ES KERO, MENGHIDUPI HAEKAL KULIAH

BAJU kotak-kotak dengan membawa termos biru yang ditentengnya saat berjualan di kampus biru UIN Antasari, pemuda berkepala plontos ini sering menawarkan Es Kero kepada mahasiswa di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), Kamis (22/11) dengan bermodal mental dan ikhtiarnya, Muhammad Fiqri Haekal atau disapa Haekal ini berjuang demi biaya pendidikannya.

Menjadi interpreneur muda, bukanlah pilihan awalnya. Tetapi dagangan yang dijual dan dihasilkannya, demi melangsungkan pendidikan semata, “Bukan pertama kali saya berjualan di lingkup pendidikan. Saya memulai berjualan ketika kelas tiga SMA, sebelum berjualan es kero, saya juga pernah jualan pulsa,” ungkap mahasiswa semester 1 jurusan Matematika tersebut.

Orangtua yang kini membesarkannya, hero bagi Haekal telah meninggal dunia sejak ia duduk dibangku sekolah, kelas dua SMA. Kebesaran hati Haekal menerima kenyataan, penyakit kronis yang diderita ayahnya adalah ketentuan dari Tuhan yang harus diterimanya. Dan kini, salah satu guru agamanya di SMAN-7 Banjarmasin, yang memberikan saran kepadanya untuk mencoba cari penghasilan sendiri agar meringankan sedikit beban ibunya. Kini, ia tinggal bersama ibunya di daerah Kelayan (B).

Haekal adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak kandungnya sedang melanjutkan studi S2 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan sedangkan adiknya, sedang duduk dibangku kelas 3 SMA, dengan biaya dana tabungan Alm. Ayahnya. Dengan biaya yang sangat besar untuk pendidikannya, kini tanggungan perlu ditambahnya dengan berjualan Es Kero yang di tentengnya disela kuliah.

Tulang punggung, itulah yang disandang oleh Haekal untuk memenuhi kebutuhan di dalam keluarganya, termasuk pendidikan. Bermulanya gagasan membuat Es Kero, mendapat dorongan modal dari guru agamanya tersebut. Ia bekerjasama dengan gurunya dalam berjualan Es Kero, bagi hasilnya.

Dalam seminggu Haekal berjualan hanya lima hari saja, yaitu dari hari Senin-Jum’at. Pendapatan kotor perharinya di perkirakan Rp 100.000 dan dalam lima hari ia bisa mendapatkan Rp500.000, itu pun tidak menentu.

Bolak-balik membawa jajanan Es Keronya kini membuat ia percaya diri dan berani mengambil usaha kecil-kecilan, “Kuliah sambil berjualan Es Kero keliling tidak membuatku malu, justru ini adalah tantangan tersendiri bagiku. Mungkin awalnya rasa malu itu ada, akan tetapi lambat laun akan terbiasa” lantangnya.

Reporter: Aprili
Editor: M Rahim

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "ES KERO, MENGHIDUPI HAEKAL KULIAH"

Posting Komentar