DWIKY PENGGEGAS 'SEKOLAH FOTO'



   
BSukma-sejak tanggal 7 April lalu telah dimulai kegiatan sekolah foto di kampus IAIN Antasari. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai ini, berikut petikan wawancara reporter sukma dengan Mas Dwiky selaku ketua Pelaksana.

Apa yang melatar belakangi anda untuk mengadakan acara TWF (Tarekat Warna fotografer) ini ?
Sebenarnya saya dengan narasumber ketika di luar itu tergabung dalam satu perkumpulan fotografer di kal-sel. Jadi kami melihat keluar, kalau Kal-Sel itu kelas pelajarnya miskin literatur. Hanya tahu kemera tapi tidak tahu dalamnya kamera itu sendiri. Tidak mengerti akan seni. Pada tahun 2014 lalu dalam acara salon foto piala presiden,pelajar Kal-sel tidak menang. Maka dari itu, kami membangaun sekolah foto ini untuk memajukan Kal-sel.

Kenapa Lokasi pelatihannya di kampus IAIN ?
Berhubung saya kuliah di IAIN jadi saya bawa ke sini, tujuannya ingin meperkenalkan, ini loh kampus aku. Makanya ini umum, tidak khusus untuk orang IAIN saja.
   
Sasaran dari kegiatan ini ?
Sasarannya adalah pelajar, tujuannya ingin membangaun bahwa foto itu tidak disitu saja, tapi banyak.
   
Sejak kapan kegiatan ini berlangsung ?
Sejak tanggal 7 April hingga 28 April 2015. Selama 10 kali pertemuan dengan durasi waktu emapt jama dalam setiap kali pertemuan. Dalam seminggu ada tiga kali pertemuan, yakni pada hari selasa, kamis dan sabtu. Dimulai pada pukul empat sore sampai pukul delapan malam.

Tempat yang digunakan ?
 Untuk tempat kami memakai ruang VIV atau ruang Production house fakultas dakwah dan komunilasi Islam.
   
Berapa jumlah peserta yang mengikuti ?
Pas tiga puluh peserta. Kami membatasi hanya tiga puluh saja.
   
Bagaimana sistem pembelajarannya ?
Dalam waktu empat jam itu, kami menggunakan sistem teori praktek, dengan tujuan pemahaman dari peserta. Kami belajar dari pengalaman yang ada di Yogyakarta. Itu dari lima puluh peserta, pada saat pamerena foto ujiannya hanya tersisia 15 peserta. Kami bertanya pada pelajarnya, ternyata mereka bosan jika melulu teori. Nah, kami menghindari itu.
   
Apakah praktenya itu ditentukan ?
Praktenya tentu dari apa yang telah dijelaskan, misalnya pembelajaran kompisi, cahaya dan masih banyak lagi yang lainnya. Jadi, Insyaallah murid itu tidak bingung, sisanya tergantung daya serapnya dari setiap muridnya.
   
Apa yang menjadi bahan pameran pada saat pameran nantinya ?

Pameran itu menampilkan hasil dari pembelajaran, namun jika ingin mendapatkan nilai bagus, bisa saja berinisiatif untuk mencari lagi dari apa yang telah didapat dari pembelajaran. Karena setiap pembelajaran itu pasti ada tugas untuk memahamkan.
   
Dimana pameran akan berlangsung ?

Di sini, di kampus saja. Cuman kami mendapat tawaran di luar Banjar, di Q-mall Banjar Baru. Dan kami belum dapat memastikan dimana lokasi pameran, karena kami tidak mencari pamor, tapi mencari bibit.
Akhir bulan September ini kami akan berangakat ke Semarang untuk mengikuti salon foto. Jadi sesungguhnya, ada yang ingin kami cari di sini. Jika pada sekolah foto di luar itu untuk mencari uang, maka kami memang serius mencari bibit.
   
Apa kegiatan ini bisa disebut pe-rekrutan ?

Nah,  walau tidak masuk dalam kategori yang kami bawa. Namun setidaknya dia (murid) paham bahwa foto itu tidak sekedar model, jika di Banjar foto itu dianggap model. Malah yang lebih parahnya lagi, foto itu untuk mencari teman atau menacari pacar, itu hukum yang sudah ada di Banjar.
        
Siapa pemateri dalam TWF ini ?

 Nama beliau Rasyid Ridha biasa dipanggil bang Acit. Beliau lebih dulu terjun lapangan selama empat tahun belakangan. 
        
Bagaimana latar belakang beliau ?

Beliau adalah anggota AFI (Asosiasi Fotografer Indonesia, anggota FSI (Federasi Photografer Seluruh Indonesia). Untuk tingkat Asia Tenggara beliau juga pernah mengikuti pameran foto ... namun saya lupa tempatnya. Sebenarnya beliau itu adalah anak banua lahir di Banjar, hanya saja tinggalnya di Jakarta. Maka dari itu baliau kembali ke sini (Banjar).
      
Apakah TWF ini baru pertama kalinya diadakan ?

Kalau TWf ini baru resminya sekarang, cuman jalannya sudah beberapa tahun yang lalu mencari bibit. Ini bukan komunitas, ini hanya tempat orang-orang mencari ilmu, karena ini temapatnya berbagi ilmu. Nah, kami sediakan tempatnya. Jadi lain komunitas, club ataupun grup.
        
Maksud dari sekolah itu apa, apa sekolah seperti pada umumnya ?

Benar dalam bentuk sekolah, tapi bukan dalam artian seperti itu, jika seperti itu maka harus ada strukturnya.
        
Apa ingin menuju sekolah yang seperti itu ?

Jika ingin menuju kesitu, tergantung pada dinas pariwisata.
        
Jadi, ini ada kerjasama dengan pihak-pihak atas (seperti dinas pariwisata) ?

Jika bekerjasama itu tidak ada hanya saja orang-orang itu ingin bekerjasama. Namun, kami takut ada embel-embel. Ibarat bahasa itu, lebih baik makan singkong dari pada makan keju. Kami menghindar hal itu.

Apa tindak lanjut setelah kegiatan ini berakhir jika seandainya telah ditenukan bibit yang dicari ?

Kalau tindakan lanjutan itu rahasia kami, tidak bisa dipublikasikan. Untuk tindakan kami setelah tanggal 28 itu kita selesaikan ujian murid-murid ini dulu bagaiamana hasil fotonya. Jadi dari situ ketahuan. Pada saat sekolah ini pun sudah ketahuan kiblat fotonya itu kemana. Rata-rata orang itu mengambil foto konsep. Ada juga yang arah kiblatnya ke model, jadi tidak bisa dirubah, hanya saja kami luruskan jalannya. Kami beri informasi etika motret model itu seperti apa, karena sudah ada peraturan yang mengatur tentang itu, jika dilanggar bisa dikurung penjara atau denda lima ratus juta rupiah. (Reporter/nida-machbubah)