ZAINUL: TERIMAKASIH BAPAK, KARENA DATANGNYA BAPAK DALAM SEKEJAP KAMPUS KAMI BERUBAH

Suasana Demonstrasi Mahasiswa Sebelum Berlangsungnya Percakapan Antara Peserta Aksi dan Menteri Agama Republik Indonesia

Demontrasi oleh Aliansi Mahasiswa UIN Antasari Banjarmasin di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) berlangsung mulai sekitar pukul 11.00 hingga 12.30 WITA.
Aksi ini merupakan bentuk pernyataan sikap dari mahasiswa yang merasa dirugikan karena beberapa hal yang terungkap dalam percakapan pada Senin (26/2).

Menteri Agama Republik Indonesia (RI) yang saat itu sedang berada di Kampus Hijau dalam rangka meresmikan gedung baru dan FEBI serta launching Al-Qur'an dan Terjemahnya dalam Bahasa Banjar versi Aplikasi Digital, kemudian keluar dan menghadapi mahasiswa yang sudah ada di depan FEBI.

Berikut percakapan antara Zainul Muslihin, selaku koordinator aksi dan Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama (RI).

Zainul Muslihin: Yang pertama, kami ingin sampaikan Terimakasih Bapak sudah datang ke sini. Saya ucapkan Terimakasih.

Menteri Agama RI: Alhamdulillah.

Zainul Muslihin: Dengan datangnya Bapak, dalam sekejap dua hari kampus kami berubah (baca. Diambil dari akun Istagramnya bung_zainul: Dari depan sampai gedung baru, cat baru, pot bunga baru, dan lain sebagainya), pada sebelum-sebelumnya lambat sekali, Saya terimakasih sekali dan sering-sering datang ke sini, Pak. Itu yang pertama, yang kedua ingin kami sampaikan bahwa tempat duduk kawan-kawan dibongkar tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu dari pihak kampus. Dan, kawan-kawan kecewa. (Zainul menjelaskan aspirasi mahasiswa yang aksi pada hari itu)

Menteri Agama RI: Tempat duduk? (Lukman Hakim Saifuddin bertanya sambil mendengarkan dengan seksama)

Zainul Muslihin: Bahkan tempat disitu tempatnya mahasiswa mencari inspirasi dan sebagainya, itu kan sangat penting. 

Menteri Agama RI: Sekarang dibongkar, dibangun apa tempat itu?

Zainul Muslihin: Belum, belum ada itu. Yang ketiga yang ingin kami sampaikan bahwasanya masalah pedoman organisasi kemahasiswaan itu kan bagaimana mengatur keorganisasian di kampus kita dan bagaimana pelaksanaannya. Jadi, sebelumnya itu AD/ART (baca. Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) mahasiswa sudah ada. Tapi karena adanya pedoman itu, AD/ART mahasiswa jadi tidak terpakai lagi. Padahal dalam demokrasi itu kan sudah jelas bahwasanya dari mahasiswa-oleh mahasiswa-untuk mahasiswa. Setelah adanya pedoman itu artinya dari pemerintah-oleh mahasiswa-untuk mahasiswa. Jadi kami menuntut bahwasanya mohon ini kebijakan pedoman tolong dicabutkan. (Zainul kembali menjelaskan maksud mereka pada demonstrasi)

Menteri Agama RI: Poinnya yang ini mungkin tentang peraturan, yang lainnya apa..? (Lukman Hakim bertanya kembali sebelum menjawab tuntutan mahasiswa)

Zainul Muslihin: Tiga itu saja, Pak. (Ia menjawab)

