Jumat, 28 April 2017

Wakil Rektor Satu Merasa PPB Belum Memuaskan



copy right google.com

Bahasa merupakan kebutuhan pokok yang sangat diperlukan oleh setiap mahasiswa dalam mengakses informasi. Pada era kekinian yang diperlukan untuk merambah suatu informasi tidak terbatas pada bahasa Indonesia saja, melainkan bahasa asing serupa bahasa Arab dan bahasa Inggris. Selain itu, ketatnya persaingan dunia kerja pasca wisuda digelar juga menuntut para calon pekerja untuk bisa berbahasa asing mengingat bahwa yang akan dihadapi calon pekerja tersbut bukanlah lingkungan dalam skala kecil tapi juga lingkungan skala global. Hal inilah yang membuat adanya Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) di IAIN Antasari sejak dahulu hingga sekarang yang telah beralih status menjadi UIN Antasari. Demikian penjelasan Saifuddin Sabda, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga pada tim Berantas, Jum’at (02/04).

Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) yang ada di kampus hijau ini meliputi dua basic pembelajaran bahasa asing, yakni bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Kegiatan pembelajarannya biasa dilakukan pada dua semester awal di tahun ajaran baru. Pembelajaran dilakukan secara intensif selama kurang lebih 40 kali pertemuan dengan durasi waktu 90 menit tiap pertemuan. Mahasiswa yang mengikuti PPB ini akan dikenakan biaya sebesar tiga ratus ribu per semester sebagai biaya fasilitas pembelajaran plus para pengajarnya. 

Pada mulanya pembelajaran PPB ini memakai pola kredit SKS yang setara dengan 5 SKS untuk satu semesternya, namun kini menjadi 0 SKS sebab dianggap memberatkan mahasiswa. Jelas Amin Djamaluddin, Kepala Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) pada tim Berantas, Kamis (20/04).

Ia juga menjelaskan bahwa pada semester ini ruang pembelajaran PPB sebanyak 90 kelas untuk bahasa Arab dan 90 kelas untuk bahasa Inggris, dengan jumlah tenaga pengajar yang disiapkan pihak pengelola sebanyak 103 orang. Untuk menghindari kekosongan tenaga pengajar, maka pihak pengelola menggunakan sistem tunggu yang bersifat stand by bagi para pengajar jika sewaktu-waktu ada pengajar yang berhalangan berhadir.

PPB ini bertujuan untuk memberikan bekal pemerataan pengetahuan tentang bahasa asing kepada para mahasiswa. “Seharusnya bekal bahasa PPB jangan berhenti di dua semester, karena rata-rata mahasiswa sekarang condong kalau sudah selesai PPB, selesai juga membuka buku dan memperlajari bahasa. Bahasa ini berbeda dengan ilmu pengetahuan sosial yang cuma pemahaman. Kalau bahasa itu keterampilan artinya tidak cukup paham saja jadi mahasiswa betul-betul harus terampil menggunakan bahasa. Bahasa itu harus bersifat kontinuitas.” Imbuh Amin.

Layaknya kuliah pada umumnya, pada pembelajaran PPB ini pun terdengar adanya semester pendek bagi mahasiswa. Karena penasaran akan hal tersebut, maka tim berantas pun mempertanyakan temuan lapangan itu. Benar saja, ternyata memang ada sistem semester pendek dalam PPB. Sebagaimana yang diakui Amin Djamaluddin pada tim Berantas. Amin memaparkan bahwa semester pendek tersebut diadakan khusus bagi mahasiswa yang tidak lulus sedang bagi mereka yang belum mengikuti PPB sebelumnya tidak diperkenankan untuk mengambil semester pendek. Karena bisa menyebabkan kekacauan, dimana mahasiswa akan menunda-nunda pemebelajaran PPBnya. Disisi lain Amin juga mengakui bahwa semester pendek ini tidaklah efektif.

Syaifuddin Sabda mengaku jika program semester pendek yang terjadi saat ini tidaklah melanggar aturan.  Namun bila dilihat dari keefektifannya harus perlu dievaluasi. "Seharusnya percepatan itu tidak terjadi, sudah beberapa kali ke fakultas untuk memberikan surat supaya prodi atau fakultas mengecek siapa-siapa yang tidak mengikuti PPB."

Secara akademik Syaifuddin tidak setuju. Tapi karena pertimbangan tertentu hal ini bisa terjadi. Namun untuk kedepannya sebaiknya tidak boleh lagi. Sistem harus berjalan sesuai aturan, aturan yang dibuat pun sudah dipikirkan yang ideal untuk pencapaian suatu tujuan yang memang diatur. Percepatan ini secara tidak langsung melanggar. Yakni melanggar kemampuan dan kapasitas mahasiswanya juga. Pelaksanaannya tidak benar dan tidak sesuai dengan aturan. Namun dalam kenyataannya, pastilah mengahadapi hal-hal tersebut.

Sampai saat ini belum ada laporan tentang mahasiswa yang melakukan percepatan dalam pembelajaran bahasa. “Mungkin yang dikejar PPB ini formalitasnya saja, kurangnya masih belum ke kualitas yang sesungguhnya, yang penting terlaksana seperti itu. Masalah teknis tidak terlalu masalah dan yang penting kualitasnya tercapai. Jadi saat evaluasi akhir mereka lulus sesuai kemampuannya." Ujar Syaifuddin.

Ia memaparkan bahwa berbeda halnya dengan toefl yang diperlukan bagi mereka yang menginginkan sertifikat saat hendak lulus. Kemampuan bahasa asing tidak hanya diperlukan saat lulus kuliah saja, melainkan diperlukan pula kebisaan bahasa asing dalam proses menuntut ilmu, misalnya dalam mencari literatur-literatur bahasa asing.

