JANGKAT PROGRAM TAHFIDZ

google
Membaca postingan muhammad badaruddin dimedia sosial yang membagikan tulisan Selvie Stefani, novelis muda IAIN Antasari sekaligus manajer penerbitan Dreamedia bikin gregetan. Dalam ceritanya, Ia menulis pertemanannya dengan Lutfia Azizah sejak sekolah di Barabai yang suka bermain basket lalu berpisah sebab meneruskan pendidikan yang berbeda dan akhirnya ketemu kembali ketika berada dikampus yang sama yaitu IAIN Antasari saat penulis muda itu mengadakan seminar lounching novel terbarunya. 
Berselang beberapa purnama si penulis mengetahui kisah bahwa Lutfia Azizah dipersunting hafidz al-quran. Suatu kebanggaan baginya jika temannya itu dipersunting hafidz dengan maksud semoga tertular takdir yang menimpanya sampai ke liang lahat. Harapan mulia semua orang tua tentu ketika melihat anaknya bersanding dengan orang baik apalagi tahfidz. Tuhan menyediakan muslimah solehah hanya untuk muslim yang soleh supaya terbentuklah keluarga yang mawaddah, warahmah.
Sepertinya saya kenal tokoh dalam tulisan itu (Lutfia). Semestinya memang harus persoalan jodoh hati-hati dalam memilih. Terlepas itu adanya banyak kesamaan sehingga mereka menjalin hubungan pertemanan, pacaran dan akhirnya menikah. Sepasang mata membangunkan pertanyaan masih adakah masa sekarang hafidz al-quran?
Hafidz berarti hafal, hafidz al-quran merupakan orang yang hafal ayat-ayat al-quran. Sebagai orang IAIN, penulis selalu bersentuhan dengan buku agama yang ternyata menghafal al-quran itu sangat gampang akan tetapi memelihara hafalan itu yang sulit. Pernah mendengar di pesantren dulu bahwa menghafal al-quran dengan diniatkan menghafal sangat disayangkan bahkan sang ustad melarang sebab sulitnya mempertahankan hafalan itu dalam gerusan zaman yang kian rusak. 
Adakah masa sekarang hafidz al-quran?. 
Setiap kampus berlebel islam sekiranya memiliki program tahfidz. Bukan hafidz yang berarti hafal, tahfidz itu action, menghafal. Dalam program ini mahasiswa dijaring siapa saja yang bersedia tahfidz disediakan beasiswa. Mahasiswa yang memiliki bekal akan tertarik program ini tetapi benarkah mereka itu menginginkan (berniat) menghafal dengan kesungguhan hati atau karena tunjangannya menggiurkan serupa beasiswa! 
Sebagai mahasiswa produk TV, penulis menemukan ada banyak ustadz yang sedikit mengeluarkan dalil al-quran yang saya kira mereka hafidz atau tahfidz (hafidz karena program) yang ternyata begitu gampang mengkafirkan seseorang. Sepertinya program tahfidz berkesan menciptakan generasi penkafiran orang lain. Berbanggalah terhadap program ini 
Entahlah, pada mula masuk IAIN setiap mendengar ayat al-quran selalu ada keinginan menebak ayat itu ada di surah ini da nada disurah itu. Seakan hafal ayat itu sekalipun tidak pernah tahfidz. Dan saat ini tidak bisa lagi menebak ayat-ayat itu karena terlalu banyaknya dosa. Inilah kehawatiran yang tidak beralasan terhadap program tahfidz dengan penuh terharu, masih adakah mahasiswa yang tahfidz? Atau malah bertahfidz karena ada tunjangan yang menggiurkan berupa beasiswa. Hanya tuhan dan mahasiswa itu yang tau. 
Kenapa saya menulis ini? Entahlah. Yang jelas saya tidak akan meminang Lutfia Azizah karena sudah menemukan tahfidz 30 juz pada postingan Badarudin yang membagikan tulisan Selvia Stefani. Cuma saya merasa perlu dipertimbangkan niat awal mengikuti tahfidz ini apakah sudah sesuai dengan yang di inginkan islam bahwa manusia hendaknya memelihara kalimat tuhan; al-quran dalam hatinya. Tuhan pun rasanya sudah memberikan tempat khusus bagi para hafidz al-quran yaitu terpeliharanya dari api neraka. Siapa yang tidak mau terbebas dari siksa neraka? Setan pun enggan berada ditempat itu
Akhirnya, Marilah mendengarkan khotbah jumaat saudaraku mahasiswa. Apa yang disampaikan khatib saat berkhotbah? Caba sekali-kali mengikuti jumaat dan dengarkan dengan hikmat apa yang disampaikan, tentunya kalimat kafir-mengkafirkan akan terulang-ulang diucapkan terhadap orang lain sekalipun jelas kekafirannya. Setelah itu, dikukuhkan dengan dalil al-quran dan hadist yang meluncur secepat angin. Jika saya menganggap mahasiswa produk TV cepatlah saudaraku yang dimuliakan untuk menyatakan diri sebagai produk khotbah kampus. Sekalipun kita sama-sama produk IAIN Antasari Banjarmasin

Oleh : Ali

Pages