Andrea Hirata Keluar, Idea Menulis Pun Pudar


Sumber foto: Antaranews.com
Oleh : Ali
Kamis 17 september 2015, perpustakaan iain antasari mendatangkan penulis novel ternama “sang pemimpi” andrea hirata untuk berbagi pengalaman dari proses kreatifnya sebagai motivasi terhadap mahasiswa, dosen dan karyawan kampus yang hadir ke auditorium

Setelah dibuka oleh sambutan Rector, Penulis laskar pelangi itu pun mulai menyampaikan pengalamannnya dalam menulis pada jam 10:30 wib. Antusiasme mahasiswa menghadiri studium general bersama Andrea sangat membludak, tempat yang disediakan tidak mencukupi sampai ke lantai dua juga terlihat sesak peserta

Penyampaian pengalaman secara berkesinambungan dari idea penulisan laskar pelangi yang menurutnya diperuntukkan hanya kepada sang guru Muslimah waktu duduk di sekolah dasar, sekolah Muhammadiyah yang hampir roboh di kepulauan Belitung itu hingga jadi novel Best Seller yang kini telah di terjemahkan ke berbagai bahasa dunia

Mendapat motivasi sedemikian rupa atas kehidupan beliau yang keadan social ekonominya serba memprihatinkan membuat para audient terharu dan takjub bagaimana seorang Andrea yang sekolahnya minim fasilitas, malah tempat belajarnya sering jadi berteduhnya kambing tetangga ketika hujan turun serta keterbatasan akses pendidikan di atas kekayaan alam Belitung yang melimpah ruah biji timah dapat menciptakan karya sastra

Rasanya saya melihat banyak idea audient berhamburan memenuhi auditorium, mengawang awang dari ratusan gagasan yang cemerlang diatas kepala mereka itu. Seakan akan sudah tersusun ke beberapa sub bab funtastik hanya  dengan sekali motivasi seorang Andrea.

Namun, dari sekian banyak gagasan, topik yang begitu beragam dari pola sifat dan perilaku peserta mulai cinta anak kampus, ada kasih disudut Duta Mall, jalan-jalan, makan dan malaikat sejati “BBM” tiba-tiba kosong melompong ketika melewati pintu bersamaan berahirnya stadium general

Betapa tidak, setelah acara diselesaikan dengan music, lagu laskar pelangi yang dinyanyikan Made Kawu, audient lebih tertarik mengabadikan moment kedatangan penulis berambut keriting itu dari pada apa yang disampaikan dalam waktu serba terbatas itu. Barangkali inilah saatnya menulis status. gaes, “IAIN kedatang penulis go internasional!!” hu hu ha

Rasa pesimis tulisan inipun bukan menafikan geliat audient yang bermimpi menjadi penulis. Hanya saja keterharuan selama ini jauh dari tindakan. Jangankan menulis, membaca dirasa tidak penting selama tidak ada hubungannya dengan kebutuhan kita. Misalnya kebutuhan referensi tugas makalah dan semacamnya

Rupanya saya harus mengakui malu mendengar prinsip seorang Andrea yang jauh-jauh dari Sumatera Selatan ke kota seribu sungai hanya menyampaikan “Riset” setiap apa yang ditangkap panca indera dan bacalah buku. Karena disana ada banyak peluang yang tidak terpikirkan menanti anda. Apakah seorang dosen masa tuanya ditakdirkan jadi petani, atau mahasiswa hukum jadi palayan restoran? Sungguh Andrea bosan ditanyakan tips sesudah berbicara panjang lebar buku yang di baca “saya baca jurnal astronomi” pertanyaannya apakah Andrea dengan membaca jurnal tersebut karena bermimpi jadi astronom? Barangkali Buku ini-itu yang dia baca membentuk kerangka berfikir yang linear atas mimpinya! Tentu Andrea tidak pernah bermaksud demikian.

Sungguh, saya pun yakin terhadap teori sikologi social jika lingkungan membentuk prilaku seseorang. Semisal orang banjar yang sangat dimanja alam ini akan berfikir ‘buat apa bekerja keras wong alam kita subur, buat apa menulis gejala social wong kehidupan kita damai, tidak ada konflik, buat apa membaca buku wong kehidupan ini lebih nyata untuk dibaca’.

Kemudian saya hanya manggut-manggut ketika pengajar memberi tips membuat skripsi tanpa membaca setumpuk buku, serta ungkapan “bacalah buku yang berfaidah” sehingga sangatlah bodohnya Andrea membaca novel di depan cleining servise waktu memperkenalkan karyanya di Amerika jika kita terlalu berfikir spontan. Semoga saja bukan karena terlalu sering makan mei instan sehingga maunya selalu aba kadabra.

Pages