PEMBODOHAN KAMPUS LEWAT SERTIFIKAT



"Jika sertifikat sekadar untuk menarik massa, saya fikir; Lupakan. Kita hanya akan mengajarkan kepada teman-teman kita bahwa mendapatkan sertifikat itu mudah dan membelokkan orientasi kehadiran untuk meraup massa semata"

 
Foto koleksi pribadi penulis

Oleh: Moh Mahfud*

Orang akademik sudah barang tentu tidak asing dengan yang namanya sertifikat. Seakan-akan sebuah magnet tersendiri, sertifikat menjadi daya tarik tiap diadakannya acara, baik itu regional lebih-lebih internasional.

Pembodohan massal ini bukan lagi menjadi rahasia umum, tapi kebutuhan mahasiswa terhadap sertifikat itu sendiri nampaknya sangat mengurangi terhadap terselenggaranya acara tersebut. Dikampus saya beberapa waktu lalu ada acara “seminar Internasional” karena seakan-akan menjadi bombastis, maka berbondong-bondonglah yang namanya mahasiswa untuk mendaftarkan diri, ironisnya ini lagi-lagi karena sertifikat. Sempat saya bertanya pada seorang temen yang kebetulan ikut acara itu, jawabannya “Sertifikat Internasional itu kan pointnya tinggi, jadi wajar saya dan mungkin saja yang lain daftar diacara itu”. 

Saya sering menjumpai banyak dari teman saya berlomba-lomba mengikuti suatu acara, entah seminar, workshop, diskusi, dan sebagainya dengan orientasi yang menurut saya agak menyimpang. Walaupun mungkin kebanyakan orang akan menganggap itu adalah hal yang lumrah, seperti alasan gratis, ada snacknya, ada makan siangnya, pembicara bagus [ini masih mending], atau yang dari awal saya bahas; karena sertifikat.

Saya tidak memungkiri bahwa sertifikat cukup penting dan bermanfaat bagi kita semua. Setidaknya kita menyepakati bersama bahwa ke depannya, dunia kerja dan realita membutuhkan lulusan Sarjana yang mumpuni, baik dari segi hardskill maupun softskill.

Saya agak tercengang ketika suatu ketika saya mengajak teman saya untuk datang dalam forum diskusi dan menanyakan satu hal yang sangat tidak saya suka : ada sertifikatnya gak?

Miris kalau kita kemudian menyadari ada pergeseran fungsi sertifikat sebagai suatu bentuk apresiasi menjadi sekadar penarik massa. Sertifikat menjadi hal yang murah dan diobral begitu saja oleh lembaga-lembaga penggegas kegiatan tanpa kemudian mencermati esensi diadakannya kegiatan. Sebutlah sebuah diskusi, apakah pelaku kegiatan lantas mencoba untuk mengevaluasi peserta yang ikut atau sekadar memberikan apresiasi atas kehadirannya dengan selembar sertifikat? Apakah ada upaya untuk benar-benar memonitoring pemahaman peserta. Jangan-jangan ketika acara berlangsung, peserta ngobrol, tidur, dan sebagainya.

Evaluasi Sertifikat kampus

Cobalah untuk dievaluasi, apa manfaat sertifikat selain menarik massa dan catatan track record untuk anda menumpuk lembaran usang. Coba lihat sekup kegiatan anda. Jika sertifikat sekadar untuk menarik massa, saya fikir; Lupakan. Kita hanya akan mengajarkan kepada teman-teman kita bahwa mendapatkan sertifikat itu mudah dan membelokkan orientasi kehadiran.

Apakah anda lantas takut acara lembaga menjadi sepi? Tidak ada pengunjung? Kalau memang demikian, ya sudahlah. Ikhlaskan saja. Daripada anda membuat acara, tapi pesertanya tidak mendapat apa-apa selain sertifikat yang menarik hati. Seperti buih, menghilang dan tidak membekas dalam kepala. Sebenarnya, apa sih indikator suatu acara dikatakan sukses. Sekadar acara ramai pengunjung? Diminati banyak orang?

*Mahasiswa dengan pakaian kumalnya, suka apa yang tidak pernah disukai.