Minggu, 06 November 2016

Mencatut Nama ‘IAIN’ di Instagram, Berpotensi Buruk Terhadap Lembaga


Oleh: Yulia Astutik
(Mahasiswa PMTK 2014 dan kini aktif di LPM Sukma)

Instagram merupakan salah satu media sosial yang sangat banyak diminati, aplikasi ciptaan Kevin Systron ini, kini mampu menarik perhatian penggunanya diseluruh penjuru dunia. Mulai anak kecil hingga orang tua, semua tak ingin ketinggalan untuk menggunakan aplikasi ini. Begitupun dikalangan mahasiswa sendiri, Instagram merupakan aplikasi ‘wajib’ yang harus dimiliki, sebab jika tidak memilikinya, maka akan dibilang kudet alias Kurang Update.

Begitupun yang terjadi pada Mahasiswa IAIN Antasari, kurang lebih 7000 mahasiswa yang ada, setengahnya memiliki akun instagram. Kebanyakan dari mereka menggunakannya hanya untuk hiburan, menghilangkan rasa jenuh dalam perkuliahan dan ada yang hanya untuk eksistensi semata, tapi adapula yang memanfaatkannya untuk berbisnis dan berdakwah. Sadar atau tidak sadar aplikasi ini akan menciptakan generasi menunduk seperti yang diungkapkan Hendra Wardhana “generasi menunduk adalah generasi yang tercipta atas tuntutan eksistensi diri yang diciptakan oleh kemajuan teknologi. Mereka membuat dunianya sendiri yang lebih ringkas. Mereka ingin meringkas jarak, namun sayangnya tanpa disadari mereka justru perlahan-lahan memperlebar jarak, bukan lagi sekedar menyederhanakan realita.”

Jika menilik kembali esensi dari seorang mahasiswa, menurut Tri Dharma Perguruan Tinggi (salah satu dasar tanggung jawab mahasiswa yang harus dikembangkan secara simultan). Mahasiswa merupakan agent of change (agen perubahan), agent of control (agen sosial) dan agent of culture (agen budaya). Sedangkan pada faktanya, kini mahasiswa tak lagi berperan sebagaimana mestinya dan tak sedikit dari mereka hanya menyandang gelar sebagai ‘mahasiswa’ tanpa menjiwai gelar tersebut. Apalagi jika kita kaitkan dengan virus eksis yang sedang menjalar kemahasiswa zaman sekarang, mereka berlomba-lomba untuk menguploud foto unik, menarik demi mendapat like dan followers dan secara tidak sadar perlahan-lahan mereka telah melupakan esensi dari gelar yang mereka sandang.

Adapun fenomena Instagram ini juga menghinggapi mahasiswa IAIN Antasari, ada salah satu diantara mereka yang membuat akun khusus. Seperti akun berikut; IAIN Bungas (cantik/ganteng), IAIN langkar wan gagah (cantik dan gagah), IAIN bebaya bungas (sedikit cantik/ganteng) bahkan ada yang membuat akun IAIN Kelatikan (kecentilan). Diantara akun-akun tersebut terdapat admin (pengelola) yang mengatakan jika akun tersebut hanyalah untuk hiburan semata dan meminta maaf jika merepost foto tanpa izin.

Hal yang menjadi kontroversi ialah akun IAIN Kelatikan (kecentilan). Banyak mahasiswa yang merasa teremehkan ketika fotonya direpost dalam akun tersebut. Sebelum berbicara lebih jauh, alangkah baiknya kita ketahui dulu apa arti dari Kelatikan.

Menurut Kamus Bahasa Banjar Kelatikan ialah suka jalan cepat, sedangkan menurut Orang Banjar Kelatikan bisa diartikan sebagai kecipratan, kecentilan atau ikan-ikan kecil yang melompat. Melihat perbedaan makna ini, saya simpulkan yang dimaksud admin (pengelola) kelatikan di akun Instagram ialah kecipratan, kecentilan.

Adanya hal ini membuktikan, bahwa, kita kurang mencerminkan sosok mahasiswa yang berdomisili dari Institut Agama. Dan secara tidak langsung kita telah melupakan misi kedua dari IAIN Antasari yang berbunyi “Melaksanakan pendidikan akhlak dan spiritualitas Islam dilingkungan kampus secara komprehensif dan berkesinambungan”.

Dan telah menjadi rahasia umum jika mahasiswa sekarang tidaklah seperti mahasiswa pada zaman dulu. Mengetahui hal itu, kita sebagai mahasiswa sekarang setidaknya lakukanlah hal-hal yang baik. Seandainya tidak bisa, janganlah melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat. Meskipun sekedar bercandaan tapi kita harus memikirkannya kembali, apakah yang kita lakukan itu berguna?  Menyakiti hati orang lain tidak?.

Bukankah Allah telah berfirman dalam firmannya surah Al-Hujurat ayat 11 yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Sumber foto: diambil dari facebook penulis
Oleh karena itu sebagai mahasiswa marilah kita renungkan kembali semua tindakan yang telah kita lakukan dan akan lebih baik apabila kita mencoba untuk memperbaikinya. Kesalahan yang kita lakukan itu ibarat “nasi yang sudah menjadi bubur, meratapinya tidak akan membuat bubur itu menjadi nasi, maka tambahkanlah bumbu supaya bubur itu terasa nikmat dan bisa dinikmati bersama”.

Jejak Redaksi

Labels