Langkah Terindah

Sumber Google

By : Siti Aprily Astuti


Senandung pagi ku dendangkan sembari ku rasakan semilir angin menyentuh kulit tubuhku. Rasa hangat yang menjalar perlahan dari cahaya matahari pun kini tengah merasuk ke dalam pori-pori kulitku. Detak jantung yang menggebu kembali terasa jika ku berhasil lewati bangunan indah dengan corak khas suku dayak itu, sanggar tari. Ku rasakan kembali detak jantung yang tidak menentu itu, seperti ingin ku ulangi lagi waktu di mana aku bisa melangkah dengan ringan di sana, menggerakkan tubuhku seluwes mungkin. Aku ingin. Meskipun sekarang berbeda.

~oOo~

“Berhenti di sana!” perintah kakak Mody dengan tegas.

“Kamu berusaha kabur dari latihan lagi?” lanjutnya dan menatapku yang tengah berdiri di ambang pintu sanggar.

“Cuma sebentar, lima menit?” aku menatapnya ragu, dia memincingkan matanya.

“Kamu pikir latihan itu main-main? Kalau kamu memang tidak konsisten, lebih baik angkat kaki kamu dari sanggar ini!” 

Aku terbelalak kemudian dengan sedikit menahan tawa aku kembali bersuara.

“Wah, kak Mod. Begini cara kakak mengusir aku dari sini? Ini sanggar Ayahku, memangnya kakak punya hak apa untuk itu?”

“Aku ketua di sini dan Paman sudah memberikan tanggung jawab untukku. Jadi, aku bisa memberhentikan anggota sanggar jika memang dia tidak memiliki tanggung jawab dan konsisten terhadap latihannya.”

Aku menghentakkan kakiku, melepaskan helm yang membalut kepalaku, melemparnya sembarang  yang  menimbulkan bunyi “BUG” yang cukup keras. Aku menatap tajam pada Kak Mody, lagi-lagi aku kalah berdebat dengannya, andai saja dia perempuan mungkin tanganku sudah berada di rambutnya dan helaian rambutnya mungkin terurai lemah di tanganku. 

Aku kembali menggunakan selendang merah, bermanik kuning dan bercorak khas suku dayak. Tentunya selendang ini telah membedakan aku dari yang lain. Di sini aku memang mempunyai hal yang lebih dari yang lain, yaitu waktu. Aku sudah cukup lama, tidak… sudah sangat lama sebenarnya berkutat dengan dentuman gong di sepanjang hariku dan dengan selendang melingkar di pinggangku atau sebilah Mandau di tanganku. Karena Ayah, ini semua berkat Ayah yang menjagaku dan melatihku setiap hari dari aku yang dulunya hanya mengenal seorang laki-laki di hidupku yaitu Ayah hingga ada laki-laki lain.

“Nay… !”

“Apa?” Ketus, seperti itulah aku.

“Jawab yang ikhas kenapa sih!!!” Kak Mody duduk di sampingku yang sedang istirahat sembari menatap beberapa video latihan kami.

“Kenapa emang?” Aku meninggikan sedikit volume suaraku.

“Jangan kencang-kencang bicaranya! Berisik tahu?” Dia cekikikan di sampingku.

“Kamu itu yang berisik!” Kini nadaku sudah mencapai nada bentakan.

“Maaf,” ucapnya lembut.

“Lain kali kalau memang ingin pergi, kamu bisa bilang dulu padaku. Aku tahu kamu lelah, sudah seminggu kita latihan dan belum ada perkembangan dari anak-anak yang baru bergabung.” Dia melanjutkan kalimatnya, aku hanya diam mendengarkan.

“Tapi kamu juga tidak bisa langsung meninggalkan tempat tanpa ijin, karena kamu penari utama di sini. Kita tidak bisa latihan jika kamu tidak ada. Mengerti? Dalam hal ini tanggung jawab juga perlu kamu perhatikan dan kesabaran kamu itu loh. Coba deh, sedikit lebih santai.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman, aku menatapnya lekat.

“Kamu itu yang suka menguji kesabaranku, kamu pikir aku suka kamu bicara di depan anak-anak terus menghakimi aku seperti itu?” 

“Ya, kalau begitu aku minta maaf.” Kembali ia tersenyum kecil.

“Makan tu maaf!” Ucapku sembari melemparkan selembar handuk ke wajahnya dan melangkah perlahan dari tempat itu.

“Maaf, maaf.” Ucapnya jahil sembari membuntutiku. Hal ini tiba-tiba membuatku tersenyum geli melihat tingkahnya.

