Minggu, 12 Februari 2017

APATISME MAHASISWA, DEMA TANPA BENDERA DI KAMPUS HIJAU

Oleh: Muhammad Rahim
Mahasiswa Tarbiyah, KI-Bimbingan Konseling Islam

“Sampaikanlah pada ibuku, aku pulang terlambat waktu, ku akan menaklukan malam, dengan jalan fikiranku” . (Ost. GIE)

Mahasiswa adalah agent of change. Jargon klasik namun tetap relevan. Disebut agent karena ia memiliki misi, change tentang perubahan yang ia bawa. Mahasiswa adalah revoliter. Pembangun sejarah, menuju perbaikan nasib masyarakat. Namun kenyataan sekarang, terbalik lurus dari porosnya yang mendasar atas paradigma-streotype yang tertanam ditubuh mahasiswa yang apatis terhadap birokrasi kampus. Hal itu dikarenakan perubahan yang dibawa oleh segelintir pemimpin yang sekadar menduduki jabatan dan terjadilah pergerakan yang monoton, dampaknya adalah apatisme mahasiswa yang sudah menjadi culture (red: wabahnya kampus). Pada akhirnya menjauh dari sisi pergerakan, memilih untuk individualisme yang menganggap bahwa pemimpin tidak lain seperti kucing yang memakan anaknya sendiri.

Budaya apatisme itu terlahir karena mahasiswa-mahasiswa yang berlabel akademisi ini berlatar belakang; non-aktivis dan jauh dari kata agen perubahaan, control soal hingga intelek-intelek yang pasif akan pergerakan. Faktornya adalah sekadar menimba absen, belajar 2 SKS dan duduk, menunggu SK Sarjana yang diterimanya tanpa melihat kemampuan diri, apalagi peduli terhadap pergerakan dikampusnya. Isu-isu kampus yang terbilang penting atas kesejateraan dan kenyamaan dari mahasiswa itu sendiri.

Perbudakan Mahasiswa dan Bendera
Sekilas kita menatap pergolakan di kampus hijau adalah permainan politisi antar bendera-bendera yang berlandaskan kepentingan lembaga tersebut. Parahnya lagi, tiap kaderisasi yang ditunjuk sebagai pemimpin kampus adalah orang-orang yang jauh dari konsepsi mahasiswa itu sendiri yang terbilang ikut arus-senior dan bersama bendera-benderanya, lahirlah pemimpin ala kadarnya yang menurut Pramoedya Ananta Toer, bahwa "Bagaimanapun masih baik dan masih beruntung pemimpin yang dilupakan oleh pengikut daripada seorang penipu yang jadi pemimpin yang berhasil mendapat banyak pengikut." (Pangemanann, 443). Dan itu masih berlaku dikampus hijau, bagaimana tidak? Perbudakan yang digaungi oleh organisasi luar yang masih dipersaingkan dengan bendera-bendera yang mengakar hingga sekarang, adalah tindakan-tindakan yang ingin menguasai diberbagai fakultas dan terjalinlah radikalisme mahasiswa yang kini masih bergelut didunia para aktivis, harusnya dilawan dengan netralitas diri dengan harapan-harapan yang ada dikampus, bukan malah menjadi budak di organisasi tersebut. Perbudakan adalah suatu kondisi di saat terjadi pengontrolan terhadap seseorang oleh orang lain. Orang yang dikontrol disebut dengan budak, maka yang terjadi pada mahasiswa sekarang adalah perbudakan diri pada mahasiswa itu sendiri. Tanpa disadari mereka sudah meludahi dirinya sendiri dengan mengatas-namakan mahasiswa. Pola-pola seperti ini harus dibenahi oleh birokrat kampus dan kesadaran mahasiswa, bukan jalan ditempat sendiri tanpa melupakan isu-isu dikampus.
Terkait dengan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Antasari, sistem yang dianut oleh mereka seringkali mengambil alih dan keputusan sendiri tanpa transparansi. Semestinya tugas Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) adalah membantu menjembatani atau penghubung suara - suara mahasiswa / mahasiswi dari berbagai pihak independent, organisasi, UKM, UKK kepada Birokrat Institut melalui Wakil Rektor III. Apakah sudah benar dan sesuai dengan aturan? Mungkin aturan itu dapat digambarkan dari kinerja di lembaga tersebut dan dapat diukur dari beberapa pemimpin sebelumnya. Melihat dari latar belakang dan kesamaan kinerjanya, penuh dengan tanda tanya yang perlu diketahui oleh masyarakat kampus khususnya adalah mahasiswa. Apakah ada dalang dari semuanya? Maka sangat diperlukan pemahaman ini dalam lembaga agar terkondisikan dengan baik, saling terjalin dan kerjasama tim dalam membangun sebuah birokrasi kampus yang tidak dihancur oleh orang-orang didalamnya. 

