Akhmad Syaikhu dengan Ceritanya


Bapak Akhmad Syaikhu, lahir di Tanjung, 25 Juni 1969. Beliau saat ini sedang menjabat sebagai Kepala Bagian Humas Rektorat IAIN Antasari Banjarmasin, tapi kesehariannya juga sebagai dosen di Fakultas Syariah dan juga Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin.
Di Fakultas Syariah beliau mengajar di beberapa jurusan dengan mengasuh mata kuliah Ilmu Falak, sedangkan di Fakultas Tarbiyah beliau mengasuh mata kuliah Ilmu Perpustakaan. Itu karena menyesuaikan latar belakang pendidikan beliau. Selain itu beliau saat ini juga menjabat sebagai ketua Laznah Falakiyah PWNU Kal-Sel.
Riwayat pendidikan bapak Akhmad Syaikhu ini sendiri cukup panjang, karena beliau menempuh jenjang pendidikan S1 dua kali dan S2 dua kali juga.
Pendidikan S1 diperoleh dariJurusan Muamalah Jinayyat, Fakultas Syariah, IAIN Antasari Banjarmasin dan lulus pada tahun 1996. Setelah itu beliau mendapatkan beasiswa menempuh pendidikan S1 di Universitas Indonesia, Fakultas Sastra, Jurusan Ilmu Perpustakaan dan lulus pada tahun 1998.
Setelah lulus dari UI, beliau kembali lagi ke IAIN Antasari untuk mengabdi di Pascasarjana selama 8 tahun menjabat sebagai Sekertaris.
Kemudian setelah mengabdi di Pascasarjana ini beliau merasakan ada kejenuhan. Karenasetiap hari berhadapan dengan pekerjaannya yang itu-itu saja dan apalagi di Pascasarjana  hampir tidak ada hari libur.Karena hari Sabtu dan Minggu juga melayani mahasiswa yang datang dari kelas-kelas khusus dari daerah-daerah luar Kalsel.
Salah satu cara beliau untuk keluar dari rutinitas itu dan ingin istirahat dulu setelah 8 tahun mengabdi di Pascasarjana, beliau mengikuti tes beasiswa S2 di Semarang dengan Jurusan Ilmu Falak Astronomi tahun 2009 dan hanya hanya ditempuh selama 1 tahun 8 bulan dengan menggondol gelar magister. Namun sebelumnya pada tahun 2007 beliau juga sempat menempuh S2 di Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin dengan Jurusan Filsafat Hukum Islam.
Pada saat itu tesis beliau kedua-duanya bertema tentang Ilmu Falak. Tesis beliau saat di Semarang berjudul “Penghitungan arah kiblat menggunakan segitiga bola dengan faktor eleksoit bumi”. Sedangkan tesis beliau yang di Pascasarjana IAIN Antasari berjudul “Pemikiran Tomas Jamalaudin tentang yudifikasi kalender islam di Indonesia”.
Dan dari perjalanan panjang beliau tersebut, beliau masih ingin melanjutkan kembali ke pendidikan S3.
Ada yang menarik dari kisah beliau saat menempuh S1 di IAIN Antasari, bahwa beliau ini dulunya juga seorang aktivis. Pernah menjabat sebagai ketua Senat Fakultas Syariah IAIN Antasari pada tahun 1993, kemudian pada tahun 1993-1994 menjabat sebagai ketua umum HMI Cabang Banjarmasin, dan pernah juga menjadi sekretaris umum SMI (Senat Mahasiswa Institut) di IAIN Antasari pada tahun 1994.
Ada yang menarik dari rekam jejak pendidikan beliau ini saat menjabat di MSI. Karena saat itu beliau berhasil melakukan diskusi 3 partai.
Pada saat beliau menjabat di SMI, beliau beserta teman-temannya berhasil melakukan diskusi 3 partai. Memang kata beliau pada saat itu sangat tabu bagi partai politik untuk masuk lingkungan kampus.
“Karena pada saat itu sangat tabu, partai politik itu tidak boleh masuk kampus. Karena dianggap melakukan kegiatan politik di kampus. Itukan politisasi kampus,jadi tidak diperbolehkan. Dulu zaman orde baru memang sangat kuat.”Tutur bapak Akhamad Syaikhu ketika ditemui di kantor beliau, Selasa (2/2).
Sebelum menyelenggarakan kegiatan tersebut, beberapa hari sebelumnya beliau selalu dipanggil oleh korem 101 Antasari untuk di intriogasi, kenapa harus menyelenggarakan dialog politik itu di kampus.
“Karena memang waktu dulu itu ada istilah NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan), jadi prinsip NKK/BKK ini yaitu untuk membebaskan kampus dari kentalnya nuansa politik. Dan mahasiswa diharapkan banyak belajar saja. Dan itu tidak seperti sekarang, yang apa saja boleh dikerjakan di kampus.” Ungkap bapak Akhmad Syaikhu (2/2). Bahkan saat beliau menyelenggarakn kegiatan itu yang mungkin dicurigai, pihak luar atau korem 101 antasari selalu menelpon pembantu rektor 3 bidang kemahasiswaan. Dan beliau beserta teman-teman juga sering dipanggil.
Dalam dialog kepartaian saat itu beliau menghadirkan Partai Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Indonesia, dan Golongan Karya yang pada saat itu mereka belum menganggap dirinya sebagai partai tetapi hanya kelompok berkarya. Salah satu perwakilan dari Golkar pada ada bapak H. Sulaiman HB dan bapak H. Sunarso, dari PPP ada bapak Roy, sedangkan dari PDI ada bapak Supriansyah.
Dan gebrakan itu bagi golongan PPP dan PDI mereka sangat menyambut baik dengan adanya diskusi ini, sedangkan Golkar pada saat itu cenderung agak keberatan, tapi itu berhasil diyakinkan oleh beliau. “Bahwa kampus memang harus juga diberikan wawasan politik, karena juga banyak mahasiswa yang sebenarnya juga memiliki kecenderungan politik dan apa salahnya jika diberikan wawasan ke dalam kampus.”tutur bapak Akhmad Syaikhu (2/2).
Pada tahun 2012 – 2013 beliau meneliti 120 masjid yang ada di Bajarmasin menggunakan metode pengukuran paling mutakhir kebenarannya dengan metode Teodolit. Dan dari hasil penelitian tersebut ada 61,25% masjid yang direkomendasikan agar dibetulkan kiblatnya. Karena tingkat menyimpangnya arah kiblat cukup besar yaitu 3,5o ke atas.
“Bahwa di Banjarmasin ini ada beberapa masjid yang kiblatnya menghadap ke Afrika bahkan Afrika selatan sampai sekarang, karena hanya sebagian  yang membetulkan setelah direkomendasikan” kata bapak Akhmad Syaikhu saat ditemui di gedung rektorat IAIN Antasari Banjarmasin (2/2/16).* (Rep/Airul Ssyahrif/Nur Azizah)