~oOo~

Hari ini ku patut diriku di depan cermin besar di kamarku. Ku lihat wajahku kini telah tertutupi dengan riasan yang begitu menampakkan wajah penari suku dayak. Seseorang di belakang menepuk pundakku pelan, mulutnya terangkat sempurna menunjukkan lengkungan manis dengan sisi keriput yang mulai muncul di wajahnya.

“Ayah, doakan Nayla hari ini.” Aku menyentuh tangan lembutnya yang berada di bahuku,
“Tentu saja. Nayla akan tampil dengan baik hari ini bersama teman-temannya.” Ayah menyemangatiku,
“Amin” aku tersenyum begitu pun beliau.

Sebentar lagi aku akan menunjukkan hasil latihanku selama ini di atas panggung megah bersama orang-orang yang mewakili sanggar tari kami dan juga daerah kami tercinta Kalimantan Tengah. Lomba tari kreasi tradisional Kalimantan yang diadakan di Banjarmasin itu membuat kami benar-benar berlatih keras, karena ini bukan hanya antar sanggar tari tapi juga antar provinsi di Kalimantan.

“Bagaimana Nay?” Kak Mody mendekatiku sembari menunjukkan kostum yang ia gunakan.

“Bagus,” Ucapku singkat.

“Begitu saja?” Dia menatapku dengan wajah anehnya, aku mengangguk acuh.

“Kamu gugup, ya?” 

Aku menoleh dan menghela nafas panjang diiringi anggukan lemah. Dia tertawa terbahak-bahak melihat keadaanku seperti itu, sontak saja ku tanganku ini mendarat di dahinya dengan mulus. Dia meringis, kini balas aku yang tertawa.

“Kejam…” ucapannya di buat-buat seperti sedang merekam adegan drama.

Aku hanya bisa tertawa dan sedikit rasa gugup itu menghilang perlahan.

Dentuman gong kini mulai menggema di telingaku, sorak sorai para penonton menyambut kami dengan meriah, terlihat di sana para petinggi duduk di tengah-tengah ratusan penonton, dewan juri pun sibuk dengan buku nilainya di meja sebelah kiri dan mataku kini menatap lekat sosok yang membantuku menjalani tiap langkahku sampai saat ini, tangan besarnya yang merangkulku ketika aku butuh pelukan seorang ibu yang tak akan bisa aku rasakan lagi. Ayah dialah segalanya. 

Langkah demi langkah, ku hentakkan kadang-kadang kakiku sesuai dengan iringan alat musik  tradisional, tanganku pun tak mau kalah, ku gerakkan perlahan sembari memutar sebuah Mandau di tangan kanan ku dan tameng di tangan kiri ku. Kami membuat formasi-formasi baru dalam tarian itu, terkadang kami berkumpul menjadi satu ke satuan, terkadang kami menari berpasangan dengan penari pria lain. Dan yang terakhir, di sini aku tunjukkan tempatku sebagai penari utama, penari lain membawakan gong ke tengah pentas, lagi ku dekati gong itu dengan perlahan supaya terlihat indah dan tidak kaku, aku menaiki gong itu dengan hati-hati, gong itu cukup tinggi karena ada balok kayu yang menyangganya. Kakiku sudah penuh berada di atas gong dan kini tantangan yang paling berat di mana aku harus menari dengan tangan penuh dan menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh.

    Tepuk tangan penonton memenuhi gedung ketika penampilan kami resmi berakhir, aku menatap Ayah dari kejauhan dengan sedikit mengatur nafasku, beliau tersenyum dengan mengacungkan dua ibu jarinya, aku balas tersenyum.

“Penampilan yang sempurna, Nay.” Kak Mody berjalan di sebelahku dengan wajah yang sumringah.

“Tidak akan sempurna tanpa pemain musik,” ucapku balas memuji keterampilan dari grupnya.

“Nayla,” Ayah kini sudah berada di hadapan kami, Kak Mody tersenyum pada Ayah dan menepuk bahuku, dibarengi dengan anggukanku, dia perlahan melangkah meninggalkan aku dan Ayah.

“Bagaimana penampilan Nayla, Yah?” Aku memegangi lengan bajunya, Ayah menepuk punggung tanganku dan tersenyum.

“Ayah yakin kalian akan mendapatkan hasil yang setimpal dengan latihan kalian,”

    Aku tersenyum dan memeluk lengan Ayah, beliau benar-benar membuat hati ini begitu ringan. Tibalah waktu penentuan, tinggal tiga perwakilan sanggar tari berdiri di panggung dan aku bersyukur salah satu dari mereka adalah Kak Mody, setidaknya kami telah berkesempatan menjadi tiga teratas dan jika beruntung kami bisa terbang ke Jakarta untuk menghadiri festival tari Nusantara. Jantungku terus berdetak, bahkan detakannya kini melebihi gerakan detik di sebuah jam.

“Dan yang menjadi juara pertama adalah....

Bersambung....