Sabtu, 08 April 2017

Joko Widodo Rencana akan Resmikan UIN Antasari

copy right google.com
Setidaknya ada 6 PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) yang telah berubah status dari IAIN menjadi UIN. Satu dari 6 PTKIN tersebut adalah IAIN Antasari Banjarmasin. Hal ini berdasar pada Perpers (Peraturan Presiden) No. 36 Tahun 2017, bahwa status perguruan tinggi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari. Perubahan ini disambut hangat oleh mahasiswa civitas akademika kampus. Terbukti dengan dilakukannya sujud syukur secara berjama’ah setelah melakukan sholat Jum’at pada hari Jum’at (07/04) lalu.

Rencannya pada selasa mendatang, pihak Rektorat akan melangsungkan koferensi pers untuk membahas perubahan ini yang akan langsung disampaikan oleh Rektor Fauzi Asyri. “Ini nanti dari pak rektor itu kita ada konfererensi pers Insyaa Allah hari selasa, 11 April jam 08;15 pagi, nanti pak Rektor yang akan menjelaskan persoalan ini." Ujar Mujiburrahman kepada tim Sukma saat ditemui di ruang kerja, Jum'at (07/04).

 Mujiburrahman menjelaskan bahwa UIN Antasari rencanya akan diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo, namun belum ada kepastian kapan hal itu akan terlaksana mengingat masih ada beberapa tahapan  lagi yang harus dilewati. “Jadi tanda tangannya sudah sama presiden, tinggal dimasukkan ke lembar negara sama Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KEMENKUMHAM) kalau tidak salah cuman kan biasanya launching ya, rencananya kata pak rektor dengan presiden di istana tapi tanggal kapannya belum tahu, jadwal presiden kan sangat padat.” Tutur Mujiburrahman yang juga merupakan salah satu dosen di Fakkultas Ushuluddin dan Humaniora. 

"Tapi kalau secara formal itu sudah,  namun tidak segampang yang kita bayangkan, tiba-tiba lalu kop surat kita langsung berubah jadi UIN, tidak, ijazah langsung berubah jadi UIN, belum, nanti ada aturannya lagi.” sambungnya.

Ia juga menjelaskan mengenai peraturan-peraturan yang telah ada bahwa peraturan ketika telah menjadi UIN nantinya akan diskusikan lebih lanjut, dan ia juga tidak membenarkan akan perubahan aturan berpakaian bagi mahasiswa muslim yang bisa semaunya. "Peraturan yang ada itu boleh lah kita diskusikan lagi, mungkin ada hal-hal yang perlu ditinjau lagi tapi bukan berarti karena berubah jadi UIN kita jadi mengendorkan persoalan akhlak, persoalan moral ya tidak lah, ya justru itu yang menjadi ciri kampus kita.” 

Akan tetapi untuk pakaian bagi mahasiswa non-muslim, menurutnya itu tidak mengapa karena tidak ada paksaan bagi mereka dalam hal berpakain. “Boleh saja, di UIN lain pun menerima, kalo mereka mungkin tidak dipaksa, masa kita paksa orang, ya gak boleh lah”

Mujiburrahman juga menambahkan dalam penjelasannya bahwa tidak benar untuk isu yang berkembang bahwa ada penambahan fakultas dan prodi yang akan dilakukan pada tahun 2017 ini, “belum tau saya, makanya tadi, kita bikin fakultas baru, itu ada prosesnya lagi, prodi baru juga ada prosesnya lagi, gak sesederhana yang kita bayangkan, jadi masih belum pasti kapan mulainya, tapi kalau proposalnya itu sudah lama”, “masih banyak tantangannya itu, dari segi kelembagaan banyak dari segi infrastruktur, bangunan segala macam, fasilitas, SDMnya, ya macam-macam lah tapi ini satu permulaan yang baik tapi tantangannya ke depan jauh lebih berat.” Tutup Mujiburrahman. 
 Rep: Saatt
Editor: si Mbah

Jejak Redaksi

Labels