Jumat, 03 Februari 2017

My First Mirror in Life

Oleh : Siti Aprily Astuti
http://image-serve.hipwee.com/wp-content/uploads/2016/06/hipwee-shbt3.png
ilustrasi

Kala itu langit meredup, matahari hanya memancarkan semburat cahayanya malu-malu, rerintik air menyentuh bumi, semakin deras dan semakin deras. Aku mematut diriku di depan cermin, di sana setengah dari tubuhku dipantulkannya terlihat sama seperti aku apa adanya. Sampai ku terpaku, pandanganku tenggelam terus ke dalam cermin, menelisik ke dalam tatapan mataku, tembus lagi ke dalam retinanya. Dia ada di sana, seorang gadis yang ku tatap enggan dulunya, lalu rindu. Dia masih di sana, dengan lekat senyumnya yang tergores oleh tipuan-tipuan waktu. Entah, sudah berapa lama waktu menghentikannya dan membiarkanku berjalan bersama waktuku sendirian, aku rindu tapi hanya untaian doa yang bisa ku ucap.

Kapuas, 2003.

Hari yang sudah terlupakan, hanya tempat dan tahun yang masih bersemayam di ingatan. Aku yang kala itu berdiri di samping Ibuku, menunggu teman sebangku dengan antusias, mataku terus berpendar mensejajarkan penglihatan pada setiap orang yang masuk ke dalam kelas bersama walinya, tapi orang itu belum muncul juga, padahal wali kelas sudah memasuki ruangan saat itu. Aku kecewa, sesaat, sebelum akhirnya seorang Ibu Haji mendekati meja ku sembari menggedong anak perempuannya, aku yang sumringah awalnya, kini tercekat, senyum yang awalnya ingin mengembang tertahan sempurna.

“Permisi, Bu.” Ucap Ibu Haji itu menyapa Ibu ku ramah, Ibu ku balas tersenyum dan mempersilahkan beliau duduk.

    Aku menatap anak perempuan itu ragu-ragu, sampai tanpa ku sadari aku bersandar kuat pada dinding kelas, seolah aku merekat padanya. Mungkin pandangan seorang anak kecil terhadap suatu hal yang aneh adalah gambaran eskpresi wajahku waktu itu, Ibu memerintahkanku untuk duduk di sampingnya, ketika orang tua diminta untuk menunggu di belakang kelas, tapi aku masih setia merekat di dinding kelas. Aku takut dan ragu, sungguh… Aku hanya berusaha jujur karena itulah yang ku rasakan saat itu.

    Malamnya aku kembali becengkrama dengan kedua orang tuaku, sembari bermain dengan adik kecilku.

“Bagaimana hari pertama di kelas satu, Key?” Ayah duduk di sampingku sembari mengambil remote televisi yang ada di tanganku, aku merengut Ayah hanya tersenyum geli,
“Alhamdulillah. Baik-baik saja,yah,” Aku menjawab Ayah dengan pasrah, karena tontonanku sekarang sudah berubah menjadi siaran berita,
“Teman sebangku kamu siapa? Masih sama si Ida?”

    Aku menggeleng, mana mungkin bisa sama kalau akhirnya wali kelas meminta kami untuk mencabut nomor urut. Ida adalah temanku sejak Taman Kanak-kanak, kami sudah membuat rencana, tapi gagal sesampainya kami di sana.

“Ya sudah, kalau begitu’kan kamu bisa bertemu teman baru. Siapa nama teman sebangku kamu sekarang? Orangnya seperti apa?” Ayah berbicara dengan matanya yang masih fokus ke televisi,
“Namanya Raina Adinda Arisa, dia baik tapi…”

    Aku menggantung kata-kataku, Ayah yang kehilangan fokus menonton televisi, lalu menatapku sendu.
“Tapi kenapa?” tanyanya lembut,
“Ibu…Ibu, tolong ceritakan sama Ayah,” Aku menggelayuti tangan Ibu, aku takut salah menggambarkan dirinya,

“Arisa anak yang baik, tapi dia punya luka bakar di seluruh kakinya. Dia tidak bisa berjalan normal, karena kakinya terlipat dan melekat. Jadi dia harus digendong Ibunya,” Ucap Ibu sembari merebahkan dirinya di sampingku,
“Luka bakar,ya? Berarti lukanya sudah sangat parah jika sudah seperti itu,” Ayah dengan gaya khasnya jika terkejut membuatku tersenyum,

“Iya, Ayah. Katanya dia didorong temanya ketika bermain dan masuk ke dalam wajan besar yang berisi minyak panas bekas menggoreng bawang,” Aku merinding saat membayangkan hal itu terjadi,
“Astaghfirullah, kenapa bisa begitu? Memangnya ada acara apa sampai ada wajan besar di rumah mereka?”

