Kuliah Mencerdaskan, Liburan membodohkan, Fakta Atau Mitos ?

Nett

Oleh: Muhammad Ali Furqan

Mahasiswa Fakultas Trbiyah dan Keguruan IAIN Antasari

Liburan Semerster tengah dijalani oleh mahasiswa-mahasiswa yang sedang menempuh study,  khususnya Mahasiswa yang tengah study di IAIN Antasari, istirahat sejenak dari berbagai aktivitas akadamik, keseharian yang disibukan dengan tumpukan tugas,makalah dan lainya,hari-hari dimana mahasiswa menjadi tahanan akademik berakhir sudah,satu semester menjadi tahanan akademik sudah cukup membuat otak ini serasa hangus, sulit untuk melakukan aktivitas lainnya selain menegrjakan tugas dan masuk kuliah dan juga organisasi tentunya.

Tugas dan berbagai kesibukan akademik tentunya positif bagi kehidupan mahasiswa, karena mahasiswa secara hakikat memang dikhususkan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, walaupun  hal itu cukup melelahkan, tak bisa dipungkiri didalam tugas dan materi kuliah yang meyibukan itu, disanalah meraka dapat belajar dan mengembangkan diri sebaik mungkin,tentunya  dengan mata kuliah yang diambilnya,

 Apabila kita melihat berbagai dampak positif dari tumpukan tugas dan materi kuliah, maka liburan semester adalah suatu kemunduran yang kita alami, karena otak kita yang terbiasa berpikir akan menjadi beku karena jarang digunakan secara optimal seperti penggunaannya dimasa kuliah, “Tapi, apakah itu benar ?”.
Pengaruh tugas dan materi kuliah bukanlah faktor utama membuat pemikiran  berkembang, banyak faktor-faktor yang membuat pemikiran berkembang selain dari bangku perkuliahan, oarang yang mempunyai kebiasaan membaca buku mungkin merasa lebih tercerdaskan ketika mereka libur dari perkuliahan,karena mereka bisa lebih banyak membaca dibandingkan dengan pada masa kuliah, meskipun ketika kuliah juga membaca buku akan tetapi buku akademik yang hanya untuk untuk referensi tugas bukan membaca untuk menambah ilmu pengatahuan,membaca buku yang seakan-akan dipaksakan untuk membaca, bukan menginginkan membacanya,apa bila tidak dibaca maka tugas tidak akan terselesaikan,ketakutan akan menurunnya IPK membuat kita terpaksa membaca, hal ini maka membuat membaca cendrung lebih tergsa-gesa, tidak dengan rileks dikarenakan tujuannya bukan untuk menambah ilmu, melainkan memenuhi tugas yang di kasih oleh dosen.

Pun juga seorang sosialis orang yang mempunyai skill dibidang sosial ini akan merasa skillnya lebih berkembang dengan penerapan langsung dimasyarakat, penerapan ilmu sosial secara langsung bagi mahasiswa yang pulang ke kampung halaman dirasa lebih mengembangkan ilmunya dibanding dengan menerima materi ilmu sosial dimasyarakat, bersosialisasi dengan masyarakat, menjadi panitia hari raya idul fitri atau acara keagaman di kampung akan lebih menambah pengalaman dibanding duduk di bangku kuliah dan mendengarkan dosen berceramah.

Maka dari itu hendanya mahasiswa sedang berlibur mengisi liburan dengan kegiatan yang positif, kegiatan yang akan menambah ilmu dan pengalaman karena ilmu tersebar dimana-mana bukan hanya di bangku kuliah. Buat lah suasana mencari ilmu tanpa terpaksa, biasakan menegrjakan sesuatu tanpa harus mendapatkan hadiah, seperti membaca hanya untuk nilai dan bersosialisasi hanya untuk mencalon menjadi ketua HMJ ataupun DEMA, karena hadiah terindah dari membaca adalah ilmu dan hadiah terindah dari bersosialisasi adalah pengalaman.

Pages