Sabtu, 30 April 2016

AUDISI VS PRESTASI

Manusia diperintahkan tuhan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Tuhan menggambarkan perintah itu dalam al-quran surah al-asry ( waktu). Ayat yang ditegaskan dengan sumpah tuhan ini sebagai bentuk posisi manusia yang sebenarnya “sungguh manusia dalam kerugian yang besar, kecuali orang yang beriman dan berbuat kebaikan” 
 
Ayat yang umum bagi kita ini tentu bagaikan seorang berdiri dikerumunan manusia pada hamparan luas kemudian menatap kelangit. Ia hanya menemui awan, mungkin bintang atau matahari disana. Sedang disekelilingnya sebuah kebisingan yang tidak tau suara apa, pastinya suara dunia mengajak ia bertamasya dalam keramaian
 
jika hamparan luas itu di ibaratkan lembaga pendidikan, maka orang itu adalah siswa yang menatap masa depannya. Siswa digiring oleh mimpi masa depan cerah dengan berbagai pekerjaan yang menunggu sedang itu hanya sarana utopis yang diperlombakan supaya memiliki tempat yang pasti. Didalam kelas siswa diperintahkan berlomba-lomba dalam mendapatkan nilai yang bagus dan nantinya difasilitasi beasiswa. Kalau manusia yang berlomba puncaknya fasilitas pahala (surga) sedang siswa puncaknya prestasi, nilai (beasiswa)
barangkali terlalu sembrono pengibaratkan ini. Tetapi coba kita sejenak memperhatikan kembali apa yang dikerjakan siswa, peserta didik hanya melakukan rutinitas pendidikan seperti mengerjakan tugas rumah (PR) makalah, presentasi dan lain sebagainya. Beramah (cium tangan guru bolak-balik), membawakan alat belajar pengajar merupakan perbuatan baik yang bisa dijadikan pertimbangan nilai sehingga puncak dari pendidikan itu adalah nilai dan oleh pengajar di anggap pencapaian prestasi. Hanya peserta didik seperti itulah yang boleh diberi penghargaan atas capaian nilai
 
mengukur pola prestasi siswa
 
mestinya tidak melulu nilai itu prestasi, harus ada pertimbangan lain yang bisa peserta didik diberi penghargaan atau apresiasi yang bisa memancarkan isensi (makna) dari suatu proses. Misalnya kiprah peserta didik dalam menfasilitasi belajar untuk membangun sarana pengetahuan yang bisa dipergunakan pada masa depannya seperti komunitas melukis. sebuah kisah pada masa Nabi Muhammad, ada seorang budak Arfika yang hitam tetapi diangkat oleh Nabi atau orang disekelingnya sebab memiliki suara indah dan keras. Budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar lebih dikenal dengan nama Bilal bin Rabah. Kelebihannya budak ini hanya suara indahnya (diperlukan untuk adzan) dan ia tetap dalam menjalani proses perlombaannya sebagai seorang hamba yang beriman. Sekalipun dalam proses perlombaannya tidak sebaik Sayyidina Ali, Ustman bin Affan. Nabi Muhammad pun memberi tenpat yang baik disampingnya. Ia menjadi orang paling utama berkabar ketika masuk waktu sholat. Penulis kira tuhan pun akan memberikan apresiasi yang luar biasa terhadapnya. Nilai lebih yang dimilikinya tentu merupakan prestasi bagi orang yang tidak bersuara indah sepertinya
 
masyarakat tradisional (penganut mistik seperti NU) beranggapan jika di makam Sunan Ampel (wali Songo) ada seorang abdi (pekerja) yang mati mendahului Sunan Ampel, akan tetapi ketika dibutuhkan oleh Sunan misalnya untuk memperbaiki genting musalla yang bocor secara tiba-tiba abdi ini datang. Dia dikenal banyak makamnya sebab berulang-ulang mati yang hidupnya untuk menemani kebutuhan sang sunan. Pengabdiannya itu menurut cerita diangkat anak sang sunan dunia akhirat.
 
barangkali dari kisah ini yang mengantarkan Rudy Arifin menjadi Gubernur dua priode Kalimantan selatan. Sebab pengukuran prestasi yang di agungkan kepublik ketika dia mencuak sebagai orang yang oleh Guru Sekumpul (Zaini Bin Abdul Ghani) di ambil anak dunia akhirat. Apakah nilai seperti ini yang disebut prestasi? Tentu pestasi bukan itu. Akan tetapi prestasi merupakan seperangkat yang dimiliki seseorang pada bidang tertentu. Seperti halnya Rudi Arifin di pemerintahan sebab kinerjanya dalam bidang tertentu yang barangkali baik menurut masyarakat dan menempatkan dia di puncak untuk kedua kalinya.
 
Akhirnya, apapun tolak ukur untuk menetapkan seseorang berprestasi tetaplah nilai yang dibangun dari kinerja. akan tetapi perlu dipertimbangkan kembali prestasi bukanlah nilai pencapaian. Mesti ada banyak neraca dalam menentukan seorang di anggap berprestasi. Begitu juga dalam pendidikan. Peserta didik janganlah dibentuk kompetisi yang di iming-imingi prestasi serupa pemberian beasiswa jika berhasil mengumpulkan nilai tertinggi, atau setingkat dibawahnya. Akan tetapi biarkanlah bebaskan nilai yang dimiliki peserta didik mengalir begitu saja dalam dirinya dengan begitu kompetisi hanya bagian kesenangan yang membahagiakan.
 
Dengan begini barangkali kesan yang terjadi dalam proses belajar peserta didik bukan layaknya audisi yang ada di acara televise nasional dengan tema ‘audisi pencarian bakat’ bahwa selesainya audisi peserta terjaring satu pemenang. Ditemukannya sang juara selesailah nilai yang dipersembahkan oleh peserta audisi. Sehingga orang yang membangun diri menurut kesenangnya tidak terfasilitasi. Hendaknya lembaga kita lebih mengapresiasi setiap apa yang dibangun oleh peserta yang didukung dengan pengadaan fasilitas untuk membanggakan lembaga itu sendiri
 
Oleh : Ali

Jejak Redaksi

Labels