.

“Nayla… Ayah mohon, ini juga demi keselamatan hidupmu,” 

“Bisakah Ayah hanya merelakan Nayla saja? Nayla lelah, Yah! Mimpi Nayla sudah hancur, Nayla sudah tidak bisa membanggakan Ayah lagi,” Aku hanya menghapus air mataku yang mengalir.

“Hentikan, Nayla! Bagaimana mungkin Ayah hanya bisa merelakan kamu juga, Ayah sudah kehilangan Ibu mu, haruskah Ayah kehilangan kamu juga? Semua yang terlahir pasti ada hikmahnya, Nay.” Ayah mencengkram bahuku.

“Begitu pun dengan kematian, di sana juga pasti ada hikmahnya. Ayah… bisakah Ayah anggap ini sebagai keinginan terakhir Nayla, Nayla tahu Nayla hanya meminta saja selama hidup dan tak pernah memberi sesuatu pada Ayah, tapi untuk kali ini saja. Nayla benar-benar lelah, biarkan Ibu yang mengurus Nayla untuk selanjutnya.” 

    Aku menatap wajah Ayah, dia menghela nafas panjang hingga memutuskan agar melakukan rawat jalan dan aku pun kembali ke rumahku di Palangka Raya.

Aku kembali ke Palangka Raya, bersama seorang Suster pribadi, aku memulai hariku dengan berjalan di sekitar, dengan kursi roda yang di dorong oleh Suster. Senandung pagi ku dendangkan sembari ku rasakan semilir angin menyentuh kulit tubuhku. Rasa hangat yang menjalar perlahan dari cahaya matahari pun kini tengah merasuk ke dalam pori-pori kulitku. Detak jantung yang menggebu kembali terasa jika ku berhasil lewati bangunan indah dengan corak khas suku dayak itu, sanggar tari. Ku rasakan kembali detak jantung yang tidak menentu itu, seperti ingin ku ulangi lagi waktu di mana aku bisa melangkah dengan ringan di sana, menggerakkan tubuhku seluwes mungkin. Aku ingin. Meskipun sekarang berbeda.

~oOo~

    Sehari sebelum perwakilan Kalimantan tampil, aku dan Ayah berangkat ke Jakarta untuk menghadiri festival besok pagi dan menyaksikan penampilan mereka. Ketika kami sampai di sebuah hotel yang sama dengan anggota sanggar, Kak Mody mendatangi ku yang berkursi roda bersama Ayah, dia mengambil alih dan mendorong kursi roda itu dengan pelan. Sesampainya aku di kamar, dia membiarkanku untuk beristirahat. Sepeninggalnya Kak Mody, aku mengeluarkan kertas selembar dan menuliskan beberapa hal di sana.

    Ke esokkan paginya, aku menatap ke atas panggung megah di hadapan mataku. Betapa menyenagkannya jika aku yang berdiri di sana, tapi itu hanya bayangan dan kenangan semata, kini jelas di depan mataku Dhea, Kak Mody dan semuanya mereka menampilkan penampilan yang luar biasa, membuatku tersadar betapa egoisnya aku selama ini, betapa angkuhnya aku selama ini, hingga akhirnya Tuhan menghukumku dan memintaku agar segera kembali pada-Nya.

    Hasil pun disampaikan, betapa bersyukurnya aku kami kembali meraih juara pertama. Hingga tanpa ku sadari, aku berdiri dan bertepuk tangan dengan riang. Kembali rasa sakit itu menjalar dengan cepat hingga menekan setiap saraf yang berada di badanku,kepalaku memanas terasa mendidih, hidungku pun kembali mengeluarkan cairan merah segar, Darah. Air mataku mengalir, pandanganku terus mengabur, Ayah dan Kak Mody berusaha membuatku untuk tetap sadar, tapi satu hal yang aku yakini, ini waktu ku untuk kembali.

“ Dear Ayah, Dear Kak Mody,

Nayla benar-benar bingung harus berkata apa sekarang, jika kalian membaca surat ini, itu berarti kalian sedang membaca pesan terakhir yang telah Nay titipkan dengan Suster, sebenarnya Nay berharap kalian tidak membaca surat ini, tapi jika hal itu yang terjadi, apa boleh buat? 

Di sini Nay hanya ingin meminta maaf dan berterima kasih, kepada Ayah yang paling utama, karena sejak Ibu tidak ada di dunia, Ayah merawat dan mendidik Nay menjadi lebih baik, hanya saja Nay memang anak nakal yang tidak mau menurut kepada Ayah, semoga Ayah selalu sehat dan jangan terlalu berduka dengan keadaan seperti ini, karena Nay benci ketika Ayah menangis, padahal Ayah telah menitikkan keringat Ayah untuk membiayai Nay, Nay tidak mau jika Ayah menitikkan air mata Ayah yang berharga hanya untuk Nay. Maaf Nay tidak bisa menyelesaikan mimpi Ayah yang ditanam pada diri Nay sejak kecil dan juga terima kasih untuk selalu berada di sisi Nay selama ini, Nayla sayang Ayah!

Untuk Kak Mody, teman masa kecil hingga sekarang. Yang selalu menjaga Nay, maaf Nay hanya pergi seperti ini dan Nay hanya bisa mengucapkan terima kasih atas waktu dan kenangan bahagia yang pernah Nay rasakan, pernah Nay berpikir perasaan sahabat itu menjadi kata Cinta, tapi Nay sekarang sadar bahwa jika itu jadi Cinta maka Nay hanya akan meninggalkan luka bagi Kak Mody. Jadi, Nay juga menyayangi Kak Mod.

Nay harap Ayah dan Kak Mody melanjutkan kehidupan dengan baik serta selalu menatap ke depan, tapi jika kalian rindu pada Nay, toleh lah sejenak ke belakang lalu kembali menatap ke depan, Nay hanya perlu dikenang sesasaat tidak perlu diingat setiap waktu. Tersenyumlah! : )

Nayla si gadis pembuat onar.”

Tamat