LUNTURNYA MAKNA MAHASISWA


Net
Mahasiswa dan perguruan tinggi erat hubungannya dengan yang namanya dunia akademis dan dunia aktivis,tuntutan seorang mahasiswa yang berstudi di sebuah perguruan tinggi bukan hanya mengerti dan memahami masalah teori-teori tentang mata kuliah tetapi juga melakukan sebuah kerja nyata atas apa yang diterima dibangku kuliah dan peka terhadap permasalahan yang ada di sekitar maupun masyarakat,hal inilah yang membedakan mahasiswa dan sesorang yang bukan mahasiswa. Nah itulah guna sebuah organisasi yang mewadahi mahasiswa dalam kerja nyata dan melatih kepekaan terhadap berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat.
sebutan bagi mahasiswa yang berkemelut di organisasi ialah aktivis. sejarah indonesia membuktikan bahwa peran aktivis mahasiswa dalam melakukan perubahan-demi perubahan di indonesia tidak bisa di pandang sebelah mata,pada saat kasus digulingkannya rezim orde baru yang ditandai dengan turunnya soeharto pemimpin yang telah berkuasa lebih dari 32 tahun di inonesia karena dianggap tidak bisa memimpin indonesia dan banyaknya korupsi serta hak asasi dalam menyampaikan pendapat telah dikebiri di rezim ini maka mahasiswa bergerak dengan segera untuk mengakhiri rezim ini, disanalah buktinyata dari peran mahasiswa sebagai roda penggerak demokrasi pembela rakyat dan pengawas jalannya negri ini,
Dahulu hanya dengan mengemban nama mahasiswa maka orang akan memandang anda sebagai orang yang hebat,intelektual dan berdedikasi apalagi jika anda mengemban dua nama sekaligus yaitu mahasiswa dan aktivis, rasa bangga disebut aktivis dalah kebanggaan tersendiri bagi mahasiswa waktu itu,karena anda dianggap manyarakat sebagai seseorang yang membela hak-hak kaum tertindas orang yang peduli akan perkembangan bangsa ini,seorang intelektual yang tidak hanya bergelut dengan buku tetapi dibuktikan dengan tindakan nyata.
Namun masa lalu hanyalah masalalu yang tinggal sejarah kisah-kisah kehebatan para mahasiswa terdahulu nampaknya didak bisa diwarisi oleh mahasiswa sekarang, khususnya oleh mahasiswa kalimantan selatan,denagn beragam kampus yang didalamnya banyak sekali organisasi kemahasiswaan yang bergerak di berbagai bidang,meskipun banyak kampus dan banyak organisasi tetapi kegiatan yang dilakukan orgnanisasi mahasiswa ini sangat bertolak belakang dengan organisasi pada masa pergerakan reformasi dan sebelumnya, jika kita lihat lebih seksama organisasi kemahasiswaan di kampus ini banyak yang hanya bergerak dibidang EO (Event Organizer) yang hanya memikirkan bagaimana dan kapan harus membuat sebuah acara baik itu acara berbentuk lomba, seperti lomba jalan santai,loba orasi,lomaba olahraga dan lomba-lomba lainnya, yang diadakan tiap tahun dan lomba-lomba lain ataupun berbentuk hiburan seperti panggung seni,teater ataupun musik,DEMA (Dewan Mahasiswa) atau BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) yang perannya adalah menjadi suara perwakilan mahasiswa  dalam menjembatani mahasiswa dan pihak pengelola kampus dan menjadi representatif mahasiswa dikalangan masyarakat seakan lumpuh dan lupa akan perannya karena sibuk mengurusi proker-proker yang harus dikerjakan, entah itu mengadakan loma,seminar pelatihan-pelatihan atau lain sebagainya yang masih berhubungan dengan kerjaan dari seorang EO,sangat disayangkan apabila peran mahasiswa dalam perubahan bangsa disusutkan menjadi sebuah kelompok yang hanya bisa menyelenggarakan acara tanpa kerjanyata
