Ajari Aku Islam

Sumber Google
Oleh Henny Anggraini

Semua orang menyukainya, tak terkecuali diriku, dia pintar dalam urusan Agama, tanpa menyepelakan urusan Dunia, tak heran orang di sekitar nya  sering memanggilnya ustadz Muda, ia memang lulusan dari sebuah pesantren yang cukup terkenal.

Sedikit yang ku ketahui tentang nya,bertubuh tinggi tegap, kulit putih, hidung yang mancung serta memiliki suara yang merdu, aku menyukainya karena kepandaiannya dalam urusan agama bukan karena fisiknya yang aduhai, sungguh bukan karena fisiknya, dan satu kali lagiaku tekankan aku menyukainya bukan mencintainya, karena itu sesuatu yang sangat berbeda.

Kini Ustadz muda itu tinggal tepat di seberang rumah ku, yang setiap pagi dapat ku lihat sang ustadz sedang mengaji lewat Jendela kamar ku yang kebetulan berada di lantai 2, tak terdengar jelas suaranya namun tetap saja suara itu menjadi pusat perhatian ku setiap pagi, walau sering ibu melarang ku untuk memperhatikan ustadz muda tersebut. Karena menurutnya seorang wanita tak pantas bertingkah seperti itu.

Setiap sore aku selalu pergi kekebun teh, banyak hal yang aku lakukan di sanadari membaca buku hingga membantu bibi ku memetik daun teh, namun sore ini aku memilih hanya untuk jalan-jalan saja menikmati segarnya udara di desa ku ini. Meskipun sudah sore tetap saja udara di sini tanpa polusi seperti di kota-kota. Aku sangat menyukainya.

Seperti di sengaja, lelaki yang di panggil Ustadz muda itu juga ada disini, di kebun teh milik warga disini, ini adalah kali pertama aku betemu secara langsung dengannya, aku menatap nya namun tidak dengannya, dia menundukan pandangannya, dan mengucapkan salam iya aku mengetahui itu adalah salah satu adab dalam Agama Islam ketika bertemu yang bukan mahramnya.
“Assalamu’alaikum” ucapnya, masih dengan menundukan kepalanya,
“Walaikumussalam’ balas ku, yang kali ini juga ikut menundukan kepala,

Lalu dia tersenyum dan pergi meninggalkan ku, begitu singkat, aku belum mengetahui namanya? dari mana asalnya? bahkan kenapa dia sekarang tinggal disini?

Matahari mulai tertutup awan, aku kembali kerumah, rasa penasaran ku belum juga teredam, aku sangat ingin tahu tentang banyak tentang nya, aku pastikan aku tidak boleh menyukainya karena Ibu ku sangat melarang nya.

Sekitar pukul 8 pagi, aku dan bibi pergi ke kebun teh kembali, memetik teh memang pekerjaan bibi ku setiap pagi hingga petang, sangat jarang sebenarnya, pagi-pagi seperti ini aku ikut ke kebun teh, dan aku berharap bertemu dengan Ustadz itu lagi, tapi tidak tuhan tidak mempertemukannya hari ini, kebun teh seluas ini tak terlihat seorang lelaki yang memakai peci satupun, aku memutuskan untuk pulang saja, karena niat ku ikut bibi memang ingin bertemu ustadz tak ada selain itu.

Aku memang tidak mengetahui apa yang akan direncakan tuhan setelah ini, iya setelah ini, tentu nasip ku sangat baik Ustadz itu sedang duduk disebuah gubuk, aku tidak akan menyia-nyiakan ke sempatan ini, sekarang rasanya aku seperti wanita yang sangat genit, tapi ini semua untuk mengobati rasa penasaran ku.

Aku mendekati gubuk itu, tak heran Ustadz muda tersebut langsung mengarahkan pandangan nya kea rah ku. Aku yang berpura-pura tak tahu ada Ustadz di sana, berpuara-pura kaget seakan akan ini hanyalah sebuah kebetualan.

