Duka Cinta Menyambut Anak Bangsa

Sumber Google
Oleh: Machbubah

Duka cinta telah datang menghampiri diri, bilamanakah aku bisa bertahan menanggung derita ini? Ya, Allah, sampaikah hati, Kau biarkan hamba meratap pada sucinya cinta-Mu?

“bilamanakah kau akan sadar Fatma?” Keluh Rayhana memberanikan diri, setelah melihat buku harian yang sedang di tulis kawan yang ia kenal sejak kuliah dulu. 

“Bila hati sudah tak ditempatnya,” lirih Fatma lesu, “segala yang ada dimata menggambarkan wajahnya, Ray” Fatma terkulai di atas meja kerja, di antara serakan kertas nota yang musti ia rampungkan segera.

“Fat, apa yang akan kau perbuat terhadap Mas Zain yang datang melamarmu?” Rayhana memutar haluan pembicaraan, rupanya ia tak ingin lebih jauh melihat kerisauan hati kawannya itu. 

“Tak tahu lah, Ray. Hati ini sudah terkunci oleh polos mata Nugy.” Fatma melenguh. Tangannya sibuk menyusun kertas nota berdasarkan tanggalnya. 

“Fat, aku teringat cerita cinta Zainab dan Khamid, karya Buya Hamka tempo dulu. Sungguh berujung tragis. Aku harap kau tak kan mengulang cerita itu lagi dalam kehidupan yang nyata.” Ray beranjak pergi sembari menaruh buku novel karya Buya Hamka yang barusan ia ceritakan, “Bacaalah, kawan. Temukan keberanianmu dalam sengsara cinta di antara keduanya.”

Fatma tersenyum mendengar ucapan sang sahabat, “terlalu lalai diri ini untuk membaca, Ray. Terlalu sibuk diri untuk menyelesaikan tugas ini.”

###
-Karena Tuhan Punya Cerita-

Pada apa hamba harus mengadu, Ya Allah, jika bukan pada-Mu. Sungguh urusan hati ini, menyengsarakan anak bangsa layaknya hamba. Jika ada 100 pemudi sedang risau cinta layaknya hamba, mustilah kacau bangsa ini akibatnya, sebab pemudi itu akan sibuk memikirkan hati yang sedang jatuh hati. semoga hanya hamba, anak bangsa yang sedang risau hati seperti ini, sedang pemudi yang lain Engkau sibukkan dengan urusan bangsa dan tanah air yang sesungguhnya lebih rumit dari urusan hati. Amiiin.
Sabtu malam, di antara mawar yang sedang merekah.

“Ya, Allah. Gila kah hamba ini? Selalu memikirkan lelaki, yang belum tentu memikirkan hamba. Jika perasaan ini layaknya kegaiban setan, tamatlah diriku.” Ucap Fatma seorang diri.
Ia berdiri, menatap kosong pada kalender di dinding kamar kos yang telah ia sewa empat tahun belakangan. Sejurus kemudian, ia menatap tajam pada tanggal dalam lingkaran besar bertintahkan hijau.

“Ya, Allah, Engkau pertemukan kami dengan kehendak-Mu. Aku yakin, semua ini ada hikmahnya.” Lirihnya lagi seorang diri menabahkan hati, “tapi, apa! Haaarrgghh...” pekik Fatma kesal, menghadapi keresahan hati yang belum pernah ia hadapi. 

“Fat..” Seru Ray, dari balik pintu kamar.

“lagi pusing, nih. Memikirkan kepala yang pusing.” Timpal Fatma, yang bergegas merapikan buku hariannya setelah mendengar seruan Ray dari balik pintu, yang kemudian ia selipkan di antara shaf buku.
Pintu terbuka, meskipun yang empunya kamar tak mempersilahkan untuk masuk. Tapi, Rayhana cukup paham dengan kondisi kawannya itu melalui jawaban yang diberikan. Kepala gadis blasteran Jawa Sumatera ini pun menyembul dari celah pintu, “aku mau kasih saran,” bisiknya dengan mata menggoda.

