TUAI PUJIAN DAN KRITIK, PIHAK REKTORAT AKUI ADA KENDALA DANA DALAM PEMBERLAKUAN PRESENSI ONLINE




BSUKMA- Belum genap dua bulan diterapkan di Universitas Islam Negeri Antasari, presensi online sebagai pendataan kehadiran tiap pertemuan perkuliahan ini telah menuai pro-kontra dari penggunanya (red: dosen dan mahasiswa).  Tim Berantas mencoba menghimpun beberapa pendapat pengguna prihal presensi online ini.
Pendapat pertama di himpun dari kalangan mahasiswa. Pemberlakuan presensi Online ternyata mempengaruhi keterlambatan mahasiswa saat menghadiri perkulihan. Sarmilah Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) menuturkan, “Apabila terlambat tidak dapat mengisi presensi, terlepas dari kendala keterlambatan itu sendiri.”  Mahasiswa lain, Elma Alkausari Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) juga mengatakan hal serupa “Sangat berpengaruh pada pengurangan tingkat keterlambatan mahasiswa” ujarnya.

Tidak hanya komentar mengenai keterlambatan beberapa mahasiswa lain mengomentari tentang kehadiran dan sistem. Seperti yang di ungkapkan oleh Raudah Handayani mahasiswa jurusan Hukum Keluarga menurutnya adanya presensi online memicu rasa pentingnya kehadiran mahasiswa pada setiap mata kuliah.
Begitu pula Angga Raksa turut berkomentar “Mahasiswa yang titip absen sekarang sudah tidak bisa lagi” ujar mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika ini. Seorang mahasiswa berasal dari jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Saifullah, menuturkan hadirnya Presensi online menunjukan perkembangan kampus “Berkembang menjadi kampus yang mempunyai sistem ketat dan mahasiwa semakin taat aturan” ujarnya.

Beda lagi dengan pendapat yang di sampaikan dosen pengajar di lingkungan UIN Antasari. Meski mereka mengapresiasi perubahan sistem, namun juga menyampaikan beberapa kendala yang di temui di lapangan. Misalkan saja pendapat dari Muhammad Yulian. “Kekurangan untuk saat ini mungkin terletak pada koneksi internet yang kurang stabil dan beberapa staf pengajar yang kurang memahami teknologi” ujar dosen pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis  (FEBI) itu. Lain lagi dengan kritik Ridhatullah Assya'bani salah satu dosen pengajar di fakultas Ushuludin dan Humanioral (FUH). “Ada PR besar yaitu server yang masih sering down” katanya.

Untuk mengatasi permasalahan server atau gangguan-gangguan pada SIAKAD (red. Sistem Informasi Akaddemik) Budi Rahmad Wakil Dekan Fakultas Syariah (FASYA) mengakalinya dengan presensi manual dengan kertas. Saifuddin Wakil Dekan FUH menuturkan pada minggu ketiga dan keempat penyelenggaraan sudah cukup lancar. “Nama mahasiswa pun sudah terekam semua di sistem” ujar beliau. Namun saifuddin juga menyayangkan belum adanya perbaikan SIAKAD baru, “Sedangkan kami sangat mendesak sekali untuk akreditas prodi, itu akan dicek seberapa poin pekayanan yang bersifat online dan akan berpengaruh pada akreditas“ ungkapnya ketika di wawancara  kamis pagi (07/03).

Wakil dekan FEBI Mahmud Yusuf memberikan tanggapan positifnya atas pemberlakukan presensi online ini. "Perbaikan layanan itu banyak jenisnya, salah satunya adalah absen online. segala kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan akan dilakukan secara  online dan di laksanakan secara bertahap" ungkap Mahmud Yusuf Wakil Dekan  FEBI bidang administrasi umum dan pelayanan keuangan Selasa, (05/03) saat di wawancarai tim Berantas di gedung FEBI.
Halimatussa’diah, wakil dekan FDIK juga mengungkapkan “ Zaman sekrang sudah  zaman digital, begitu pula pemberlakuan presensi online”. Serupa dukungan terhadap presensi online Hairul Hudaya Wakil Dekan FTK, tidak masalah menggunakn kuota internet pribadi untuk akses presensi online.

Dengan berbagai tuaian pujian dan komentar terhadap presensi online ini. Tim Berantas kembali menusuri klarifikasi prihal Presensi Online ini hingga ke pemangku kebijakan di bagian rektorat dan pihak pengembang sendiri Pusat Teknologi dan Informasi Pangkalan Data (PUSTIPD).
Hamdan, selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan dalam tanggapannya perihal kebijakan penerapan presensi online di UIN Antasari. “Masih banyak hal yang perlu dimatangkan, namun program akan terus tertunda jika tidak diberlakukan lebih awal,” tuturnya kepada Tim Berantas dalam wawancara di ruang kerjanya, Jumat (08/03) sore. Pengembangan program presensi online sendiri diakui masih banyak hal yang perlu dimatangkan persiapannya.
Menurutnya, dalam hal perbaikan dapat dilakukan seiring berjalannya pemberlakuan presensi online ini. Sedangkan jika program ini tertunda maka akan lebih memberatkan nantinya dalam pemindahan data masuk yang terlalu banyak."Kalau kita tidak mulai sekarang kapan mau siapnya? Nah, mumpung sedikit (red: data masuk) ini kita lakukan.” Ucapnya lagi.

