Best Friend Forever


                                                                     Oleh Siti Aprily Astuti

Bangunan berisi limpahan ilmu yang ku rindukan selama dua bulan terakhir, kini berdiri dengan gagah di hadapanku. Mataku tidak henti-hentinya menatap kagum dengan gedung perpustakaan milik Harvard University ini. Lama sudah ku tak berdiri di rerumputan di sini, sembari merasakan angin yang terus menggelitik ke dalam pori-pori kulitku, aku mengenang kejadian –kejadian sebelum aku berbaring di kasur putih nan dingin milik Rumah Sakit, koma yang membuat aku seperti hidup di dalam tubuh orang mati.

“Hei… Kapten!” tepukkan keras di bahuku menyadarkanku.

“Emm… Siapa ya?” ku buat wajahku seserius mungkin lantas membenarkan letak kaca mataku.

“Kau itu hanya koma,kan? Tapi apa kamu juga amnesia? Aku ini Dany, D-A-N-Y!” ucapnya tampak kesal.

“Maaf, sepertinya aku lupa.” Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Di mana kepalamu? Sini ! biar aku benturkan ke tembok!” tangan Dany coba meraih kepalaku tapi aku berusaha menghalanginya.

Aku terbahak melihatnya melakukan itu, dia terlalu mudah untuk dibodohi.

“Bodoh! Jelaslah aku ingat, kau orang yang paling hebat nomor dua di bawahku!” aku masih saja terbahak saat mengucapkannya.

“Sial! Heh… kalau saja kau tidak baru sembuh dari sakit, kau mungkin akan mati hari ini, Alex.”

Dia mulai melangkah dari hadapanku dan aku hanya membuntutinya.

“Cih, kau ingin membunuh si sabuk hitam taekwondo sepertiku? Hanya dalam mimpimu, Dan.” Aku menepuk pundaknya beberapa kali menandakan rasa simpatiku terhadapnya yang tidak bisa berkelahi sedikit pun, bahkan untuk membunuh kecoa pun dia tidak berani.

“Baiklah. Aku mengaku tidak sehebat dirimu dalam hal itu, tapi aku hebat dalam hal ini…”

Tangannya mulai bermain gitar di udara, wajahnya berusaha menghayati seakan dia benar-benar bermain gitar sungguhan.

“Ya! Aku juga mengakui hal itu.” Aku memaklumi kelakuan bodoh manusia satu ini.

Kami pun melangkah beriringan menuju lokal, sudah lama tidak masuk kuliah rasanya sedikit canggung jika harus berdiskusi dengan yang lain. Jadi, hanya aku berbincang ringan dengan Dany dan tidak memperdulikan hal yang lain.

“Hahaha…” tawa ku meledak sesaat mendengar banyolan Dany.

“Alex, tolong berikan kesimpulan mengenai diskusi ini?” pertanyaan dosen membuatku seketika menutup mulutku rapat-rapat.

    Semua memandang ku yang duduk paling belakang bersama Dany, tatapan aneh mereka membuatku semakin terpojok.

“Anu… Ya… seperti itu lah, Pak” ku garuk kepala yang tak terasa gatal sama sekali.

“Makanya perhatikan teman-temanmu saat diskusi jangan sibuk sendiri.”

    Aku hanya mengangguk, sedang Dany yang ada di sampingku hanya tertawa meledek. Sial!. Bagaimana pun juga suasana kampus tidak berubah sama sekali, aku pun masih sibuk dalam latihanku dan Dany sibuk dengan kumpulan lagu-lagu yang telah ditulisnya selama bertahun-bertahun itu.

“Kau ini habis koma, kenapa harus latihan berat-berat seperti ini? Apa penyakitmu tidak kambuh lagi?”

Dany menatapku khawatir saat melihatku terbaring setelah latihanku.

“Ini cuma latihan ringan, lagi pula hatiku… eh, tidak hati orang baik ini sudah beradaptasi dengan tubuhku.

Terima kasih sudah khawatir.” Aku menyenggol bahunya pelan.

“Cih, khawatir apanya? Jadi kemarin kau transplantasi hati?”

    Aku mengangguk dan Dany tersenyum ikhlas.

