Kamis, 17 Agustus 2017

Moh Mahfud Tegaskan Tidak Mentolerir Mahasiswa yang Terus Melanggar

Jarwo 

Upaya pendisiplinan di kampus UIN Antasari mulai dilakukan sejak dini pada mahasiswa baru. Hal ini terlihat ketika upacara pembukaan PBAK (Pengenalan Budaya dan Akademik Kemahasiswaan) sekaligus peringatan hari kemerdekaan Indonesia ke-72, mahasiswa yang terlambat dipisahkan barisannya di Gedung Kembar (A dan B) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Kamis (17/08).

Setidaknya ada 80 mahasiswa baru yang terlambat pada acara pembukaan ini, 59 mahasiswa dan 21 mahasiswi. Tercatat ada 3103 mahasiswa baru yang terdapftar dalam PBAK ini. Menurut penuturan Moh. Mahfud, penanggung jawab PBAK tahun 2017 menyebutkan bahwa jumlah yang terlambat masih tergolong tinggi.

"Komitmen dari awal kami usahakan tidak ada yang namanya perpeloncoan atau tindakan bentak membentak, tentu dengan pengecualian" ucap mahasiswa Jurusan Perbandingan Mahzab ini.

Setelah ditanya lebih lanjut, pengecualian tersebut berlaku pada mahasiswa yang memang melanggar berulangkali dan yang sulit untuk diatur. Mahfud mengaku tidak akan menghukum atau membentak langsung saat mahasiswa baru tersebut melanggar. Namun melalui banyak pendekatan serta ada tingkatan dalam penegurannya,"mulai dari teguran biasa, teguran dengan menanyakan alasan, sampai yang terakhir kami persilakan untuk mengundurkan diri dari PBAK dan mengikuti kembali ditahun depan" imbuhnya.

Masih dengan komitmen awal panitia, bahwa jika ada mahasiswa yang kasar dan melawan dengan tidak sopan maka tindak lanjut yang diambil adalah pengeluaran dari kepesertaan PBAK. Selain itu pula bagi mahasiswa ynng berulangkali melakukan pelanggaran, misalnya saat TM (Tehnical Meeting) terlambat dan saat upacara pembukaan terlamabat lagi maka dapat dipastikan menjadi mahasiswa yang ditandai karena berpotensi untuk melanggar lagi, "kami tidak mentolerir mereka yang melanggar berulang-ulang" tegasnya.

Agar saling terkoordinir dengan baik, diharapkan agar saling memahami hak dan kewajiban masing-masing, "panitia akan memberikan hak mahasiswa baru dengan mengayomi, sebaliknya mahasiswa juga harus mengikuti aturan kami, mereka datang ke sini kami ada aturan dan kami pun memberikan hak mereka seperti perlengkapan PBAK."

"Kalau peserta lembut maka kami lebih lembut, kalau peserta kasar kami lebih kasar, kalau peserta ditengah-tengah kami mengayomi", jelasnya. Bahkan Mahfud menerangkan apabila ada panitia yang membentak atau melanggar maka dia siap membentak balik panitia tersebut. Ia juga memiliki otoritas dalam PBAK untuk memecat panitia yang melanggar. Sehingga bagi yang memang menemukan hal demikian agar segera melaporkan ke panitia OC (Organizing Commite.)  atau SC (Steering Commite) ataupun kebagian keamanan.

Menurut Yuzainah Maghfirah hukuman yang dilakukan masih bernilai positif bagi mahasiswa baru, "menerapkan hukuman bukan hanya berbentuk gampang tidaknya, tergantung dengan psikologis mereka sendiri. Efek jera tersebut tergantung situasi dan kondisi mereka sendiri." ucap penanggung jawab PBAK 2017.

Muhammad Wahyudi salah satu mahasiswa baru Jurusan PAI mengaku terlambat karena sakit sehingga tidak memungkinkan untuk berangkat lebih awal seperti jadwal yang ditentukan. Lain halnya dengan Nurlaili mahasiswi baru Jurusan Hukum Tata Negara yang terlambat karena masih belum bisa menyesuaikan diri dengan waktu yang dijadwalkan. Dari berbagai alasan tersebut adapula yang terlambat karena masih terikat dengan peraturan pondok yang ditempatinya bahkan mereka berangkat menggunakan angkutan kota (angkot) yang tambah menjadi faktor keterlambatan mereka. Hal tersebut diakui oleh salah satu mahasiswi yang terlambat yaitu Milawati Jurusan PAI. Mereka  mengaku hukuman yang didapat bagus dan mendidik dengan mengahafal surah-surah pendek. Namun demikian mereka tidak akan mengulangi kembali kesalahan mereka.

Rep: Jarwo&Septi
Editor: si Mbah

Jejak Redaksi

Labels