Rabu, 11 April 2018

Mahasiswa Harus Move On

Jika dulu mahasiswa menjadi penyeimbang kediktatoran pemerintah, dan menjadi tombak kekuatan rakyat. Hari ini, dunia pergerakan mahasiswa semakin terlihat kehilangan taringnya. Hilang arah dan jati diri mereka.

Istilah Agend of Change sudah tak asing lagi didengar di kalangan mahasiswa, khususnya UIN Antasari. Kita dikenalkan dengan istilah mahasiswa sebagai agen perubahan bangsa, mengingat mahasiswa adalah garda depan yang menumbangkan orde baru pada waktu itu. Namun, sejarah hanyalah sebuah kisah atau peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu.

Masa demi masa sudah terlewati. Jika pada tahun 1998 mahasiswa sibuk dengan perhatiannya kepada rakyat, maka sekarang adalah zamannya mahasiswa lebih senang bermain gawai. Jika dulu mahasiswa berkumpul untuk diskusi, memikirkan bagaimana nasib rakyat pada waktu itu dan bagaimana Indonesia nantinya di masa depan. Maka, yang terjadi sekarang adalah berbeda. Di tempat-tempat tongkrongan pada malam hari, walaupun tidak semuanya, tetapi banyak dari mahasiswa yang meluangkan waktu hanya untuk bermain Games.

Sementara di sisi lain, euforia atas tragedi tahun 1998 menjadi sejarah yang masih dikenang oleh banyak kalangan mahasiswa. Saya pernah mendengar kata ganda putra Badminton terbaik dunia dalam wawancaranya bersama Najwa Shihab, “Setelah kita turun dari podium, kita sudah bukan juara lagi,” Ujar Kevin Sanjaya, ketika ditanya bagaimana caranya supaya tetap biasa-biasa saja dengan sebuah kemenangan. “Kita harus mulai dari nol lagi. Jadi, kita juga harus berjuang dari nol kembali,” Lanjutnya.
Ketika ingin juara lagi, Marcus Fernaldi Gideon menambahkan. “Waktu mulai pertandingan, kita kan harus mulai dari babak pertama dulu, tidak langsung dari final,” Ujarnya di akun Instagram Najwa Shihab pada (27/3).

Namun, sepertinya sekarang kita telah banyak menghabiskan waktu untuk mengenang kemengan di masa lampau. Kita merasa sudah merdeka dan aman-aman saja. Lalu berfikir, bahwa perjuangan bersama telah usai. Tanpa sadar kita telah dijajah oleh diri kita sendiri dengan pikiran yang menganggap, perjuangan bersama rakyat tak lagi mengakar dalam diri. Kita berjuang untuk keluarga kita sendiri, bahkan ironisnya, perjuangan kita hanya untuk memperkaya diri sendiri. Semoga tidak terjadi di Indonesia.

Mahasiswa adalah seorang intelektual muda yang diharapkan masyarakat dan pemerintah. Dalam membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera. Walaupun tidak ada ukuran pasti terkait baik-tidaknya Indonesia, dan sejahtera ataukah menderita, itu tak bisa dinilai dari satu peristiwa.

Setidaknya, tak ada lagi rakyat yang kesusahan mencari kerja, kesulitan mencari makan, tidur di pinggir jalan, dan tak ada lagi koruptor yang menjarah bangsanya sendiri. Sebenarnya ada begitu banyak harapan yang secara tidak langsung diberikan kepada mahasiswa. Mengingat mereka dikenal sebagai agen perubahan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sayangnya, tidak semua mahasiswa organisasi adalah aktivis. Meskipun, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivis adalah orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya.

Di UIN Antasari, ada mahasiswa yang memutuskan sebagai anggota dari organisasi yang ada di kampus, baik internal maupun eksternal. Tapi ada juga, yang lebih memilih menjadi mahasiswa kuliah-pulang kuliah-pulang atau tren disebut mahasiswa kupu-kupu. Tidak ada yang salah dengan sebuah pilihan ketika apapun yang menjadi pilihan mereka, itu tidak meninggalkan kewajiban mereka sebagai sejatinya mahasiswa: Agend of Change.

Pada dasarnya mahasiswa aktivis adalah mahasiswa yang punya ideologi tersendiri. Mereka dituntut dan belajar peka terhadap permasalahan internal ataupun eksternal kampus. Di samping itu, mahasiswa yang bukan aktivis juga tidak bisa kita nilai bahwa mereka “masa bodoh” terhadap problem yang timbul di masyarakat. Karena kita tidak pernah tahu perjuangan mereka berbangsa seperti apa. Namun, secara kasat mata memandang, sedikit banyaknya mahasiswa aktivis punya keunggulan dari mahasiswa yang bukan aktivis atau apatis.

Tapi, bagaimana jadinya kalau mahasiswa aktivis sekarang ini menjadi mahasiswa yang pragmatis? Jika dulu mahasiswa menjadi penyeimbang kediktatoran pemerintah, dan menjadi tombak kekuatan rakyat.

Hari ini, dunia pergerakan mahasiswa semakin terlihat kehilangan taringnya. Hilang arah dan jati diri mereka. Mahasiswa aktivis bersifat pragmatis, artinya mahasiswa yang berfikir melakukan segala sesuatu secara instan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih cepat dan banyak. Organisasi bukan lagi dijadikan wadah perjuangan bersama, tetapi tempat untuk mendongkrak eksistensi dan citra sebagai seorang mahasiswa aktivis, bagi mereka yang pragmatis.

Lalu, apakah mahasiswa pragmatis ini akan menjadi Agend of Change yang digadang-gadang akan membawa perubahan bagi Indonesia? Tentu saja tidak. Bahkan ini menjadi tantangan yang perlu kita waspadai. Bayangkan saja, kalau mereka menjadi pemimpin negeri ini. Bukannya menjadi aparat pemerintah yang semestinya, alih-alih dia hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri. Pada akhirnya meninggalkan kewajiban dengan mengambil haknya saja atau juga yang bukan haknya.

Kita sebagai mahasiswa harus move on dari euforia kemenangan pada masa silam. Kita tak bisa memaknai perjuangan sebagai mahasiswa, jika kita hanya mengingat tanpa berbuat apa-apa. Kita harus berfikir sekali lagi bahkan berkali-kali, bagaimana nasib kita sebagai rakyat Indonesia agar tetap teguh membangun negeri. Kita mesti membangkitkan kembali semangat perjuangan dan kecintaan terhadap bangsa demi kesejahteraan Indonesia. Mari saling bekerja sama, dan jangan habiskan waktu kita sebagai mahasiswa dengan hanya bermain Games. Luangkan waktu kita untuk memperjuangkan bangsa Indonesia. Sebab harapan rakyat tengah disandangkan pada pundak kita, wahai mahasiswa Indonesia.

Penulis: Mirna dan Anna Desliani

Jejak Redaksi

Labels