HAMA ORGANISASI

Sumber: Google.com

Misalkan Aku datang ke rumahmu
Dan kau sedang khusuk berdoa
Akankah kau keluar dari doamu
Dan membukakan pintu untukKu?
-Joko Pinurbo
Kendala terbesar menjadi ‘diri kita’ adalah kesibukan mengatur kesibukan. Kesibukan seringkali menjadi obat mujarab untuk membuang diri kita yang sebenarnya, atau bisa juga kesibukan itu bak roket yang bakal mengantar kita ke bulan. Begitulah gambaran orang-orang sibuk organisasi, setiap harinya selalu disita waktunya untuk hal-hal yang sesungguhnya absurd. Mereka seperti perternak lele yang kolamnya terbuat dari plastik, bisa surut karena dimakan rayap atau mujur bisa panen.
Orang-orang organisasi juga seperti pasukan perang, ia akan berkumpul ramai-ramai untuk menumbangkan lawan, ia tidak bisa sendiri. Ia hanya bisa dipacu dengan kata-kata, janji-janji atau masa dimana ia akan lebih bahagia gugur sebagai pahlawan. Ia hanya melawan dengan semangat berjamaah, mendidihkan niat untuk memporak-porandakan musuh didepannya. Ia sungguh tidak bisa sendiri dalam keadaan yang sulit.
Orang-orang organisasi itu bukan pahlawan tetapi beda tipis dengan relawan. Ia rela membungkus kesibukannya demi ‘orang lain’, demi niat, demi yang entah kepada siapa ia akan berhadapan. Ia akan menjadi penolong ketika terjadi bencana, ia sungguh sibuk mengatur kesibukannya. Sampai ia sadar, ia menolong mayatnya sendiri.
Okelah, mari kita bicara yang tidak jelimet, misalnya, kenapa kita harus atau tidak usah berorganisasi. Seringkali saya dengar ketika menanyakan kepada seseorang yang hobbi ikut organisasi tentang kenapa ia ikut organisasi. Jawabannya “mencari pengalaman, menyalurkan bakat, ikut teman, senang mempunyai teman banyak”. Ketika saya mendengar jawaban itu hidup ini terasa hampa. Saya yakin mahluk semacam mereka ujung-ujungnya akan kalah menyusuri panjangnya perjalanan dalam mencari pengalaman, lalu mereka akan mundur menyudahi pengalamannya. Begitu juga ketika mereka berpikir bahwa bakat mereka akan menemukan puncaknya di organisasi, tentu itu seperti memupuk iman. Ia harus tabah dan belajar tentang waktu yang tidak sedikit. Maka jangan heran, bila manusia organisasi tersebut seperti sungai beku lalu menjadi potongan-potongan es, ia tidak mengalir atau tersalurkan pada anak-anak sungai lainnya. Akibatnya orang semacam ini akan gampang putus asa “saya tidak menemukan bakat saya disini”. Padahal orang-orang sukses organisasi adalah mereka yang mampu menyudahkan keputus asaan dengan segera.
Organisasi Aktivis-aktivisan
Tentu saya tidak akan menyudutkan orang yang merasa dirinya ‘aktivis’, sebab aktivis yang sebenarnya seperti keyakinan perihal adanya Tuhan. Ia tidak perlu disebutkan keberadaannya, cukup dirinya meyakini bahwa jalan yang ditempuhnya adalah dijalan ‘kebenaran’. Perkara ada yang bilang ‘aktivis nasi bungkus’ itu orang tentu karena tidak bisa melihat hati kita yang bersinar-sinar karena ‘membela rakyat’, rakyat yang umum, rakyat yang sebenarnya untuk sok-sokan membela rakyat dan eksistensi dirinya sendiri.
Baiklah, kembali kepertanyaan mendesar, apa bedanya organisasi dalam kampus dengan organisasi luar kampus? Seringkali organisasi luar kampus dicap sebagai aktivis. Sedangkan yang didalam ya organisasi saja. Saya tak akan mengusik sejarah tentang kemunculan aktivis-aktivis ini, saya lebih percaya bahwa aktivis yang sebenarnya adalah mereka yang secara utuh ada dalam sebuah organisasi. 
Kaum Penjilat Organisasi
Tak ada mendung yang tak kelabu, lalu turunlah gerimis. Begitulah analogi yang saya yakini. Banyak kaum-kaum manusia organisasi yang berduyun-duyun datang saat dibuka pendaftaran, mereka seperti mendung yang berarak dilangit, lalu ia menjadi anggota, tentu anggota yang setia, setia kepada seniorannya, setia pada tujuannya. Lalu mereka akan mendapatkan posisi, dimana posisi itu selaras dengan niat awal.
Akan tiba saatnya kaum serempengan semacam ini akan menemukan kejayaan dalam sebuah organisasi, ya semacam lintah yang menyerap darah dari pori-pori. Ia akan dibanggakan oleh kaum-kaum latah dibawahnya lalu merasa bahwa dirinya adalah ‘senioran’ atau ‘seni oral’.
Hama
Dalam kamus Tesaurus Alfabetis, hama berarti kuman atau benih penyakit. Kita sadar bahwa dalam setiap elemen kehidupan, baik itu organisasi hingga comberan pasti ada hama. Ia ada disemua tempat. Jika hama dalam organisasi, ia sulit tampak alias kesat mata. Namun, ia akan mengerogotinya dari dalam lalu membinasakan. Biasanya hama ini bernama manusia. bahkan ia tampak lebih mengerikan dari pada belatung.
Dari sini saya mempunyai kesimpulan, bahwa niat yang baik adalah jauh lebih tinggi dari pada halusinasi masa depan yang cerah. Seperti puisi diatas, jika seseorang mempunyai jiwa yang baik, ia akan membukakan pintu buat tamu meski datang saat ia khusuk berdoa. (LPM Sukma/Mahfud)


Pages