MELAWAN BUKAN BERKAWAN


(Untuk Dewan Mahasiswa IAIN Antasari Banjarmasin)

Oleh: Moh Mahfud*
                                             *Mantan Pimpinan Redaksi LPM Sukma 2013/2014


William James (1842-1910) merupakan bapak psikologi modern beraliran pragmatisme. Dalam bukunya  yang terkenal, The Varieties Of Religious Experience: A Study In Human Nature mengatakan bahwa kita sering kali terburu-burunya merasa puas  dengan suatu informasi. Akibatnya, keadaan pikiran lebih cepat merespon suatu hal yang condong sensitif dari pada yang lain. Ini juga hampir sama dengan pemberitaan Buletin Berantas edisi XVI yang mendapat respon dari banyak pembaca, lebih-lebih-yang katanya- judul beritaanya provokatif. Untuk itu, wajar saja ketua umum dan wakilnya, Dewan Mahasiswa (DEMA) IAIN Antasari merespon cepat pemberitaan itu.

Dapur redaksi Berantas langsung menanggapi tulisan itu dengan judul “Adik pada kakaknya” dirublik opini edisi XVII. Sebuah nuansa yang sangat saya rindukan, dialog jurnalis yang sangat jarang ditemukan mungkin juga analogi dari dialog Musa dengan Tuhan di bukit Tursina. Itu hanya terjadi satu kali dalam sejarah. Saya cuma takut itu juga berlaku satu kali dioalog Berantas dengan Dema.

Menelisik kembali tulisan Berantas dengan judul “PRAHARA COMPASS 2015: Compass tidak mencerminkan acara berlabel institut” saya akan mengkritisi sikap kritik Dema Institut yang menilai kurangnya monitoring (Etika Jurnalis) dari Pimpinan Redaksi dan Ketua Umum LPM Sukma. Maka perkenankan saya disini memposisikan diri sebagai Sukma.

Perjalanan Mulus 
Buletin Berantas merupakan produk Sukma setelah blog dan majalah. Umurnya yang masih bau kencur mungkin terbilang cukup berani mengangkat isu-isu seputar kampus. Jika berantas itu manusia, maka ia masih merangkak dan menggapai-gapai dinding untuk belajar melangkah dan sesekali jatuh. Maka, tak heran pemberitaan Berantas, merupakan ‘keinginan kecil’ untuk tumbuh dan berubah menjadi dewasa.

Jargon Berantas (Berani Angkat Suara dan Berintegritas), mungkin dinilai berlebihan jika dikaitkan dengan umurnya. Jargon yang seharusnya dimiliki orang dewasa, organisasi pergerakan atau kepemerintahan mahasiswa di kampus yang maha damai ini, merupakan mimpi kecil kami tentang masa depan. 

Ketika pertama kali diluncurkan delapan bulan lalu (per November 2014 - Juni 2015), kami seperti berteriak dibelantara, mereka mendengar tapi tidak mengerti suara kami, suara yang semestinya dimiliki mahasiswa yang sering dibilang pembawa perubahan. Dan mereka menjadi mahasiswa yang perjalanannya mulus tanpa sedikit hirau pada suara kami. Kecuali, mereka disentil lembut namanya.

Mahasiswa yang Tawadhu Pada Penguasa

Ceritanya begini, Saat kami menelisik dua pondok pesantren yang dijadikan tempat pembelajaran program dari Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, kami menemukan kejanggalan setelah sebelumnya kami mengantongi data perihal dana program itu. Tercatat 40 peserta yang ikut program itu menghabiskan dana sekitar 480-jutaan. Program fantastis inilah yang berhasil membuat kami merasa tidak nyaman dengan status mahasiswa yang tawadhu’ pada kongkalikong ini.

Akhirnya, pemberitaan selama dua pekan kami fokuskan kearah itu. Jujur kami tidak nyaman dengan sikap kami yang suudzan terhadap mereka disana. Banyak yang bilang kami kritis, bahkan staf rektorat pernah bilang kalau kami mirip KPK. Kami sama sekali tidak berpikiran kalau tindakan kami itu kritis, kami juga tidak pernah ada niat kalau kami harus tahu kemana uang itu mengalir, kami hanya tidak nyaman dengan keadaan semacam itu. Kami tidak akan melawan, tapi kami cuma butuh transparan.

Tiga hari berada di Ponpes yang ada di Pamangkih bukan perkara mudah, lebih-lebih menyelidiki hal yang entah orientasinya pada siapa. Jauh-jauh hari sebelum kesana kami sudah menghubungi via sms/telefon dengan ustadz disana, dan hanya direspon datar-datar saja. Akhirnya kami putuskan untuk langsung kesana. 

