Mahasiswa demo PLN ? Apa kabar bangunan IAIN di Banjarbaru!!!

Saya bukan siapa-siapa dikampus hijau ini. beberapa hari yang lalu saya menulis dosa mahasiswa jomblo di portal www.lpm sukma.com, membuat saya kebelet menulis lebih keluar. Kalonya yang sudah kampus dan awak lpm sukma, saya akan menulis mahasiswa ke mahasiswa dan mahasiswa lagi.

Pada kenyataannya, mahasiswa saat ini dipertanyakan agent of change, agent control  social dan lebel lainnya yang selalu melekat. Diberbagai kampus, aktivis kampus  seakan ‘mati suri’ istilah yang dipakai oleh sisa-sisa aktivis idialis kayak lembaga pers.  Anggapan itu memang benar, gerakan mahasiswa tidak segarang masa orde baru dan orde lama.  Namun saya tidak membenarkan semuanya aktivis kampus mati suri. Faktanya di kampus hijau kita ini masih ada DEMA SYARIAH dan Lsisk (Jika salah penulisan saya minta maaf, mahasiswa kupu-kupu hanya tau info sekitaran fakultas dan lorong pulang kost). Seperti ajakan saudara Zainul Muslihin kepada teman mahasiswa untuk turun jalan dimedia sosial. Ajakan itu baru saya ketahui saat membuka medsos dan saat itu pula Mata saya malah melek sekalipun tidak minum Kapal Api Duo.

Dalam isi ajakannya itu landasan pikirannya benar-benar keperihatinan mahasiswa akibat sering matinya lampu atau pemadaman bergilir tanpa emosi akibat batre HPnya habis, atau banyaknya makalah yang belum diketik. Atau Bahkan usaha mereka mengalami penurunan omset akibat PLN tidak becus mengurusnya. Sebagai komentator kacang, saya salut pada sekelompok aktivis ini.

Alasan cukup mengelus hati. Sekali lagi pemikiran untuk turun jalan ini sudah matang dan tanpa intervensi dari manapun.  Siapa tau ada intervensi dari oknum yang mau jadi pahlawan dibalik pengkambing hitaman PLN ini. Keyakinan saya tidak ada sama sekali. Kalimantan itu beretika, politiknya bagus, memakai norma yang digariskan PANCASILA. Salah atau benar, itu stagmen yang sah menilai begitu.

Kalimantan bagi kelompok idialis itu merupakan bumi dengan alamnya yang kaya raya, pemasok batubara terbesar di Indonesia kenapa pembangkit daya listrik tidak mencukupi. Pemilik tapi tidak penikmat. Saya si Mahasiswa "awet" dan kupu-kupu pula kemarin mendatangi PLN bukan ke kantornya, Melainkan  ke tempat dimana pembangkit listrik itu dibangun untuk pembangkit Listrik kalsel-teng. Yaitu Asam-asam, dan PLTU pulang pisau kalteng. Disini saya dapat sangat sedikit info. Pembaca yang setia terhadap tulisan saya pasti berkomentar “termakan drama PLN penulis ini” oke, benar sekali

Saya memang mudah percaya terhadap ucapan orang. Nah, hubungannya dengan gedung IAIN dibanjarbaru apa? Nanti dulu, selesaikan perjalanan saya ke kalteng. Bagi saya info dari pengamatan dan pendengaran secara langsung itu baik.

Tulisan ini terlambat dan memeng bukan untuk mencegat demonya mahasiswa yang sudah mendidih idialismenya itu. Kemarin waktu di asam asam itu sama dengan penjelasan petinggi PLN saat mahasiswa mendatangi kantor PLN terhadap pengklasifikasian masalah adanya pemadaman bergilir itu yang oleh wartawan Radar Banjarmasin dibuatkan judul seksi “mahasiswa demo malah dikuliahi” kiranya bergitu bunyinya. Orang yang demo lebih tau masalahnya dimana, hitungannya seperti apa, dan adanya perbaikan mesin, adanya tambahan suplai dari bali dan sumatra

Masih ada yang Tanya apa kaitannya dengan rencana gedung dibanjarbaru?

Begini, pertaman, PLTU di pulang pisau kalteng, kntrak sejak 2010 sampai 2012, mulai pembangunan proyeknya sejak 2013, semua orang mengakui ini Indonesia, banyak mekanisme dan prosedur yang jadi permasalahan. Pembebasan tanah kunci utamanya sehingga pembangunan mengalami kemandekan. Semua orang tau kalteng tanahnya rendah atau kawasan tanah gambut yang pada intinya beda dengan pulau jawa, Madura, Sumatra atau NTT . pertanyaannya mampukah tanah disana dibangun pembangkit listril yang besar? Berat beban besar? Sangat mampu dengan catatan tanahnya di adakan perbaikan untuk memenuhi standar pembangunan. sementara sampai disitu saja soal PLN.

