Ada Satu Kesamaan Lpm Sukma dan Era Reformasi Diusia 20 Tahun

Penerbangan Balon Perayaan Hari Lahir Lpm Sukma oleh Pengurus dan Anggora Penuh Lpm Sukma di Halaman PSB UIN Antasari Banjarmasin, Senin (14/5).


Tiga hari setelah Indonesia mengalami Reformasi, di Banjarmasin terbentuk sebuah Lembaga Pers Mahasiswa (Lpm) pada tanggal 24 Mei 1998 yang diberi nama suara kritis mahasiswa (Sukma).

Termasuk salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang berada di bawah naungan UIN Antasari, Lpm Sukma kini telah bersanding usia dengan Reformasi.

Diusia yang hanya berpaut tiga hari lebih muda dari era Reformasi. Dengan latar belakang peristiwa yang jauh berbeda, persamaan hanya terletak pada bulan dan tahun kelahiran. Sehingga perayaan dua kejadian ini pun menjadi tidak sama.

Ketika acara Televisi atau tulisan-tulisan yang terbit diperbagai media pada Mei 2018; mengenang zaman Presiden Soeharto, bicara tentang aksi memperingati era Reformasi, acara Talk Show yang juga membahas seputar Reformasi, kilas balik 1998, atau hanya sekadar catatan penulis lepas soal refleksi peristiwa tersebut.

Maka, Lpm Sukma yang juga berusia 20 tahun ini sebatas merayakannya dengan Keluarga Besar Lpm sendiri. Tak seterkenal era Reformasi diusia 20 tahunnya karena sejarah Indonesia, memang tentu jauh lebih besar daripada sejarah suatu organisasi di sebuah kampus yang sangat berjarak dari Ibu Kota.

Pada saat Indonesia diingatkan dengan peristiwa turunnya Presiden Soeharto dari jabatannya ketika itu. Indonesia membaca dan belajar dari sejarah. Lpm Sukma juga turut mengeja dan mempelajarinya.

Karena hari besar Indonesia; sejarah bangsa dengan seluruh masyarakatnya, termasuk kita semua, sedang hari besar Lpm Sukma; sejarah organisasi dengan hanya alumni, pengurus dan anggotanya, jelas berbeda. Maka, cara peringatannya juga akan berbeda pula.

Tetapi, Bhineka Tunggal Ika berarti berbeda-beda tetapi satu jua.
Terkait peristiwa, ini sama-sama terjadi di Indonesia.

Lpm Sukma memperingati hari lahirnya dengan mengadakan lomba fotografi dan penulisan opini serta puisi, yang dilaksanakan pada 1-10 Mei kemarin. Kemudian, digelar perayaan sederhana di Aula Aswadi Syukur UIN Antasari. Dengan agenda pembagian hadiah lomba, launching buku Hutan Hujan Tropis yang merupakan kerja sama Lpm Sukma dengan Kindai Sastra Seni Kreatif dan kawan-kawan yang lain, serta temu Alumni pada Senin (14/5).

Tak hanya itu, bertepatan hari kelahirannya Lpm Sukma mengadakan bakti sosial ke panti asuhan Al-Ikhlas. Dilanjutkan acara sahur bersama seluruh anggota dan pengurus Lpm Sukma di Menara Pandang Wisata Kota Banjarmasin.

Terlepas dari itu semua, ada satu kesamaan antara lahirnya era baru yaitu era Reformasi dengan lahirnya Lpm Sukma sekarang ini.

Kata, Imelda Bachtiar pada postingan Kompas.com (23/5) di mana judulnya adalah sebuah pertanyaan terkait peristiwa Reformasi, yang juga mesti kami (baca. Lpm Sukma) tanyakan pada diri sendiri. Mengingat usia Reformasi dan Lpm Sukma tak jauh berbeda.

Selain tahun lahir yang sama, sekiranya judul dari Alumnus Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia (1995). Ini juga menjadi tanda tanya untuk Lpm Sukma yang telah melalui belasan tahun usianya, demi kejelasan sebuah tujuan.

Mau Apa Kita Setelah 20 Tahun Reformasi? Tulis Imelda pada judul tulisannya.

Begitu juga, Mau Apa Kita Setelah 20 Tahun Lpm Sukma?

Berbagai ucapan selamat, datang dari pelbagai pihak; teman-teman organisasi, Rektor dan Wakil Rektor UIN Antasari, para Alumni Lpm Sukma, dan anak-anak panti asuhan Al-Ikhlas (tempat baksos).

Salah satunya Rajidi (12 tahun), "Semoga Lpm Sukma panjang umur dan ke depannya sukses selalu," katanya.

Dari pengurus panti asuhan juga mengucapkan selamat dan mengharapkan Lpm Sukma sukses menjalankan kegiatan kampus yang menjadi rutinitasnya.

Sekiranya Lpm Sukma bukan lagi anak kecil atau remaja tingkat awal, tetapi usia 20 tahun adalah usia remaja yang sudah berada diakhir-akhir masanya.

Sejarah tak pernah terbantahkan meski catatan peristiwa demi peristiwa kadang berbeda atau tidak mutlak kesamaannya. Karena penulis atau pembicara yang satu dengan yang lain adalah manusia dengan ragam pemikirannya.

Tetapi, inti daripada sejarah yang pernah terukir selalu bisa diceritakan kepada generasi-generasi yang berkelanjutan. Serta tak berkurang dimamah tulisan demi tulisan yang beredar.

Diusia 20 tahun Lpm Sukma, terus menginginkan perbaikan dan perubahan sesuai zaman setiap masanya. Lpm Sukma selalu ingin terus mempertahankan sejarah sebagai pelajaran berharga. Di mana setiap kebaikan menjadi pelajaran dan kesalahan dibuat sebaik-baiknya pengalaman.

Salam Pers Mahasiswa!

Reporter/Foto: Wnj/Sukma
Penulis/Editor: Ades

Pages