“Saran yang kau dapat dari pengalaman tragisnya cerita cinta Zainab dan Khamid?” bisik Fatma dengan balik mengejek kawannya itu.

“dari pengalaman para gadis yang cintanya lebih kejam dari kegaiban setan.” Pikik Rayhana, menggunakan istilah yang digunakan Fatma untuk cinta yang bertepuk sebelah tangan.

“Bagilah...” ucap Fatma penuh pasrah. “Sebelum lebih banyak lelaki yang melamarku.” Imbuhnya kali ini dengan penuh bangga. 

“Elleh.. cewek kampret lu.” Kesal Ray atas kebanggaan Fatma. “Baru ngerasaain jatuh cinta aja, udah gelempengan, kaya nyamuk kena baygon.”

“hihiii... udah, bagi saran yang tuanku punya.” 

“Kau lamar dia Fat.” Singkat Ray menggetarkan cuping telinga Fatma. 

“Masya Allah, aku perempuan, Ray.” Fatma keberatan atas saran itu.

“pohon cemara di gunung Kalimanjaro, buaya di muara sungai nil, dan ulat daun di pohon mangga depan kos juga tahu, fat. Kalo lu itu cewek.” Suara Ray penuh penekanan. “Fat, gak ada salahnya, kalo kamu duluan yang ngelamar Nugy. Agamapun tak melarang. Hanya adat dan budaya Fat, yang mentabuhkan perbuatan itu. sekarang, terserah lu aja. Mau mempertahankan apa yang kau percaya atau melarungkannya ke dalam kekhawatiran atas kekonyolan pikiran sekitar.”

“Aku tak punya keberanian sejauh itu, Ray. Meski nalarku sudah tak berfungsi menghadapi masalah ini, tapi tak sampai hati aku menghadapkan wajah seperti itu.” Bantah Fatma. 

“Fat, wajahmu sudah terlalu dalam merasakan hinaan dunia. Lebih dalam kau merasakan hinaan itu, ku rasa akan menambah wawasanmu tentang kejamnya dunia,” cerca Ray, “Hidup itu pilihan, Fat. Masa depanmu kelak, adalah hasil pilihanmu saat ini.” Bijak Ray, mengakhiri pidatonya terhadap Fatma. 

###

-Derita berujung kiamat-

Mustahil hamba bisa melangkah sejauh itu, Ya Allah. Mungkin, ini hanya rasa cinta yang diperindah setan untuk hamba. Sudah setahun lebih kami saling mengenal, tapi tak ada gerak nafas darinya. Aku rasa ia tak memasang niat pada ku. Haaarrrgghh... lelaki. Bisa-bisanya membuat aku kaya orang gila.
Cukup..cukup! Fatma. Hentikan rasa cinta gila ini.
Senin malam, dalam kekecewaan hati.

Fatma meneteskan air matanya. Menikmati rasa kecewa yang baru saja ia sadari. Sesekali ia buka kembali buku harian yang tanpa absen ia isi, “Masya Allah, semua tentang cinta, hampir semua isi buku ini. Gila.” Kecamnya pada kebodohan sendiri. 

###

-Karena Tuhan punya cerita selanjutnya-

Hamba kembali mengadu Ya Allah, sesungguhnya hamba bingung dan bimbang atas perasaan ini. Apakah ini murni dari Mu, atau hanya keindahan setan demi menggoda seorang gadis layaknya hamba.

Selama 23 tahun hidup di dunia Mu, tak pernah hamba menaruh hati sedemikian dalam pada seorang makhluk. Baru kali ini, ya, kali ini, hamba mengalami kegilaan nalar. Nalar yang sudah tidak lagi dapat mengendalikan semua perasaan hamba. 