Andai dema tanpa bendera, pergerakan-pergerakan yang berlandaskan mahasiswa dan kepentingan kampus, mengingatkan penulis dengan puisinya Moh Mahfud: Jika dema tanpa bendera, perang-perang akan redam, harum demokrasi hanya topeng, dan sungai-sungai birokrasi akan timpang-pincang, orang-orang akan menyembah apa? sementara keyakinan mereka tergadai kepentingan, sujud dan ikhtiar mereka dilindas peraturan yang mogok, dan salam mereka memenuhi kotak-kotak perjuangan yang alpa. Gejolak dan keresahan yang dirasakan oleh mahasiswa perbandingan madzhab ini, adalah cerminan yang tergambar dalam birokrasi kampus hijau yang begitu brutal dalam kepemimpinannya. Mengutip tulisan Saktya Alief Al Azhar, kepada calon presiden DEMA ku yang baru tak akan luntur dan berhenti disini saja. Ku tahu banyak tentang kelebihanmu, kau pintar, cerdas dalam memilih hukum, leadershipmu bagus, pendirianmu juga telah diakui, dan kau juga ahli dalam mengungkap sejarah. Namun tahukah kau, kalau semua itu tak menjamin dirimu menjadi presiden mahasiswa yang lebih baik dari tahun-tahun yang lalu. Menjadi orang yang dipercaya untuk menjalankan roda kepengurusan selanjutnya. Memahami rakyat-rakyatmu yang bukan satu bendera denganmu. Dan memukul rata kebutuhan mereka tanpa memandang bendera, (kompasiana, 25 feb).
Tim |Sukma
Menelanjangi Pragmatisme Mahasiswa
Seiring berjalannya waktu, diawal abad ke-20, awal dari era reformasi dan awal dari abad "globalisasi", peran mahasiswa sebagai agent of change, agent of science, dan agent of society semakin pudar ditelan waktu. Kita tidak lagi melihat idealisme mahasiswa terdahulu yang benar-benar mendedikasikan diri mereka demi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat didalam sosok mahasiswa modern. Mahasiswa modern terkesan pragmatis dan apatis terhadap hal-hal yang terjadi disekelilingnya. Tekanan eksternal yang begitu kuat seakan melunturkan semangat juang dan patriotisme pemuda terdahulu yang  seharusnya diwarisi oleh para mahasiswa. Kalo melirik sedikit ke dalam kampus, penuh ragam gaya dan bahasa anak muda zaman sekarang. Apalagi di era globalisasi yang begitu pekat akan teknologi dan kemanjaan ilmu yang tersamarkan oleh esensi mahasiswa itu sendiri, membawa pergerakan yang pasif akan perubahan malah menjadi tolak ukur kesuksesan yang diraih oleh perguruan tinggi tersebut. Kampus hijau yang notabene sebagai garis besar perguruan tinggi berbasis agama di Kalimantan Selatan, perlu kesadaran yang mendalam terhadap isu-isu kampus dan kepedulian yang tinggi, minimal empati kepada kaum-kaum yang tertindas dalam tempurungnya birokrat tersebut. Kalo kita masih jauh dari kata empati, siapa lagi yang mau mengubah ini dalam tatanan perbaikan dan perlawanan diri kearah revolusi.

Jejak Redaksi

Labels