Skenario Allah Lebih Baik

Take in Google

Oleh : Muzakir Tamzid
Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa sudah 53 tahun aku menginjakkan kakiku di bumi ini, di dunia ini. 53 tahun seakan kemarin. Dan sekarang umurku barang kali tidak akan lama. Untuk itu aku banyak bersama keluarga. Menikmati hasil kerja kerasku waktu muda lalu.

Namaku Rahmat. Aku lahir dari keluarga yang standar. Maksudnya keluarga yang tidak miskin dan tidak pula kaya. Aku sangat bersyukur lahir di keluarga yang mengutamakan nilai agama. Ayahku meski hanya lulusan SD, tapi kalau soal agama. Jangan ditanya. Bisa dikatakan beliau cukup mempuni dalam hal agama. Apalagi ketika beliau membaca Quran. Enak sekali. Suara beliau yang meskipun tidak semerdu penyayi-penyayi, tapi tertil dan bacaannya yang bagus serta kepiawaian beliau menaikkan dan menurunkan nada membuatku yang mendengarnya merasa adem dan seakan ingin mendengar terus. Oleh karena itu, ketika beliau mengajariku membaca Al-Quran aku dengan sengaja melakukan kesalahan dalam membacanya. Sekedar ingin mendengar suara beliau.

Sedangkan ibuku lulusan dari pondok pesantren yang tidak jauh dari kampung kami. makanya aku banyak mendapat pengajaran ilmu agama yang banyak dari beliau. Kisah-kisah nabi-nabi terdahulu dan orang-orang shaleh selalu terderngar ditelingaku ketika aku akan tidur. Ibu adalah Madrasah pertama dan pondasi dari segala ilmu yang kudapat selanjutnya.

Aku juga mempunya saudara. Sejatinya aku mempunyai 4 saudara, tapi sebagian ada yang sudah menghadap Ilahi di usia kecilnya. Sejatinya pula aku anak ke tiga tapi, karena saudaraku yang tertua dan kedua sudah di panggil-Nya. Jadilah aku anak tertua. Adikku perempuan yang cantik. Dan pada akhirnya nanti, ia menikah dengan seorang Ustadz yang lulusan Al-Azhar.

Sedangkan aku menempuh perjalanan hidup yang lumayan berat. Serta berliku-liku. Banyak cobaan dan masalah yang kuhadapi sewaktu aku muda lalu. Dari masalah sekolah maupun cita-cita yang tidak tercapai. Pernah juga aku di tangkap polisi karena dituduh mencuri.

Masalah yang paling aku ingat dan selalu melekat di benakku adalah masalah kuliah. Aku sangat ingin kuliah, tapi keadaan ekonomi orang tuaku yang waktu itu sedang bermasalah membuatku tidak kuliah dan tertahan satu tahun. Sayangnya aku ditakdirkan untuk bersabar lagi. Karena adikku yang juga ingin kuliah. Aku sebagai kakak tertuanya harus mengalah dan membiarkan ia lebih dulu. Di tahun berikut dan sampai selanjutnya aku tidak kuliah. Sampai sekarang aku tidak pernah merasakan bangku kuliah. Tapi aku di kirim oleh orang tuaku ke pesantren.

Awalnya aku kesal dan berontak. Bahkan awalnya aku mengurng diri di kamar. Setelah masuk ke pesantren pun aku masih merasa kesal. Dan kekesalanku itu terus ada di hatiku selama satu semester. Semester berikutnya aku merasa plong dan merasa baru bangun kembali. Sebab aku senang dengan kenyataan yang ditetapkan-Nya. Dengan kenyataan bahwa aku di kelilingi oleh orang-orang yang tenang hatinya walau badah menghantam, aku senang karena aku dikelilingi oleh orang yang di dialam hatinya ada Allah swt. dan Rasul-Nya.

Rasa kesalku hilang bukan tanpa sebab. Semua terjadi secara bertahap. Pelajaran-pelajaran pesantren yang notabane-nya adalah ketauhidan membuatku merasakan betul tentang arti ketuhanan. Tentang arti hidup ini. Semua Ustadz yang pernah masuk ke kelasku dan menjelaskan pelajaran selalu menghubungkan itu dengan Tuhan. Akibatnya di kepalaku selalu terngiang-ngiang nama-Nya.

Dan Alhamdulilllah, atas kehendak-Nya aku sadar bahwa sekeras apa pun aku ingin kuliah jika Allah swt. menghendaki aku di sini maka itu tidak akan pernah bisa mengubah ketetapan-Nya.Kuterimakenyataan itu sekarang.

Meskipun terkadang masih saja ada terbesit di hati untuk kuliah, namun hal itu segera hilang. Sebab Ustadz-Ustadz yang mengajariku menyumpaliku dengan ilmu ketenangan, ilmu agama. Tentang Islam, Al-Quran, As-Sunah, Nabi Muhammad saw., sahabat-sahabat Nabi saw, dan ulama-ulama dulu.
Sekarang Alhamdulillah, aku sudah sukses. Aku punya toko bahan bangun yang cukup besar dan sukses sehingga mampu membuatku mencukupi kebutuhan keluargaku serta menunaikan rukun islam yang kelima. Semua karena Allah swt., Allah sudah mengatur segalanya.