Sudah dua bulan lalu hamba bertekad menghentikan rasa cinta yang membingungkan ini. Tapi, kenapa tak kunjung hilang? Malahan semakin menjadi gilanya ketika hamba hanya mendengar namanya. Membayangkannya saja, hamba sudah sangat bahagia. Apalagi ketika berjumpa, layaknya sore tadi.
Masya Allah...akibat rasa kecewa yang tak beralasan dua bulan lalu, kini hamba takut untuk menatap wajah dan matanya. Takut kecantol perasaan lebih dalam lagi dan lagi. 

    Selasa malam, dalam rasa pasca bertemu dengannya

Fatma terkulai lesu, memikirkan keadaan hati yang tak sejalan dengan kenyataan hidup. Ia rebahkan kepala di antara pakaian yang baru diangkat dari jemuran. Adalah kebiasaan buruk gadis ini, malas untuk melipat dan merapikan pakaian. 

“Fat..” seru suara Ray dari balik pintu kamar, “Fatmaa..” kali ini suara Ray nampak seirus.

“Fatmanya lagi tidur.” Jawab Fatma iseng.

Tanpa menunggu lama, Ray langsung masuk dan nyelonong menghampiri Fatma yang rebahan di atas tumpukan pakaian.

“Di luar ada ibu mu.” Ray bergidik, “Abangmu dan juga pamanmu.” Lanjutnya sambil melihat keluar pintu.

“Astagfirullah...” pekik Fatma terkejut. Segera ia memasang jilbab dan berlari kecil ke luar.

“Inna Lillah..” pekik Fatma menghentikan langkah. Ia kemudian kembali ke kamar dengan wajah pucat pasi.

“Kenapa Fat?” tegur Ray yang masih di dalam kamar Fatma.

“Ibu dan pamanku pasti hendak menemui lelaki itu, Ray.” Gugup Fatma dengan kekhawatiran.

“Aku sudah menolak lamaran Mas Zain, dengan alasan telah mempunyai calon. Pasti mereka kemari hendak menemui lelaki yang ku maksud Ray.” Jantung Fatma beradu cepat dengan nalar yang harus segera menemukan solusi. 

“Masya Allah Fatma..” lirih Ray dengan berat. “Kau membuat keadaan menghimpit diri sendiri.”

“Do’akanlah kawan mu ini, agar tak termakan kebodohan diri.” Semangat Fatma mengakui kebodohannya. 

###

    Senyum wajah Fatma membias kesegala arah. Bulir-bulir kebahagiaan menghiasi tindak-tanduk gadis satu ini. Tidak hanya bulir kebahgian yang nampak terlihat, namun juga bulir keringat yang tak sewajarnya keluar di saat pagi buta begitu. 

    Dalam ketenangan jiwa, Fatma duduk di ruang tengah, tangannya sibuk memainkan handphone. Entah apa yang ia lihat dari layar yang cukup lebar itu, yang pasti wajahnya menggambarkan sebuah grafik, menayangkan fluktuasi kebahagiaan, kebingunan dan kewaspadaan. 

    “Ray..” Sambar Fatma seketika setelah melihat tubuh Rayhana yang dalam keadaan setengah sadar menyembul dari dalam kamar yang tak jauh dari tempat santai Fatma.

    “Hehh” sahut Rayhana dengan menyandarkan kepala ke tubuh pintu.

    “Entar jam tujuan-an, temenin aku ke kostnya Nugy.” Ucap Fatma dengan mengerlingkan mata. Perkataan Fatma terdengar seperti sebuah perintah pada Rayhana. Tanpa menyahutinya, Rayhana langsung pergi ke kamar mandi.

###

    “Lu sadar kan, Fat?” Desak Rayhana di tengah perjalana menuju kost Nugy.

    “Insya Allah sadar, Ray” tenang Fatma dalam belutan jilbab merah, “aku ingin kejelasan, Ray. Aku sudah mengikat janji pada orang tuaku, mustahil aku melerainya dalam kedustaan.” Nyaring suara Fatma demi melawan bisingnya kota di pagi itu.

    “Lu waraskan, Fat?” selidik Rayhana lagi, ketika mereka tiba di depan pagar kost-an Nugy.