“Baguslah, jaga hati itu baik-baik jangan seperti sebelumnya. Lex”

“Baiklah!” aku tertawa mendengar ucapannya itu.

    Ponsel Dany berdering dan getarnya dapat ku rasakan karena ponselnya diletakkan di meja yang kami duduki sekarang, Dany membaca pesan singkat itu dengan serius ekspresinya terlihat berubah-ubah. Lalu dia menatapku lekat-lekat, aku merinding dibuatnya.

“Alex,bagaimana ini?!” Panik, itulah yang sekarang tergambar dari raut wajah Dany.

“Kenapa?” Aku coba bertanya padanya.

“Seminggu lagi Harvard got talent, aku ingin tampil tapi tidak bisa. Kau gantikan aku,ya?”

    Aku melongo tidak mengerti, kenapa dia tidak bisa tampil dan mengapa harus aku yang menggantikannya? Aku bahkan belum lancar bermain alat musik.

“Kau sama saja menyerahkan mimpimu ke neraka, Dan.” Aku berucap datar.

    Dany berpikir sebentar dan dia mengangguk mengiyakan apa yang aku katakan sebelumnya.

“Kau setuju,kan? Makanya cari yang lain saja,okay?”

“Tidak, hanya kau saja yang bisa. Jadi ku mohon! Hanya untuk kali ini saja, aku jamin ini yang terakhir.”

    Dany merengek-rengek, dia ini anak band berwajah seperti preman dan hati layaknya Dora, kau harus melakukan apa pun yang dia minta meski dia bilang itu yang terakhir itu tidak akan pernah menjadi terakhir.

“Kalau aku mau melakukannya kau akan memberiku apa?”

“Sejuta tips untuk mendapatkan pacar, mungkin?”

    Dia terbahak sedang aku hanya menatapnya datar dan terakhir jitakan kecil mendarat mulus di dahinya.
“Pacar saja yang ada di otakmu,” Aku memadangnya kesal.

“Sudahlah, aku hanya bercanda saja. Aku berjanji akan melakukan apa pun yang kau minta, tapi kali ini saja kau gantikan aku. Masalah alat musik aku akan mengajarimu sampai kompetisi diadakan, jangan khawatir karena kau sudah punya sedikit ilmu tentang gitar pasti kau akan berhasil, Lex!” Dany menjelaskannya dengan penuh semangat dan aku hanya memandangnya dengan tatapan ‘yakin?’, dia mengangguk mantap.

“Aku yakin seratus satu persen!” ucapnya sigap.

    Aku kembali ke apartemen bersama Dany, dia bergegas menarik kursi berhadapan menyuruhku agar duduk di hadapannya. Tangannya meraih gitar miliknya dan menaruh itu di pangkuanku.

“Kau yakin? Aku hanya bisa memainkan kunci dasar, sedang kompetisinya sudah di depan mata.”

Wajahnya menatapku serius, ada perasaan penuh harap di matanya, berbeda dari tatapan biasanya. Aku hanya berpikir “Ada apa? Apa yang menghalanginya hingga dia tidak bisa muncul dikompetisi ini?”.

“Aku yakin karena kau adalah teman yang melebihi saudara bagiku, aku tahu ini terlihat memaksa, tapi hanya kau yang bisa ku andalkan dan juga kau adalah pekerja keras. Aku yakin kau bisa membawakan Canon Rock by Jerry C!” Dany memegang bahuku dan menepuknya beberapa kali.

“Kau gila? Canon Rock? Ini bukan permainan Guitar Hero, Dan!” Bercandanya memang sangat kelewatan.
“Aku sudah bisa,kok! Tenang saja,”

“Walau pun kau bisa, belum tentu aku juga bisa!”

“Aku hanya perlu tubuhmu, mengerti? Hanya itu, jadi latihan lah yang keras!”

    Lagi-lagi dia menepuk bahuku, kemudian berlalu meninggalkan aku dengan gitar yang mulai menghantuiku sekarang.

    Dua, tiga hari. Aku terus-terusan latihan dengan keras bersama Dany, dia mengajarkanku semua kunci dan teknik bermain gitar dari yang easy hingga yang hard, sampai jari-jariku serasa mati rasa dan membiru. Hal itu terus berlangsung hingga sampai pada hari H.

