MEMAKNAI HAULAN DI SEKUMPUL


     Melihat banyaknya antusias masyarakat Kalimantan Selatan pada umumnya dan Mahasiswa IAIN Antasari pada khusunya, terhadap pelaksanaan haulan Abah  Guru Sekumpul yang ke-11 (10/04) tadi malam. Saya sebagai salah satu jamaah yang ikut menghadiri acara tersebut pun sangat gembira. Pasalnya acara haulan tersebut disambut positif oleh ribuan jemaah dari Kalsel bahkan dari luar negeri.

    Tujuan acara memperingati haulan tersebut tentulah positif, bahkan perencanaan pelaksanaannya pun sudah dilakukan jauh hari. Secara harfiah tentulah acara tersebut akan menjadi ladang amal bagi jamaah yang menyumbang tenaga ataupun materi demi kelancaran acara tadi malam. Namun yang sangat saya sayangkan, pada saat acara inti dari haulan tersebut, yaitu dzikiran dan pembacaan doa haul, kebanyakan jamaah malah berbondong-bondong pergi dan berjalan pulang.

     Pada saat habsyian berlangsung pun, tidak sedikit saya liat banyak jamaah yang mengobrol, main Handphone bahkan berjalan kesana-kemari. Ini bukanlah salah dari acara atau pun konsep acara, namun ini murni kesalahan dan kekurang tahuan jamaah tentang pentingnya mengkhusyui acara tersebut. Bukankah niat kita pergi ke acara tersebut untuk ibadah?, berkumpul bersama para ulama dan waliyullah dalam satu majelis sambil melantunkan syi’ir habsyi dan dzikir?, serta sholat berjamaah dan mengirimkan do’a kepada waliyullah yang kita hauli ?.

    Banyak fenomena yang saya temui pada saat acara berlangsung tadi malam. Bahkan ada juga fenomena unik yang dialami teman saya sebelum keberangkatan ke Sekumpul. Ketika itu teman dari teman saya bertanya kepada teman saya tentang keberangkatannya keacara haulan tadi malam. Kemudian teman saya menjawab tidak pergi, dan teman saya bertanya juga kepada dia dengan pertanyaan yang sama. Kemudian temannya menjawab iya, dan teman saya bertanya dia pergi dengan siapa keacara haulan tersebut. Kemudian temannya menjawab pergi dengan PACARnya.

     Sungguh unik dan aneh kalau kita perhatikan lagi. Bagaikan menyatukan air dan minyak diwadah yang sama, yang seharusnya tidak boleh disatukan. Mencampurkan ibadah dengan maksiat yang sewajibnya tidak boleh dicampuradukkan. Sungguh unik dan lucu fenomena tersebut.

    Namun lepas dari kejadian itu, saya yakin masih banyak jamaah yang benar-benar khusyu’ mengikuti acara tersebut ikhlas karena Allah Swt dan karena cintanya terhadap Rasulullah Saw dan keturunan beliau. Semoga amal kita tadi malam diterima sebagai ibadah. Dan semoga semua jamaah memiliki niat yang benar, bukan hanya menjadikan acara tadi malam sebagai ceremonial atau ajang untuk gaya-gayaan bersama pasangan. (Reporter Muhammad Badaruddin )