MAHASISWA MERASA ADA DUA KAMPUS DI UIN, WAKIL REKTOR III ANGKAT BICARA

Ilustrasi: Tim Berantas


Terjadi perubahan warna jas almamater UIN Antasari Banjarmasin dari tahun sebelumnya. Hal ini terlihat pada saat mahasiswa baru upacara pembukaan PBAK (Perkenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) 2018 dengan mengenakan jas almamater biru di Halaman PSB (Pusat Sumber Belajar), (17/8) kemarin. 

Perubahan ini menuai banyak tanggapan, di antaranya datang dari mahasiswa Angkatan 2016, M Rizki Habibie. "Sebenarnya saya tidak setuju dengan perubahan warna jas," Ungkapnya pada Rabu (29/8) malam. 

Menurutnya, UIN Antasari sudah cukup terkenal dengan sebutan Kampus Hijau. "Dengan berubahnya warna jas almamater, kemungkinan juga sebutan untuk Kampus Hijau kian hari kian terlupakan," Ujarnya walaupun setuju saja dengan bergantinya pakaian sakral mahasiswa tersebut.

Pun Misna Wati, mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Angkatan 2015. Ia merasa ada dua kampus di satu perguruan tinggi. "Karena masyarakat umum masih banyak yang belum tahu tentang perubahan warna jas almamater ini," Ungkapnya.

"Mereka kan tahunya jas hijau itu IAIN, padahal sudah jadi UIN. Otomatis jas almamaternya pun berubah jadi biru," Katanya yang sampai saat ini masih menggunakan jas almamater hijau saat PPL (Program Pengalaman Lapangan).

Komentar juga muncul dari Noor Indah Wahyuni. Mahasiswi angkatan terakhir almamater hijau ini mengaku tidak masalah dengan digantinya warna jas UIN Antasari. Hanya saja, Indah merasa asing dengan  warna biru di Kampus Hijau.

Namun di sisi lain, Indah merasa diuntungkan karena mereka (baca. Mahasiswa lama) akan mudah dikenali. "Warna hijau akan terlihat mencolok di antara warna biru. Lebih kelihatan lah seniornya," Ungkap Indah dengan emoticon tertawa lewat pesan berbalas.

Seiring dengan perubahan jas almamater yang terjadi. Diakui oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan bahwa perubahan ini sudah sesuai dengan statuta (Peraturan Menteri Agama RI No. 29 Tahun 2017 pada Bab II Pasal 11 Ayat 9 tentang Jas Almamater) yang disahkan oleh Lukman Hakim Saifuddin dan telah berlaku sejak 26 September 2017 lalu.

Nida Mufidah menegaskan bahwa tidak akan memberatkan mahasiswa dalam penggunaan jas almamater. "Terlebih mahasiswa lama, khususnya yang akan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Pihak kampus tidak mempermasalahkan selama ada lambang UIN-nya," Ujarnya, Senin (21/8).

Namun, Nida berpendapat bahwa mesti ada duduk bersama antara para pemimpin untuk membahas hal ini lebih lanjut. "Apalagi nantinya mahasiswa baru dan lama dikumpulkan dalam satu kegiatan yang jelas memperlihatkan perbedaan jas almamater," Imbuhnya.

Tak hanya Wakil Rektor III, Kepala Bidang Bagian Akademik dan Kemahasiswaan juga angkat bicara. Masri mengaku memang tidak ada sosialisasi terkait pergantian jas almamater oleh pihak kampus kepada para mahasiswa. Hanya dikhususkan pada mahasiswa baru.

"Kalau mahasiswa lama mau beli, silakan saja," Tuturnya walaupun tidak ada kewajiban bagi mahasiswa lama menggunakan jas almamater biru.

Masri juga mengatakan bahwa tidak ada hukuman secara akademik mengenai persoalan jas alamamater UIN Antasari saat ini. "Biarkan hilang secara alami. Paling setelah 4 tahun sudah hilang jas berwarna hijaunya," Tutup Masri pada tim Sukma.

Rep/Ilustrasi: tim Berantas
Editor: Ades