“Maaf, Ustadz saya tak tahu kalau ada ustadz disini” ucap ku singkat

“Iya tak apa, kalau boleh saya tahu, kamu asli kampong sini?” SangUstadz memulai percakapan

“Hmm, Iya saya asli kampong sini, saya lahir disini, ada apa ustadz? Apa Ustadz tersesat?” 

“Tidak, saya Cuma ingin menanyakan sesuatu”

“Apa itu Ustadz?”

“Apakah di Kampung ini tidak ada satupun Mesjid, atau Mushollah untuk orang muslim beribadah?” Tanya Sang Ustadz

Aku terdiam sejenak,lalu menjawab pertanyaan sang Ustadz

“ iya memang selama beberapa tahun disini memang tak pernah terdengar suara adzan atau seruan beribadah bagi orang muslim, saya baru saja terpikirkan, di kampong ini hanya terdapat beberapa Gereja serta kuil untuk orang yang beragama Kristen dan Budha beribadah tapi Mesjid? Saya tak pernah lagi melihatnya, terakhir kali saya melihat masjid sejak saya berumur 15 tahun, tapi sekarang saya tak pernah lagi melihatnya”
Sang Ustadz menganggukan kepalanya lalu bertanya kembali

“Oh iya, boleh saya mengetahui nama anda?” Tanya sang Ustadz lagi

“Nama saya Febby Cristina, kalau nama Ustad?” 

“Nama saya Muhammad Ridho, Panggil Ridho saja, saya sebenarnya bukan seorang Ustadz, saya hanya lulusan sebuah pesantren dan gelar ustadz rasanya belum pantas buat saya”

Usai perkenalan tersebut, aku langsung berpamitan dengan Ustadz karena aku tahu Ustadz  pasti akan banyak mengprek-ngorek tentang kampong ini lewat pertanyaan-pertanyaannya.

Makan malam tiba, aku dan keluarga selalu berkumpul di ruang keluarga usai makan malam,
“Bu, apakah di daerah sini tidak ada Mesjid lagi?” Tanya ku suasanya yang tadi nya hening tiba-tiba menjadi tegang, semua keluarga menatap kearah ku, ku rasa peranyaan ku cukup sensitive untuk di tanyakan

“Mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang agama orang lain, sedangkan kau sangat jarang mencari tahu tentang agama mu sendiri” Balas Ibu yang sedikit marah

“Aku hanya Ingin tahu bu, aku tak pernah mendengar seruan adzan lagi beberapa tahun ini” balas ku lagi

“Apa kau tertarik dengan Agama Islam? Kau akan meninggalkan Agamamu seperti Ayah mu? Sebaikanya kau harus pergi ke gereja agar kau dapat pencerahan” ucap Ibu dan langsung meninggalkan ruang keluarga

Ibu terlihat sangat marah, padahal di benak ku taka da sedikit pun untuk pindah agama, namun Ibu sangat sensitive membicarakan masalah ini.

Aku pergi ke kamar dan membuka jendela kamar ku, terlihat Ridho (Nama Ustad tersebut) yang sedang sholat memakai pakaian putih, tak lama kemudian Ridho keluar kamarnya, dan melihat kearah ku, dia tersenyum, aku melihatnya sangat tenang dan damai, aku sekarang jadi penasaran apa yang di rasakan seorang muslim sesudah melaksanakan Ibadah, apakah sama seperti yang ku rasakan seperti aku pergi ke Gereja, perasaan nya biasa saja dan tak ada perubahan. Aku memakai bahasa Isyarat yang mengatakan kepada Ridho jika aku ingin mengetahui banyak tentang Islam. Ridho membalasnya dengan bahasa Isyarat yang mengatakan ‘Baiklah’

Keesokan harinya, Sekitar pukul 10 pagi, Aku menemui Ridho yang sudah lebih dulu sampai di gubuk tua di pinggir sawah, banyak para petani di sana namun sepertinya mereka tidak akan mendengar percakapan kami nanti

“Lalu apa yang ingin kau tanyatakan tentang agama ku?” Tanya Ridho yang sedari tadi menatap hijaunya sawah

“Tak banyak, aku Cuma ingin tahu bagaimana perasaan mu ketika kau beribadah kepda tuhan mu?”

