PERTUKARAN PELAJAR KE JEPANG, DUA MAHASISWA UIN ANTASARI MENGASAH KEMAMPUANNYA MELALUI PROGRAM JENESYS

Jerina Fujiantie (Kiri) dan Miftah Al-Farhan (Kanan) di Bandara Syamsudin Noor.
Dalam rangka membangun solidaritas di Asia Timur, pemerintah jepang mencanangkan program ASEAN - Japan East Asia Network of Exchange and Youths (ASEAN-JENESYS) dengan mengundang pemuda dan pelajar ke Jepang. Program ASEAN-JENESYS akan berlangsung selama 5 tahun dan setiap tahunnya akan diundang sebanyak 6000 pemuda/pelajar seluruh negara Asia Timur. Di Indonesia program ini diselenggarakan dibawah koordinasi Japan Foundation, AFS dan JICE (Japan International Cooperation Center). JENESYS kali ini bekerjasama dengan Pengkajian Pusat Islam Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri Jakarta.

Dikeluarkannya pengumuman calon peserta terpilih Jenesys 2018 pada tanggal 6 November 2018, Ciputat. Tertanda tangani oleh Saiful Umam, Ph.D (Direktur Eksekutif) dalam lampiran bahwa 2 delegasi pertukaran pelajar UIN Antasari ke Jepang yakni Miftah Al-Farhan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dan Jerina Fujiantie mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, Senin (10/12) Pukul 05.00 WITA, berangkat menuju Jakarta dalam pertemuan delegasi mahasiswa UIN se-Indonesia.

Ada 9 orang perwakilan mahasiswa UIN se Indonesia. Diantaranya perwakilan dari mahasiswa UIN Antasari, UIN Mataram, UIN Sunan Kalijaga - Jogja, UIN Maulana Malik Ibrahim - Malang dan UIN Syarif Hidayatullah - Jakarta.

Sembilan mahasiswa UIN se-Indonesia sedang makan siang bersama Kedutaan Jepang di Jakarta, Senin (10/12).

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Hj Nida Mufida menyampaikan bahwa pertukaran pelajar ke Jepang dari kedua mahasiswa UIN Antasari tersebut memang benar. Ia juga mengaku bahwa program kerjasama ini pertama, “Itu semua, mulai awal administrasi sampai proses sekarang, sudah kami kawal resmi,” ucapnya.

Malam, Selasa (11/12) Pukul 12.23 WITA – menerima pesan dari Miftah bahwa mereka sebentar lagi akan berangkat, Take Off, disela wawancara melalui via Whatsapp. “Hal pertama yang harus saya maksimalkan adalah pengetahuan umum tentang negara Jepang itu sendiri, terkhusus dalam hal ini adalah mengenai bahasa & budaya. Karna jelas, bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang nantinya akan memudahkan kami dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Begitu juga dengan budaya, dengan hal ini kita akan mudah membaur dan beradaptasi dengan kondisi kehidupan lingkungan orang di sana,” ungkap Presiden Mahasiswa UIN Antasari tersebut.

Miftah berharap dengan adanya kegiatan ini, “Semoga kami yang dipercayakan untuk menjadi perwakilan kampus ini. Bisa memberikan sebuah pengalaman dan pembelajaran baru yang nantinya bisa diterapkan dalam kampus, demi kemajuan dan keunggulan perguruan tinggi ini di kancah internasional,” katanya. Kemudian, terkait tanggung jawabnya sebagai Presiden Mahasiswa pada lembaga Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA-U) UIN Antasari Banjarmasin. Ia mengakui benar, tanggungjawabnya belum selesai, masih ada beberapa hal yang ia fokuskan dalam sisa 3 bulan tersebut.

“Pertama, sebisa mungkin saya koordinir semua pengurus DEMA-U untuk bisa menyelesaikan semua program kerja bidangnya yang telah disusun. Kedua, menyelesaikan persoalan Student Center (SC) yang memang menjadi tanggungjawab bersama selaku warga SC dan dikoordinatori oleh kami selaku DEMA-U. Seperti halnya penerangan yaitu lampu, kebersihan (berupa Bak Sampah, Plastik Sampah), dan pengaliran air (WC dan Tempat Wudhu). Terakhir, yang menjadi fokus kami agar kepengurusan DEMA-U ini tidak terlihat hanya melaksanakan program-program tahunan (PBAK, PORSENI, PIALA KBM, dll), adalah dengan berusaha merampungkan AD/ART Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) yang memang sudah diwacanakan sejak awal kepengurusan. Sehingga harapannya, bahwa hal ini bisa berdampak positif bagi kepengurusan DEMA-U dan KBM selanjutnya,” katanya.
Hasil keputusan seleksi dari panitia JENESYS 2018.

Diakhir, dia berpesan bahwa ia bersama pengurus DEMA-U memang tidak bisa menjanjikan banyak hal kepada masyarakat kampus dalam kurun waktu setahun dalam periode kepengurusan tersebut. Namun, Miftah meyakinkan bahwa percayalah tidak ada progress yang mereka buat tanpa landasan niat untuk kemajuan kampus dan kesejahteraan para mahasiswanya.

Berbeda dengan Jerina, pada semester tiga ini ia menerima tanggungjawab baru sebagai delegasi pelajar UIN ke Jepang. Pengalaman pertama, ia merasa bersyukur, “Semoga ilmu yang di peroleh disana nantinya. Bisa saya bagikan ke kampus UIN Antasari dan tentunya, diterima oleh kawan-kawan disini. Soalnya percuma bila saya berbagi, kalau nanti kawan-kawan di sini. Tidak menerima perubahan atau tidak terbuka. Itu utama yang harus saya persiapkan bagaimana saya bisa berbagi dengan kawanan di UIN selepas itu,” ucap perempuan kelahiran Buntok tersebut.

Jerina merasa program ini bertujuan untuk bagaimana dia menjadi delegasi yang terbaik ketika pulang dapat membawa dan membagi ilmunya. Jelang sebelum berangkat, pertama, ia fokus pada persiapan berkas, fisik, psikis, dan mental. Sisanya, ia sambil mencari informasi tentang Jepang. Selain itu, Going Abroad, ia juga mengaku perjalanan ke luar negeri ini salah satu impian terbesar yang ingin dicapainya dan terus ia kembangkan setiap ada kesempatan seperti ini, bebernya seusai menutup wawancara via Whatsapp kepada tim Sukma. (M Rahim/lpm-sukma)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PERTUKARAN PELAJAR KE JEPANG, DUA MAHASISWA UIN ANTASARI MENGASAH KEMAMPUANNYA MELALUI PROGRAM JENESYS"

Posting Komentar