Terkait sosialisasi penggunaannya, Hamdan mengaku bahwa sementara ini  sosialisasi  hanya terlaksana di masing-masing fakultas dengan mengundang pihak PUSTIPD."Sosialisasi secara menyuruh sendiri mungkin masih terkendala dengan dana, untuk kedepannya kita harapan lebih maksimal tidak hanya dikalangan dosen tapi juga mahasiswa." harapnya. Lebih lanjut mengenai kendala dana ini tidak di terangkan secara rinci oleh Hamdan.
"Memang kita akui masih ada beberapa kekurangan, yang namanya memulai pasti ada.  terkadang ada gangguan server, untuk itu kita tanggulangi dengan mengisi presensi manual terlebih dulu kemudian submitnya bisa belakangan." Ujarnya.

Berkaitan dengan bergantinya Sistem Informasi dan Akademi (SIAKAD) sebagai pangkalan datanya, pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) beberapa mahasiswa turut mengalami kendala. Menurut penuturan Hamdan, persoalan tersebut disebabkan belum ditutupnya akun siakad lama di mitra kampus. "Kerusakan bukan pada siakad baru melainkan ada dua akun siakad yang terbuka dan menyebabkan data mahasiswa tidak terintegrasi."
Perihal pergantian situs SIAKAD, Hamdan ungkapkan beberapa  alasan, "akun SIAKAD lama itu melibatkan pihak ketiga sehingga setiap kali ingin meng-upgrade data kita harus bayar, sehingga sangat sulit untuk dikembangkan, akun yang ditampung pun juga sangat terbatas jumlahnya. Kalau akun yang baru ini sepenuhnya pengelolaan dari pihak kita jadi lebih mudah dikembangkan dan jumlah akun yang bisa ditampung pun sudah lebih dari 10.000." Pungkasnya.

Menanggapi banyaknya keluhan dari dosen maupun mahasiswa mengenai jaringan WIFI kampus yang belakangan sulit diakses, Hamdan sampaikan bahwa ke depan sudah ada perencanaan program jaringan internet di kampus yang lebih stabil dan hanya bisa diakses oleh mahasiswa dosen dan aktivitas akademik.
Selaras dengan pernyataan Wakil Rektor 1 bidang akademik Surya Eka selaku ketua PUSTIPD sampaikan bahwa ke depan UIN Antasari akan gunakan program single sign on (SSO) yang dapat diakses dengan kode tertentu dan berbeda-beda untuk masing-masing orang sehingga jaringan internet akan terintegrasi pula. "SSO hanya bisa diakses oleh harga kampus sehingga lebih mudah dikontrol karena tidak bisa digunakan oleh orang luar yang tidak memiliki akses." Ucapnya saat ditemui di ruang kerja, Rabu (06/03) sore.

Eka mengakui adanya salah perhitungan perihal presensi online dan program SSO. pada awalnya diperkirakan bahwa program SSO akan rampung bersamaan dengan pemberlakuan presensi online. Namun, program SSO masih terkendala penyelesaiannya dikarenakan prosedur yang cukup panjang yang juga terkait dengan pendanaan. "Kami tentu saja sangat berharap bahwa pemberlakuan presensi online ini dapat dibarengi dengan akses internet yang memadai sehingga tidak memunculkan keluhan mengenai akses internet yang tidak mendukung namun pada gilirannya program SSO masih belum dapat direalisasikan karena pelbagai kendala," tambahnya.
Terkait perencanaan layanan online yang akan digarap ke depan Eka akui telah ada rancangan program Radio  Frequency Identification (RFID) sebagai kelanjutan dari pengembangan presensi online yang sudah berjalan dimana nantinya akan dibuatkan sebuah kartu yang tidak hanya berfungsi sebagai satu tanda mahasiswa tapi juga dapat digunakan untuk aktivitas peminjaman buku di perpustakaan dan presensi online, sehingga presensi ini akan melibatkan peran mahasiswa.

"Presensi online yang akan kita kembangkan nantinya akan melibatkan peran dosen dan mahasiswa dengan kartu RFID tersebut Mahasiswa dapat menandai kehadirannya dan dosen pun juga akan  memverifikasi presensisi tersebut dengan kartu RFID sehingga akan lebih praktis dan cepat dibanding program yang sekarang," bebernya lagi.
Tidak sampai disitu Eka menambahkan jika nantinya infrastruktur sudah semakin mendukung program RFID dapat dikembangkan dalam penggunaan kelas perkuliahan dimana pintu kelas hanya bisa dibuka oleh kartu RFID dosen yang mengajar pada waktu itu begitu pula dengan fasilitas kelas seperti lampu AC atau kipas angin yang hanya bisa dinyalakan dengan kartu RFID dosen bersangkutan. "Program RFID itu dapat dikembangkan ke pelbagai sistem sehingga sangat multifungsi kita berharap sama-sama agar nantinya  padat dapat terealisasi dalam waktu dekat." Tuturnya lagi.

Mengenai rencana penyempurnaan presensi online tersebut Eka sampaikan bahwa pihaknya akan berusaha agar program dapat terealisasi di tahun 2019 ini juga. "Dalam hal ini kami berharap tidak ada hambatan berarti sehingga hasilnya bisa kita rasakan dalam waktu dekat. Dengan berbagai inovasi yang diupayakan, kami berharap mahasiswa semakin bersemangat dalam berkuliah karena kami akan berusaha merancang program yang akan mempermudah layanan." Pungkasnya.
Reporter : Tim Berantas
Editor : Jarwo dan Anset

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TUAI PUJIAN DAN KRITIK, PIHAK REKTORAT AKUI ADA KENDALA DANA DALAM PEMBERLAKUAN PRESENSI ONLINE"

Posting Komentar