“Perasaan ku, sangat tenang damai, bahagia terasa pikiran ini tanpa beban.” Ucap tegas

“Benarkah itu?” sedikit tidak yakin

“Iya, itu yang aku rasakan sebab itulah aku betah berlama-lama dalam sholat ku, bagaimana dengan agama mu?” Tanya sang ustad kembali

“Aku juga merasakan seperti itu saat aku beribadah” Aku berbohong sebab agama ku tak boleh kalah dengan Agama Sang Ustadz

“Kau yakin?” Tanya Ustadz

“Tentu” jawab ku singkat

“Kau terlihat tidak yakin,jika kau sudah cukup tenang dengan agama mu, buat apa kau menanyakan perasaan ku ketika aku sedang beribadah, seakan-akan kau masih ragu dengan agama mu? Seakan akan kau mencari ketenangan lain yang lebih bisa membuatmu nyaman” kata Ridho sedikit membuatku kaget dengan ucapannya

“Aku hanya ingin tahu, tak lebih dari itu, lagi pula aku tak akan mau pindah ke agama mu, sebab ibu sangat melarang ku. Dan aku tahu membantah orang tua termasuk dosa besar ku rasa aturan itu juga ada di agama mu”

“Iya kau benar membantah orang tua memang termasuk dosa besar ,durhaka kepada orang tua juga harus di pandang dari kacamata syariat”

‘Lalu aku harus bagaimana? Aku tak berani dengan Ibu ku, iya memang aku tak mendapat ketenangan dengan agama ku, mungkin karena aku tidak khusyuk atau aku tidak cocok dengan agama ku.”

“Kau harus yakin kan hati kecil mu dulu jika kau mau aku bisa ajarkan kau tentang islam”

Hampir 2 jam percakapan itu berlangsung, terus terang saja aku sangat galau kali ini, aku sudah terlanjur tertarik dengan ketenangan yang di miliki oleh Islam, tapi bagaimana dengan nasipku jika aku masuk Islam, Ayah saja di minta cerai oleh ibu, terus apa yang akan ibu lakukan dengan ku, pasti ibu akan mengusir ku.

Aku mulai mencari tahu banyak tentang Islam sebelum aku memutus kan untuk masuk Islam, aku membeli sebuah Al-Quran Mukena serta Sajadahnya.

Aku membaca Arti katademi kata, dari Al-Quran, tiba-tiba saja pintu kamar ku terbuka, Ibu masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ibu melihat ku membaca sebuah kitab agama lain, aku hanya diam dan berusaha menyembunyikan kitab tersebut.

“Kau sedang membaca apa Feb?” Tanya Ibu mendekatiku

“Tidak bu, hanya melihat-lihat saja” sahut ku

Ibu mengambil Kitab itu lalu membukanya, ibu membaca ayat demi ayat dalam kitab Al-Qur’an,
“Kau dapat dari mana buku sebagus ini, syair nya sangat indah” kata Ibu terheran-heran

Aku kaget dengan ucapan Ibu, Ibu tidak mengetahui kalau itu adalah kitab nya orang Islam

“Ibu suka Buku itu, Ibu ambil saja nanti aku bisa mencarinya lagi” sahut ku kembali

“Benarkah, kau tidak mau membacanya? Syair nya sangat menenangkan”ucap Ibu memuji Kitab itu lagi

“Aku sudah membaca nya berulang kali bu,ibu ambil saja,ngomong-ngomong Ibu ada apa ke kamar Febby?”

“Baiklah, Ibu Cuma mau bilang ibu akan pergi dan pulang agak malam, kamu jangan keluyuran ya Feb ”

“Oh,Baiklah bu, aku gak akan keluyuran kok, paling juga Cuma ke kebun teh atau ke sawah”

“Ya sudah ibu bawa buku ini ya”

“Iya bu”

Huuh, syukurlah Ibu tidak mengetahui itu apa, kalau tidak aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi tadi, aku akan membiarkan Ibu membaca kitab Itu, sampai aku dapat reaksi bagus dari Ibu.

Siang hari nya aku pergi menemui Ustadz di gubuk biasa, karena di gubuk ini lah tempat paling aman untuk bertemu, tak sepi dan udaranya segar.