“Terus terang belum puas dari apa yang dilaksanakan sekarang, dibandingkan dengan dulu kuantitasnya sekarang berkurang, yang mulanya 6 semester dan itu masih nol SKS.” Keluh Syaifuddin, mengingat proses pembelajaran PPB dulu, saat ia kuliah. Pemebelajaran PPB waktu itu berlangsung selama 6 semester dengan pola pembelajaran yang sama, yakni adanya pertemuan seminggu tiga kali untuk masing-masing bahasa Arab dan bahasa Inggris. Serta belum adanya penerapan sistem SKS, seperti yang ada saat ini pola pembelajaran PPB serupa dengan perkuliahan yang memerlukan waktu pertemuan semisal dari pukul 06.40 – 08. 20 hal ini setara dengan bobot dua SKS. Namun yang menjadi kendala saat ini adalah beban mata kuliah yang lebih berat ketimbang dulu dengan jumlah sks yang hampir mencapai 140- an.

Sampai saat ini, pihak rektorat masih mencari formula baru untuk meningkatkan kemahiran berbahasa, “PPB belum bisa menjamin apa yang kita inginkan, yang lulus belum tentu mampu memakai literatur dari bahasa asing,” ucap Syaifuddin lagi.  

Pihaknya juga sempat ingin bekerjasama dengan PARE untuk mengetahui bagaimana sistem belajar bahasa dengan cepat. Pernah juga mencoba metode tamyiz namun hasilnya belum memuaskan, saat ini telah terjalin hubungan kerjasama dengan LIVIA di Jakarta untuk bahasa Arab.

Amin pun menambahkan, jika PPB ini targetnya adalah kemampuan toefl dan toafl yang tinggi, otomatis tidaklah efektif karena bahasa itu tidak bisa dipelajari secara instan. Sejauh ini, pihak institut menyelenggarakan test toefl dan toafl adalah test prediction  nama lain dari test  toefl dan toafl. Untuk test pada tahap ini akan dikenakan biaya seratus ribu rupiah per-orang. Sementara ini pihak pengelola PPB menyelenggarakan test  toefl dan toafl tingkat prediction berdasarkan permintaan individu yang berkeinginan, sebab kampus belum mewajibkan terhadap test  toefl dan   toafl ini juga tidak adanya kebijakan dari pimpinan. Memang sudah ada wacana dari pembantu wakil rektor 1 untuk mnyelenggarakan tes toefl dan toafl tapi sampai sekarang belum muncul peraturannya, misalnya mahasiswa yang lulus Sarjana S1 harus lulus toefl 400.

Saifuddin Sabda, menerangkan bahwa dirinya sudah sejak lama meminta kepada pihak pengelola PPB untuk mengadakan toefl sehingga PPB tidak sekadar memberikan basicnya saja. tapi juga membuka kesempatan pada mahasiswa yang ingin mengikuti pelatihan toefl. Ia juga membenarkan adanya test prediction ya itu  test kemampuan toefl yang diadakan oleh pihak pengelola PPB dengan kisaran harga seratus ribu rupiah perorang.  

Sejauh ini, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris telah mendapat lesensi untuk melakasanakan  test toefl yang bekerjasama dengan pihak dari Jakarta dan itu diakui. Namum idealnya sebelum melakukan test juga melakukan kursus diluar dengan pembiayaan ditanggung sendiri. Ia juga menambahkan, bahwa pihaknya telah menawarkan kepada fakultas dan jurusan untuk untuk mengadakan toefl jika ingin meningkatkan kemampuan bahasa asing bagi para mahasiswa. Ia juga berharap, di kampus hijau  ini kedepannya bisa mengadakan akreditasi internasional dan hal itu bisa terlaksana jika kampus menerapkan penggunaan bahasa asing saat perkuliahan berlangsung.

Menurut Slamet Riyadi selaku wakil ketua DEMA memaparkan dengan diadakannya PPB lumayan bagus untuk mengasah minat berbahasa asing, minimal mayoritas alumni pesantren bisa nostalgia terhadap pembelajaran bahasa masa di pesantren, kemudian perkara efektif terhadap pemahaman mahasiswa itu tergantung dari dosen yang memahamkan dan mahasiswa yang menangkap pemahaman diri apa yang dijelaskan dosen.

Perubahan utama dalam pelaksanaan PPB menurut Slamet yaitu bertambah banyaknya teman, ilmu yang bermanfaat, dan mendapat kesan dalam pembelajarannya. Begitu juga yang menjadi dampak negatifnya itu tergantung persepsi mahasiswa dan niat dalam mengikuti pembelajaran PPB. Rata-rata mengikuti PPB hanya untuk memenuhi syarat atau mencari sertifikat saja. Sebab apabila niatnya hanya untuk mncari sertifikat saja pastinya akan banyak hambatan ketika menjalani PPB.

"Sudah saatnya mahasiswa itu sadar akan niat untuk menuntut ilmu dan pengalaman.  Pengalaman dari segi apapun, organisasi, kemandirian dan lain-lain. Bukan lagi niatnya untuk mencari sertifikat, saya yakin kalau niat mahasiswa aktif dalam peranan akademik maupun organisasi pasti sertifikat akan mengiringi, jadi saya menghimbau kepada kawan-kawan saatnya meluruskan niat. Jangan jadikan sertifikat sebagai tujuan hidup.” Tutupnya.

Tim Berantas

Jejak Redaksi

Labels