Rabu, 29 Maret 2017

BUDI: “Siapa yang tidak bisa menjunjung tinggi netralitas, monggo silahkan keluar.”


Cr: google

Menjunjung tinggi netralitas di tubuh Dewan Mahasiswa (DEMA) merupakan hal terpenting dalam kepengurusan, mengingat ada berbagai macam organisasi yang melatari pengurus dari DEMA itu sendiri, baik itu organisasi internal maupun organisasi eksternal. Jelas Budiansyah, Ketua DEMA Institut IAIN Antasari. “Selama tidak membawa kepentingan organisasi yang diikutinya, tidak jadi masalah buat DEMA.” Tutur Budi.

Setidaknya ada 3 kali penekanan kata netralitas yang dilontarkan oleh mahasiswa D3 Perpustakaan ini. Yakni, mereka (red-DEMA) tidak main hitungan persen untuk mengukur pengurus yang berlatar organisasi ekternal di tubuh DEMA, ketika sudah berada di DEMA harus menjunjung tinggi netralitas. “Siapa yang tidak bisa menjunjung tinggi netralitas, monggo silahkan keluar.” Tegas Budi. Ia juga mengaku bahwa tidak ada standarisasi bagi para pengurus, yang jelas menjunjung tinggi netralitas.

Sejalan dengan Budiansyah, Zainal Ketua DEMA Fakultas Ushuluddin dan Humaniora tidak menginginkan anggotanya (Red- DEMA Fakultas Ushuluddin dan Humaniora) membawa kepentingan politik apapun, “karena disini kita sama-sama ingin memberikan yang terbaik kepada kampus kita sesuai dengan tujuan bersama, bukan tujuan perorangan.” Ungkapnya, Sabtu (25/03).

Hal senada diutarakan pula oleh Bima, Ketua DEMA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Ia menyadari banyaknya bendera organisasi eksternal yang bergabung dalam kepengurusan mereka (red-DEMA) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, namun meski demikian hal itu tidak berpengaruh sedikit pun untuk internal DEMA. “karena kami sebagai ketua dan wakil ketua DEMA Fakultas selalu mengontrol kondisi pergerakan pengurus.”
Sedangkan di DEMA Fakultas Syari’ah dan Ekonomi Islam, bahwa secara angka Rizkan Fadil mengaku jika di dalam kabinetnya tahun ini ada 27 pengurus yang masing-masing dari mereka (red-pengurus) ada yang berasal dari organisasi eksternal sebanyak 15 pengurus dan 12 pengurus dari organisasi internal. Lelaki jurusan Hukum Keluarga ini juga mengutarakan pada tim Sukma, Sabtu (25/03). Bahwa perekrutan pengurus sendiri dipilih dari orang-orang yang dapat membantu dan mempunyai energi kuat dalam hal kepemimpinan.

 Juga, secara gamblang Hasmirian Akhmada mengakui, perkembangan organisasi internal berkembang sangat pesat, seperti organisasi Tasmaq An-nida, Teropong Community serta organisasi lainnya yang sudah mulai ‘hidup’,“ terlebih Teropong Community yang sempat vakum beberapa waktu lalu.” ungkapnya, Sabtu (25/03).

Lelaki yang merupakan wakil Ketua DEMA Fakultas Dakwah dan Komunikasi  ini pun mengakui jika perkembangan tersebut (red-Ormawa Internal) selaras dengan perkembangan organisasi ekternal. “Saya kira mayoritas di Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini adalah mahasiswa dengan latar belakang organisasi PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia).” Pungkasnya.

Untuk perkembangan organisasi ekternal sendiri, ke empat dema fakultas yang ada di IAIN Antasari Banjarmasin ini sepakat bahwa di masing-masing fakultas keberadaan organisasi eksternal berkembang cukup pesat, dan mereka juga sepakat bahwa seiring dengan perkembangan organisasi ekternal tersebut tidak akan mempengaruhi jalannya kepengurusan DEMA, baik tingkat Institut maupun fakultas.

Tim Berantas

Jejak Redaksi

Labels