Hari pertama, nihil, Ustadz A-F tidak bisa menjamu kami karena beliau habis undangan. Lalu, dengan rasa hormat, kami sms beliau kalau esoknya kami bakalan menemui beliau lagi. 

Dan hari kedua, Alhamdulillah beliau ada, cuma beliau tidak bisa menemui kami secara langsung karena ada kesibukan, akhirnya kami disuruh ke pengurus pondok untuk sekadar berbincang-bincang tentang bagaimana program ponpes mahasiswa itu berjalan. 

Hari ketiga akhirnya Ustadz A-F itu bisa kami wawancarai secara langsung. Namun, beliau hanya menjelaskan secara harfiah saja. Sementara data tentang keuangannya, kata beliau tidak ada, dan disuruh menghubungi panitia program itu. Lalu kami pun menghubungi rekan-rekan yang ada di Banjarmasin saat itu juga, dan Alhamdulillah mereka bisa melakukan wawancara dengan orang yang tahu soal dana itu di kantor Syariah.

Setelah perjalanan melelahkan selama tiga hari di Pamangkih dengan modal uang 50 ribu itu, kami akhirnya memutuskan untuk pulang dengan perut lapar. Lebih malangnya lagi, kami tidak puas dengan hasil wawancara kami di ponpes itu.

Caritanya begini, dari data yang kami terima itu jelas uang sekali makan Rp 18.000/makan. Dalam data itu, mahasiswa makan sehari sebanyak 3 kali, jadi Rp 18.000 x 3 = 54.000/hari dan jika dikalikan sebulan maka 54.000 x 30 = 1.620.000/orang. Jika jumlah peserta 40 orang maka 1.620.000 x 40 = 64.800.000/bulan. Program itu berjalan selama 4 bulan. Jadi,  64.800.000 x 4 = 259.200.000,-. Ingat, ini hanya dana makan dari data yang kami punya, bukan termasuk dana lain.

Sedangkan yang kami temukan dilapangan, untuk dana makan bukan dihitung perporsi, melainkan Rp 500.000/orang selama sebulan. Itu artinya, kalau pesertanya 40 maka 500.000 x 40 = 20.000.000/bulan. Jika program itu berjalan selama 4 bulan maka 20.000.000 x 4 = 80.000.000,- Ingat, ini data yang kami temui dilapangan. Jadi, jika data yang kami punya Rp: 259.200.000,-. Sedangkan data lapangan Rp: 80.000.000,- maka 259.200.000 - 80.000.000 = 179.200.000. jadi Rp: 179.200.000,- ini kemana? 

Ingat, kami masih anak kencur yang tidak menutup kemungkinan semua yang kami temui dilapangan adalah salah fatal. Artinya, kami cuma mengandai-andai jika benar dana sebesar Rp: 179.200.000,- itu adalah ‘dana siluman’, maka kami butuh penjelasan.

Alhasil, pemberitaan-pemberitaan yang sesulit itu kami cari dilapangan justru tak ada satu pun pembaca berani datang ke sekre LPM Sukma untuk bertanya lebih lanjut, tak ada satupun mahasiswa yang berani membongkar hal itu kepublik, mereka hanya diam dan menjadi mahasiswa yang baik demi mengejar IPK yang maha tinggi, mereka lebih memilih tawadhu dan diinjak hak-haknya ketimbang menyuarakan apa itu kebenaran. Lantas, kenapa baru sekarang Dema Insitut diskusi tentang pemberitaan yang katanya kurang beretika? Apakah lebih beretika jika mahasiswa hanya diam dengan kejadian-kejadian yang kami paparkan diatas? Disitu kadang saya merasa sedih!
Sumber Foto: eramuslim.com

Pers Mahasiswa Berkerja Demi Siapa?
Kami berterimakasih kepada ketua Dema Insitut dan wakilnya. Terhadap responnya yang luar biasa membangun kami untuk memilih bahasa yang lebih arif dan bijak. Kami merasa terhormat untuk terus memperbaiki diri dan terus merespon problematika kampus tercinta ini tanpa pandang bulu.
Pergerakan jurnalis kampus yang entah bekerja untuk siapa dan demi apa muncul begitu saja dalam diri kami. Maka, jangan segan-segan mahasiswa kampus ini untuk mengkritik pedas pada kami. Kami lebih suka mahasiswa yang melawan ketimbang berkawan pada penguasa!




Banjarmasin Juni 2015

Pages