MENELANJANGI PERSIAPAN ‘UIN ANTASARI

opini oleh: Moh Mahfud (Pimpinan Umum LPM SUKMA)



“Duduklah, Bung... sebentar lagi berangkat” Kata Sopir, seraya beranjak pergi untuk mencari penumpang lain. Didalam angkot warna silver, Penumpang itu duduk berhimpitan dengan penumpang lain. Ada ibu-ibu yang mengendong anak kecil, bapak membawa kurungan ayam, sampai anak-anak yang baru pulang sekolah. Sama-sama berdesakan dalam satu ruang, L300.

Analogi diatas rasanya begitu tepat menggambarkan IAIN Antasari sekarang. Anggaplah angkot itu kampus “IAIN” dengan supir bernama “rektor”, dan sedangkan beragam penumpangnya adalah “Mahasiswa”.

Tujuan penumpangnya yaitu sama, naik angkot dan sampai ketujuan masing-masing dengan selamat. Simple. Namun, terkadang banyak masyarakat berhadapan dengan supir yang tiap terminal berhenti cari penumpang baru, atau mobilnya tiba-tiba ditengah jalan yang sepi rumah penduduk banyak bocor dan si Sopir malah lupa bawa ban cadangan, sedangkan penumpangnya dibuat terpanggang dalam L300. Apa reaksi mereka? Tentu beragam. Silahkan jawab sendiri.

Saking leluasanya menjadi “Sopir” yang mengendalikan pedal gas atau berangkat tidaknya ke terminal lain, kadang jurus Supir membujuk penumpang baru adalah dengan bahasa cukup menjanjikan. “Bung, ayo ke Tanah Laut, langsung berangkat” biasanya begitu. Coba tebak, misalnya ada penumpang baru. Jawabannya, perlakuaannya sama dengan penumpang sebelumnya. Rakus penumpang dengan segama iming-iming bahasa menjanjikan.

Saya jadi ingat tempo dulu waktu ikut sosialisasi fakultas ke sebuah pondok pesantren di pinggiran kota Banjarmasin. Saya baru nyadar ternyata peran saya adalah kernet, yaitu memobilisasi masyarakat untuk bergabung dengan angkot bernama “IAIN”. Tentu saya dan kawan-kawan lain tak mengetahui tujuan kemana angkot tadi, intinya, membujuk penumpang sebanyak mungkin dan membuat supir bernama “Pak rektor” itu bahagia, titik.

Dalam kondisi demikian, saya teringat kata-kata Carlos Fuentes “Penulis harus memakai bagian terbaik dari harinya”. Mungkin, hari dimana saya dkk mempersentasikan angkot kami adalah hari paling baik, minimal mereka (penumpang) tau bahwa angkot kami akan mengantarkan mereka kewilayah paling menyenangkan di bumi, ketempat-tempat yang jarang orang kampung tahu soal geriap kota-kota wisata.

“Bung, sudah sampai” Kata si Sopir saat tiba di terminal terakhir. Si Penumpang turun, ternyata kampung (tujuan sebenarnya) masih sangat jauh dan terpaksa harus cari tukang ojek untuk mengantar keliuk-liuk jalanan desa.

Sintimen Mahasiswa terhadap Berita
Lima tahun lalu, TABLOID SUKMA mengangkat judul “Oh UIN, kau dipuja sekaligus dicaci” merincikan wilayah IAIN yang digadang-gadang akan dibangun di Banjarbaru seluas 80 hektar (Di Gunung Guntung Manggis, Banjarbaru). “Wilayah yang ada di Banjarbaru adalah hibah dari pemerintah provinsi” kata birokrat Kampus. “UIN akan terealisasi di tahun 2013 dengan bantuan 500 miliar dari Islamic Development Bank (IDB)”. Tambahnya. Namun, kenyataannya adalah, 30 hektar pembelian kampus sendiri dan 50 hektar dibelikan Pemerintah Provinsi (Tabloid Sukma/II/Maret/2011). Sedangkan luas wilayah yang ada di Banjarmasin hanya 11 hektar (Rektor/SUKMAgazine/II/2015).

Masalah wilayah memang selalu menjadi alasan tiap kali ada isu UIN, setidaknya komentar yang keluar itu begini “Kami canangkan bangunan di Banjarbaru sebagai kampus II yang nantinya bangunan didalamnya begitu megah” begitulah kira-kira. Sudah lama isu UIN ini beredar, sepengetahuan saya saat diskusi dengan kawan-kawan senior mengatakan bahwa isu ini pertama kali ada sejak tahun 2005. Hingga IAIN berumur sepuh (51) sekarang, isu ini hanya sebatang isu, banyak birokrat kampus berkomentar, anak-anak ingusan bernama mahasiswa bilang “Alhamdulillah IAIN sekarang jadi UIN” dan semacamnya.

