Minggu, 20 September 2015

Aktivis : Mahasiswa Organisasi Atau Mengekorganisasi

sunber: annida-online.com

Oleh: Ali Makki
Berbagai perguruang tinggi baru saja menerima mahasiswa baru, generasi bangsa yang disiapkan untuk bertindak serta berfikir cemerlang sebagai memperbaiki tatanan social kepada masyarakat madani. Orentasi perkenalan akademik (OSPEK) juga telah usai, kini setiap perguruan tinggi aktif dengan dunianya, mencetak pengangguran intelektual handal.

Pada angkatan 2015 ini, IAIN Antasari menerima mahasiswa baru sekitar 1900 mahasiswa pada 4 fakultas yang tersedia dengan varian jurusan yang menggiurkan masyarakat Kalimantan selatan, yaitu berdasar atas catatan embel-embel ‘islam’ sesuai data statistik dinyatakan sebagai penganut mayoritas masyarakat kal-sel

Begitu aktivitas akademika dimulai, organisasi kampus baik intern maupun ekstern mengencangkan sabuk strategi dengan upaya dapat menggaik Mahasiswa baru yang masih polos dan malu-malu untuk masuk ke organisasinya. Bahkan sebagian organisasi telah mencuri stars mulai dari pendaftaran penerimaan akademik melalui bendera, spanduk dan atribuk lainnya di sepanjang jalan depan rektorat dengan satu alasan bahwa organisasi ini kengakui ke-exisannya di IAIN Antasari Banjarmasin

Selain itu, betapa berangnya sebagian organisasi ketika menemukan salah satu organisasi dengan seenaknya menempatkan ke eksisannya secara tidak fair, yaitu menyusuk sebagai penguasa kampus dan bahkan disokong penuh oleh jajaran pengurus lembaga. Jika seperti itu seakan akan hanya inilah satu-satunya organisasi yang berkualitas sehingga dalam penyusunan strategi kesuksesan kegiatan ospek misalnya tidak lain merupakan mahasiswa dari golongannya

Rasanya dapat diajungi dua jempol strategi menggaik mahasiswa baru yang diterapkan organisasi tersebut. Apalagi pikiran polos yang digunakan berkesimpulan jika masuk ke organisasi itu secara otomatis dapat posisi puncak di atas angin oleh mereka yang pemikiran narsis “inilah eksistensi mahasiswa aktivis”

Dua minggu sudah akademika menjalankan fungsinya. Mahasiswa sibuk dengan tugas yang mengejutkan bagi mahasiswa yang tidak terbiasa menulis. Pengajar juga dengan santainya meminta kepada mahasiswa (baru) untuk mengerjakan tugas makalah yang entah bisa atau tidak tanpa mempedulikan kemampuan yang diajar sebab kebanyakan para pengajar Indonesia menurut bapak Mujiburrahman berasumsi jika itulah kenyataannya bahwa menulis adalah keterampilan simultan “ kecenderungan yang ada diperguruan tinggi kita selama ini sepertinya adalah menganggap bahwa menulis merupakan suatu keterampilan yang secara otomatis sudah dikuasai oleh setiap calon mahasiswa” maka jangan heran bila para mahasiswa mengerjakan tugas secara asal-asalan atau barangkali pengajarnya yang kurang bisa membedakan jenis tulisan?

Pada suasana yang serba semberawuk, di luar materi kuliah, mahasiswa dihadapkan berbagai macam pilihan stand pendaftaran organisasi. Stand organisasi berjajar di area strategis kampus. Mahasiswa baru cenderung memilih organisasi yang paling diminati bukan dari niat dan tujuan yang terkandung pada visi misi organisasi tersebut, namun kadang hanya ikut-ikutan temannya yang sudah menjadi anggota pada organisasi tertentu, sehingga dapat dikatakan mereka aktivis meng(ekor)ganisasi yang lebih mementingkan kuantitas keanggotaan.

Padahal, pengertian umum organisasi sebagai sebuah sistem yang terdiri dari sekelompok individu yang melalui suatu hierarki sistematis dalam pembagian kerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara structural dan sistematis. Jadi, bisa juga di artikan bila esensi organisasi yang sebenarnya merupakan wadah aktualisasi kemandirian insan kreatif dalam membentuk eksistensi manusia itu sendiri.

Hanya saja, kadang mereka lupa pentingnya mengikuti organisasi tersebut. Pada awal masuk kampus saya juga demikian, menempatkan pengakuan di atas segala-galanya. Dengan masuknya pada organisasi kita adalah aktivis. Jika demikian adanya, maka jangan harap akan terciptanya “insan kampus mendidik mahasiswa humanis dan kompetitif. Jadi, kini selayaknya jika setiap organisasi berfikir IAIN Antasari sebagai tempat humanitas, bukan a humanis dalam mewujudkan kompetitif, unggul, berakhlak yang sebenar-benarnya.

Jejak Redaksi

Labels