HMJ PS,. SYAUGI MUBARAK: NANTI SAYA PANGGIL PANITIANYA

BSukma- Kegiatan Porseni merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perbankan Syariah (PS) untuk menyaring potensi bakat dalam berbagai bidang. Tahun ini, kegiatan tersebut mereka namakan PIRATES. Kegiatan yang berlangsung selama 6 hari sejak 24-30 Oktober bulan lalu. Namun, meski sudah berlalu, kegiatan itu masih banyak menyimpan polemik. Terutama bagi mahasiswa jurusan Perbankan Syariah (PS).
 
Dalam telusuran tim Sukma mencatat, setidaknya isu yang beredar adalah setiap lokal/kelas yang mau mengikuti lomba PIRATES tersebut, diwajibkan membayar patungan Rp 200.000,-. Ada juga kabar bahwa setiap lokal/kelas wajib membayar patungan Rp 200.000,- walaupun tidak ikut menjadi peserta acara.
“Saya tidak setuju bayar Rp 200.000,- per lokal, karena tidak semua mahasiswa dilokal tersebut ikut lomba” protes Regita, Mahasiswi angkatan 2015, jum’at (11/11).
 
Setelah tim Sukma melakukan konfirmasi, Muhammad Abdan selaku ketua pelaksana kegiatan PIRATES juga berkomentar, bahwa berita yang beredar mengenai patungan perlokal itu tidak benar, “Kami tidak mewajibkan setiap lokal untuk mengikuti lomba, akan tetapi jika lokal tersebut berniat untuk ikut lomba maka kami wajibkan untuk bayar Rp200.000,-“, Ungkapnya saat diwawancarai.
Dia menanggapi protes tersebut dengan mengungkapkan alasan mereka tidak memungut biaya pendaftaran per orang, akan tetapi per lokal. Karena mereka menganggap satu lokal itu sudah seperti satu keluarga. “Jika kami memungut biaya pendaftaran per orang, maka itu akan memberatkan peserta yang ingin mengikuti lebih dari satu lomba. Bukankah satu keluarga itu saling meringankan satu dengan yang lainnya,” jelasnya.
 
Peserta hanya dapat air mineral
Ayu, mahasiswi yang saat ini duduk di semester 3, juga ikut berkomentar sebagai salah satu peserta dari lomba yang diadakan oleh HMJ tersebut. Ia mengungkapkan bahwa hanya mendapat air mineral saja pada saat mengikuti lomba debat ilmiah, senin (07/11) sore.
“Untuk konsumsi peserta itu terbatas”, Ujar salah satu panitia lomba.
Muhammad Abdan mengungkapkan bahwa uang pendaftaran tersebut semata-mata untuk peserta lomba yakni dalam bentuk sertifikat peserta, sertifikat pemenang lomba, dan piala penghargaan. “Sertifikat yang kami berikan pun bukan sertifikat yang harga Rp20.000,- an, tetapi yang best quallity” terangnya pada tim Sukma, jum’at (11/11) sore.
 
Syaugi Mubarak yang kini menjabat sebagai Wakil Dekan III Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, turut berkomentar terhadap permasalahan ini. “Jika memang ada mahasiswa yang keberatan atas pungutan tersebut, maka tidak ada salahnya dikembalikan saja uangnya” ujarnya saat ditemui di kantor fakultas, jum’at (11/11).
“Mungkin panitia kekurangan dana, karena kan dana untuk DEMA fakultas belum cair sepenuhnya. Sedangkan dana untuk HMJ-HMJ juga dari uang yang diterima oleh DEMA fakultas” tambahnya.
Selaku Wakil Dekan III, ia menghargai jerih payah HMJ PS dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut. Namun di sisi lain, ia berharap “Jika mahasiswa tersebut keberatan atau mungkin uang yang keluarkan termasuk dalam kategori berharga karena tidak mampu, maka alangkah baiknya tidak dipungut biaya”.
“Ini hanya masalah sosialisasi yang kurang, sehingga mahasiswa menganggap wajib bayar dulu, baru setelah itu mereka mencanangkan harus mengikuti lomba karena sudah bayar dan rugi tidak ikut.” Katanya.
“Nanti saya panggil panitianya untuk sekedar memberi masukan agar tahun depan mengadakan sosialisasi ke setiap lokal,” tegasnya pada tim Sukma. (Azizah,Fellin,Ira,Sri,Yulia/Anna/Sukma)