“Apa kau yakin aku akan mampu membawakan Canon Rock?”

“Tentu, kau sudah berlatih, kau sudah liat video nya dan kau sudah mempraktekannya. Aduh… sudah berhenti bertanya hal itu, aku sudah puluhan kali menjawab pertanyaan yan sama. Jadi, percaya dirilah. Kau mampu,Okay?”

    Aku hanya pasrah menerima jawaban yang sama berpuluh-puluh kali, aku benar-benar bingung dengan jalan pikirnya.

“Semangat, Alex! Aku akan menunggumu di rumah nanti, sekarang aku harus pergi menyelesaikan urusanku juga,” Dany pun bergegas melangkah keluar dari apartemen tanpa menoleh kepada ku.
“Dia benar-benar menyebalkan” gumamku kesal.

    Kini aku menatap panggung dengan perasaan campur aduk, tangan ku sudah berkeringat, baru kali ini rasanya aku merasakan hal seperti ini, mungkinkah ini cinta? Ah… bukan ini namanya demam panggung.
“Peserta selanjutnya Alex Kim, selamat menyaksikan,”

    Aku melangkah perlahan ke tengah panggung, mataku berpendar mengelilingi tempat duduk yang penuh dengan penonton itu, mereka bertepuk tangan sesaat dan hening tercipta setelahnya. Rasanya ingin sekali Ayah dan Ibu bisa datang ke sini, tapi Korea sungguh jauh dari Amerika dan mereka baru saja pulang tiga minggu yang lalu setelah melihatku pulih dari penyakitku.

“Baiklah, ini saatnya!” Aku berbicara pada batinku sendiri, mengisi kepercayaan diriku dan berusaha untuk mengingat semuanya.

    Tanganku sudah menyentuh seluruh senar gitar dan semuanya tiba-tiba seakan seperti slide yang menampakkan wajahku dan Dany ketika kami bertemu pertama kali saat masih di sekolah dasar serta bagaimana kami menghabiskan hari-hari dengan hanya bermain game dan akan sibuk ketika ujian menghadang. Aku tersentak ketika semua orang berdiri dengan tatapan kagum dan tepuk tangan yang meriah, mereka bersorak untukku? Tapi entah kenapa rasanya aku seperti tidak melakukan apa-apa.

    Hasil penilaian diumumkan sekitar 15 menit setelah peserta terakhir tampil, kami semua menunggu dengan gugup, aku tidak terlalu memusingkan tentang juara-juara ini, asalkan aku sudah memenuhi apa yang Dany inginkan selama ini, aku pikir sudah cukup dan aku berharap suatu saat nanti akan bermain bersamanya.

“Selamat kepada Alex Kim yang telah menjadi juara pertama dalam Harvard got talent pada tahun ini!”

    Seketika saja aku melotot tak percaya kepada MC dan dia hanya mengerdikkan bahu, hal yang benar-benar tidak disangka, ini harus dirayakan dan Dany harus mengetahuinya sekarang. Bergegas setelah aku menyelesaikan segala urusanku di gedung itu, aku pun kembali ke apartemen demi bertemu Dany, yang katanya akan menungguku di sana.

“Dan…! Kau tidak akan percaya apa yang aku…da…pat” Untuk sementara waktu aku terhenyak, apartemen ini entah kenapa terasa sangat hening.

“Dan?” Aku kembali memanggilnya tapi tetap tidak ada jawaban.

    Aku mencoba untuk meneleponnya, tapi tidak ada jawaban. Aku berusaha mencarinya di sekitar apartemen, tapi nihil. Hingga aku tiba di perempatan jalan yang berjarak 200 meter dari apartemen, aku menatap seseorang yang berada di seberang, ia tersenyum, senyum yang sangat tenang, aku balik tersenyum dan setengah berlari menghampirinya, tapi aku terhenti dan ku lihat Dany seakan debu yang hilang tertiup angin dengan senyumnya yang terus mengembang. Setelah itu, pandanganku gelap, aku tak sadarkan diri.