    “Insya Allah Ray.” Bijak Fatma dalam keindahan senyum yang membalut kecemasan batin.

###

    “aku ingin menyampaikan kabar padamu, Gy.” Kata Fatma yang membuka keseriusan pertemuan itu, matanya memandang serius pada Rayhana.

    “monggo...” senyum Nugy menyambut niat Fatma, “sepertinya kabar itu cukup serius,” Imbuh Nugy, yang duduk berhadapan dengan Fatma.

    “Sangat serius, saudara Nugy, sebab ini meyangkut kehidupan generasi bangsa dan tanah air.” Sahut Rayhana ikut ambil suara, yang duduk di sebelah kanan Fatma yang tak begitu jauh.

    “Waah, ok lah.” Serius Nugy dengan membenarkan posisi duduk di Sofa, pertanda ia siap menerima infomasi. 

    “Adalah seorang gadis, berusia 23 tahun.” Lanjut Fatma dengan keseriusan. “Keadaannya tidaklah tinggi semampai, kulitnya bersih namun tidak putih, parasnya manis tapi tidak cantik.” Hentinya menghela nafas, dua tapak tangannya ia lipat tertutup di atas dua lutut berbalut long dress biru tua. Sedang kakinya menginjak bumi dengan tegap. Secara psikologis, ia sedang mengalami puncak kegugupan dalam hidup. Demikianlah gelagat yang bisa dibaca oleh Nugy, lelaki tampan yang berprofesi sebagai perawat itu. 

“Gadis itu cerdas, sayang kurang terampil dan rajin. Ia bukanlah anak dari pewaris harta yang melimpah. Keluarganya dari keturunan baik-baik, keberadaan orang tua gadis itu diakui masyarakat berkat keilmuannya bukan hartanya. Agamanya baik, namun ia bukanlah ahli agama.” Fatma menghela nafas dalam, diremasnya dua tapak tangannya yang stay di atas lutut.

 “Gadis yang saat ini sedang bekerja diperusahaan swasta itu dulunya juga pernah pacaran, menjalin hubungan dengan lelaki. Mereka berpacaran dalam kurun waktu dua hari.” Sesekali Fatma beradu pandang dengan Nugy yang membuat ia semakin berani menyampaikan niat.

    “Banyak kecacatan akhlak yang ia punya, hingga tak sampai hati untuk mengumbarnya. Demikian banyak kekurangan pada gadis itu, namun bukan berarti banyaknya kekurangan itulah yang menjadi kelebihannya. Hanya satu kelebihan sejauh ia hidup pada dunia yang rancu ini, ketaataan pada Tuhan dan orang tuanya.” Fatma menyembulkan senyum lega, dua tapak tangan yang sedari tadi tertelungkup lemas kini telah kembali bergairah. 30 menit sejak keberadaannya di ruang tamu kos itu, baru menit ke 31 ia kepikiran untuk membenarkan jilbab yang dikenakan. 

    “Aku mengatakan ini, sebab gadis itu sangat mengingikan kau menjadi suaminya. Ia melamar mu, Nugy. Pagi ini. Melalui aku, gadis yang duduk di hadapan mu saat ini.” Lanjut Fatma dengan senyum manis penawar kecemasan hati. 

    “Masya Allah... tersambut hatiku, mengetahui ada gadis yang memberanikan diri melamar seorang lelaki. Namun, siapakah nama gadis itu? sejauh kau menceritakannya, tak sedikitpun kau sebutkan namanya. Aku ingin mengetahui, sebelum aku memberikan jawaban setelah mematangkan pikiran.”

    Fatma beranjak berdiri dari tempat duduknya, ia melangkah mendekati sofa yang ada di sebelah kanan Rayhana dan beralih duduk. Artinya, ia saat ini duduk di samping Nugy. 

    “Gadis yang duduk di hadapanmu tadilah yang ingin melamar dan mempersuami mu, Nugy.” Tegas Fatma menegarkan pendirian sembari mengacungkan jempol ke arah sofa kosong yang ia duduki 31 menit yang lalu.

Pages