Dinilai kurang aman, ini jawaban Pihak Perpustakaan

Sumber Google

Sejak Januari 2016, Perpustakaan IAIN Antasari Banjarmasin menjadi satu-satunya perpustakaan di Kalimantan yang mendapat akreditasi A. Prestasi ini tentu saja mengalahkan perpustakaan perguruan tinggi lain. Sehingga mahasiswa IAIN Antasari patut berbangga atas prestasi yang sekarang melekat pada kampus hijau tercinta ini.
Akreditasi  perpustakaandidapatkan dari penilaian atas 9 (sembilan) indikator. Indikator tersebut yaitu pelayanan, kerjasama dengan pihak kampus maupun luar kampus, koleksi buku, pengorganisasian, SDM, sarana dan prasarana, anggaran, manajemen, dan perawatan. Dari 9 (sembilan) indikator inilah, perpustakaan IAIN mendapatkan bobot nilai 95 = A.
Akan tetapi, walaupun perpustakaan sekarang mendapat peringkat A bukan berarti tidak terdapat lagi kelemahan. Kelemahan perpustakaan saat ini antara lain mengenai suhu di lantai 2 dan 3 yang terasa panas, tidak fresh warna ruangan di lantai 2 dan 3, koleksi buku di lantai 3 masih kurang dan hasil karya ilmiah dosen masih terpisah-pisah. Selain itu, colokan listrik yang disediakan pun masih terbatas.
Ketika dikonfirmasi mengenai kelemahan perpustakaan ini, Kepala Perpustakaan, Ahmad Juhaidi mengatakan bahwa kelemahan ini memang diakui dan akan dilakukan langkah-langkah strategis untuk terus meningkatkan pelayanan perpustakaan. “Mengenai suhu ruangan di lantai 2 yang terasa panas, akan diperbanyak ruangan baca seperti ruangan yang ada di samping ruang Tata Usaha Perpustakaan atau dibuat ruangan baca dengan sekat kaca. Sekarang belum bisa menambah AC karena membutuhkan anggaran yang banyak dan daya listrik yang diberikan PLN tidak mencukupi jika menambah banyak AC,” ujarnya saat ditemui pada hari Jum’at (11/03).
“Mengenai koleksi karya ilmiah seperti skripsi, perpustakaan menggunakan digital repository  sejak Juni 2015. Digital repository adalah  file skripsi yang disimpan secara digital sehingga semua skripsi dapat terpublikasi dan terjaga dari tindak pengrusakan skripsi yang telah dicetak. Sekarang koleksi yang ada di digital repository ada 300.000 dan akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya wisudawan IAIN Antasari Banjarmasin,” tambahnya.
Petugas perpustakaaan, Abdul Thalib juga menambahkan bahwa mengenai keamanan buku, pihak perpustakaan menyediakan sistem keamanan berbasis elektronik, yaitu e-gate (pintu elektronik). “E-gate akan berbunyi apabila koleksi buku yang ada di perpustakaan dibawa keluar tanpa melalui prosedur yang benar. Apabila ada koleksi buku yang hilang, biasanya disebabkan oleh mahasiswa (peminjam) yang lalai dengan buku yang telah dia pinjam tetapi diletakkan di lantai atas dan lupa membawanya ketika pulang., “tandasnya saat ditemui pada hari Selasa (08/03).
Kemudian, mengenai sarana dan prasarana loker yang masih kurang dirasakan sangat meresahkan mahasiswa. Kurangnya loker ini tentunya akan berdampak pada keamanan barang-barang pengunjung perpustakaan.
Saat ditanyakan kepada petugas keamanan  perpustakaan mengenai keamanan barang pengunjung, Faisal Adlan mengatakan bahwa pengawasan dilakukandengan berkeliling  di sekitar loker. Kemudian pengawasan melalui CCTV juga dilakukan, “ujarnya saat ditemui pada hari Selasa (08/03).
“Memang gambar yang ditampilkan CCTV kurang tajam. Akan tetapi itu tidak menghalangi untuk memaksimalkan pengawasan. Apabila ada tindakan yang mencurigakan itu dapat teramati. Sehingga apabila ada laporan atau tidak, tetap dapat terdeteksi. Selama ini memang ada keluhan mengenai kehilangan barang tetapi itu tidak banyak. Biasanya barang yang hilang adalah handpone dan uang. Akhir-akhir ini ada kehilangan HP dan kamera digital. Tetapi alhamdulillah sudah ditemukan pelakunya.


