Transformasi UIN; Dari Telo Bala’ Mengalir ke SUNGAI

BSukma-- Jakarta, Hari Senin (28/4), 4 IAIN mempresentasikan proyeksi transformasi kelembagaannya menuju UIN. Keempat IAIN tersebut adalah IAIN Padang, IAIN Mataram, IAIN Lampung dan IAIN Banjarmasin. Sangat menarik mencermati paparan desain filosofis integrasi keilmuan. Sebagaimana diketahui, dalam proses transformasi kelembagaan ini, integrasi keilmuan merupakan distingsi perlunya alih status ini. Dengan pijakan integrasi ilmuwan, tim perumus filosofi keilmuwan IAIN Lampung menyatakan bahwa dari proses integrasi yang tepat akan mampu menyelamatkan bangsa ini dari bencana (bala’). Melalui simbol "bahtera", simbol lokalitas diterjemahkan secara apik oleh tim, bahwa perubahan bentuk akan menjadi salah satu media penyelamatan bangsa. Dengan jargon Insan ber-ISI (intelectuality, spirituality, dan ). Insan ber-ISI inilah yang akan menyelamatkan bangsa dari aneka bencana, dengan simbol gong Telo Bala’, maka visi IAIN Lampung diharapkan bisa terwujud.

Sementara itu, IAIN Banjarmasin memberikan metafora integrasi keilmuan dalam bentuk kata SUNGAI. Sungai mengalirkan air menuju samudra dan mampu bercampur dengan air dari manapun. Begitulah metafora Islam yang akan dikaji dan dikuatkan di lembaga akademik IAIN Banjarmasin, yang diharapkan akan mampu menjadi tempat diseminasi ajaran-ajaran yang akan mewarnai dunia. Sementara itu, IAIN Padang menyampaikan jargon RESTRUKTURASI, dalam rangka melakukan penguatan internal dan pembenahan secara struktur kelembagaan sehingga bisa melakukan NEGOSIASI budaya dan keilmuan di hadapan dunia.

Presentasi ini dicermati langsung oleh Tim Penilai yang terdiri dari Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dr. Muharram, Ph.D, Prof. Atho Mudzhar, MA, Prof. Dr. Suwito, MA, dan Prof. Dr. Amin Abdullah, MA. Setelah semua presentasi, tim penilai melakukan rapat tertutup untuk merumuskan kelayakan masing-masing lembaga untuk beralih status. Sebagian besar problem rendahnya penilaian di bidang kelembagaan, yakni akreditasi institusi, akreditasi program studi dan desain pembinaan dosen. Namun di sisi lain, dukungan Pemerintah daerah rata-rata menempati posisi tertinggi, karena Pemerintah Daerah memberikan dukungan riil dalam bentuk penyediaan alokasi dana di anggarannya dan memberikan tanah. "Diharapkan pengajuan alih status atau perubahan bentuk PTAIN selanjutnya agar memperhatikan kelayakan point-point di atas," ujar Mastuki ada saat memberikan sambutan penutupan forum pertemuan.

sumber referensi: http://diktis.kemenag.go.id