“Tidak ada acara apa pun, temannya Arisa itu anak orang yang punya rumah makan, mereka bertetangga dan waktu itu katanya Arisa sedang makan snack, dan temanya ingin minta tapi Arisa tidak memberi, mungkin karena kesal temannya itu mendorong Arisa dan tanpa mereka sadari ada wajan besar di situ.”

“Ugh! Menyeramkan sekali.” Aku kembali merinding mendengar penjelasan Ibu barusan,
“Kasihan, anak sekecil itu harus menanggung luka yang sangat besar,” ucap Ayah meringis,
“Dia mungkin lebih tua setahun dari Keyla, tapi dia harus terlambat satu tahun masuk sekolah karena harus berobat dan sebagainya.”

“Oh, begitu ya,Bu. Tadi Keyla sempat takut-takut ketika duduk di sampingnya, tapi karena sudah tahu seperti itu, Keyla jadi kasihan dengan Arisa.” Aku menggaruk leherku yang tidak gatal, menyadari kesalahanku,
“Iya, besok Keyla harus bisa berteman,ya? Karena Arisa jadi teman sebangku kamu selama setahun ke depan, baik-baik lah dengan teman, jangan bicara kasar padanya. Oke?”

    Ibu membelai rambutku dengan sayang, begitu pun dengan Ayah. Aku hanya mengangguk, dan berusaha untuk mematuhi nasehat kedua orang tua ku itu.

    Hari kembali berganti, matahari yang tak pernah telat bangun sedetik itu pun sudah sumringah di ujung timur sana, aku yang masih dalam pelukkan kasur pun berusaha untuk menyadarkan diri dari mimpi-mimpi perindu.
“Ayo, bangun!!!”

    Ayah meneriaki telingaku dengan lembut, ahhh… sangat lembut, sampai aku langsung berdiri dan masuk kamar mandi dengan handuk di bahuku. Ayah orang yang lembut, tapi apabila dia kesal dia bisa jadi orang lain, siapa pun tidak akan berani mendekat, jika dia sudah marah besar.

    Selepas sarapan pagi, aku berangkat dengan Ayah menggunakan sepeda motor dinas kesayangan kami, ‘meski sudah tua setidaknya masih bisa jalan,’ begitu kata Ayah. Aku pun berjalan ke kelas dengan perlahan setelah mencium tangan Ayah, menoleh ke belakang sesekali memperhatikan apakah Ayah sudah pergi atau belum, jika Ayah masih di sana aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan, jika Ayah sudah kembali, aku hanya akan berbalik dan berjalan ringan ke kelas.

“Selamat pagi!” Ida menyapaku setelah aku masuk kelas,
“Pagi juga!” Ucapku sumringah,
    Ida dan aku berjalan berdampingan hingga ke meja kami masing-masing, kebetulan Ida duduk di depanku, jadi aku tidak terlalu khawatir tidak punya teman. Sebelumnya Arisa sudah datang bersama Ibunya, aku mengucapkan salam lalu meletakkan tasku di samping Arisa.

“Keyla,kan?” Tanya Ibu Arisa,
“Iya, Bu.” Aku hanya tersenyum kikuk, menatap wajah Arisa yang tersenyum polos padaku,
“Ayo, duduk. Aku bawa bekal,” katanya, aku terenyuh sesaat, ini pertama kalinya kami bicara,
“Iya, Arisa, thanks.” canggung mungkin itulah hal yang terjadi sekarang, aku memang anak yang cukup pemalu, dan sulit untuk berkomunikasi secara langsung, biasanya orang yang akan mengajakku bicara duluan baru aku akan menjawab, jika tidak aku hanya diam.

