Minggu, 24 April 2016

Interpretasi makna “JOMBLO”

Taked in Google
Akhir-akhir ini saya sering menemukan meme di media sosial yang isinya seakan menghina kaum jomblo. Mungkin niatan mereka hanyalah sebagai hiburan, namun suatu hal yang berbau menghibur namun menghina seseorang atau golongan tentulah tidak bagus. Tulisan kali ini bukanlah dukungan terhadap kaum jomblo, namun sebagai bahan pertimbangan bagi golongan yang sering menghina kaum jomblo. Jadi sebelum menghina kaum jomblo, ketahui dulu apa itu jomblo, siapa tau yang menghina juga termasuk kaum jomblo. *hehe

Kata jomblo memang tidak akan ditemukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, karena jomblo berasal dari kata “jomlo” dalam bahasa Sunda yang berarti seorang wanita tua yang belum menikah. Namun karena dalam penyebutan lebih mudah kalau ditambah “b”, maka jadilah jomlo tersebut menjadi jomblo.

Dari pengertian diatas dapat kita ketahui bahwa jomblo sebenarnya sebutan untuk wanita. Namun seiring berjalannya waktu, jadilah kata jomblo tersebut juga digunakan untuk laki-laki yang belum menikah.

Terus, bagaimana dengan yang udah pacaran tapi belum menikah ?. Mungkin dari para pembaca akan ada yang bertanya seperti itu, apakah merasa juga disebut jomblo atau tidak. Disinilah kesalahan interpretasi kebanyakan orang, mereka menganggap kalau mereka udah pacaran, udah mojok di bawah pohon, maka mereka bukan jomblo lagi. Bagaimanapun, yang namanya pacaran tidak dihalalkan dalam Islam, bahkan negara pun tidak mengakui hubungan mereka, apakah hal tersebut bisa dibilang udah berpasangan dan bukan jomblo ?.

Jadi seorang penyandang status jomblo sebenarnya bukanlah aib, namun status jomblo adalah sebuah penegasan bahwa mereka belum mampu atau sanggup melangkah ke pelaminan dan bersanding setelah kata “sah” terucap dari saksi. Namun yang jadi kesalahan, ialah mereka yang merasa bukan jomblo bahkan menghina status jomblo sedangkan mereka juga jomblo. Seperti kera yang menghina temannya dengan sebutan “kera luh”, padahal dia yang menghina juga kera.

Mungkin analogi diatas lumayan kasar, namun menurut saya itulah analogi yang paling pas. Jadi, sebanyak apapun pacar kalian kalau masih tidak diakui agama dan negara, itu sama saja dengan jomblo. Pada intinya, hentikanlah guyonan yang berupa penghinaan terhadap status jomblo oleh para jomblo sendiri, hanya karena mereka tidak sadar akan kejombloan mereka. Asalkan, para jomblo tersebut tidak punya niatan untuk jomblo seumur hidup, karena itu akan merugikan negara dan agama. Jomblo hanyalah status sementara sebelum mereka siap bersanding dipelaminan bak Raja dan Ratu sehari setelah kata “sah” terucap dari bibir para saksi. (Muhammad Badaruddin)

Jejak Redaksi

Labels