Jika menelusuri gembar-gembornya berita UIN, sekurang-kurangnya ada beberapa media daring yang memberitakan IAIN ke UIN. Beberapa hari yang lalu, status Datu Syaikhu yang merupakan Kepala Humas IAIN  nulis begini

“Alhamdulillah.. hari ini Rabu, tanggal 30 Safar 1438 H bertepatan 30 November 2016 M, Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo (Jokowi) secara resmi telah menanda-tangani izin prakarsa alih status IAIN Antasari menjadi Universitas Islam Negeri Antasari (UIN) Antasari. Insya Allah dalam waktu dekat Perpres akan diterbitkan. Mohon doa” Tulis bapak dua anak ini.

Ani Cahyadi Maseri II juga menulis “Good news: Mister President, Joko Widodo, ha signed the degree on the transformation IAIN to UIN Antasari today, 30 november 2016. Alhamdulillah” Tulis Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) ini.

Esok harinya, Noor Azmi, yang merupakan mantan ketua Dewan Mahasiswa IAIN Antasari tahun 2014 menulis yang judulnya begini “IAIN ANTASARI BANJARMASIN SECARA RESMI MENJADI UIN” dikutip dari lamppost.co dengan judul berita asli “Ini kata Rektor, Presien Jokowi Setujui IAIN Raden Intan Menjadi UIN”. Dan riuhlah mahasiswa soal isu UIN dengan komentar “Alhamdulillah”. Asumsi dasar mereka adalah IAIN dengan hitungan hari akan menjadi UIN, atau “Aku lulusan UIN Antasari”.

Sayangnya, dewasa ini acapkali mahasiswa mengkonsumsi berita tanpa teliti. Berita dianggap dalil paling kuat beradu argumentasi, berita yang beredar rektor IAIN Raden Intan mengatakan “Saya mendapat informasi dari pihak istana, Bapak Presiden sudah meneken izin prinsip (prakarsa) persetujuan IAIN Raden Intan menjadi UIN”. Seperti dikutip di www.lampost.co.

Padahal, jika kita telisik lebih detail lagi, IAIN Antasari menuju UIN itu masih lumayan lama, misalnya dari segi infrastruktur (Jika yang didengung-dengungkan adalah infrastruktur yang ada di Banjarbaru, pertanyaan mendasar adalah “Kapan pembangunan itu akan digarap? Berapa lama pembangunan itu akan rampung?”)
, simpang-siur dana IDB (“Bantuan 500 miliar dari Islamic Development Bank (IDB)” PR II, Dr. H. Burhanuddin Abdullah, M.Ag (TABLOID SUKMA edisi II/Maret 2011). Menurut Ani Cahyadi batuan dari IDB sebesar 600 miliar, sedangkan menurut Syaikhu bantuan tersebut berjumlah 650 miliar), program studi yang minimal harus berakreditasi B (Silahkan cek berapa banyak prodi yang masih terkantung-kantung diakreditasi C), Juruan harus agama/umum, tenaga dosen dan jumlah mahasiswa juga mempunyai kreteria khusus (Persyaratan menjadi UIN adalah mahasiswa minimal 10.000, pada tahun 2015 mahasiswa IAIN Antasari berjumlah 8.086. sedangkan calon mahasiswa baru tahun 2016 berjumlah 2.500 mahasiswa).

Melirik Diri dengan Mensyukuri yang ada
Meski UIN Antasari masih terbilang jauh dari pandangan, kita patut bersyukur lantaran kita sudah bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, saya sering ketika diskusi malam di Pasar Lama masih menemukan pemuda-pemuda ngamen, pemuda-pemuda yang memilih ikut bapaknya berjualan lantaran soal keuangan, pemuda-pemuda desa yang memutuskan menganggur dirumah, pemuda-pemuda yang pengin kuliah dan sama seperti kita diperguruan tinggi.

Nanti, setelah (misalkan) resmi menjadi UIN Antasari, apakah keilmuan kita juga maksimal tentu merupakan pertanyaan pondasi yang harus dibisikkan dalam hati mahasiswa sekarang. Intinya, berlabel apapun perguruan tinggi kita nanti, tentu yang akan terlihat adalah kreatifitas dan jati diri dari mahasiswa yang sebenarnya. Kita hanya berproses dan mencari ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan mensyukuri apaadanya.. wallahu wa’laam..

foto: Lay

Pages