“Dho” panggil ku

“Assalamualaikum” ucap Ridho

“Oh iya lupa hehe, Walaikumsalam” sahut ku

Hari ini aku memutuskan untuk masuk Islam,karena beberapa hari saja aku mempelajari Islam perasaan ku sangat berbeda dari biasany,tentu saja ketenangan itu ku dapatkan sekarang. Dengan mengucapkan “Asyhadu An-laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah”

Seminggu kemudian, Ibu mengetahui kalau buku yang aku berikan kemarin adalah Kitab Al-quran, Ibu menemui ku kembali di dalam kamar, yang kebetulan saat itu aku sedang memakai mukena dan Al-qur’an sedangdi hadapan ku, aku sangat kaget dan rasa takut mulai menyelimutiku, berharap ibu tidak mengusir ku, dan aku hari ini akan berkata jujur.

“Feb, apa yang kau kenakan?” Tanya Ibu

“Ini mukena bu, alat sholat wanita muslim, untuk beribadah, aku mohon ibu jangan marah, aku tak bermasuk menyembunyikan agama yang kuanut sekrang kepada Ibu, tapi, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan nya ke Ibu. Maafkjan aku bu.”

“Ibu yang seharusnya minta maaf, melarang mu Istiqamah di jalan Allah, sekarang ibu mau kamu ajarkan Ibu sholat?”

Mendengar permintaan ibu, aku tergecak kagum, aku tidaktahu apa yang membuat hati ibu luluh, namun aku yakin itu pasti karena Ayat-ayat Allah yang ibu baca, kini Aku dan keluarga memeluk Islam dan Ayah ku kini sudah kembali kerumah. Dan hubungan ku dengan Ridho kini juga semakin akrab dia sering datang kerumah ku untuk mengajarai aku bibi serta Ibu mengaji, Aku sangat bersyukur atas kebahagiaan ini.

Sore ini, kulihat di rumah seberang banyak tamu yang berdatangan, entah sedang ada acara apa di sana, terlalu berlebihan jika aku harus pura-pura menjadi salah satu tamu di sana, namun aku sangat penasaran, kenapa aku dan keluarga tidak diundang, atau itu acara privat buatkeluarga aja.

Keesokan hari nya, aku kembali menemui Ridho di gubuk tua, dan menanyakan acara semalam, yang di selingi basa basi. Ridho mengambil sebuah kotak yang berisikan dua cincin pertunangan, aku tak tahu harus bagaimana mengekspresikan wajah ku saat ini, tiba-tiba saja dada ini terasa sakit dan tidak terima jika Ridho harus bertunangan.

Beruntung sekali wanita yang besama Ridho nanti ucapku dalam hati, malam ini usai sholat Magrib seperti biasa aku di ajar mengaji oleh Ridho, setelahnya Ridho mengajak ku bebicara di ruang tamu.

“Feb, ku lihat muka mu murung sejak tadi, kamu ada masalah?”

“Ah tidak, aku tidak apa-apa”

“Benarkah? Kau yakin? Sebenarnya aku mau mengatakan sesuatu kepadamu, tapi siang tadi kamu keburu pergi, dan kayanya juga kurang tepat kalau aku katakan sekarang kau terlihat pucat dan tidak seperti biasanya”

“Aku sudah tahu kau akan bertunangan kan? Dan segera menikah, aku sudah dengar kabar itu kok, aku sebagai teman mu Cuma bisa berdoa yang terbaik untuk mu”

“Kamu salah Feb, aku akan melamar wanita itu malam ini, tapi aku perlu persetujuan mu.”

“Aku? Buat apa?”

“Karena wanita yang akan aku lamar sedang berada didepan ku, karena tidak mungkin aku datang begitu saja, sedangkan wanita ku tak mengetahui apa-apa, aku takut dia pingsan nantinya”

“Hah, Aku? 

“Iya Feb,  orang tua kita sudah sama-sama mengetahui, habis sholat isya aku akan kesini namun aku tidaksendiri”

Aku hanya bisa tersenyum dan sedikit meneteskan air mata bahagia.
-Selesai-