Rabu, 06 April 2016

JADI DIRI SENDIRI DENGAN KEMBALI KEFITRAH

        Waktu main game tadi malam dikost, gak sengaja denger temen yang diskusi tentang kata “jadilah diri sendiri”. Mereka berpendapat, manusia itu dilahirkan dengan fitrah masing-masing, laki-laki sebagai laki-laki dan perempuan sebagai perempuan.

      Saya setuju dengan pendapat mereka, tapi mereka tidak mendiskusikan bagaimana cara agar manusia menyadari fitrahnya tersebut. Karena sudah bukan rahasia lagi, kalau jaman sekarang banyak terjadi transgender, biseksual, serta hampir tiadanya batas antara laki-laki dan perempuan.

    Salah satu cara agar manusia menyadari fitrahnya tersebut ialah dengan cara “jujur pada diri sendiri”. Jujur bahwa dia diciptakan sebagai laki-laki dan harus jadi laki-laki, jujur bahwa dia diciptakan sebagai perempuan dan harus jadi perempuan, jujur bahwa dia diciptakan sebagai hamba Allah dan dia harus sujud padanya 17 kali sehari, jujur bahwa dia diciptakan sebagai khalifah dan dia harus menjaga alam dengan baik.

    Zaman sekarang banyak anak mudanya yang tidak tau akan dirinya sendiri, sehingga ketika mereka dalam proses mencari jati diri, mereka malah terjerumus dalam lembah hitam. Disinilah manusia perlu diingatkan kembali tentang fitrahnya dan harus jujur pada dirinya sendiri bahwa itulah dia, sebagai itulah dia diciptakan.

    Banyak kasus disekitar kita, ketika seorang wanita tomboy diingatkan bahwa dia harus berperilaku sebagaimana perempuan kebanyakan. Tapi dia malah bilang kalau dia tidak ingin jadi orang lain, dia ingin jadi dirinya sendiri. Justru hal seperti tomboy dan semacamnya itulah yang bukan dirinya, karena dirinya sebenarnya adalah perempuan yang diciptakan Allah dengan segala kelembutan dan kasih sayang, bukan malah berperilaku sebaliknya.

    Apalagi baru-baru ini lagi heboh tentang LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) yang sudah merebak kedunia akademisi.  Untuk itulah pentingnya jujur pada diri sendiri, jujur dengan fitrahnya sebagai laki-laki dan perempuan yang diciptakan untuk mengisi kekurangan masing-masing, bukan untuk saling memasuki dunia yang lain.
By; M.Badaruddin

Jejak Redaksi

Labels