Keresahan mengenai keamanan barang ini sudah dikonfirmasi dengan pengunjung-pengunjung perpustakaan yang mengiyakan hal tersebut. Seorang mahasiswa jurusan D3 Perpustakaan, Khalisah mengatakan bahwa  loker yang ada tidak ada kuncinya dan masih kurang. Dengan adanya meja disana membuat tas tidak tersusun dengan rapi, bertumpuk, dan berhamburan,” ujarnya saat ditemui pada hari Jum’at (11/03).
Begitu pula dengan pengunjung yang lain, Khadijah mengatakan bahwa colokan di perpustakaan masih kurang. “Selain itu, di lantai 2 (dua) terasa panas sehingga dibutuhkan penambahan AC sebagai pendingin ruangan. Wifi lelet dan pengunjung perpustakaan tidak ditegur ketika tidak mengisi absen di lantai 1,” ujarnya.
Lain halnya dengan pengunjung yang lain, Laylan menyarankan agar loker dipisah antara laki-laki dan perempuan seperti yang sekarang sudah diberlakukan pada rak sepatu. “Ini dilakukan agarpengunjung laki-laki dan perempuan tidak tercampur dan berdesakan ketika pengunjung perpustakaan sedang banyak,” katanya.  
Mengenai keluhan-keluhan pengunjung perpustakaan ini, reporter LPM SUKMA menanyakan tanggapan dan langkah selanjutnya yang akan dilakukan pihak perpustakaan. Kepala Perputakaan IAIN Antasari, Ahmad Juhaidi meyakinkan bahwa langkah selanjutnya akan terus dilakukan untuk menghilangkan kelemahan yang masih ada di perpustakaan. “Langkah tersebut antara lain adalah :
1.    Koleksi buku di perpustakaan akan dirubah menjadi memperbanyak judul tapi eksemplar per judul tidak banyak. Sehingga keberagaman koleksi buku bertambah, tidak hanya eksemplarnya saja yang bertambah.
2.    Bulan Maret akan dicanangkan jam pelayanan perpustakaan sampai pukul 18.00 wita. Tetapi hal ini harus dicarikan dulu pegawai yang akan menjaga diluar jam kerja yang sudah berakhir pada jam 16.00 wita.
3.    Memperbanyak ruang baca yang ada pengingin ruangannya.
4.    Membuat ruangan di lantai 2 dan 3 lebih fresh (warna ruangan dikombinasikan supaya lebih menarik).
5.    Hasil karya dosen akan diletakkan pada satu rak sehingga tidak terpisah-pisah lagi.
6.    Colokan listrik akan diperbanyak.
Kemudian mengenai keamanan tas pengunjung perpustakaan, beliau menghimbau bahwa barang-barang berharga milik sendiri harus dijaga dengan baik dan tanggung jawab masing-masing. “Sudah banyak kertas himbauan yang ditempel di sekitar loker dan rak tas.  Jadi bukan kesalahan pihak perpustakaan apabila kelalaian atas barang-barang pribadi terjadi. Namun, bukan berarti pihak perpustakaan tidak memikirkan solusi terbaik untuk  permasalahan ini. Ada rencana mengenai penggunaan kantong  kresek/ tas transparan yang dapat digunakan pengunjung untuk meletakkan barang pribadi yang berharga ke lantai 2 atau 3. Tas ini hanya digunakan di perpustakaan saja sehingga tidak boleh dibawa pulang, “ujarnya.
“Perpustakaan ini mendapat akreditasi A karena hasil dari pengelolaan perpustakaan yang baik.Walaupun anggaran yang dimiliki tidak sebesar perguruan tinggi yang lain. Namun, hal ini dapat dikelola dengan efektif dan efisien sehingga hasilnya dapat maksimal. Perpustakaan akan terus dikembangkan agar sesuai dengan  Standar Mutu Pelayanan Internasional nantinya, “ tambahnya. Aamiin. (Nur Nida Karimah)