Aksi Kucek dan Bilas MAPALA Meratus untuk Rektorat

Sumber Mcb

    Layaknya ibu-ibu rumah tangga yang sedang mencuci pakaian di pinggir kali, salah satu anak MAPALA Meratus dengan santainya mengucekdan membilas kain di antara genangan air banjir yang telah menyulap jalanan kampus bak sungai Martapura. Tidak hanya itu, pada Rabu siang, 30/03/2016 tadipun kita bisa menemukan orang-orang yang memancing di tengah jalanan kampus, di depan gedung rektorat.

    Saat dikonfirmasi di base camp MAPALA Meratus, rabu 30/03/2016, sore mengenai kegiatan itu, Ahmad Noor Muttaqin (KPI) menjelaskan.  Bahwa aksi tersebut dilakukan untuk mengkritik permasalahan pembangunan drainase yang ada di kampus IAIN Antasari. Lebih lanjut, lalaki berperawakan tinggi itu menuturkan, jika kegiatan ini dilaksanakan tanpa ada rencana sebelumnya. Bermula dari hujan yang berlangsung seharian dan mengakibatkan banjir di Kampus, akhirnya adainisiatif dari anggota MAPALA meratus untuk melakukan hal tersebut. “Kami mengkritik dengan cara halus, tidak perlu koar-koar, agar berkesan tertib. Cuman orang-orang tertentu yang memahaminya.” Tegas salah satu anggota MAPALA yang tak mau disebutkan namanya.

    Aksi ini tidak berhenti, kami (MAPALA Meratus) akan melakukan tindak lanjut kepada Wakil Rektor Dua, untuk dibuat laporan sebagai bahan mediasi. Pihak MAPALA Meratus mengungkapkan bahwa tatanan drainase yang ada di kampus ini kurang baik. Juga, tata ruang kampus bisa dibilang kurang tertib, tanpa melihat dampaknya bagi lingkungan. Dalam tindak lanjut kegiatan ini pula pihak MAPALA ingin mendengar dan mengetaui rancangan pembangunan yang akan ditawarkan oleh pihak rektorat. “kita akan sampaikan keluhan masalah banjir ini dengan cara baik-baik, mari kita telaah bersama, kita cari sebab permasalahannya.” Tutur salah satu anggota MAPALA Meratus yang tak mau disebutkan namanya. Anggota MAPALA yang berjenis kelamin lelaki itu juga mengharapkan dukungan dari semua Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) untuk mengatasi masalah ini.

      Dukungan dari KBM telah dilakukan melalui peringatan hari Air. Saat itu ditemukan banyaknya sampah yang mendiami drainase di sekitar rektorat dan psb. Ditemukan sekitar tiga gerobak lebih sampah yang berhasil di angkat keluar, namun itu belum semuanya berhasil diangkat.

    Lebih jauh Ahmad Noor Muttaqin (KPI), yang menjabat sebagai Kepada Devisi Pengetahuan Ilmu dan Intelektual di MAPALA Meratus, menjelaskan banjir ini telah lama terjadi, sejak tahun 2010 lalu. Hal ini berdasarkan pengalaman pribadinya.

    Bernajak dari temuan tim SUKMA bahwa pihak Tarbiyah dan Keguruan dalam menangani masalah banjir ini menempuh cara dengan meninggikan dan meyemen ulang pelataran wilayah Tarbiyah. Menanggapi hal ini, pihak MAPALA Meratus menyatakan bahwa permasalahannya bukan terletak pada masalah tinggi rendahnya bangunan yang ada, tapi lebih kepada sistem pembangunan. Meski ditinggikan tapi tetap saja air bisa masuk ke dalam lokal-lokal perkuliahan. Peninggian ini bukannya suatu tindakana yang salah, tapi kurang tepat, karena yang menjadi permasalahan adalah pembuangan airnya, akan dialirkan kemana jika musim hujan tiba.

Jika sudah kejadian seperti saat ini, banjir melanda di saat turun hujan dalam hitungan jam. Maka hal yang harus dibenahi adalah sistem drainasenya. Menurut pihak MAPALA Meratus sistem drainase yang ada di depan Pusat Pengembangan Bahasa (PSB) belum berfungsi secara maksimal. Seharusnya, ke dalaman saluran drainase itu setinggi badan kita (manusia dewasa pada umumnya). Namun faktanya, ke dalaman saluran drainase yang ada saat ini hanya separuh badan kita (manusia dewasa pada umumnya).
Tapi meski saluran drainase telah ditinggikan, namun tidak di iringi dengan sistem pembuangan yang baik, maka itu juga kurang maksimal hasilnya. Harus ada pengkajian terhadap masalah ini, apakah pokok permasalahan banjir ini terletak pada sistem drainasenya atau pola pembangunannya yang ada disekitar kampus.

    Dulu di tahun 2011 ada wacana untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) di lingkungan kampus IAIN ini oleh pihak MAPALA Meratus, agar bisa menyerap air. Wacana ini diajukan kepada Dekan Tarbiyah dan Keguruan saat itu, dan mendapat respon positif, namun sayang permasalahan mengenai Ruang Terbuka Hijau ini ditangani oleh pihak rektoratyang mana hingga saat ini belum ada jawaban atas permintaan Ruang Terbuka Hijau RTH ini dari pihak Rektorat. (Reporter Nisa dan Mcb)


Pages