KEMANA MAHASISWA BERPERSTASI BERLABUH?

Kami adalah kampus yang ‘terakditasi “B”’ di Kalimantan Selatan yang siap membantu mengatasi permasalahan di masyarakat sebab kami adalah lembaga yang mengembangkan konsep spiritual religius dan spiritual intelektual. Dan misi kami Kompetitif, Unggul dan Berakhlak (KUB)

Saya barangkali orang keseratus ribu mahasiswa yang mengatakan ‘kami’ terhadap kampus kita IAIN Antasari Banjarmasin. Bukan suatu kebetulan saya belajar di kampus hijau ini, namun karena saya merasa memang IAIN adalah tempat bagus untuk belajar yang mesti dilestarikan konsistensinya terhadap perkembangan zaman. Sebagai wadah yang dapat memberikan pengertian tantangan zaman yang kian sembrawuk ini, IAIN juga merupakan tempat menarik untuk berexpresi dalam menggali luasnya ilmu pengetahuan

Pada tulisan ini saya sedikit melirik potensial mahsiswa yang layak dijadikan teladan. Dalam bidang tertentu meskinya civitas akademika mempertimbangkan orang-orang yang berpotensial dijadikan ‘pembibitan’ dosen muda yang tentu lebih kentara dengan kampus kita ini. Mereka yang memahami segala sifat mahasiswa, atau cara mengatasi bentuk prilaku mahasiswa yang kurang baik dalam ranah keislaman barangkali supaya nantinya tercipta mahasiswa luhur dan mengerti  tugasnya sebagai manusia terdidik yang memikirkan masa depan bangsa

Sungguh, bukan niat untuk berceramah. Saya sih apa! Bukannya amino mengungkapkan jika budaya kita mendengarkan setiap apa yang disarankan oleh pihak berkepentingan; structural sejati adalah siapa anda. Dalam hal ini siapapun orang yang berbicara akan terpental dimeja bertuan kecuali ada intruksi ide brilian sang komandan. Seperti halnya system komunis, pesantren, dan kepolisian (tokoh sentral) yang gagal menegakan demokrasi. Buktinya, suara wong cilik di ibaratkan angin berlalu. Sedang apa yang digaungkan dia (jajaran petinggi lembaga; jabatan) merupakan kelayakan untuk segera direalisasikan dalam segala apapun. Entah itu melawan hukum atau apa saja yang jelas bapak menyetujui langkah ini. (masih ingat program mahasiswa pondok pesantren ? maaf, bapak minta saham) husst, diam. Setya Novanto sudah memundurkan diri dari jabatan ketua DPR. Titik

Pada mulanya, maksud dari tulisan ini memberikan alternative untuk beranjak kepermukaan pada tokoh si ‘andai’ istilah yang selalu benar dalam rumusan utopis. Andai saja mahasiswa yang berprestasi secara akademika dikontrak dalam rangka pembibitan dosen. Alangkah baiknya alumni yang sukses itu jika setelah diberi biasiswa magister bisa kembali ke fakultas yang memilih dia sebagai mahasiswa berprestasi.

Misalnya, Baru saja IAIN Antasari mewisuda ratusan mahasiswa strata ‘1’,( 2 dan 3) dan timbullah mahasiswa unggulan dari setiap fakultas dengan capaian prestasi akademika memukau seperti:  Selvia Santi, mahasiswa Perbandingan Agama fakulas Ushuluddin dengan IPK 3.84. sungguh luar biasa mahasiswa ini. Bagi penulis untuk mendapatkan nilai seperti ini benar-benar extra belajar dengan kesungguhan hati dalam mencapai kepuasan dan kebanggan keluarga (yang ini sebagian mahasiswa mengabaikan sih, kebanggaan pacar bagi yang tidak jomblo mungkin). Sebab dalam hal belajar tidak semestinya merasa puas terhadap pencapaian yang dibangun upaya membuktikan bahwa sang pemenang pasti juara. Dan Selvia Santi adalah juaranya dalam acara wisuda IAIN Antasari yang ke-59

