SASTRA ADALAH PERJUANGAN

(Syarif Hidayatullah)
“Menulis puisi tidak bisa di jadikan profesi mencari nafkah, tapi tidak bisa di katakana hoby, ia adalah sebuah pilihan” (Kurniawan Junaedie)
Puisi adalah anak tiri kebudayaan Nampak masih mengaung untuk di tempatkan pada denyutnya sendiri. Puisi dan cerpen pada dasarnya adalah sastra masih mencari urat nadinya mahasiswa yang benar-benar mau menggelutinya, tanpa pamrih dan tanpa ada alasan apapun, karena pada dasarnya ia suka dan cinta. Di kampus kita sendiri sudah pada banyak bermunculan UKM dan Organisasi-organisasi teater atau yang berkecimpung pada dunia sastra menjadikan sastra setara dengan music, teater dan monolog. Kita bisa liat di sanggar Bahana, Sanggar Kereta, sanggar At-thadib, pondok huruf sastra (PHS) atau yang lainnya. Bahkan LPM Sukma pun ada divisi yang mengkaji sastra dalam penulisannya.
Ketika sabtu kemarin kru dari LPM Sukma mengisi siaran di RRI, yang di perbincangkan adalah sastra di kampus dan sastra di kalsel, untuk ranah kalsel dengan narasumber atau pembicara dari sastrawan Banjarbaru yakni Ali Syamsuddin Arsy, dan dari kampus yakni Muhammad Ali Furqan selaku kadiv Litbang di LPM Sukma dan Syarif Hidayatullah selaku di devisi sastra di LPM Sukma.
Untuk di kalsel sendiri seperti yang telah di utarakan Ali Syamsuddin Arsy (ASA) bahwa sastrawan di kalsel sudah di perhitungan di luar kalsel, artinya kalau ada kegiatan pengumpulan naskah atau lomba puisi, cerpen serta novel para sastrawan kalsel sudah di perhitungkan. Itu bisa di liat dari acara Tifa Nusantara 2 di Tangerang, Negeri Poci di Tegal bahkan di ubut Bali, acara sastra internasional ada beberapa sastrawan kalsel yang sudah pernah masuk. Seperti Sandi Firly dengan novelnya, Jamal T. Suryanata seta Ali Syamsuddin Arsy yang akan berangkat pada tanggal 27 Oktober ini, dan akan membawakan metode menulis berpindah tangan yang sudah di kembangkan beliau pada tahun 2005 sampai sekarang.
Dan untuk di kampus kita sendiri sudah mulai bergeliat, namun apresiasi dari para pihak kampus sangat kurang, artinya para sastrawan kampus berjalan sendiri-sendiri, padahal ketika ada undangan membawa nama kampus. Tidak hanya sastrawan mahasiswa-mahasiswinya yang berjalan sendiri-sendiri, tetapi para dosen yang berkecimpung pada dunia sastra pun sendiri-sendiri. Masih tidak ada wadah khusus yang menampung geliat sastra di kampus dan tulisan-tulisan banyak yang sudah menyebar di media-media serta buku kumpulan puisi yang bertaraf nasional.
Di kalsel sudah ada agenda-agenda sastra yang terprogram selama setahun, seperti Aruh Sastra yang rutin di lakukan setiap tahun. Bahkan Tadarus Tuisi dan Silaturrahmi Sastra pun rutin di lakukan oleh dewan kesenian Banjarbaru di pertengahan bulan Ramadhan, bahkan setiap akhir bulan ada acara poetry in action at mingguraya serta dialektika sastra menara pandang setiap awal bulan oleh dewan kesenian Banjarmasin. Dan yang paling di tunggu adalah penghargaan sastra oleh gubernur, walikota atau bupati setiap tahunnya kepada sastrawan yang aktif dan berdedikasi terhadap sastra di daerahnya.
Seperti itulah harapan para mahasiswa di kampus ini yang berkecimpung di dunia sastra kampus, namun apakah itu terjadi ? penghargaan sastra oleh rektor, oleh dekan. Mungkin perjuangan.

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar keserjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai” (Pramodya Ananta Toer).

Pages