DEBAT KANDIDAT DINILAI KURANG KONDUSIF

Suasana di Aula Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada saat Debat Pasangan Calon Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin

Suasana debat pasangan calon (paslon) Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Antasari Banjarmasin yang dilaksanakan di Aula Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) pada Senin kemarin (26/2) dinilai kurang kondusif dan kurang memuaskan oleh beberapa pihak.

Menurut Hendrawan yang merupakan salah satu paslon tahun ini, “Tempatnya kurang kondusif dan acarannya tidak sampai selesai karena waktunya dihentikan sepihak. Waktu yang diberikan panitia kepada paslon sangat sedikit untuk menjawab pertanyaan sehingga pertanyaan dari panelis tidak terjawab semuanya”. Ungkapnya yang merasa kecewa kepada panitia, Senin (26/2).

“Tapi, saya juga sangat berterimakasih kepada panitia, walau bagaimana pun mereka sudah berusaha untuk tetap melaksanakan kegiatan semaksimal mungkin”. Imbuhnya kemudian.

Pun dari Miftah yang juga merupakan paslon DEMA 2018, “Menurut saya pribadi, secara keseluruhan acara debat berjalan dengan lancar. Antusiasme mahasiswa pun sangat tinggi untuk menyaksikan momentum satu tahun sekali ini demi menentukan pilihan mereka di Pemilwa Raya tahun ini. Akan tetapi, masih terdapat hal-hal yang perlu menjadi catatan kawan-kawan panitia untuk peningkatan efektivitas kegiatan ini”. Ujarnya.

Mahasiswa angkatan 2015 ini menjelaskan beberapa hal yakni, “Pertama adalah terbatasnya waktu. Untuk kegiatan tingkat Universitas tidak dapat dipungkiri bahwa akan memakan banyak waktu karena cakupan pembahasannya sangat luas. Saran dari kami, sebaiknya kegiatan seperti ini dilaksanakan pada pagi hari. Kedua, kondisi tempat kegiatan. Menurut saya selaku mahasiswa FTK, Aula FTK itu sangatlah tidak nyaman untuk dijadikan tempat kegiatan demokrasi seperti ini. Mengingat ini adalah pesta demokrasi tingkat Universitas”. Tambahnya.

Menurutnya, suasana debat yang memanas, ditambah lagi dengan panasnya hawa ruangan pada saat itu. “Hal-hal tersebut sebenarnya sangat mengganggu kondusifitas jalannya acara”. Kata Miftah pada tim SUKMA via Whatsapp.

Senada dengan itu, Riza, salah satu paslon DEMA tahun ini, juga mengatakan bahwa, “Menurut saya pribadi, jalannya debat tidak sesuai rundown yang telah diberikan. Karena, alasan Wakil Rektor III mau melakukan rapat dengan para paslon dan panitia”. Ujarnya.

Reza juga mengungkapkan bahwa tempat kegiatan sangat tidak mendukung. “Banyak kawan-kawan mahasiswa yang ingin melihat debat, akan tetapi karena ruang yang terbatas jadi tidak bisa. Sehingga esensi debat kurang greget karena hanya disaksikan oleh masing-masing tim sukses dan beberapa mahasiswa”. 

Selain dari para paslon, mahasiswa yang hadir pada acara debat paslon juga turut berkomentar. Kali ini datang dari Mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab Angkatan 2016, Kumala Riska Ramadani, “Tempat yang kurang memadai menyebabkan mahasiswa ada yang berdiri”. Ungkapnya.

Menurutnya, dalam Aula FTK tersebut, tim sukses ataupun mahasiswa lainnya cukup ribut di belakang. “Saya rasa panitia kurang tegas padahal panitia berhak mengatur jalannya acara. Jadi apa yang bicarakan para paslon tidak kedengaran”. Jelasnya saat ditemui usai acara.

Terkait keributan yang ditimbulkan tim sukses dan mahasiswa saat debat paslon di Aula FTK tersebut, salah satu panelis, Adi Wahyu Ilhami yang saat ini menjabat sebagai dosen di Fakultas Syariah mengatakan bahwa, “Itu sesuatu hal yang demokrasi”. Ujarnya, Senin (26/2).

“Tapi memang dari kepanitian itu belum ada ketegasan yang mutlak bagaimana keadaan forum itu. Sehingga memang terlihat belum stabil. Pendukung maupun spoter itu tidak terkontrol. Seharusnya memang dari moderator atau kepanitian, lebih menegaskan lagi bahwa kita ini punya aturan, dan juga harus mematuhi aturan tersebut. Namun kita juga mengetahui mahasiswa punya karakter tersendiri, ada yang keras dan ada yang santai. Tapi itu lumrah lah, dan itu tidak masalah”. Jelasnya kemudian.

Menanggapi hal tersebut, Muhammad Hadroh selaku Ketua Badan Pengawas Pemilihan Mahasiswa (BPPM) mengatakan bahwa, “Pada saat debat kami merumuskan bahwa akan berjalan dengan baik, ternyata di lapangan berbeda, waktu yang terus merembet. Terjadi keributan yang memakan waktu yang lama, sebenarnya kami ingin jam 4 itu sudah selesai”. Ujarnya.

“Peraturan itu sudah kami buat sebaik mungkin, seefisien mungkin, dan melakukan perbaikan dari tahun sebelumnya. Soal peraturan debat itu baru tahun ini diterapkan. Mungkin dari segi pengaplikasikannya kami kurang bisa karena menegur orang banyak beda dengan menegur satu orang”. Paparnya.

Mahasiswa Angkatan 2014 ini juga mengungkapkan bahwa, “Sebenarnya kami merencakan itu di Auditorium, tapi sudah kami handle itu tidak bisa. Karena untuk bulan ini full. Bahkan sebelum acara ini, bulan lalu juga tidak bisa. Karena ada kegiatan Rektorat dan kami tidak mau mengganggu kegiatan tersebut.” Tambahnya.

Demikian juga Saidi, salah satu panitia yang bertanggungjawab terhadap jalannya acara debat paslon, mengatakan bahwa, “Kami pusing-pusing, bingung, untuk menghadapi tim sukses paslon yang personilnya banyak. Sedangkan kami panitia sedikit, ada 15 orang saja, 5 laki-laki dan 10 perempuan. Dan, panitia laki-laki saja yang berani menegur, karena perempuannya kurang berani”. Jelasnya.

Terlepas dari permasalahan sewaktu di lapangan, Adi Wahyu Ilhami menambahkan tentang harapannya untuk DEMA tahun ini. “Harapannya memang melihat kedaaan sekarang, kalau boleh kita bercermin kepada DEMA terdahulu masih banyak Pr-pr yang belum terselesaikan dan harapannya untuk tahun ini bisa diselesaikan. Harapan dari panelis tadi, Saya dan Bapak Aditia, kami meminta ada sejarah baru yang diciptakan oleh DEMA bahwa ke depan itu ada sesuatu hal yang baru yang memang belum pernah dilakukan oleh DEMA. Dan itu bernilai positif”. Tutupnya mengakhiri wawancara.

Rep: Eloek, Yun, Ades
Editor: Ades