Apa bila kita lihat peran mahasiswa terdahulu yang sukses mengubah indonesia lewat pemikiran-pemikiran yang kritis dan peka terhadap negri serta aksinyata yang ditunjukan demi kebaikan bangsa dan rakyatnya, maka hal-hal yang dilakukan mahasiswa kita seperti di atas tadi terlihat sangatlah bodoh, dimana seharusnya mahasiswa itu menambah khazanah ilmu pengetahuan dari berbagai bidang baik itu ilmu sosial ataupun ilmu murni dan juga berdiskusi tentang bagaimana tindakan nyata pencegahan korupsi yang sedah menjadi penyakit akut yang sangat sulit diberatas serta membentuk oraganisasi yang mempunyai peran langsusng dalm pembangunan misalkan organisasi yang basicnya berdiri di fakulatas yang backgroundnya pendidikan maka organisasi itu secara tidak langsung mempunyai kewajiban moril dalam pembangunan dunia pendidikan karena masih banyak anak-anak diluar sana yang putus sekolah dan memerlukan pendidikan,ataupun fakultas-fakultas lainnya. bukannya sibuk dengan rapat-rapat tentang bagaimana mengadakan suatu loba dan siapa atau berapa jumlah pesertanya ataupun cuman mengadakan seminar satu hari yang katanya bisa membuat orang semakin pintar walaupun menurut saya kepintaran itu tidak bisa didapatkan hanya dengan satu hari tapi dengan belajar seumur hidup, juga mengadakan pelatiahan yang katanya bisa meningkatkan kemampuan kepemimpinan dengan berbagai materi yang disuguhkan khas ala sebuah seminar meskipun seharusnya kemampuan dalam memimpin itu bisa didapatkan dilapangan dan pengalaman nyata dalam memimpin, melalui pengalaman yang banyak dan orang yang mendapat pengalaman tersebut harus belajar mambuka diri akan pengalaman tersebut dan peka terhadap lingkungan dimana ia bersosialisasi, dan sampai sekarang saya masih bingung bagaimana caranaya seseorang dapat memperoleh jiwa kepemimpinan dengan pelatuhan yang cuman 3 atau 4 hari. saya kira masih banyak orang yang hidupnya termarjinalkan olah keadaan dan mestinya harus juga dicerdaskan dengan seminar-seminar jalanan bukan seminar yang di adakan dikampus dengan mendatangkan pemateri yang mempunyai segudang pengalaman dan ilmu yang menyampaikan ilmu yang hanya bisa diserap oleh kaum intelektual dari kalangan mahasiswa saja, dan setelah habis seminar mereka kembali kekehidupan mereka tanpa sedikitpun mengamalkan ilmu yang didapat dalam seminar itu.
hal ini sungguh ironi dimana mahasiswa yang biasa disebut agen of change (Agen Perubahan) yang perannya dalam perubahan negara indonesia kearah yang lebih baik lagi berubah haluan menjadi Agen of Event (Agen pembuat acara), jadi apakah yang salah disini? dimana kah hilangnya mahasiswa yang dulunya ditakuti para koruptor dan oknum-oknum penghancur negri ini,mahasiswa yang membela rakyat,mahasiswa yang tidak mau tunduk pada tirani yang menguasai negeri ini, apakah harapan kecil ini masih ada mengingat gambaran mahasiswa di kampus kita hanya sibuk berebut posisi untuk menduduki sebuah jabatan dioraganisasi dalam kampus dan memanfaatkan banyaknya masa diorganisasi luar yang dia ikuti untuk dapat memenangkan pemilihan,dan setelah ia terpilih ia kembali mengangkat  teman-teman di organisasinya untuk menemaninya dalam menjalankan oraganisasi barunya tersebut tanpa melihat lebih jauh lagi siapa yang seharusnya lebih mampu dalam menjalankan jabatan-jabatan yang ia bagikan,serta menjalankan program-program yang berorientasi kepada acara, acara dan acara. hal ini sangat serupa dengan para birokrat yang menduduki kekuasaan di atas sana.
terjawab sudah misteri hilangnya identitas para aktivis yang dahulunya memperjuangkan hak rakyat dan menggaungkan semangat membangun negeri dan mengkampanyekan tindakan anti korupsi dengan tindakan-tindakan nyata, sudah berubah menjadi bibit-bibit birokrat baru yang saling berubut kekuasaan dan membagi bagi jabatan apabila ia terpilih,yang berpikir tentang proyek apa yang harus dikerjakan seperti mengarjakan suatau acara ataupun berfikir bagaimana caranya agar memenangkan tender dari atasan dan mendapatkan gelontoran dana seperti acara-acara rektorat yang diadakan oleh mahasiswa yang biasanya mempunyai anggaran yang banyak,munkin tidak lama lagi jika anda mencari kata aktivis didalam kamus bahasa indonesia maka yang anda temukan adalah kata Birokrat Kecil. mungkin cara satu-satunya hanya berdoa kepada tuhan agar mahasiswa-mahsiswi para aktivis.
(Furqan)