Urgensi Rekonsiliasi Pasca Pemilu 2019

Samahuddin Muharram beserta ketua PC PMII Banjarmasin, GMNI, KAMMI, GMKI dan IMM.

BSukma− Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kota Banjarmasin (PC PMII Banjarmasin) telah melaksanakan Buka Bersama dan Ngobrol Santai bersama Cipayung Plus yang dihadiri oleh PMII , GMNI, IMM, KAMMI dan GMKI. Tidak lupa, diskusi tersebut juga dihadiri oleh mantan ketua Komisioner Komisi Pemilihan Umum Kalimantan Selatan (KPU Kal-Sel), Samahuddin Muharram pada Kamis (09/05) sore.


Menindak lanjuti pasca pemilu 17 April 2019 lalu, diskusi tersebut membincangkan tema “Urgensi Rekonsiliasi Pasca Pemilu” bertempat di Kafe Nostalgia.


Tiga lebih hal yang diungkap oleh Khairul Umam saat diwawancara, sekira bertujuan untuk menghasilkan upaya-upaya rekonsiliasi untuk menyikapi kondisi pasca pemilu ini, dia menyampaikan “Pertama adalah kami sangat mengapresiasi penyelenggaraan pemilu, baik itu KPU, Bawaslu, dan seluruh stakeholder yang tergabung atau yang ikut serta dalam pemilu ini”, ungkap ketua PC PMII Banjarmasin.


Lanjutnya lagi, “kedua, kita sangat melakukan belasungkawa sebesar-besarnya terhadap korban pahlawan demokrasi kita, yang sudah menjalankan tugasnya dengan baik, jiwa dan raga mereka persembahkan untuk negara dan demokrasi, sekitar 500 orang lebih meninggal. Semoga akan diberikan perhatian lebih oleh pemerintah terutama dalam hal santunan maupun hal-hal yang bisa membantu para korban.”


Pun ketiga, "kita sangat tidak setuju terkait dengan upaya-upaya yang ingin men-delegitimasi hasil pemilu. Apalagi ada upaya-upaya untuk melakukan tindakan-tindakan yang inkostitusional. Ini sangat tidak kita inginkan, isu-isu seperti people power dan lain-lain. Lebih baik kita duduk bersama melakukan rekonsiliasi, menjaga persatuan dan kesatuan perdamaian negara kita.” Sergah Mahasiswa dari ULM tersebut.


Selebihnya, ia juga mengharapkan “Kita sangat tidak terima yang namanya hoax, perpecahan, ataupun ujaran kebencian dari masing-masing golongan. Yang ada adalah kita hari ini berpesta demokrasi sebagai masyarakat Indonesia. Menikmati hasil demokrasi dan bersama mengawal bagaimana jalannya proses rekapitulasi KPU, real count dari KPU hingga sampai pemerintahan berjalan normal seperti biasanya”. Lanjutnya lagi, “kita percayakan pada TNI-Polri dan seluruh lembaga hukum untuk sama-sama mengawal dan menyukseskan pemilu sampai akhir hingga menghasilkan sebuah pemilu yang sangat jujur dan menghasilkan; ‘siapa pun terpilih itu adalah pilihan rakyat dan itu adalah kedaulatan rakyat Indonesia yang telah berhasil melaksanakan pemilu tahun 2019 ini'.” Tutupnya.


Samahuddin Muharram, lebih lanjut mengungkapkan, “Betul ya, diskusi yang dilakukan mahasiswa itu harus rekonsiliasi.” Katanya, “rekonsiliasi itu dilakukan sebelumnya pra-pemilu dan pasca-pemilu itu yang menarik. Mestinya ya, dua kubu ini harus menunggu itu, rekapitulasi berjenjang. Sambil menunggu (Red: rekapitulasi) situasinya tidak memanas, tokoh elit politik di tingkat nasional harus menunjukkan diri kebersamaan. Menjadi simbol pemersatu bangsa ini, bukan kemudian mengerucut lalu masing-masing mengklaim dirinya sebagai pemenang.”


“Padahal menurut saya, dalam kontes memperbaiki bangsa ini, siapa pun yang terpilih menjadi presiden. Kita sama-sama harus mendukung untuk kemudian bagaimana memperbaiki bangsa ini dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.” Tutur seorang yang kini menjabat sebagai staf khusus bidang Politik dan Kepemiluan Gubernur Kalimantan Selatan.



Reporter: Albi
Editor: Jarwo

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Urgensi Rekonsiliasi Pasca Pemilu 2019"

Posting Komentar