Kamis, 02 Juni 2016

Menyalah Gunakan Insya'allah, Berarti Berbohong dengan Nama Tuhan


Ketika saya kecil, orang tua saya selalu mengatakan, bawaha manusia takkan pernah bisa tahu apa yang terjadi dimasa depan, semisal setahun yang akan datang, sebualan yang akan datang, besok, dan bahkan satu detik yang akan datang bisa saja luput dari prediksi manusia. Maka dari itu, seseorang dilarang berjanji kecuali mengatasnamakan tuhan dengan mnyebutkan ‘Insyaallah’. Karena manusia hanya bisa berkehendak dan tuhan yang menentukannya.
    Tuhan memberikan manusia akal dan pikiran untuk bisa membuat perkiraan semata tentang apa yang terjadi dimasa yang akan datang, tapi tidak akan pernah mengetahui persis apa yang terjadi dengan pasti. Waktu itu ketika saya sudah selesai ujian nasional kelulusan MTs saya ditanya oleh orang tua saya, “ kayapa ujiannya, yakin haja lah lulus?” tanya beliau, dan ketika itu saya menjawab “insyaallah lulus, rasa yakin haja ulun menjawab, takana yang dipelajari semalam soalnya”. Waktu itu saya menjawab begitu karna saya yakin saya telah berusaha dengan maksimal, dan masalah hasil yang akan nampak dimasa depan adalah sesuatu yang diluar kuasa manusia.
    Tapi sekarang, ketika sudah beranjak dewasa, keprihatian saya akan kata-kata insyaaallah pun timbul, banyak orang yang suka mengartikan kata ‘insyaallah’ dengan,” aku tidak bisa” atau “aku tidak mau”. Mereka menggunakan kata insyaallah sekan-akan menyepelehkan kata itu dan tidak berusaha menepati janji yang mereka buat. Padahal kata insyaallah adalah perwujudan janji yang dibuat manusia kepada manusia lainnya dengan disaksikan tuhan.
Kata ‘insyaallah’ yang diucapkan mereka seakan telah menistakan kata ‘insyaallah yang diajarkan nabi muhammad kepada ummatnya. Mengumbar janji yang tak berusaha mereka tepati. Apakah seseorang yang berusaha ingkar janji kepada manusa lain berhak mengatasnamakan tuhan ?
Apakah tuhan akan Ridho ketika ummatnya mengingkari janji dengan mengatasnamakannya.
Alangkah baiknya kita berusaha mengembalikan esensi kata ‘Insya’allah’ kepada maknanya yang benar, supaya kita menjadi orang yang munafik yang hanya bisa mngumbar janji tanpa bisa ditepati. Semoga hati kita semua terbuka agar dapat menjalin hubungan baik sesama ummat islam, dengan selalu berusaha menepati janji dengan saudara sesama muslim maupun sesama ciptaan Allah S.W.T

Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan, semua tulisan ini diperuntukan untuk kebaikan, salam penulis “Muhammad Ali Furqan”

Jejak Redaksi

Labels