Menteri Agama RI: Yang pertama tentang apresiasi dan pembangunan, jadi Alhamdulillah kita sudah tambah gedung. Tinggal kita tanggung jawab untuk merawat dan memelihara ini, jangan hanya kita pandai membangun, tetapi tidak pandai menjaga dan merawat, jadi ini sekarang tantangan kita. Yang kedua tentang tempat-tempat untuk teman-teman mahasiswa, tempat duduk mencari inspirasi, mungkin tempat yang sekarang akan digunakan untuk tempat lain, tentu saya tidak tahu. Tapi, ini mungkin masukan bagi rektorat dan semuanya, tentu akan dicarikan tempatnya, yaa Pak Rektor (baca. Mujiburrahman) yaa? Untuk tempat kita akan cari, tinggal dicari saja tempatnya.
Yang ketiga, kaitannya dengan peraturan itu tentu tidak hanya semata kebijakan UIN Antasari saja, tapi ini seluruh PTKIN, ada STAIN, ada IAIN, ada UIN. Nah, itu ada bagian yang seragam yang tidak bisa sama polanya, tapi juga ada yang berbeda-beda sesuai aspirasi yang masing-masing ada perguruan tinggi, tentu ini didialogkan. Jadi, kekuatan mahasiswa itu pada intelektualitasnya, bukan pada otot, bukan pada fisik. Kita mahasiswa itu kemampuannya intelektual, jadi kalau mau berdebat, beragumentasi secara intelektual. Jadi dengan rektor berdialog, bertukar pikiran, tidak dengan cara-cara apalagi jangan sampai ikut-ikutan mahasiswa perguruan tinggi yang lain, merusak kampusnya sendiri. Itu harus dijaga betul karena ditempat lain yang merusak kampus itu justru mahasiswa itu sendiri. Jadi kita harus punya kesadaran yang tinggi untuk itu. Jadi mudah-mudahan mahasiswa UIN Antasari punya kelebihan bagaimana intelektualitas, kekuatan inteletual itu bisa muncul pada setiap aksi-aksinya. (Kepala Menteri Agama RI itu mencoba menjelaskan kepada Zainul dan mahasiswa aksi serta yang hadir pada saat itu)

Fajriansyah (salah satu peserta aksi): Pak ini mau mempertanyakan soal pembangunan ini, kan sekarang jadi gedung dan kami tidak melihat adanya drainase. Apakah sudah ada perencanaan pembangunan yang akan datang?

Menteri Agama RI: Tentu, tentu nanti akan disampaikan, disosialisasikan, setiap pembangunan sarana umum, fasilitas umum dan sebagainya. Tentu akan ada. Hal-hal ini kan sangat detail, tinggal nantinya bagaimana ini disampaikan teman-teman mahasiswa. Tentu kalau ada kekurangan-kekurangan, bagian-bagian yang perlu diperbaiki, silahkan sampaikan aspirasi itu sehingga kalau memang betul-betul baik, realisasikan, itu bisa dilaksanakan, diwujudkan, itu yaa?. Saya mohon maaf ditunggu di tempat lain. (Jelas Lukman Hakim Saifuddin)

Zainul Muslihin: Tunggu, Pak. Sedikit lagi tentang menanggapi pernyataan. Masalah pedoman tadi, ini mohon, memang kampus di Indonesia banyak PTKIN, untuk UIN kita harapkan bahwasanya kita memang berpikir demokrasi, mahasiswa punya hak sendiri.

Menteri Agama RI: Iya-iya, tentu aspirasi mahasiswa harus diakomodasikan sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang menjunjung tinggi nilai-nilai semangat demokratis, itu prinsip dasarnya. Tapi demokrasi itu kan tidak sepenuhnya berada di ruang hampa, artinya tidak bisa bebas; dia dibatasi oleh lingkungan strategi itu sendiri, ini yang harus didialogkan. Jadi, harus ditemukan pandangan-pandangan persepsi yang sama.

Zainul Muslihin: Tapi ketika nanti kita adakan pertemuan lagi, bahwasanya untuk pedoman ini mungkin ada kebijakan sendiri, bahwasanya hak mahasiswa, untuk alasan-alasan kami sampaikan.

Menteri Agama RI: Mudah-mudahan.

Zainul Muslihin: Kami tidak ingin bahwasanya sudah tidak ikut lagi dalam permasalahan ini, berikan kami untuk menjalankan demokrasi.

Menteri Agama RI: Baik. Saya mohon izin. Terimakasih. Mudah-mudahan setelah ini bisa kembali ke tempat lain supaya tidak masing-masing, dan berjalan sesuai dengan baik. (Ucap Lukman Hakim Saifuddin sebelum meninggalkan halaman FEBI; tempat aksi mahasiswa UIN Antasari)

Rep: Bolang
Foto: Bolang
Editor: Ades