    Waktu terus berlalu tanpa ku sadari, hampir dua bulan kami menjadi teman sebangku. Dia anak yang sangat baik, dia punya banyak mainan dan dia tidak sungkan untuk meminjamkan mainannya itu –mungkin itulah ukuran baik sebagai seorang anak kecil dulu, tapi selain itu dia juga sering membawa makanan dan membelikanku jajanan di sekolah, dari yang ku tahu, dia sangat suka makanan pedas bahkan dia selalu membawa sambal terasi atau mangga muda disetiap bekalnya, dia juga suka makan yang asam-asam, dia sangat suka membuat rujak mangga muda dan menaruhnya di garam pedas. Aku sangat kagum padanya atas bakatnya itu, dia hebat karena aku memang tidak tahan pedas dan asam, pencernaanku tidak sekuat miliknya.

    Kembali waktu satu tahun kami lewati di kelas satu, dalam satu tahun itu pun kami tidak terpisahkan, layaknya saudara, aku biasanya akan berada di rumahnya sehabis sekolah, kami bermain seharian dan berenang di sore hari, sembari menunggu Ayah menjemputku. Pernah suatu hari, tanpa aku ketahui Kak Mina –Kakak Arisa, menjemputku untuk menemani Arisa berobat di pengobatan alternatif, aku bahkan belum mandi Karena itu hari minggu. Sesampainya di sana, setelah Arisa hanya menggunakan kaos dalam dan celana pendek, dia disembur oleh si Bapak yang bisa mengobati, dia menangis dan tubuhnya bergetar. Perlahan aku genggam erat tangannya, sembari berbisik.

“Jangan takut, kamu harus kuat!” Aku coba menguatkannya.

    Tak cukup setahun, kami terus bersama sampai kelas dua. Meski sekarang kami tidak bisa duduk sebangku lagi, tapi kami tetap menjadi sahabat. Aku bersyukur di kelas dua ini pun, dia akhirnya bisa meluruskan kakinya, dan berjalan pelan. Namun, kehidupan itu bagai timbangan, dia adil pada waktunya. Seiring berjalannya waktu, semakin sehat Arisa dan kami semakin bahagia. Hingga pada pertengahan libur semester sebelum kami masuk sebagai siswa kelas tiga, berita kelam menghampiriku bagai mimpi buruk yang akan berlanjut esok malamnya. Arisa sakit, tapi kali ini bukan karena kakinya tapi ternyata pencernaanya, aku tidak tau pasti dia sakit apa, akan tetapi saat aku di sana, matanya sudah berbeda, badannya kurus dengan tangannya yang ditusuk oleh jarum infus. Dia sulit mengenaliku, kata Ibunya dia terlalu banyak makan jeruk purut, hingga harus sakit seperti itu.

“Arisa…” panggil ku pelan, aku duduk di samping Ayah dengan sendu, mendengar cerita Ibunya yang terdengar sedih, dan tak lama kemudian aku pulang.

    Mungkin tak sampai seminggu, setelah aku menjenguknya. Lagi… berita yang menyesakkan hati ini menerpa bagai angin ribut yang meratakan rumah-rumah. Aku harus kehilangan dia, gadis manis yang masih polos dengan hatinya yang suci. Aku termangu kala itu, sembari diapit Ayah dan Ibuku di sepeda motor, sembari mengantarkannya ke perisitirahatan terakhir, aku tak sempat melihat wajahnya untuk terakhir kali. Aku berjalan sendiri mendekati rumah peristirahatan terakhirnya, dimana rasa sakit tak ada lagi dan kekhawatiran hanyalah milik manusia fana semata, dia kini abadi di sisi Tuhannya yang menyayanginya. Aku hanya bisa menitikkan air mata, membisikkan kata menyesal dan rindu yang terdalam untuk sahabat sejatiku yang pertama.

    Sama saat aku menatap sebuah cermin, cermin memantulkan kesakitan dan kebahagiaanku secara jujur, layaknya Arisa yang memantulkan aku apa adanya pada dirinya, aku bisa melihat sedihku dan senyumku padanya, Arisa itu cerminku yang selalu jujur dihadapanku, meski tak sepenuhnya terlihat sama, tetap saja dia yang sampai kini masih melekat di pikiran dan hati yang terdalam.

-End-

Jejak Redaksi

Labels