Begitu juga dengan Raudatul Jannah, mahasiswa unggulan fakultas Syariah dan Ekonomi Islam dengan IPK 3.77. perlu penulis jadikan si tokoh andai. Bukan karena dia teman selokal penulis sehingga dia masuk dalam jajaran tokoh andai. Selengkapnya begini, Andai saja dia nantinya jadi dosen diprodi ekonomi syariah khususnya dan fakultas syariah umumnya akan memberikan suasana berbeda sebab apa? Dia adalah mahasiswa berlatar belakang religious, pernah belajar dipesantren dan memang mampuni (smart) dalam kesyariahan. Buku pegangan manajemen pemasaran yang tebalnya seperti kasur tidur karya Ali Hasan dia miliki apalagi RPP dosen yang entah macam apa itu efeknya pada mahasiswa. Buktinya? Dia dapat menyelesaikan studi hanya 3.5 tahun dan berhasil menyisihkan ratusan mahasiswa se-fakultas syariah. Maka dari itu, Perlu dipertimbangkan juga bahwa dia seorang aktivis UKK Pramuka yang prestasinya menyebrang lautan ke Provinsi Bangkulu dan bersama MAPALA (si andaipun menanggalkan premis negative bilanya aktivis mapala kependekan ‘mahasiswa paling lama) dia benar-benar mahasiswa unggulan yang mesti diperhitungkan untuk mengisi satu kursi kemualiaan fakultas syariah nantinya

Kenapa saya memposisikan dia asset berharga? Pertama, Karena begini, pengajar ‘PNS’ itu pekerjaan mulia sekalipun hanya anggapan penulis semata. Ada banyak serjana  pemegang gelar S.M.S-S dengan latar belakang tidak mampuni pada dua bidang kutub (pengetahuan umum dan agama) atau kurang mempedulikan kewarasan bahwasanya dia pengajar (1 smister masuk 4 kali pertemuan merupakan kewarasan yang hakiki, entah kesibukannya melebih analisa kritikus politik, sastra dan komentator bola) dengan santai jadi pengajar karena sudah terjaring secara ketat atau dan mendapatkan lisensi PNS bertindak hanya untuk mengisi absen. Dalam artian tidak membawa suasana belajar mahasiswa menyenangkan apalagi membangun suasana pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan yang oleh ahli pendidikan disebut PAIKEM. Paikem itu kan system pendidikan di sekolah, jadi tidak layak diterapkan di dunia akademik. Oke

Kedua, pada tulisan terdahulu (jurnal analisa II fakultas syariah) penulis menyebutkan bahwasanya pengajar di fakultas Syariah bukan alumni ilmu pendidikan sehingga dalam mengajar kurang berkreasi dalam menciptakan kelas yang menyenangkan. Jadi, si andai di atas barangkali memiliki banyak pengalaman yang bisa diterapkan untuk fakultas syariah masa depan sebab organisasi merupakan wadah memperkaya kreatifitas mahasiswa termasuk cara membangun komunikasi, korelasi dan bentuk penunjang lainnya yang bisa membawa seseorang kepuncak yaitu prestasi. Prestasi merupakan keagungan yang tidak bisa diganggu gugat. Ketimbang saya tidak ada prestasi, suka kritik sana-sini mua minta biasiswa prestasi (3.60 patokan biasiswa DIPA 2016). Ya tidak akan ada tawaran

Ketiga, suasana mulai berbeda pada alasan ini. Sebab awamnya mahasiswapun sudah ‘akan’ mengerti jika kebanyakan pengajar non PNS yang insyaallah nantinya akan jadi PNS kebanyakan dari satu kaum. Segolongan bendera tertentu sehingga apapun bisa terjadi asal dari kaum kita. Apa salahnya? Tokoh si andai yang berbeda mencuak. Nah, Andai ada kasus, konflik misalnya tidak akan mencuak kepermukaan karena upaya kordinir secepat kilat menutup rapat dengan alasan karena itu kaum kita juga. Terus! Akur sajalah

Apapun yang ada dalam tulisan ini adalah keresahan penulis yang kesepian (lebih tepatnya jomblo) sehingga teman terbaiknya berupa gawai dan kertas yang oleh Mujiburrahman disebut “sendiri bersama-sama (ponsel)”. Sedikit saya mengutif tulisan sang profesor itu “Suatu ironi yang nyata. Meminjam istilah Ishak Ngeljaratan: mereka bersama, tetapi tidak bersesama. Untuk dapat berempati, manusia perlu berinteraksi langsung dengan manusia konkret, bukan melalui benda. Untuk memahami orang lain, sesekali orang perlu menyendiri dan merenung, melepas ponselnya” kolomnya di surat kabar (Banjarmasinpost 25/4/16)

Kemudian, konteks tulisan di atas barangkali beliau mengajak orang untuk berkomunikasi secara tatap muka, dalam artian jika ada masalah dimusyawarahkan dan carikan solusinya secara bersama. Maka tafsirannya, Jangan menulis kritikan dalam bentuk surat ataupun berbagai cara dan bentuknya. Akhirnya, mestinya disadari bersama bagaimana melestarikan budaya menulis (pers) sebagai sarana demokrasi ke-4 yang sebenarnya. Semoga terampuni amin..,

Oleh : Ali