Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KISAH PELET PAMAN PENTOL DAN FENOMENA BURAMNYA KEBENARAN



“Kebohongan yang hanya sekali di sampaikan akan tetap menajdi sebuah kebohongan, tetapi kebohongan yang disampaikan secara terus-menerus niscaya akan menjadi kebenaran”. 
Pakar Propoganda Nazi, Joseph Goebbels
Beberapa hari ini, Paman Pentol menjadi isu tehangat dalam obrolan mahasiswa di UIN Antasari. Isu-isunya ini berkaitan dengan pelet lalu ada pengakuan jin setelah korban di rukiyah yang menyebut paman pentol-lah dalang pelet tersebut. 

Isu terpanas ini cepat menyebar dari status WhatsApp (WA) satu ke yang lain, dari grub-grub kelas, screenshot satu dan yang lain hingga obrolan langsung. Orang-orang ramai saling mengingatkan untuk berhenti membeli jualan paman pentol himbauannya karena takut kena pelet juga.
Lalu selang sehari setelah isu pelet tadi menyerbar pula klarifikasi dari seorang Netizen yang berbincang langsung dengan si Paman Pentol yang terfitnah. Beliau mengaku dagangannya masih banyak tersisa padahal hari sudah sore. 
Netizen yang berbincang itu merasa kasihan sekali lalu mengalirlah kisah, sang paman pentol yang sudah beristri dan  punya anak. Paman Pentol itu berjualan untuk menafkahi keluarganya. Kemudian Netizen tadi menghimbau agar mahasiswa kembali belanja di sana. 

Peristiwa screenshot, share, tulis status paman pentol ramai kembali. Kali ini berbondong-bondong para penikmat isu Paman Pentol mencari klarifikasi sebenar-benarnya tentang pelet dan si Paman. 
Ada yang memaksa tukang share minta maaf, ada yang mencoba menelusuri jejak awal isu muncul, ada pula yang berjanji bakal beli pentol paman biar laku lagi. 
Masih berlanjut, tak lama setelah himbauan belanja pentol lagi, screenshot status WA entah dari siapa muncul kembali. Screenshot itu mengatakan bahwa peristiwa pelet memang benar adanya, namun bukan Paman Pentol yang dagangannya tak laku tadi pelaku pelet-nya. Update terakhir, di kabarkan si penyebar isu pertama taubat. Ia segera menemui Paman Pentol dan meminta maaf atas segala kesalah pahaman. Kembli beredar status klarifikasi dari pembuat isu ini. Ia menjelaskan kronologi kejaidan kesurupan, rukiyah hingga pelet. Di akhir kisah di lampirkan foto paman pentol yang semakin ramai pelanggannya.

Terlepas dari kisah pelet dan dagangan yang tak laku. Fenomena baru muncul di kisah ini. Yaitu kecepatan dan kekuatan netizen yang bersatu padu selaras menyebarkan informasi tanpa tahu kebenarannya. Penyebaran informasi panas ini sangat murah, mudah dan laku banyak. Maksudnya ialah mudah tersebar, banyak yang percaya dan menyebarkan kembali.


Namun disayangkan, kemurahan informasi ini miskin klarifikasi dan fakta. Dan fenomena cepatnya informasi menyebar ini, bukan hanya ada pada kasus Paman Pentol saja namun banyak lagi; yang berskala nasional dan internasional.
Mari kita berkenalan dengan istilah asing bernama 'post truth'. Istilah ini dinobatkan sebagai The Word of the Year 2016 oleh Oxford Dictionaries. Didefinisikan sebagai ajektif post truth ialah; berkaitan dengan atau merujuk kepada keadaan di mana fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi'. (Indonesiana.tempo.co).

Post Truth menjadi topik hangat perbincangan dunia pada peristiwa Brexit dan terpilihnya presiden Donald Trump. Istilah ini merujuk pada  lebih berpengaruhnya opini pribadi dalam membentuk keyakinan publik terhadap kebenaran informasi. Pada fenomena kali ini orang-orang tidak lagi mempedulikan kebenaran dan fakta, jika informasi itu selaras dengan keyakinan pribadi maka akan mudah meng-klik share.


     Pakar Propoganda Nazi, Joseph Goebbels dalam sebuah kutipan mengatatakan “Kebohongan yang hanya sekali di sampaikan akan tetap menajdi sebuah kebohongan, tetapi kebohongan yang disampaikan secara terus-menerus niscaya akan menjadi kebenaran”. Jika menelaan dari kutipan ini tentu fenomena post truth bisa lebih berbahaya dari pada sekedar berita bohong atau sering di istilahkan hoax.
Dalam post truth, kebenaran menjadi buram. Kelihaian mengolah kata dan opini adalah inti sari dari informasi laku di jual murah. Fakta sering kali diabaikan atau bisa jadi fakta dipoles sedemikian sehingga ia selaras opini pembuat kisah.
Kembali ke kasus Paman Pentol nampaknya gejala post truth sudah menjalar ke lini per-ambean kampus. Fakta apakah ucapan jin dapat di percaya tak lagi penting. Realita bisa saja informasi pertama hoax atau informasi kedua yang hoax diabaikan. Kandungan fitnah pada informasi yang bisa mengakibatkan seseorang kehilangan mata pencarian tak terpikirkan lagi. Klarifikasi harusnya dilakukan di awal, sebelum jari kita menekan tombol ‘bagikan’ dan harus dilakukan dengan cepat lebih cepat dari jaringan internetmu sendiri.

Jika kasus Paman Pentol dijadikan acuan maka terlihat masyarakat dengan pendidikan di jenjang sarjana pun nampaknya lebih cepat bergerak jempolnya dari pada otaknya. Di era ini semua serasa benar hanya karena sudah banyak yang share jadi seperti-nya benar. 
Orang-orang tak mau ketinggalan ikut tren pasang status 'info ter-aktual' tapi lupa esensi faktualnya. Semua serasa benar karena orang-orang berteriak itu benar. Bukan karena si objek yang sesungguhnya memang benar.
Seperti yang sudah-sudah, saya pernah menasehati yang kira-kira isinya demikian "Kita kejar kebenaran kawan, bukan yang orang katakan benar, sebab kebenaran itu mutlak". Perbedaan sudut pandang harusnya tidak akan memburamkan kebenaran asal kita paham betul nilai kebenaran itu. Demikian pula Paman Pentol, kita tahu pelet meresahkan, namun menujukan tuduhan juga sama meresahkannya. Yang paling penting menyebarkan berita yang  meresah juga lebih membuat resahlagi. Maka dengan hadirnya kasus Paman Pentol, mari bertaubat kawan-kawan sekalian. Bijak lagi menggunakan jempol dan kuota internetnya. Kenali lebih dalam fakta dan kebenaran yang ada.

Posting Komentar untuk " KISAH PELET PAMAN PENTOL DAN FENOMENA BURAMNYA KEBENARAN"

Berlangganan via Email