Yang kedua, buat mahasiswa yang suka demo, pasti mendengar pembebasan tanah empat tower di muara tewe ke tanjung. Masyarakat disana meminta kepada PLN atau pemerintah harga tanah 5 kali lipat dari harga pasaran. Siapa yang berani menjelaskan kepada warga memilik tanah-tanah itu bahwa listrik kebutuhan primer. Tidak ada listrik ekonomi macet, usaha macet , dan berbagai sector macet akibat listrik. Sehubung listriknya belum selesai dan masih proses test, bila lancar bulan juni insya Allah tidak ada momen pemadaman bergilir. Tuan tanah itu perlu dipertanyakan kenapa pemerintah tidak bisa mengatasi ini. Siapa sebenarnya orang-orang itu? Pastinya bukan siapa siapanya saya. soal 4 tower ini saya tidak tau sama sekali, yang jelas kegunaan PLTU ini rancangannya sepanjang pulau jawa dengan besaran kekuatan 2X60 MW.

Ilustrasinya begini, anda punya 1 kendaraan motor dengan 5 orang yang pemakai. Artinya apa? Kalsel-teng mestinya bikin pembangkit listrik lagi sekalipun pembangkit listrik asam-asam dan pulau pisau berjalan dengan baik nantinya. Dan ini prosedurnya anda harus mengajukan kepada DPR sebagai lembaga penjaga APBD dan APBN. "Pemerintah berani saja dipaksakan membeli harga tanah untuk 4 tower itu dengan harga permintaan tuan tanah, tapi apa jaminannya untuk tidak dikatakan korupsi. Ga rialistik harga 5 kali lipat dari pasaran". kata salah satu orang waktu berbincang PLN di pulang pisang

Nah, Saya masuk kuliah tahun 2012, pas ospek ada slite tentang rancangan pembangunan gedung di banjarbaru. Proyek LPTU di pulang pisau dikerjakan sejak 2013-2016 dan sekarang lagi proses test. Terhitung Keterlambatan atau mandek 2 tahun dalam proses pembebasan lahan. Dibanjarbaru tidak ada proses pembebasan lahan sudah dibebaskan atau dihibahkan, tinggal kerjakan, apakah ada mahasiswa proses masuk kelas?. Rancangan gedung banjarbaru tiap tahun disampaikan pada moment ospek adakah yang kebelet memasuki gedungnya. Dari 2012 sampai sekarang kira-kira ada 5.000 mahasiswa yang mengimpikan bagaimana rasanya memasuki  gedung yang dibangun di banjarbaru. Sampai saat ini tidak ada yang mempertanyakan, dengan maksud sebanyak 5.000 orang ini tidak bersuara sampai kejalan. Bila jalan satu-satu 5.000 orang tentu ekornya barangkali masih ada garis star. artinya apa? saya tidak mau ada pemadaman bergilir., akur saja kalo!!!

Jawaban pasnya, PLN memacetkan sector ekonomi masyarakat, sedang pembangunan gedung tidak memacetkan pendaftaran mahasiswa baru, malah semakin meningkat atau bahkan melakukan praktek “ABORSI PENDIDIKAN” jika memakai istilah di opini kompas beberapa hari yang lalu (hari dan tanggal lupa, yg jelas 2016). Bisnis bro, keuntungan bro, semakin banyak jumlah mahasiswa baru, sector pendapatan semakin tinggi. caranya? jemput kesekolahan dengan teknis sosialisasi, brosur dll. Buusyeeettt. Keterlaluan analisis dalam istilah ini.

Kemudian kenapa ini tidak tersentuh!!! Malah pemerintah kerja untuk melayani masyarakat 24 jam diterkam habis habisan akibat pemadaman bergilir, dituduh korupsi atas mandeknya proyek yang dicanangkan mensuplai listrik kalsel-teng. Apakabar mahasiswa mahasiswa pendemo?

Pertanyaannya yang menindas siapa? Wong penindasnya kita juga, masyarakat kita, kenapa kita tidak belajar bikin mega proyek PLTU-N, PLTA-N atau PLT-PLT lainnya, sampai-sampai PLTU-N pulang pisau alatnya produk CINA sehingga pegawai ahlinya orang tirai bambo kungfu panda. Dengan nada keras malah “BEBASKAN KAMI DARI BEBAN BIAYA PEMBELIAN LISTRIK DARI PLN” mau bikin atau beli ke swasta? Coba cari, adakah swasta lain bisnis, keuntungan!. Dan kenapa kita jagonya hanya bisa bikin penumpukan sampah, sungai mati karena sampah. Saya akan mengajukan usulan kayapa kalau mahasiswa yang suka demo ini bikin penelitian tentang pembangkit listrik dari sampah, ramah lingkungan, tidak berbahaya. Keuntungannya sampah diperdaya, listrik nyala. Ilmunya belajar ke “Star Wars”


oleh Ali
Bicara tanpa data, bebas tanpa tindakan. Itu jargon 'komentator kacangan' saya.