    Aku terbangun dan ku dapati diriku terbaring di ruangan putih yang sangat tak asing bagiku, hanya saja kali ini perawatnya berbahasa Korea bukan Inggris dan sekali lagi aku sadar bahwa aku berada di ‘rumah’.

“Alex” sapaan berat itu benar-benar tak asing.

“Dany?”

Dia tersenyum itu memang dia.

“Hei, aku mencarimu ke mana-mana. Kau tahu? Kita memenangkan kompetisi, rasanya menyenangkan juga,” kini posisiku tengah duduk menghadapnya yang berdiri di depan brankar.

“Terima kasih, berkat kau mimpiku bisa terwujud, aku bisa pergi tenang sekarang. Maaf hanya menjadi beban dihidupmu, aku benar-benar bisa berteman denganmu. Kau adalah teman terbaikku selamanya, aku benar-benar yakin tidak ada yang bisa memisahkan kita selama ini, tapi aku salah karena kematian lah yang memisahkan kita sekarang. Aku akan menunggumu, berbahagialah,okay? Aku pergi!”

    Setelah berucap seperti itu, Dany melangkah perlahan dan berjalan memunggungiku. Aku berusaha untuk mengejarnya, tapi kakiku benar-benar sulit meski hanya untuk bergerak. Aku terus berteriak memanggil namanya, hingga dia menghilang di balik pintu. Pandanganku kembali menghitam, hingga ku dengar seseorang memanggil namaku kembali.

“Alex?” Pandanganku masih kabur, tapi dari suaranya aku yakin itu suara Ibu.

“Ibu?”

“Ya, Alex. Ini Ibu, kau sudah sadar? Apa kau merasa ada yang sakit?”

    Pandanganku makin jelas dan terlihat jelas tatapan khawatir dari Ibu, mataku berpendar menatap sekeliling di sana juga ada Ayah dan Adik perempuanku serta orang tua Dany.

“Paman? Di mana Dany?” Aku berusaha mengubah posisiku menjadi duduk,
    Semua menatapku dengan tatapan nanar.

“Dia sudah pergi, Alex.”

    Aku menatap mereka dengan raut bertanya “Apa maksudmu?”

“Dany sudah meninggal, Alex. Dia meninggal satu bulan yang lalu, ketika kau masih koma di rumah sakit, dia mengalami kecelakaan dan dia meninggal di tempat.”

“Tapi… Bagaimana mungkin? Aku bersamanya selama tiga minggu ini dan aku… aku merasa dia nyata, dia terlihat hidup.” Aku benar-benar tidak bisa menerima ini dengan akal sehatku, aku benar-benar tidak mengerti, apa benar? Jadi selama ini aku bersama siapa?

“Aku tidak bisa menjelaskan hal itu juga, tapi yang ku tahu pasti hati Dany sekarang ada di dalam tubuhmu. Kau tahu kan’? Dany orang yang sangat khawatir padamu, mungkin dia ingin memastikan hati itu berfungsi padamu. Sekarang, dia telah damai di sana”

    Aku hanya menatap kosong ke depan, aku bahkan tidak bisa mengontrol otakku. Apa aku salah dengar? Tidak mungkin, Ayah Dany adalah orang yang jujur. Jadi, apa ini semua? Kenanganku selama tiga minggu ini berkelabat di pikiranku dan aku menyadarinya lagi kata-katanya waktu itu seperti sebuah pesan-pesan terakhirnya padaku serta kompetisi itu, itu adalah keinginannya yang belum pernah terwujud dan dia ingin mewujudkannya bersamaku.

    Kini dua bulan sudah sejak kejadian itu, aku kembali ke Amerika dan kuliah seperti biasa, aku melangkah ringan di sepanjang koridor, kini tidak ada lagi orang yang akan membuat kegaduhan di sampingku, kini tidak ada lagi preman dengan hati Hello kitty, kini hanya tersisa hatinya yang terus hidup di dalam tubuhku.

“Kita sahabat bagaikan saudara, orang pikir kita tidak normal, siapa peduli? Kita sama-sama menyukai perempuan,’kan? Orang tidak tahu juga tidak masalah. Kau sahabatku dan aku sahabatmu, kita tidak terpisahkan oleh apa pun kecuali kematian. Janji seorang laki-laki.”
–Dany & Alex–


The End