Minggu, 29 Juli 2018

YUSLIANI: ADIPATI DANURADJA BIROKRAT PALING SETIA

Sanggar Bahana Antasari mengadakan seminar (baca. Lokakarya) sejarah sekaligus launching buku Adipati Danuradja (Tumenggung Dipanata) Tokoh Lima Banua di Aula Aswadie Syukur UIN Antasari, Sabtu (28/7).

Foto Bersama usai kegiatan seminar (baca. Lokakarya) dan Launching buku Adipati Danuradja (Tumenggung Dipanata) Tokoh Lima Banua


Sekitar empat bulan lamanya. Yusliani Noor, Mansyur, dan Rabbini Sayyidati melakukan penelitian terkait kehidupan tokoh yang bernama asli Zaenal Abidin ini.

Oleh orang Banjar, dari beberapa buku yang dikarang oleh orang banua sendiri. Adipati Danuradja dianggap sebagai pengkhianat alias kontroversial karena mengabdi kepada pemerintah Kolonial Belanda. Adipati memegang amanah sebagai Adipati Kesultanan Banjar (1835-1858) dan Adipati (Regent) zaman Kolonial Hindia Belanda (1859-1861).

Pada sesi pembedahan buku Adipati Danuradja (Tumenggung Dipanata) Tokoh Banua Lima. Yusliani Noor memaparkan bahwa pertama pemerintah Belanda tidak pernah menghapuskan sistem birokrasi Kesultanan, bahkan Belanda hanya mengadaptasi saja. Kemudian, ia mengatakan Belanda juga tidak pernah menghapuskan sistem Kemuftian Pengadilan Agama (Mufti, Kadi, Khalifah, Penghulu).

“Kalaulah Adipati Danuradja dikatakan seorang pengkhianat karena menjadi gouverneur di zaman Belanda. Kita tahu sendiri beberapa ulama Martapura itu menjadi Mufti dan diangkat oleh resident Belanda. Contoh seperti Syekh Jamaluddin Al-Banjari (tuan guru Surgi Mufti) Sungai Jingah, ia sangat dimuliakan oleh masyarakat Banjar dan itu diangkat langsung oleh resident Belanda,” jelasnya.

Berlanjut saat wawancara, Yusliani Noor menjelaskan, sebenarnya Adipati Danuradja merupakan birokrat yang sangat setia pada Kesultanan Banjar. Tapi, karena keadaan yang terdesak mau tidak mau harus masuk dalam struktur birokrasi Belanda, disebabkan situasi politik pada saat itu.

“Satu-satunya pribumi yang dianggap cakap dalam aspek administrasi dan kemasyarakatan. Beliau memiliki kemampuan untuk membina wilayah Banua Lima. Meski berada dalam kekuasaan Belanda,” ucapnya.

Akademisi FKIP ULM ini mengatakan, banyak mendapat pertanyaan terkait sosok Adipati Danuradja. Karena itu, ia melakukan penelitian secara komprehensif dan mendalam untuk menggali fakta-fakta sejarah Adipati Danuradja.

“Penilitian ini didukung penuh Yayasan Adipati Danuradja (Tumenggung Dipanata) untuk menggambarkan kebenaran sejarah dengan apa adanya,” katanya lagi.

M Sofwat Hadi, anggota DPD-RI/MPR-RI juga berpendapat bahwa, “Fakta sejarah ini perlu diluruskan. Pejabat-pejabat yang diangkat pemerintah Belanda bukan berarti menjadi seorang pengkhianat,” katanya.
Ia mengatakan, dengan adanya penelitian sejarah ini menunjukkan bahwa Adipati Danuradja adalah seorang pejuang.

“Nama-nama tokoh sejarah Banjar sudah sepatutnya diapresiasi, salah satunya dengan mengabadikan dengan nama-nama jalan agar kelak anak cucu kita tahu sejarah leluhurnya,” ujarnya.

Pengurus Yayasan Keturunan Adipati Danuradja, Zuhdar Noor mengatakan, dalam pengabdiannya selama 28 tahun, Adipati Danuradja mengabdi kepada kerajaan Banjar selama 24 tahun, dan hanya 4 tahun di bawah kekuasaan kolonial Belanda. “Itupun hanya bagian dari strategi Adipati Danuradja untuk mengetahui taktik Belanda ” ungkapnya.

Ia berharap dengan buku ini, bisa mengubah stigma yang terlanjur melekat, dan menegaskan bahwa Adipati Danuradja seorang pahlawan dengan perjuangannya yang berbeda.

Rep/Foto: MI
Editor: Ades

Jejak Redaksi

Labels