Lukisan Senja Part 1

 
Taked in Google

by Hilal Muliadi

Pasir dan Leontin

Jingga dan lembayung di sore hari terlihat sangat indah diiringi dengan terpaan angin yang sejuk membuat seorang cewek yang tengah menyandarkan punggungnya pada ayunan itu terlena. Entah sejak kapan dia menyukai Senja dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Matanya yang mulai terpejam membuat pikirannya tak terarah dan dalam beberapa detik dia merasakan jiwanya yang tak berbentuk itu terbang kesebuah tempat yang ingin digapainya.

“Nathan”!!! maafkan aku”….. dan tiba-tiba suara pecahan kaca itu kembali jatuh dan pecah. Suara keras itu membangunkannya. “riana”, “Adriana” suara lembut itu membangunkannya dari mimpi buruk yang mulai menyergap setiap kali dia tertidur.
“kamu mimpi buruk lagi ri?” tanya kanya dengan raut khawatir. Riana mengangguk sempurna masih dengan tatapan kosong. Dan tiba-tiba tangan riana menggenggam erat tangannya.

“aku tak yakin aku akan bertemu dirinya lagi” ucap riana dengan nada putus asa.

****

Pantai Parangtritis

Seorang cowok berdiri tegap dengan tatapan sayunya. Seperti ada kata yang ingin disampaikannya pada semilir angin yang berhembus pelan. Menggesek daun-daun kelapa yang terlihat menguning dengan terpaan sinar Lembayung senja. Matanya tajam menyisiri bibir pantai yang tampak asyik bercengkrama dengan ombak. Apa yang dia nantikan ditempat ini? Atau ini keinginan hatinya. Entah senja keberapa dia ada disini masih tetap setia menemani matahari kembali ke pelukan malam. Satu tahun sudah kekasihnya menghilang tanpa kabar, tanpa jejak, tanpa kembali ketempat ini. Dimana terakhir kali dia mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang baginya memiliki sebuah rahasia besar yang disimpan kekasihnya. Kalimat yang menjadikannya hancur berkeping-keping dan membuat dirinya kehilangan apa itu itu perih, luka dan cinta. Semuanya telah remuk menjadi satu. Dia sangat kehilangan. Dewi pujaannya itu mungkin telah tenggelam bersama matahari yang sebentar lagi dipeluk malam.

“lupakan aku dan biarkan aku sendiri dalam senja”. Kalimat itu terakhir kali diucapkan kekasihnya pada Senja tahun lalu, dimana senja yang untuk terakhir kalinya bisa ia rasakan dengan seseorang yang sangat dia cintai.

****

“Nathan” dari mana saja kamu nak? ”. bu ririn menghampiri anaknya dengan nada kawatir.

“tadi Rossa mencarimu kemari, katanya ada yang ingin dia bicarakan mengenai pertunangan kalian”.

“iya bu” “maaf Nathan terlambat pulang”, Nathan tersenyum kemudian memeluk ibunya sebentar kemudian melangkah menuju kamarnya.

Bu ririn hanya bisa menatap sosok anak satu-satunya itu berlalu dari hadapannya. Tanpa niat memaksa anaknya dengan pertunangan itu tapi jauh dari lubuk hatinya bu ririn tidak ingin Nathan berlama-lam dengan luka masa lalunya. Nathan yang sekarang kuliah di UI tersebut memasuki semester 4 tanpa terasa setahun sudah anaknya melalui harinya dengan getir. Dulu bu ririn tak pernah sekawatir itu terhadap Nathan, namun semenjak kepergian cewek itu membuat satu perasaan yang tak bisa tergambarkan. Jujur dia akui, dia merasa sangat kehilangan setelah dia pergi. Perasaan kehilangan itu mulai berkurang ketika Rossa datang untuk mencintai anaknya walaupun Bu Ririn tahu anaknya belum sepenuhnya membuka diri setidaknya anaknya tidak merasa sendiri.

****

Café Mawar di malam hari

Perempuan cantik dengan atasan pink dan rok hitam itu tengah menantikan kedatangan seseorang. Kerudung pink yang menutupi wajahnya membuatnya terlihat semakin anggun dan cantik. Selang beberapa menit orang yang ditunggunya masuk melewati pintu café. Pandangannya tertuju pada seorang cewek yang bertubuh ideal dengan paras yang tak kalah cantik dan tampak lebih muda darinya. Yang membuatnya berbeda hanya rambut pendek diatas bahunya. Wajahnya yang tirus terlihat sangat cantik dengan rambut hitam pendeknya itu.

“Maaf atas keterlambatan Nayla, ka’ Maria”.
“kau tau kakak sudah lama menunggumu disini, aku takut orang-orang itu akan mengganggumu” ucap Maria dengan nada kawatir dengan memegang tangan Nayla.
“kamu terlihat begitu berbeda, orang-orang yang mengenalmu pasti meragukanmu”, “apakah ini Nayla yang mereka kenal dulu”.
Nayla tersenyum menaggapi komentar perempuan cantik di depan matanya sekarang, perempuan yang tiga tahun diatas usianya itu sudah dia anggap sebagai saudarinya sendiri. Nayla senang ketika tahu keadaan maria baik-baik saja bahkan lebih baik dari sebelumnya. Nayla berjanji dalam hati untuk selamanya melindungi Maria bahkan jika harus mengorbankan nyawanya sendiri.
“ bagaimana keadaan ka’ Maria sekarang ??”.
“seperti yang kau lihat, kakak baik-baik saja. Aku hanya mengkhawatirkan kamu sepanjang waktu Nay”.

Peristiwa itu masih membuat Maria takut dan kawatir kalau suatu saat orang-orang club itu kembali menemukannya dan menemukan Nayla. Dia tahu kehidupan Nayla menjadi sulit ketika dia hadir. Matanya tiba-tiba terasa berair Nayla telah mengorbankan semuanya buat dirinya bahkan nyawanya sendiri.

“maaf jika Nay membuat ka’ Maria kawatir, bagaimana perkembangan pengobatan kakak?, Dokter Ari memperlakukan kakak dengan baik kan??”

“ ya’, Dokter Ari selalu memperlakukan kakak dengan baik”, thanks Nay”. Maria tersenyum
“oky, kita makan malam dulu kak”, ini untuk merayakan kesehatan kakak”. Nayla membalas senyum Maria.

****

Maria memutuskan berpisah dengan Nayla sehabis meyelesaikan semuanya di Café tersebut sebelum ada orang-orang yang mengenali mereka. Dan setelah kepergian Maria, Nayla beranjak dari Café mawar melewati pintu depan. Tapi ketika melewati pintu,

Brukkkkkkkkkkkk “maaf” ucap Nayla dan bergegas meninggalkan Café. tanpa sengaja dirinya bertabrakan dengan seorang cowok. Karena warna Café yang tidak terlalu terang membuat Nayla tak sempat mengenali cowok yang ditabraknya.

Namun berbeda dari Nayla cowok seperti mengingat sesuatu. Walupun tangannya terasa sakit itu tak terlalu penting toh tadi dia sudah mendengar ucapan maaf yang tulus dari cewek itu.

Yang membuatnya berpikir adalah sesuatu di leher cewek itu. Bukankah itu Leontin Mawar yang dilihatnya dua tahun lalu………

”bukankah pemiliknya adalah….?????” Cowok itu bergumam tanpa sadar.

Bersambung……